Belajar Sastra melalui Bahasa, Belajar Bahasa melalui Sastra

Bahasa dan sastra merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sastra merupakan satu bentuk karya seni yang menggunakan bahasa sebagai sarana (media) penyampaiannya. Bahasa digunakan sastrawan sebagai media untuk menyampaikan ide atau gagasannya kepada masyarakat luas. Bahasa menjadi ”jembatan” yang menghubungkan sastrawan dengan khalayak. Melalui sastra, penulis (pengarang) mengeksploitasi potensi-potensi bahasa untuk menyampaikan gagasannya untuk tujuan tertentu. Dengan demikian, bahasa merupakan unsur penting bagi sastra atau bisa dikatakan sebagai bahan pokok karya sastra.

          Mengingat bahasa menjadi bahan utama sastra, maka untuk memahami karya sastra penguasaan bahasa mutlak diperlukan. Hal ini karena sastra seringkali tidak menyatakan maksud secara langsung, tetapi melalui kiasan-kiasan, simbol-simbol, atau pun lambang-lambang. Bahasa dalam sastra tidak dapat diterjemahkan secara apa adanya. Misalnya, untuk mengatakan ”aku sedih sekali” seorang pengarang akan mengungkapnya dengan ”kulayari air mata”, ”kupanggul luka jiwa”, dan sebagainya. Untuk memahami bahasa yang digunakan pengarang tersebut tentu harus memiliki pengetahuan mengenai gaya bahasa.

            Demikian pula ketika akan menulis karya sastra. Untuk menulis sastra, seseorang harus memiliki penguasaan bahasa yang baik. Mulai dari penguasaan kosa kata (diksi), pemakaian gaya bahasa, penyusunan kalimat, pengembangan paragraf, dan sebagainya. Bisa dipastikan, seseorang yang tidak memiliki penguasaan bahasa yang bagus, tentu tidak dapat menghasilkan karya sastra yang berkualitas. Bagaimana seseorang akan mampu mendeskripsikan seorang tokoh dalam prosa dengan baik sementara ia tidak memiliki pengetahuan mengenai karakteristik paragraf deskripsi?

          Di sisi lain, bahasa juga memanfaatkan sastra untuk mengembangkan dirinya. Hal ini lantaran bahasa dalam karya sastra seringkali memiliki makna tersirat di balik makna yang sesungguhnya. Dalam sastra, bahasa seringkali menjadi lebih kaya. Oleh karena itu, seseorang yang sering membaca karya sastra akan memiliki kekayaan bahasa bahkan juga kekayaan berbahasa.  Melihat kekayaan bahasa dalam sastra, seseorang dapat memanfaatkan sastra untuk belajar bahasa. Misalnya, melalui prosa seseorang dapat belajar tentang paragraf deskripsi karena dalam sastra pengarang sering menggunakan deskripsi untuk menggambarkan tokoh atau pun latar. Melalui puisi, seseorang juga dapat belajar beragam majas, dan sebagainya.

          Sejalan dengan pembelajaran di sekolah, khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia, guru hendaknya dapat selalu mengkaitkan antara pembelajaran bahasa dan pembelajaran sastra. Sebagaimana diuraikan di atas, bahwa dalam belajar sastra kita tidak bisa lepas dari bahasa, dan sastra pun dapat digunakan sebagai sarana belajar bahasa. Bila sudah demikian, antara bahasa dan sastra tidak berjalan sendiri-sendiri tetapi selalu seiring sejalan. Salam.##.

About these ads

6 responses to “Belajar Sastra melalui Bahasa, Belajar Bahasa melalui Sastra

  1. betul, bu … selama ini ada kecenderungan untuk mengkotak-kotakkan antara bahasa dan sastra. padahal, antara keduanya jelas merupakan hal yang tak terpisahkan

    • wah, kok pake kotak-kotak kayak Jokowi saja..he..he..
      memang seharusnya bahasa dan sastra tidak dipisahkan karena keduanya memang selalu berkaitan. akan lebih bagus lagi bila digunakan dan saling dimanfaatkan.

  2. kenyataannya memang antara bahasa dan sastra seringkali ditempatkan secara sendiri-sendiri sehingga tidak terlihat adanya keterkaitan antara keduanya

    • hal itulah yang menjadi tugas kita yang sudah memahami adanya keterikatan itu untuk tidak memisahkan antara keduanya. kalau orang yang sudah paham masih memisah-misahkan, bagaimana jadinya dengan mereka yang awam?

  3. Memang antara ilmu bahasa dan ilmu sastra memiliki keterkaitan yang sangat erat, yang tidak dapat dipisahkan. Namun pada kenyataan di lapangan, banyak guru bahasa yang seolah enggan untuk menguasai sastra. Padahal sebagai guru bahasa, ia sudah memiliki bekal berupa bahasa yang dapat digunakan untuk mengapresiasi sastra.

    Melihat kenyataan seperti itu, apa yang harus kita lakukan?

    • berbicara masalah pembelajaran, tidak dapat tidak, kuncinya terletak pada guru. guru bahasa berarti juga guru sastra. ini berarti selain menguasai bahasa, ia juga harus menguasai sastra. kalau ia enggan belajar sastra maka pelajaran bahasa akan menjadi timpang. dampak paling parah adalah membuat siswa menjadi tidak suka sastra. sebagai sesama guru bahasa barangkali bisa dimulai dengan mengajak diskusi mengenai masalah-masalah sastra yang ringan atau meminjamkan buku-buku sastra.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s