Pengajaran Apresiasi Puisi di Sekolah

Puisi bukanlah sesuatu yang baru bagi kita semua. Namun, bukan rahasia lagi bahwa bagi sebagian siswa – seperti yang dialami penulis – baru  mendengar kata ’puisi’ langsung terbayang sesuatu yang sulit, sesuatu yang tidak terjangkau. Mereka sepertinya ingin sedapat mungkin menghindar, atau tidak usah bertemu dengan yang namanya ’puisi’. Hal ini bahkan tidak saja terjadi pada siswa, tetapi juga pada guru bahasa Indonesia. Terlebih jika dikaitkan dengan kegiatan apresiasi. Padahal, kegiatan apresiasi puisi tidak dapat dihindari dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia karena memang ada dalam kurikulum sekolah. Lalu apa yang harus diketahui dan dilakukan guru agar pengajaran apresiasi puisi di sekolah dapat berjalan dengan baik sesuai harapan?

Apresiasi puisi pada dasarnya merupakan sikap jiwa pembaca terhadap puisi yang dibaca. Apresiasi puisi menyiratkan suatu kualitas rohaniah menghadapi objek yang disikapi, yakni puisi. Pembelajaran apresiasi puisi pada hakikatnya merupakan pembelajaran menggali nilai yang terdapat dalam puisi tersebut. Hal yang termasuk kegiatan apresiasi puisi antara lain 1) Membaca puisi, 2) Menganalisis puisi, 3) Membuat ulasan mengenai suatu puisi, 4) Menampilkan puisi melalui deklamasi atau musikalisasi puisi, 5) Menulis puisi

Tujuan yang harus dicapai dalam pengajaran apresiasi puisi adalah 1) Siswa memperoleh kesadaran yang lebih baik terhadap dirinya sendiri, orang lain, dan kehidupan di sekitarnya, 2) Siswa memperoleh kesenangan dari membaca dan mempelajari puisi, 3) Siswa memperoleh pengetahuan dan pengertian dasar tentang puisi.

Agar tujuan tersebut tercapai, maka tugas guru dalam pengajaran apresiasi puisi adalah 1) Mendidik dan membimbing siswa agar mampu mencintai sastra (puisi) agar dapat mengapresiasi secara benar, 2) Membekali dirinya agar mampu mengapresiasi sastra (puisi) sebelum mendidik siswanya. Di samping itu, guru juga harus mampu menempatkan diri sebagai 1) apresiator yang menjembatani antara siswa dengan puisi, 2) motivator yang mampu menumbuhkan rasa apresiasi pada diri siswa, 3) perunding yang mampu dengan penuh kearifan untuk mengakomodasikan berbagai tanggapan dari siswa sebagai bentuk apresiasi terhadap puisi yang tengah dinikmati.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam mengajarkan puisi

1.  Pemilihan bahan

Pemilihan bahan merupakan hal yang menentukan keberhasilan pengajaran apresiasi puisi. Bila tidak tepat dalam memilih puisi, akibatnya akan berkepanjangan.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan bahan

a.  Aspek bahasa

Hal ini menyangkut pada pilihan kata atau ungkapan yang digunakan dalam sebuah puisi. Puisi dengan ungkapan dan pilihan kata yang indah, bahasa yang ‘tinggi’ belum tentu cocok dengan siswa. Sebab bahasa, ungkapan, dan pilihan kata yang indah kadang justru sulit dipahami oleh siswa. Hal ini akan membuat siswa takut dan akhirnya menjauhi puisi

b.  Aspek kematangan jiwa (psikologis), usia

Dalam memilih puisi bahan pengajaran hendaknya memerhatikan usia siswa. Tema-tema apa saja yang menarik bagi siswa usia tertentu. Mungkinkah siswa diajak menganalisis keadaan sekitar melalui puisi yang akan diberikan. Hal ini menyangkut pada jenis puisi serta  isi puisi yang akan diajarkan.

c.  Aspek latar belakang sosial budaya (lingkungan) siswa

Pengajaran apresiasi puisi akan lebih efektif kalau diawali dengan penyajian puisi yang memiliki suasana lingkungan yang akrab dengan anak didik. Misalnya puisi yang menggambarkan pedesaan lebih cocok untuk siswa di desa, sementara puisi tentang polusi atau penggusuran lebih cocok untuk siswa di kota.

2.  Penyajian

Penyajian yang tepat akan menarik minat siswa terhadap puisi. Untuk itu, dalam penyajian diperlukan

a.  Pelacakan pendahuluan

Pelacakan pendahuluan ini perlu dilakukan agar guru memperoleh pemahaman awal tentang puisi yang akan diajarkan.

b.   Penentuan sikap

pada tahap ini yang harus dipertimbangkan adalah tingkat kesukaran dan bobot permasalahan yang ditampilkan dalam puisi yang akan diajarkan.

c.   Introduksi/ pengantar

memberikan pengantar di depan siswa dengan memperhatikan keadaan siswa dan karakteristik puisi yang akan diajarkan. Kemampuan guru dalam memberikan pengantar akan sangat menentukan keberhasilan pengajaran apresiasi puisi.

d.  Penyajian

Dalam menyajikan, usahakan dalam suasana santai dan siswa tidak merasa terpaksa dalam mengikuti pelajaran. Dalam kondisi demikian pengajaran apresiasi puisi akan lebih berhasil.

e.  Diskusi

dalam kegiatan ini sepenuhnya tergantung pada daya imajinasi guru, karakteristik atau kekhususan puisi, dan keaktifan siswa.

f.    Pengukuhan

Melalui pengukuhan siswa dapat lebih memahami hal yang baru saja dipelajari

Dengan mengetahui hal-hal tersebut diharapkan kegiatan pegajaran apresiasi puisi di sekolah dapat terlaksana sesuai dengan tujuan.

Berikut ini contoh-contoh puisi yang dapat digunakan dalam pembelajaran apresiasi puisi di sekolah

AKHIRNYA

(A. Mustofa Bisri)

Akhirnya api keserakahan kalian
membakar hutan belukar dan dendam
asapnya menyesakkan nafas berjuta-juta manusia
memedihkan mata mereka.
Akhirnya kalian harus memetik
hasil dari apa yang kalian ajarkan.
Ribuan orang kini telah pandai meniru kalian
menjarah apa saja
yang tersisa dari sehabis jarahan kalian
Beberapa tokoh sudah pandai meniru kalian
Menyembunyikan gombal kepentingan
dalam retorika yang dimanis-maniskan.
Akhirnya kalian harus membayar kemerdekaan
dan kedamaian
yang selama ini kalian curi dari kami.
Kepercayaan
yang selama ini kalian lecehkan.

Candi Muara Jambi

Aku dengar keluh batu-batu runtuh berpeluh
Tak ada arca atau stupa 
hanya ilalang bergoyang terpanggang matahari
Sebuah situs tak terurus menggerus hati
perjalanan sunyi, sendiri memikul luka diri
mengaca pada bayang Batanghari
yang tiada henti merangkum tragedi
Aku sendiri membangun candi
dalam mimpi yang sulit diurai
di kedalaman hati: Kau tegar abadi
Jambi, 1994
(Dimas Arika Miharja)

IMPROVISASI DALAM HUJAN

(Soni Farid Maulana)

Pecahan air yang melenting dari atas genting
saat hujan turun memainkan komposisi dingin
bersambung dingin. Angin bolak-balik
menyisir pepohonan, membaca jengkal deni jengkal
jejak hujan yang hilang di titik pandang
Dengarlah suara yang bergemuruh itu;
menyapu halaman permukaan bumi. Suara itu adalah
suara hujan yang nyaring berteriak
mencari pepohonan juga rerumputan yang lenyap
dari pedalaman negeri berudara tropika.
Dingin selalu bersambung dengan dingin
bertumpuk-tumpuk bagai mentega, melapisi
kulit, daging, tulang, dan sumsum
kau dan aku yang basah dalam hujan
bergemuruh mencari pepohonan
Juga rerumputan di setiap sudut
perkotaan, celah-celah bangunan tua,
halaman-halaman buku,
juga lembaran saham. Esoknya
keheningan bermekaran di kuburan

Sumber bacaan:

Effendi, S. 1982. Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta: Tangga Mustika Alam.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1989. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press.

Sumardi dan Abdul Rozak Zaidan. 1997. Pedoman Pengajaran Apresiasi Puisi SLTP dan SLTA untuk Guru dan Siswa. Jakarta: Balai Pustaka.

Waluyo, Herman J. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

(ditulis oleh bekti patria, sept 2009)

About these ads

2 responses to “Pengajaran Apresiasi Puisi di Sekolah

  1. Mbak Bekti, pripun kabaripun? Kawulo nderek maos tulisan panjenengan njih.Almamater panjenengan sami, namung benten fakultas tuwin benten tahun lulus. Kawulo FKIP lulus th 1988, sakmeniko dines wonten tatar Parahyangan, awit tahun 1989.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s