Arsip Blog

Mengasah Kemampuan Menulis melalui Lomba

Bagi orang yang tak terbiasa melakukannya, menulis adalah kegiatan yang sangat sulit. Apalagi bagi orang yang belum pernah melakukannya. Pasti seseorang akan lebih suka ngobrol, chatting, mendengarkan musik favorit, bermain game, atau nonton televisi, daripada harus menulis. Padahal, kita semua tahu bahwa menulis merupakan aktivitas kreatif yang memiliki banyak manfaat. Menulis bisa menjadi sarana berbagi pengalaman dan berbagi pengetahuan.  Dari tulisan, orang juga dapat hidup abadi melalui karyanya.  Sebagaimana pernah dikatakan penulis besar kita, Pramoedya Ananta Toer, bahwa Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah. Sebut saja Sutan Takdir Alisyahbana, Chairil Anwar, Hamka, dan Muhammad Hatta sampai sekarang pun tetap abadi melalui hasil tulisan mereka.

Menulis sesungguhnya merupakan aktivitas yang sangat sederhana, tidak memerlukan banyak biaya. Tinggal duduk memegang kertas dan pena atau duduk di depan komputer atau laptop. Di samping itu, setiap orang sebetulnya bisa menulis, asal mau memulai. Hal ini karena menulis merupakan sebuah keterampilan, bukan bakat yang dibawa sejak lahir. Menulis dapat dipelajari dan dilatihkan. Hanya saja, untuk memulai kegiatan menulis memang tidak gampang, meski sebenarnya juga tidak sulit. Semakin sering seseorang belajar dan berlatih, maka bisa dipastikan akan semakin terampil. Jadi, setiap orang bisa menulis asalkan mau memulainya. Ya, memulai menyusun kata demi kata, kalimat demi kalimat menjadi sebuah tulisan. Tentu saja modal banyak membaca tak bisa diabaikan sebab membaca merupakan bahan bakar untuk menulis.

Read the rest of this entry

Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) 2011

LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA (LMCR) 2001

ROHTO – MENTHOLATUM GOLDEN AWARD

deadline: 21 September 2011

+

Hadiah Total Rp 95 Juta

Syarat-Syarat Lomba

  1. Lomba ini terbuka untuk pelajar SLTP (Kategori A), SLTA (Kategori B)  dan Mahasiswa/Guru/Umum (Kategori C)  dari seluruh Indonesia atau mereka yang sedang studi/bertugas di luar negeri
  2. Lomba dibuka  21 April 2011 dan ditutup 21 September 2011 (stempel pos)
  3. Tema Cerita: Dunia remaja dan segala aspek serta aneka rona kehidupannya (cinta, kebahagiaan, kepedihan, kekecewaan,  harapan, kegagalan, cita-cita, persahabatan, pengalaman unik, petulangan  maupun perjuangan hidup)
  4. Judul bebas, tetapi mengacu pada tema Butir 3
  5. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul. Judul boleh menggunakan bahasa asing
  6. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik, benar dan indah (literer). Bahasa daerah, bahasa prokem, bahasa gaul dan bahasa asing boleh digunakan untuk dialog (bukan narasi)
  7. Naskah yang dilombakan harus asli, bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasikan
  8. Ketentuan naskah:
  1. Ditulis di atas kertas ukuran kuarto atau A-4, ditik berjarak spasi 1,5 spasi, huruf 12 font Times New Roman, margin kiri-kanan rata maksimal 3Cm
  2. Panjang naskah 6 (enam) – 10 (sepuluh) halaman, diprint 3 (tiga) rangkap (copy) disertai file dalam CD
  3. Naskah disertai sinopsis, biodata singkat pengarang dan foto dalam pose bebas ukuran postcard. Lampiran lainnya: Fotocopy KTP/SIM atau Kartu Pelajar/Mahasiswa  dan Kartu Keluarga (pilih salah satu)
  4. Setiap judul naskah yang dilombakan wajib dilampiri 1 (satu) kemasan LIP ICE jenis atau saja atau segel SELSUN jenis apa saja
  5. Naskah yang dilombakan beserta lampirannya dimasukkan ke dalam amplop tertutup, cantumkan tulisan PESERTA LMCR-2011 sesuai dengan kategorinya pada bagian kanan atas amplop
  6. Naskah dan persyaratan (Butir e) dikirim ke alamat:

Panitia LMCR-2011 ROHTO-MENTHOLATUM  GOLDEN AWARD

Jalan Gunung Pancar No.25 Bukit Golf Hijau, Sentul City

Bogor 16810 – Jawa Barat

Read the rest of this entry

Belajar Menulis Fiksi bersama Gol A Gong

Drs. Heru Patriawan (Kepala SMAN 2 Madiun), Gol A Gong, dan Tias Tatanka

Menulis, bagi sebagian orang merupakan hal yang mudah. Namun, bagi sebagian yang lain menulis bisa menjadi sesuatu yang sangat susah. Kadang ide sudah didapat, tapi tak mudah menjabarkannya menjadi sebuah tulisan.

Namun demikian, bukan berarti menulis tidak bisa dipelajari. Sebab menulis itu bukan bakat, tetapi usaha dan keterampilan yang terus diasah. Dalam bukunya Mengarang Itu Gampang, penulis senior Arswendo Atmowiloto mencoba meyakinkan para pembaca bahwa sebenarnya kegiatan menulis atau mengarang itu tidak sesukar yang dibayangkan orang. Asalkan: orang yang mau menulis atau mengarang tersebut benar-benar punya kemauan dan memaksa diri sendiri untuk menulis, menulis, dan terus menulis!

Seperti halnya menyanyi, menulis bisa dipelajari dan dilatih, asal mau langsung terjun menulis untuk berlatih, berlatih, dan berlatih.  Menulis juga bisa dilakukan siapa pun dengan profesi apapun. Menulis juga merupakan kegiatan intelektual setelah membaca. Kegiatan membaca dan menulis akan menunjukkan kualitas intelektual seseorang. Melalui bukunya Jangan Mau Gak Nulis Seumur Hidup, Gol A Gong juga memprovokasi dan memberikan kiat-kiat khusus kepada pembaca untuk menulis. Buku-buku teori tentang menulis memang banyak, tapi semua itu tak akan ada artinya jika tidak langsung mulai mencoba menulis.

Read the rest of this entry

Guru dan Menulis

Kelemahan siswa dalam menulis telah lama dikeluhkan oleh guru, terutama guru Bahasa Indonesia. Baik menulis fiksi maupun nonfiksi. Padahal, pelajaran menulis telah dikenalkan kepada anak sejak awal memasuki jenjang persekolahan, bahkan sebelumnya. Namun, seiring berkembangnya usia anak dan meningkatnya jenjang pendidikan, ternyata kemampuan menulis tidak menunjukkan perkembangan yang berarti. Bahkan untuk mengerjakan tugas (menulis) pun, siswa terlihat begitu kesulitan bahkan terkesan malas untuk mengerjakan.

Hanya dua dari tiga puluh empat orang siswa yang mengangkat tangan ketika ditanya siapa di antara mereka yang suka menulis. Begitupun ketika di kelas lain diajukan pertanyaan yang sama, hanya dua sampai empat orang yang menyatakan suka menulis. Ketika siswa ditugaskan untuk menulis, sebagian dari mereka menunjukkan keengganannya dengan keluhan, ”Yaa menulis?” Sangat sedikit siswa yang tampaknya menyenangi kegiatan menulis. Beberapa siswa mengatakan bahwa kegiatan menulis membosankan dan tidak menyenangkan, sementara yang lain mengatakan menulis itu sulit.

Kelemahan menulis pada siswa ini tentu tak bisa sepenuhnya kesalahan siswa. Sebab, bila mau jujur, kelemahan menulis ini juga terjadi pada guru, yang notabene selama ini sering memberi tugas menulis kepada siswa. Kelemahan guru dalam menulis ini tampak ketika guru-guru tadi diminta menunjukkan hasil tulisan yang pernah mereka buat selama ini. Mereka pasti terperangah dan baru menyadari bahwa mereka sendiri hampir tidak pernah membuat tulisan, kecuali menulis soal atau ringkasan materi yang akan diajarkan. Bila memang demikian, lantas, mengapa guru harus mengeluhkan kemampuan siswa, sementara guru sendiri tak mampu menjadi contoh bagi siswa?

Read the rest of this entry