Arsip Blog
Jelang Ujian Nasional 2012
Ujian Nasional (UN) tinggal hitungan hari. Dimulai Ujian Nasional tingkat SMA/MA/SMK, yang dilaksanakan tanggal 16 sampai dengan 19 April 2012 ini, dilanjutkan dengan Ujian Nasional tingkat SMP/MTs, dan ditutup dengan UASBN tingkat SD/MI.
Sebagai Ujian Akhir, sekaligus berperan sebagai penentu kelulusan, Ujian Nasional (UN) sering dipandang sebagai momok yang menyeramkan. Tidak saja bagi peserta didik, tetapi juga bagi guru dan orang tua. Persiapan pun dilakukan sejak jauh-jauh hari, bahkan peserta didik baru menginjak jenjang kelas akhir. Semua pihak tentu saja menginginkan yang terbaik.
Di saat hari H Ujian Nasional kian mendekat, ada beberapa hal yang tidak dapat diremehkan, bahkan musti juga diperhatikan oleh peserta didik. Di antaranya sebagai berikut.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan menjelang Ujian Nasional
- Siapkan materi. Hal ini tentu sudah dilaksanakan jauh-jauh hari. Dengan belajar maksimal tentu materi ujian semakin dikuasai.
- Siapkan fisik. Penguasaan materi tidak ada artinya tanpa fisik yang prima. Oleh karena itu, menjaga kesehatan sangatlah penting. Termasuk di dalamnya menjaga makanan. Tidak mengonsumsi makanan yang dapat menimbulkan gangguan fisik, misalnya makan terlalu pedas, dan sebagainya.
- Istirahat dan tidur yang cukup. Menjelang hari H, belajar hendaknya tidak lagi terlalu diforsir dan sampai larut malam. Cukup membuka-buka materi sepintas untuk mengingat hal-hal yang pernah dipelajari. Tidur larut dapat membuat kondisi lemah saat mengerjakan ujian keesokan harinya.
- Siapkan segala perlengkapan dan nomor ujian. Alat tulis yang digunakan untuk ujian hendaknya dimiliki sendiri. Tidak meminjam teman saat ujian berlangsung.
- Siapkan mental. Persiapan mental dapat dilakukan dengan senantiasa berdoa kepada Tuhan. Selain itu, mohon doa restu pada orang tua dan guru. Doa serta restu orang tua dan guru akan memberi ketenangan jiwa saat mengerjakan ujian.
Ada Apa Dibalik Merosotnya Nilai UN Bahasa Indonesia?
Pengumuman kelulusan siswa tingkat SMA/SMK/MA telah disampaikan tanggal 26 April 2010 kemarin. Dan telah kita ketahui bersama, kelulusan siswa tingkat SMA/SMK/MA secara nasional tahun ini mengalami penurunan. Ironisnya, mata pelajaran yang mengganjal kelulusan adalah Bahasa Indonesia. Hal ini mengejutkan sekaligus memprihatinkan banyak pihak. Hingga berita-berita di berbagai media pun ramai membicarakan hal ini.
Memang, di berbagai daerah, seperti Jakarta, Semarang, Medan, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan kota-kota lainnya diberitakan bahwa penyebab ketidaklulusan tersebut adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Memang, sangatlah mengherankan bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Indonesia, ternyata saat hal itu dijadikan materi ujian banyak siswa yang tidak lulus. Hal ini terasa aneh dan membuat kita miris. Mengapa siswa kita bisa sangat sempurna dalam mengerjakan soal-soal mata pelajaran bahasa Inggris dan MIPA, tetapi menjadi kelabakan ketika harus berhadapan dengan soal-soal Bahasa Indonesia? Pertanyaan ini tentunya menjadi renungan kita bersama sebagai bahan kajian untuk perbaikan ke depan.
Sikap dan Pandangan Siswa terhadap Ujian Sekolah
Sikap dan Pandangan Siswa terhadap Ujian Sekolah
(sedikit catatan dari lapangan)
Ujian Nasional dan Ujian Sekolah memang telah berlalu, bahkan pengumuman kelulusan (tingkat SMA/SMK/MA) pun telah disampaikan tanggal 26 April 2010 ini. Namun, ada hal yang masih mengusik pikiran penulis sehingga mendorong penulis untuk menuangkannya dalam tulisan ini, khususnya berkenaan dengan Ujian Sekolah.
Ujian Sekolah sebetulnya merupakan kegiatan rutin akhir tahun yang dilaksanakan oleh sekolah. Ujian Sekolah diselenggarakan sebagai ujian akhir bagi siswa dengan materi ujian mata pelajaran yang tidak diujikan secara nasional.
Namun, menurut pengamatan penulis di lapangan, akhir-akhir ini Ujian Sekolah (baik Ujian Praktik maupun Ujian Tulis) seringkali dianggap remeh oleh siswa, dalam arti siswa kurang serius, dan berpandangan bahwa Ujian Sekolah hanyalah formalitas saja.
Berkenaan dengan sikap siswa yang demikian, sebagai pelaku yang berada di lapangan, penulis tidak serta merta menyalahkan sikap siswa. Namun, dengan segala keterbatasan, penulis mencoba mencari penyebab sikap siswa tersebut.







