Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) 2011

LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA (LMCR) 2001

ROHTO – MENTHOLATUM GOLDEN AWARD

deadline: 21 September 2011

+

Hadiah Total Rp 95 Juta

Syarat-Syarat Lomba

  1. Lomba ini terbuka untuk pelajar SLTP (Kategori A), SLTA (Kategori B)  dan Mahasiswa/Guru/Umum (Kategori C)  dari seluruh Indonesia atau mereka yang sedang studi/bertugas di luar negeri
  2. Lomba dibuka  21 April 2011 dan ditutup 21 September 2011 (stempel pos)
  3. Tema Cerita: Dunia remaja dan segala aspek serta aneka rona kehidupannya (cinta, kebahagiaan, kepedihan, kekecewaan,  harapan, kegagalan, cita-cita, persahabatan, pengalaman unik, petulangan  maupun perjuangan hidup)
  4. Judul bebas, tetapi mengacu pada tema Butir 3
  5. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul. Judul boleh menggunakan bahasa asing
  6. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik, benar dan indah (literer). Bahasa daerah, bahasa prokem, bahasa gaul dan bahasa asing boleh digunakan untuk dialog (bukan narasi)
  7. Naskah yang dilombakan harus asli, bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasikan
  8. Ketentuan naskah:
  1. Ditulis di atas kertas ukuran kuarto atau A-4, ditik berjarak spasi 1,5 spasi, huruf 12 font Times New Roman, margin kiri-kanan rata maksimal 3Cm
  2. Panjang naskah 6 (enam) – 10 (sepuluh) halaman, diprint 3 (tiga) rangkap (copy) disertai file dalam CD
  3. Naskah disertai sinopsis, biodata singkat pengarang dan foto dalam pose bebas ukuran postcard. Lampiran lainnya: Fotocopy KTP/SIM atau Kartu Pelajar/Mahasiswa  dan Kartu Keluarga (pilih salah satu)
  4. Setiap judul naskah yang dilombakan wajib dilampiri 1 (satu) kemasan LIP ICE jenis atau saja atau segel SELSUN jenis apa saja
  5. Naskah yang dilombakan beserta lampirannya dimasukkan ke dalam amplop tertutup, cantumkan tulisan PESERTA LMCR-2011 sesuai dengan kategorinya pada bagian kanan atas amplop
  6. Naskah dan persyaratan (Butir e) dikirim ke alamat:

Panitia LMCR-2011 ROHTO-MENTHOLATUM  GOLDEN AWARD

Jalan Gunung Pancar No.25 Bukit Golf Hijau, Sentul City

Bogor 16810 – Jawa Barat

Baca lebih lanjut

Lomba Mengarang Cerpen BOBO 2011

lomba-cerpen-boboLOMBA MENGARANG CERPEN ANAK OLEH GURU

Menyambut Hari Ulang Tahun ke-38 Majalah Bobo tanggal 14 April 2011 nanti, Majalah Bobo kembali menyelenggarakan Lomba Mengarang Cerpen Anak oleh Guru. Majalah Bobo berharap, hasil karya Bapak dan Ibu Guru bisa memberikan hiburan, sekaligus panduan nilai moral kepada anak dalam kehidupan sehari-hari. Tema cerpen bebas. Yang penting ceritanya menarik dan sesuai untuk anak.

Syarat Lomba

Syarat Lomba
1. Lomba ini untuk para guru.
2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
3. Naskah harus asli, bukan terjemahan atau saduran, atau mengambil ide dari orang lain yang sudah ada.
4. Naskah belum pernah diterbitkan di media massa (cetak maupun elektronik), dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain.
5. Tema bebas, asalkan sesuai untuk anak.

Ketentuan Teknis
1. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari naskah cerpen.
2. Naskah diketik di kertas berukuran folio dengan jarak 2 (dua) spasi. Panjang tulisan maksimal 3 halaman.
3. Lampirkan di setiap naskah: biografi singkat penulis, surat keterangan dari Kepala Sekolah serta cap sekolah, fotokopi KTP, nomor telepon rumah/hp, nomor rekening bank, dan selembar foto terbaru ukuran kartu pos (3R).
4. Naskah dimasukkan ke dalam amplop. Tuliskan: “Lomba Mengarang Cerpen Anak oleh Guru” di sudut kiri atas amplop.
5. Karya dikirimkan ke:
Panitia Lomba Mengarang Cerpen Anak oleh Guru,
Redaksi Majalah Bobo,
Jalan Panjang no. 8A, Jakarta 11530

6. Karya peserta harus sudah diterima panitia paling lambat tanggal 31 Maret 2011.

Lain-lain
1. Hadiah:
Juara ke-1: Rp 8.000.000,00 (delapan juta rupiah);
Juara ke-2: Rp 6.500.000,00 (enam juta lima ratus ribu rupiah)
Juara ke-3: Rp 5.500.000,00 (lima juta lima ratus ribu rupiah)
dan 10 (sepuluh) pemenang harapan, masing-masing Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah)
2. Pengumuman pemenang akan dimuat di Majalah Bobo No 5/XXXIX, yang terbit tanggal 12 Mei 2011.
3. Pemenang akan mendapat surat pemberitahuan langsung dari Majalah Bobo.
4. Hadiah akan ditransfer melalui bank.

Sumber: Majalah BOBO, edisi 20 Januari 2011

Lomba Cerpen Femina

Sayembara Cerpen & Cerber Femina 2010!

Syarat Umum
• Peserta adalah Warga Negara Indonesia.
• Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik & benar dan menggunakan ejaan yang disempurnakan.
• Naskah harus karya asli, bukan terjemahan.
• Tema bebas, namun sesuai untuk majalah femina.
• Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik & online dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.
•  Naskah dilampiri formulir asli dan fotokopi KTP.
• Formulir yang diunduh dari http://www.femina.co.id merupakan formulir asli.
• Peserta hanya boleh mengirim 2 naskah terbaiknya.
• Hak untuk menyiarkannya di media online ada pada PT Gaya Favorit Press
• Redaksi berhak mengganti judul dan menyunting tanpa mengubah isi.
• Naskah yang tidak menang, namun memenuhi syarat, akan dimuat di femina. Penulis akan mendapat honor sesuai standar femina.
• Keputusan juri mengikat. Tidak dapat diganggu-gugat dan tidak ada surat menyurat.
• Lomba ini tertutup untuk karyawan Feminagroup.

info lengkap di sini


KURMA: Rekaman Fenomena Puasa dan Lebaran di Indonesia

Puasa dan Lebaran bagi orang Indonesia bukan cuma sekedar dimaknai sebagai kewajiban agama [Islam] belaka. Keduanya juga memiliki aspek sosio-kultural yang mengakar dalam masyarakat kita. Fenomena Puasa-Lebaran berikut “ritual” mudik, diakui atau tidak, adalah sebuah peristiwa budaya. Mungkin itulah yang menarik perhatian para cerpenis kita.

Kumpulan cerpen Kurma berisi 11 cerpen pilihan dari harian Kompas. Tema yang diangkat kumpulan cerpen ini adalah sekitar puasa dan lebaran. Cerpen-cerpen dalam antologi ini pernah di muat  di Harian Kompas.Terdiri atas 11 cerpen karya 10 penulis yaitu:

1. Lailatul Qadar – Danarto
2. Puasa Itu – Senu Subawajid
3. Kurma – Yanusa Nugroho
4. Tiga Butir Kurma per Kepala – Yusrizal KW
5. Menjelang Lebaran – Umar Kayam
6. Malam Takbir – Hamsad Rangkuti
7. Reuni – Hamsad Rangkuti
8. Lebaran – Taufik Ikram Jamil
9. Tamu yang Datang di Hari Lebaran – AA Navis
10. Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari – Jujur Prananto
11. Gambar Bertulisan “Kereta Lebaran” – Gusti tf Sakai

Beberapa fenomena sosial yang khas kerap tejadi di bulan puasa dan lebaran coba diangkat menjadi cerita yang menarik. Misalnya mudik, naiknya harga-harga di pasaran, kebutuhan yang melonjak menjelang Kenaikan harga itu menegaskan betapa puasa dan lebaran menyimpan problematika sosial yang tidak kunjung usai.

Mudik di hari Lebaran bagi para perantau adalah semacam kemestian, meskipun harus mengorbankan puasa yang justru merupakan inti Ramadhan yang kemenangannya bakal dirayakan pada hari Lebaran itu. Danarto dalam cerpennya, Lailatul Qadar, yang dimuat dalam antologi ini menulis:

[...] Hidup rasanya akan sengsara jika tak beroleh karcis mudik. Segala cara ditempuh untuk mendapatkan karcis walaupun dengan merugikan ibadah puasa. Sepuluh hari terakhir dari rangkaian 30 hari puasa yang biasanya dilaksanakan dengan ketat untuk menggaet Lailatul Qadar, malah berantakan gara-gara berebut karcis mudik. (h. 3)

Ketika keluarga di rantau tak mudik karena alasan-alasan tertentu, tak haram hukumnya bila yang di desa menyambangi sang perantau yang mungkin saja tengah mengalami kesusahan sehingga tak bisa pulang kampung. Itulah yang dilakukan Mudakir, dalam cerpen Jujur Prananto, Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari:

Begitulah, setelah dua kali lebaran, Wanti sama-sekali tak terkabar, Mudakir sangat ingin mengetahui secara persis nasib anak bungsunya ini, dan memutuskan untuk sendirian ke Jakarta tanpa pemberitahuan sebelumnya, khawatir Wanti justru menutup-nutupi kekurangannya kalau sudah tahu ayahnya akan datang.”(h. 82)

Kedatangan Mudakir diam-diam ke Jakarta yang semula biar boleh menjadi surprise buat Wanti itu, memang pada akhirnya benar-benar menjadi kejutan besar bagi si anak bungsu yang mengetahuinya setelah berbulan kemudian.

            Tak semua orang bisa mudik di saat menjelang Lebaran, memang. Kadang ada saja masalah yang datang menghampir. Seperti yang dialami Kamil, tokoh cerpen Menjelang Lebaran bikinan Umar Kayam, misalnya. Pada masa-masa persiapan Lebaran yang biasanya memakan banyak biaya, Kamil malah di-PHK perusahaannya yang bangkrut. Uang terakhir yang diterimanya dari kantor yang cuma sebesar satu kali gaji penuh plus setengah gaji sebagai THR bisa buat apa? Bagaimana caranya memberitahu anak-anak yang kadung gembira karena jauh sebelumnya telah mendapat janji mudik Lebaran, tapi ternyata harus dibatalkan? Bagaimana caranya menyampaikan kepada Nah, pembantu mereka, bahwa ia bakal diberhentikan karena majikannya sudah tak berpenghasilan tetap lagi?

 Lain lagi AA Navis dalam cerpen Tamu yang Datang di Hari Lebaran, berkisah soal mantan pejabat yang mengalami post-power syndrome yang lekang kunjungan — bukan saja dari bawahannya, tetapi juga dari anak-anaknya sendiri. Navis pun menyindir ironi kebiasaan “open-house” para pejabat melalui lamunan Inyik, sang mantan pejabat.

[...] Setiap Lebaran datang luka hatiku kian dalam. Dulu waktu ayahnya jadi gubernur, setiap Lebaran mereka bisa berkumpul. Kata mereka, apa kata orang nanti bila mereka tidak datang waktu Lebaran. Setelah itu mereka tidak lagi datang dengan lengkap. Mengapa? Sama seperti anak-buah Inyik dan pejabat lain. Kalau mereka tidak lagi datang, itu adat dunia masa kini. Di mana padi masak, di sana pipit berbondong-bondong. Tapi kalau bagi anak-menantuku tentu tidak berlaku ungkapan itu. (hh. 73-74)

             Puasa dan lebaran itu multidimensi dan multiaspek. Unsur agama/religi berbaur dengan unsur tradisi/kebudayaan, unsur gengsi, unsur ekonomis, dan lain-lain. Di samping menggembirakan, puasa dan lebaran pun bisa menimbulkan duka/derita, seperti kita lihat dalam antologi cerpen ini. Sebagaimana ditulis Maman S Mahayana dalam pengantar antologi ini sebagai berikut.

“… antologi cerpen ini penting artinya sebagai usaha melihat, betapa sesungguhnya umat Islam di Indonesia sama sekali tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh lingkungan sosial-budaya yang melahirkan dan membesarkannya. Yang kemudian tampak ke permukaan adalah umat Islam Indonesia yang lengkap dengan kulturnya yang tidak hitam-putih. Ada warna pelangi di sana, yang sekaligus sebagai potret keindonesiaan yang pluralis dan heterogen…. Dalam konteks itulah, antologi cerpen ini justru penting sebagai sebuah cermin yang diharapkan dapat menggugah kita untuk melakukan pemaknaan kembali konsep puasa, lebaran, dan mudik, dalam kerangka solidaritas sosial…”

            Cerpen — dan sastra pada umumnya — yang baik adalah ketika ia bisa membawa pembaca untuk setidaknya merenung soal kemanusiaan serta dinamika-dinamika yang terkait dengannya. Cerpen-cerpen yang dirangkum dalam antologi ini pun menarik bukan karena mereka ditulis oleh para kampiun sastra Indonesia, tetapi karena mereka berhasil menohok ruang permenungan itu. Salam.###

LOMBA CERPEN BOBO

LOMBA MENGARANG CERPEN ANAK OLEH GURU

Menyambut Hari Ulang Tahun ke-37 Majalah Bobo tanggal 14 April 2010 nanti, Majalah Bobo kembali menyelenggarakan Lomba Mengarang Cerpen Anak oleh Guru. Majalah Bobo berharap, hasil karya Bapak dan Ibu Guru bisa memberikan hiburan, sekaligus panduan nilai moral kepada anak dalam kehidupan sehari-hari. Tema cerpen bebas. Yang penting ceritanya menarik dan sesuai untuk anak.

Syarat Lomba

Baca lebih lanjut