KURMA: Rekaman Fenomena Puasa dan Lebaran di Indonesia

Puasa dan Lebaran bagi orang Indonesia bukan cuma sekedar dimaknai sebagai kewajiban agama [Islam] belaka. Keduanya juga memiliki aspek sosio-kultural yang mengakar dalam masyarakat kita. Fenomena Puasa-Lebaran berikut “ritual” mudik, diakui atau tidak, adalah sebuah peristiwa budaya. Mungkin itulah yang menarik perhatian para cerpenis kita.

Kumpulan cerpen Kurma berisi 11 cerpen pilihan dari harian Kompas. Tema yang diangkat kumpulan cerpen ini adalah sekitar puasa dan lebaran. Cerpen-cerpen dalam antologi ini pernah di muat  di Harian Kompas.Terdiri atas 11 cerpen karya 10 penulis yaitu:

1. Lailatul Qadar – Danarto
2. Puasa Itu – Senu Subawajid
3. Kurma – Yanusa Nugroho
4. Tiga Butir Kurma per Kepala – Yusrizal KW
5. Menjelang Lebaran – Umar Kayam
6. Malam Takbir – Hamsad Rangkuti
7. Reuni – Hamsad Rangkuti
8. Lebaran – Taufik Ikram Jamil
9. Tamu yang Datang di Hari Lebaran – AA Navis
10. Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari – Jujur Prananto
11. Gambar Bertulisan “Kereta Lebaran” – Gusti tf Sakai

Beberapa fenomena sosial yang khas kerap tejadi di bulan puasa dan lebaran coba diangkat menjadi cerita yang menarik. Misalnya mudik, naiknya harga-harga di pasaran, kebutuhan yang melonjak menjelang Kenaikan harga itu menegaskan betapa puasa dan lebaran menyimpan problematika sosial yang tidak kunjung usai.

Mudik di hari Lebaran bagi para perantau adalah semacam kemestian, meskipun harus mengorbankan puasa yang justru merupakan inti Ramadhan yang kemenangannya bakal dirayakan pada hari Lebaran itu. Danarto dalam cerpennya, Lailatul Qadar, yang dimuat dalam antologi ini menulis:

[...] Hidup rasanya akan sengsara jika tak beroleh karcis mudik. Segala cara ditempuh untuk mendapatkan karcis walaupun dengan merugikan ibadah puasa. Sepuluh hari terakhir dari rangkaian 30 hari puasa yang biasanya dilaksanakan dengan ketat untuk menggaet Lailatul Qadar, malah berantakan gara-gara berebut karcis mudik. (h. 3)

Ketika keluarga di rantau tak mudik karena alasan-alasan tertentu, tak haram hukumnya bila yang di desa menyambangi sang perantau yang mungkin saja tengah mengalami kesusahan sehingga tak bisa pulang kampung. Itulah yang dilakukan Mudakir, dalam cerpen Jujur Prananto, Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari:

Begitulah, setelah dua kali lebaran, Wanti sama-sekali tak terkabar, Mudakir sangat ingin mengetahui secara persis nasib anak bungsunya ini, dan memutuskan untuk sendirian ke Jakarta tanpa pemberitahuan sebelumnya, khawatir Wanti justru menutup-nutupi kekurangannya kalau sudah tahu ayahnya akan datang.”(h. 82)

Kedatangan Mudakir diam-diam ke Jakarta yang semula biar boleh menjadi surprise buat Wanti itu, memang pada akhirnya benar-benar menjadi kejutan besar bagi si anak bungsu yang mengetahuinya setelah berbulan kemudian.

            Tak semua orang bisa mudik di saat menjelang Lebaran, memang. Kadang ada saja masalah yang datang menghampir. Seperti yang dialami Kamil, tokoh cerpen Menjelang Lebaran bikinan Umar Kayam, misalnya. Pada masa-masa persiapan Lebaran yang biasanya memakan banyak biaya, Kamil malah di-PHK perusahaannya yang bangkrut. Uang terakhir yang diterimanya dari kantor yang cuma sebesar satu kali gaji penuh plus setengah gaji sebagai THR bisa buat apa? Bagaimana caranya memberitahu anak-anak yang kadung gembira karena jauh sebelumnya telah mendapat janji mudik Lebaran, tapi ternyata harus dibatalkan? Bagaimana caranya menyampaikan kepada Nah, pembantu mereka, bahwa ia bakal diberhentikan karena majikannya sudah tak berpenghasilan tetap lagi?

 Lain lagi AA Navis dalam cerpen Tamu yang Datang di Hari Lebaran, berkisah soal mantan pejabat yang mengalami post-power syndrome yang lekang kunjungan — bukan saja dari bawahannya, tetapi juga dari anak-anaknya sendiri. Navis pun menyindir ironi kebiasaan “open-house” para pejabat melalui lamunan Inyik, sang mantan pejabat.

[...] Setiap Lebaran datang luka hatiku kian dalam. Dulu waktu ayahnya jadi gubernur, setiap Lebaran mereka bisa berkumpul. Kata mereka, apa kata orang nanti bila mereka tidak datang waktu Lebaran. Setelah itu mereka tidak lagi datang dengan lengkap. Mengapa? Sama seperti anak-buah Inyik dan pejabat lain. Kalau mereka tidak lagi datang, itu adat dunia masa kini. Di mana padi masak, di sana pipit berbondong-bondong. Tapi kalau bagi anak-menantuku tentu tidak berlaku ungkapan itu. (hh. 73-74)

             Puasa dan lebaran itu multidimensi dan multiaspek. Unsur agama/religi berbaur dengan unsur tradisi/kebudayaan, unsur gengsi, unsur ekonomis, dan lain-lain. Di samping menggembirakan, puasa dan lebaran pun bisa menimbulkan duka/derita, seperti kita lihat dalam antologi cerpen ini. Sebagaimana ditulis Maman S Mahayana dalam pengantar antologi ini sebagai berikut.

“… antologi cerpen ini penting artinya sebagai usaha melihat, betapa sesungguhnya umat Islam di Indonesia sama sekali tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh lingkungan sosial-budaya yang melahirkan dan membesarkannya. Yang kemudian tampak ke permukaan adalah umat Islam Indonesia yang lengkap dengan kulturnya yang tidak hitam-putih. Ada warna pelangi di sana, yang sekaligus sebagai potret keindonesiaan yang pluralis dan heterogen…. Dalam konteks itulah, antologi cerpen ini justru penting sebagai sebuah cermin yang diharapkan dapat menggugah kita untuk melakukan pemaknaan kembali konsep puasa, lebaran, dan mudik, dalam kerangka solidaritas sosial…”

            Cerpen — dan sastra pada umumnya — yang baik adalah ketika ia bisa membawa pembaca untuk setidaknya merenung soal kemanusiaan serta dinamika-dinamika yang terkait dengannya. Cerpen-cerpen yang dirangkum dalam antologi ini pun menarik bukan karena mereka ditulis oleh para kampiun sastra Indonesia, tetapi karena mereka berhasil menohok ruang permenungan itu. Salam.###

About these ads

5 responses to “KURMA: Rekaman Fenomena Puasa dan Lebaran di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s