Arsip Blog

Refleksi Hari Guru 2011

Semua tentu sepakat apabila pendidikan menjadi salah satu kunci kemajuan dan keberlangsungan sebuah bangsa. Kontribusi dan peran pendidikan tetap menjadi salah satu faktor terpenting yang menjadikan sebuah bangsa tetap eksis. Sebab, melalui pendidikan akan lahir sumber daya manusia (SDM) handal dan berkualitas yang akan berperan dan berkiprah sebagai penggerak pembangunan bangsa.

Berbicara pendidikan, tentu tidak terlepas dari peran salah satu unsur pentingnya, yaitu guru. Guru memang bukan satu-satunya elemen penentu keberhasilan pendidikan. Namun, tidak berlebihan apabila dikatakan guru adalah kunci utama pendidikan. Guru menempati posisi penting dan sentral dalam pendidikan. Berhasil tidaknya pendidikan sangat ditentukan oleh guru. Ada tiga tugas penting yang harus diemban oleh seorang guru, yaitu mengajarkan ilmu, membentuk karakter yang mulia, serta menanam optimisme dan cita-cita positif.

Berbicara mengenai guru, ada banyak hal yang dapat diungkap, ada banyak sisi yang dapat disoroti. Mulai dari masalah kesejahteraan, distribusi, sampai dengan masalah kualitas. Dulu, keberadaan guru selalu penuh dengan ironi yang memprihatinkan, hidup pas-pasan dan terkadang harus terseok-seok menghidupi diri dan keluarganya. Ironi itu perlahan namun pasti mulai dipupus pemerintah lewat alokasi anggaran negara untuk sektor pendidikan termasuk program sertifikasi guru. Pada tataran perjuangan kesejahteraan, mungkin problem guru sedikit teratasi. Itu artinya bahwa sekarang menjadi guru bukan lagi pilihan yang dilematis melainkan sebuah pilihan yang prestisius. Jika dulu guru berjalan dalam kesunyian, kini guru berjalan dengan tubuh tegak berdiri. Memang tak cukup hanya ‘Hymne Guru’, tak cukup rasanya hanya penghargaan ‘batin’, maka penghargaan materi pun harus pula diperhatikan. Agar tak ada lagi cerita, guru jadi tukang ojek, guru merangkap jadi buruh, bahkan pemulung. Agar mereka dapat berkonsentrasi terhadap perkembangan anak didiknya, agar mereka dapat berkonsentrasi menyiapkan generasi baru bangsa ini.

Ketika kesejahteraan telah diupayakan dan kian disempurnakan, permasalahan guru tak berarti selesai. Kita masih perlu merefleksikan banyak hal tentang guru. Kita tidak lagi bicara soal gelapnya kesejahteraan guru karena matahari telah menampakkan sinarnya. Permasalahan guru saat ini tak hanya soal kesejahteran, tapi lebih dari itu. Bagaimana mencari guru yang sejati di negeri ini. Guru yang benar-benar menjadi ’guru’.

Dalam realitas, sekarang banyak guru kita yang hanya sekadar jadi guru. Guru dianggap hanya seperti buruh atau tukang. Bekerja, dapat upah. Proses mengajar dan mendidik dianggap seperti pembeli dengan kasir. Guru yang demikian, mengajar hanya berangkat dari ruang kosong, tidak lahir dari  idealisme. Ia tidak menjadi guru yang memiliki semangat kerja tinggi, tidak mengarahkan seluruh kemampuan dan kekuatannya ke arah yang positif melalui pengajaran dan pendidikan sehingga anak didik mengalami perubahan dan pencerahan. Guru sejati adalah sumber inspirasi anak didik. Patut kiranya kita merenung kembali hakikat menjadi seorang guru. Guru akan dikenang dan dihormati apabila kehadirannya bermanfaat bagi orang lain dan tingkah laku serta ajarannya memiliki pengaruh/kekuatan pendorong yang besar terhadap anak didik dan masyarakat. Terlebih di tengah arus perubahan zaman yang kian deras.

Perubahan zaman menuntut guru untuk terus meningkatkan kompetensi diri. Guru tak bisa lagi berpangku tangan bila tak ingin tergerus zaman. Selain berupaya melakukan peningkatan penguasaan ilmu, seorang guru juga harus memiliki kecintaan terhadap profesinya. Guru juga harus peka terhadap kebutuhan pendidikan saat ini. Guru harus memiliki jiwa pembaharu mengingat guru merupakan agen perubahan ke arah yang lebih baik. Guru harus berupaya untuk menunjukkan etos dan totalitas dalam mengajar dan mendidik.

Pendidikan yang baik hanya dapat terwujud di tangan guru-guru yang berkualitas, kreatif, berdedikasi dan berintegritas tinggi. Menjadi guru ala kadarnya, akan menghasilkan kemampuan anak didik ala kadarnya pula. Sesungguhnya, pesaing utama seorang guru bukanlah guru lain di sekitarnya, tetapi perubahan zaman. Oleh karena itu, guru yang luar biasa adalah guru yang selalu belajar dan terus belajar. Selamat HARI GURU. Salam.##

Sertifikasi Guru: Antara Harapan dan Kenyataan

(tulisan ini dimuat dalam MEDIA, majalah pendidikan Jawa Timur, September 2011)

Sejak digulirkan sekitar tahun 2007 yang lalu, sertifikasi guru sepertinya tak pernah selesai diperbincangkan. Ya, sertifikasi merupakan sebuah terobosan dalam dunia pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas seorang guru. Ya, sertifikasi merupakan sebuah terobosan dalam dunia pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas seorang guru. Sehingga ke depan semua guru harus memiliki sertifikat profesi sebagai izin untuk mengajar. Program sertifikasi guru ini merupakan konsekuensi dari disahkannya produk hukum tentang pendidikan. Produk hukum yang dimaksud adalah UU RI No. 20/2003 tentang Sisdiknas, UU RI No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen, dan PP RI No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Dari ketiga produk hukum tersebut tertera bahwa guru adalah pendidik profesional. Dengan demikian, sebagai pendidik profesional maka guru harus memenuhi sejumlah persyaratan baik dari segi kualifikasi akademik maupun kompetensi. Pemerintah selaku pemangku kebijakan terlaksananya sertifikasi guru memiliki harapan agar nantinya para guru sebagai tonggak keberhasilan pendidikan di Indonesia mampu meningkatkan kinerjanya menjadi lebih profesional.

Program ini pun mendapat sambutan yang luar biasa dari para guru. Barangkali motivasi mereka adalah di samping keinginan memperoleh pengakuan sebagai guru profesional yang dianggap kompeten untuk melaksanakan fungsi dan tugasnya, juga tentu saja daya tarik dari diberikannya tunjangan profesi yang cukup menggiurkan. Hal ini menjadikan profesi guru yang selama ini selalu dipandang sebelah mata mulai banyak peminatnya. Profesi guru pun mulai dilirik masyarakat.

Namun, dalam pelaksanaannya, sejak awal digulirkan hingga sekarang, program ini tak pernah sepi dari permasalahan yang ujung-ujungnya membuka celah pada upaya-upaya yang kurang elegan. Misalnya, guna melengkapi portofolio, ‘sebagian’ guru rela memalsukan dokumen atau prestasi kerjanya, bahkan bila perlu membajak hasil kerja guru lain untuk melengkapi portofolionya. Mereka juga rela membeli sertifikat seminar, membeli karya tulis, bahkan membeli dan memalsukan ijazah, untuk mendongkrak nilai portofolionya agar bisa segera mendapatkan sertifikat profesi.

Tindakan-tindakan tersebut tentu sangat kontradiktif dengan tujuan awal sertifikasi yaitu meningkatkan profesionalitas dan kualitas guru. Sebab bagaimana akan meningkat kualitas dan profesionalitasnya bila cara-cara yang dilakukan untuk mendapatkan sertifikat profesi seperti itu? Akhirnya muncul anggapan bahwa program sertifikasi yang sesungguhnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas guru terkesan menjadi beralih hanya sekedar untuk mengejar kesejahteraan saja.

Read the rest of this entry

Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) Ke-19 Tahun 2011

deadline: 13 Agustus 2011

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan AJB Bumiputera 1912 akan menyelenggarakan Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) Ke-19 Tahun 2011.
LKIG adalah ajang lomba kreativitas bagi guru dalam upaya pengembangan proses pembelajaran guna mempermudah pemahaman ilmu pengetahuan bagi para peserta didik.

TINGKAT DAN BIDANG LOMBA

  • Guru SD/sederajat: umum (salah satu pelajaran)
  • Guru SMP/sederajat dan SMA/sederajat: 2 Bidang yaitu Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan(IPSK) dan Bidang Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Teknologi (MIPATEK)

RANGKAIAN KEGIATAN
18 Agustus 2011 : Registrasi Peserta
19 Agustus 2011 : Presentasi Finalis
20 Agustus 2011 : Audiensi dan Malam Penganugerahan Pemenang
21 Agustus 2011 : Kepulangan Peserta

HADIAH
Piala dan Piagam Penghargaan dari LIPI dan Uang Tunai dari AJB Bumiputera 1912
Hadiah I : Rp 12.000.000,-
Hadiah II : Rp 10.000.000,-
Hadiah III : Rp 8.000.000,-

Read the rest of this entry

Pelatihan Guru

TAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR

Perkembangan teknologi informasi beberapa tahun belakangan ini berlangsung sangat cepat. Salah satu bidang yang mendapatkan dampak yang cukup berarti dengan perkembangan teknologi informasi ini adalah bidang pendidikan. Perkembangan teknologi informasi sepertinya telah mengambil alih peran guru sebagai sumber belajar dan sumber informasi yang selama ini digadang-gadang. Betapa tidak, anak-anak kita sekarang ini lebih mudah dan cepat menggali informasi dari internet. Sehingga tidak jarang, anak-anak menjadi lebih tahu mengenai hal-hal baru dibandingkan dengan gurunya.

Berkaitan dengan fakta tersebut, maka guru pun mau tidak mau harus pula giat bersentuhan dengan teknologi informasi ini. Guru harus melek informasi, melek teknologi, melek internet. Terlebih saat ini komputer dan laptop bukan lagi merupakan barang mewah. Alat ini sudah digunakan di berbagai bidang pekerjaan, termasuk pendidikan. Di lembaga pendidikan kehadiran perangkat komputer dan laptop, bahkan jaringan internet telah menjadi suatu hal yang harus dikondisikan dan disosialisasikan untuk menjawab tantangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bagi sebagian guru, perkembangan teknologi informasi tentu sudah tidak asing bahkan sudah melekat dalam keseharian. Namun, dalam kenyataan di lapangan masih saja ada guru yang belum akrab dengan teknologi informasi ini. Dalam rangka mendekatkan guru dengan teknologi informasi ini maka SMA Negeri 2 Madiun menyelenggarakan pelatihan TIK bagi guru pada tanggal 5 s.d. 6 April 2011, kemarin. Materi yang diberikan meliputi: pembuatan media pembelajaran menggunakan microsoft powerpoint, pembuatan dan pengelolaan e-mail, serta pembuatan blog.

Mengingat pengetahuan dan keterampilan TIK guru-guru di SMAN 2 Madiun belum merata, maka pelatihan ini dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama adalah rekan-rekan guru yang pengetahuan dan keterampilan TIK-nya masih sangat minim. Pada rekan-rekan guru kelompok ini diberikan materi pembuatan media pembelajaran menggunakan microsoft powerpoint serta pengelolaan e-mail. Sedangkan kelompok kedua adalah rekan-rekan guru yang pengetahuan dan keterampilan TIK-nya sudah lebih memadai. Pada rekan-rekan guru kelompok ini diberikan materi pembuatan blog. Pelatihan ini dikemas secara sederhana. Tidak banyak teori, yang penting langsung praktik. Teknisnya, guru-guru yang sudah mahir, yaitu guru yang sudah memiliki pengetahuan lebih dalam hal teknologi informasi harus mendampingi rekan-rekan guru yang pengetahuan dan keterampilannya di bidang teknologi informasi masih minim.

Read the rest of this entry