Akhiran -ir dan -isasi

Dalam praktik berbahasa sehari-hari, kita sering menjumpai penggunaan kata-kata berakhiran –ir dan –isasi sebagaimana contoh-contoh berikut.

1.   a. Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.

      b. Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

2.   a. Ijazah ini harus dilegalisir oleh pejabat yang berwenang.

      b. Ijazah ini harus dilegalisasi oleh pejabat yang berwenang.

Lantas, timbul dalam pertanyaan dalam benak kita, manakah yang benar? Kata yang berakhiran –ir ataukah –isasi? Ya, bentuk-bentuk kata bercetak miring tersebut memang sering dipertanyakan penggunaannya. Padahal, kedua kata tersebut memiliki arti, makna, dan konteks yang sama. Meskipun, kata berakhiran –ir tidak kita temukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Perbedaan kata berakhiran –ir dan –isasi sesungguhnya terletak pada kebakuan.

Pada contoh 1, kata yang baku ialah proklamasi, bukan proklamir. Proklamasi merupakan kata serapan dari kata benda bahasa Belanda, proclamatie atau dari kata benda bahasa Inggris proclamation. Sedangkan kata proklamir  dalam bahasa Belandanya adalah kata kerja proclameren yang berarti “mengumumkan”. Jadi kalau diberi awalan me- pada kata benda proklamasi menjadi kata kerja memproklamasikan yang artinya “mengumumkan” dan bukan memproklamir yang janggal artinya, yaitu memengumumkan.

 Pada contoh 2, Kata legalisasi diserap dari kata benda bahasa Belanda legalisatie atau dari kata benda bahasa Inggris legalization. Kalau kata benda legalisasi dijadikan kata kerja dengan dibubuhi awalan me- atau di-, hasilnya menjadi melegalisasi atau dilegalisasi. Namun, ada yang beranggapan bahwa legalisir yang benar. Alasannya bahwa kata tersebut diserap berdasarkan bunyinya legaliseren (Belanda). Tetapi, kata legaliseren bukan kata benda melainkan kata kerja yang artinya “mengesahkan” atau “membenarkan”. Jadi, kalau kata legalisir yang sudah berarti “mengesahkan” diberi awalan me- menjadi melegalisir, arti yang dikandung menjadi janggal, yaitu memengesahkan, atau kalau diberi awalan di- arti yang dikandung akan menjadi dimengesahkan.

Contoh lain kata-kata yang sering digunakan dalam bentuk yang salah,

Salah Benar
realisir

netralisir

organisir

konfrontir

dramatisir

lokalisir

politisir

koordinir

realisasi

netralisasi

organisasi

konfrontasi

dramatisasi

lokalisasi

politisasi

koordinasi

Memang tidak mudah mengubah pemakaian kata-kata yang selama ini dianggap benar, karena sering dipakai dalam media massa atau oleh para pejabat. Namun, sudah waktunya untuk mengembangkan pemakaian bahasa Indonesia yang baku dan benar di kalangan masyarakat luas.

About these ads

7 responses to “Akhiran -ir dan -isasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s