Memotret Kepalsuan dalam “Sajak Palsu”

3712219pBeberapa minggu terakhir, berita-berita yang mengungkap kepalsuan marak di berbagai media. Mulai dari beras palsu, kosmetik palsu, dokter kecantikan palsu, sampai ijazah palsu. Bentuk-bentuk kepalsuan memang bukan hal baru di negeri ini. Dan yang paling mengusik dunia pendidikan tentunya kasus ijazah palsu. Ijazah, merupakan selembar kertas yang menjadi bukti seseorang telah menempuh pendidikan pada jenjang tertentu. Hanya saja, banyak orang yang mengambil jalan pintas. Demi gelar yang mentereng di depan atau di belakang namanya, seseorang menempuh cara instan dengan membeli ijazah yang banyak ditawarkan oleh oknum-oknum tertentu.

          Beragam kepalsuan yang merebak di masyarakat mengingatkan saya pada puisi salah seorang penyair Indonesia, Agus R. Sarjono. Puisi ini sering saya bacakan di depan kelas, selain isinya yang unik menggelitik, juga bisa menjadi bahan renungan bagi peserta didik dan guru sendiri agar tidak terjebak dalam berbagai macam kepalsuan.

SAJAK PALSU

Agus R. Sarjono

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu. Sebagian
menjadi guru, ilmuwan dan seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakat pun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu

Dalam puisi tersebut, Agus R. Sarjono tampaknya berusaha memotret realitas yang ada dalam masyarakat. Kepalsuan dimulai dari lembaga pendidikan, yaitu sekolah. Ini terlihat pada larik-larik awal.

 …… . Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru

 Kutipan di atas menggambarkan bahwa kepalsuan juga merambah dunia pendidikan, yaitu sekolah. Guru dan siswa ikut larut dalam bentuk-bentuk kepalsuan tersebut. Sungguh miris bila sekolah selalu menanamkan kepalsuan. Sebab pada akhirnya, akan memunculkan kepalsuan-kepalsuan baru untuk menutup kepalsuan-kepalsuan sebelumnya. Lembaga pendidikan hanya akan melahirkan lulusan-lulusan yang palsu. Jika demikian, tak hanya kualitas pendidikan yang ambruk, tetapi juga kualitas dan mental sumber daya manusia sendiri yang juga kian merosot sebagaimana terlihat pada larik-larik berikutnya

  …..       Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu. Sebagian
menjadi guru, ilmuwan dan seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu.

           Dari kutipan di atas menunjukkan akibat dari ketidakjujuran yang dijunjung ketika di bangku sekolah mengakibatkan lahirnya kesuksesan yang palsu pula. Begitu banyak masyarakat mempercayai kesuksesan mereka namun masyarakat tertipu akan kesuksesan mereka yang didapat dari kepalsuan. Masyarakat menganggap mereka sebagai panutan untuk di contoh oleh generasi mudah. Namun, yang patut dicontoh oleh generasi muda dan negeri ini seseorang yang memiliki jati diri yang memegang teguh akan ke jujuran. Pada kutipan di atas juga menunjukkan kebohongan yang dilakukan mereka untuk menipu masyarakat dengan berpura-pura menjunjung kesejahteraan masyarakat. Namun, mereka memanfaatkan akan kelemahan masyarakat untuk mencari keuntungan dan kepentingan mereka sendiri. Tanpa peduli perasaan masyarakat dan kepercayaan masyarakat ke pada mereka.

 Melalui puisi tersebut, penyair mengungkapkan potret realitas dalam masyarakat dengan penyajian yang ringan, terkesan berseloroh, tetapi justru mengangkat sebuah persoalan besar yang menyangkut kehidupan bangsa. Dengan gaya penyajian seperti itu, Agus seolah menertawakan kehidupan sosial kita yang serba palsu dan penuh kepura-puraan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa puisi sajak palsu sesungguhnya menyuguhkan realita keindonesiaan yang tragis, sehingga dapat memotivasi kita untuk memperjuangkan dan memperbaiki wajah pendidikan di Indonesia.

          Kepalsuan di dunia pendidikan tentu patut menjadi bahan renungan dan introspeksi kita semua, terutama yang berkecimpung dalam dunia pendidikan itu sendiri, yaitu guru dam dosen. Pendidikan menjadi sendi utama keberadaban bangsa. Dapat dikatakan bahwa segala kehidupan bangsa dimulai dari pendidikan. Pendidikan seharusnya menjadi ladang untuk menyemai nilai-nilai kebaikan yang nantinya dapat mengangkat harkat seseorang. Namun, bila dunia pendidikan sudah melakukan hal-hal yang korup, manusia yang bermartabat akan sulit diwujudkan.

Kebangkitan Nasional

merah-putih-dan-anak-anak-indonesia-496x330Tanggal 20 Mei 2015 ini bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ke-107 tahun. Kebangkitan nasional merupakan suatu momentum untuk membangun rasa dan semangat bersatu dan membangkitkan jiwa nasionalisme serta menyadarkan kita untuk meneruskan perjuangan pahlawan dan pendiri Republik Indonesia.

Peristiwa Kebangkitan Nasional pada tahun 1908 merupakan peristiwa penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Bila pada jaman dahulu fisik dan senjata adalah alat utama dalam memperjuangkan bangsa ini, maka pada masa sekarang, diri sendiri dan kekuatan asing yang tak terlihat oleh kasat mata merupakan pengaruh yang harus pintar-pintar bisa kita filter dengan baik. Hal tersebut dapat berupa pengaruh budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya. Maka dari itu, Hari Kebangkitan Nasional harus benar-benar dimaknai, bukan hanya sekedar peringatan yang hanya dilaksanakan setiap tanggal 20 Mei saja.

Lebih dari satu abad bangsa ini memperingati Hari Kebangkitan Nasional, sudah banyak sekali peristiwa yang tercatat dari bangsa ini, mulai dari prestasi sampai masalah yang tak kunjung reda. Banyak hal yang mesti dibenahi.

Masalah terbesar yang harus segera diatasi oleh sebagian besar bangsa Indonesia yaitu soal mental yang acap kali patah semangat, takut gagal, slalu mengatakan tidak bisa, pikiran yang negatif atas segala sesuatu, tidak disiplin, dan masih banyak lagi. Sikap-sikap tersebutlah yang semestinya dihapus dari jiwa dan pikiran kita. Berlaku untuk semua lapisan masyarakat, baik dari pemimpin, badan legislatif, dan kita semua sebagai rakyat Indonesia harus turut serta mengubah pandangan dan sikap dalam ragka memaknai Kebangkitan Nasional.

Apapun permasalahan yang terjadi pada bangsa ini baik dalam hal musibah bencana alam, masalah ekonomi, atau pun masalah kepemimpinan, tidak semsestinya saling menyalahkan kepada salah satu pihak yag terkait. Sikap dan kebiasaan seperti ini pun haus segera diubah. Bukan saatnya saling menjatuhkan satu sama lain, alangkah lebih baik jika saling berintropeksi diri dan bekerjasama dalam mengatasi segala masalah yang menimpa, karena bangsa Indonesia adalah satu kesatuan. Semangat untuk berjuang dan melakukan yang terbaik dalam segala aspek seharusnya menjadi pedoman yang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Untuk membangun karakter suatu bangsa yang baik, tak lepas dari peran masyarakat di dalamnya. Sebagai bagian dari warga bangsa harus mampu membuka pikiran lebih luas lagi, bukan saatnya lagi tindakan korupsi merajalela, melakukan tindakan kekerasan terhadap kaum lemah, buang sampah sembarangan, tawuran antar kelompok tertentu, penipuan, kecurangan dalam berdagang, dan lain sebagainya. Menilai seseorang tidak cukup dari sisi kecerdasannya saja, tetapi yang paling utama adalah persoalan moral atau sikapnya. Karena bangsa yang maju adalah bangsa yang rakyat dan pemimpinnya memiliki nilai-nilai atau sikap positif, menjunjung tinggi kejujuran, saling menghormati dalam perbedaan, hidup rukun.

Krisis moral yang terjadi di zaman sekarang sungguh sangat menakjubkan, seolah-olah tingkah laku atau sikap yang negatif sudah menjadi suatu hal yang lumrah. Kurangnya didikan moral menyebabkan makin buruknya kualitas atau perkembangan generasi muda apalagi untuk membantu memajukan bangsa ini.

Melihat persoalan semacam itu, peran dan fungsi pendidikan sangat berperan penting. Pendidikan moral saat ini memang sangat dibutuhkan, mengingat zaman sekarang merupakan zaman globalisasi di mana kebudayaan-kebudayaan luar sangat mudah masuk ke dalam negri. Hal ini menjadi PR kita semua, baik pemerintah, lembaga pendidikan, maupun keluarga dalam ikut serta meningkatkan moral anak. Bukan hanya moral anak atau remaja, akan tetapi semua warga bangsa Indonesia memiliki peran yang sangat penting untuk menjadikan Indonesia semakin baik dari tahun ke tahun.

Untuk itu, semangat kebangkitan nasional harus dimaknai dengan semangat untuk tetap menggelorakan jiwa dalam setiap individu warga negara Indonesia dalam menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan NKRI, tidak lelah untuk rela berkorban, menerapkan asas gotong royong dan kekeluargaan dalam kerja sama, menghargai sesama anak Indonesia, serta mencintai bangsa Indonesia merupakan modal kita untuk membantu mencapai cita-cita bangsa ini dalam mewujudkannya.

Berkarya Bersama

sketsa-masaMenumbuhkan kebiasaan menulis bukanlah hal yang mudah. Tak terkecuali di kalangan guru. Namun, penerbitan buku antologi puisi ini berusaha mematahkan anggapan tersebut. Para penulis yang semua berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia, yang tentunya masih penulis pemula, berupaya menyajikan karya-karya puisinya dalam antologi puisi ini. Mereka adalah Abi Kusno C.S. (guru SMAN 1 Ponorogo), Bekti Patria (guru SMAN 2 Madiun), Y. Niken Sasanti (guru dan Kasek SMPN 10 Yogyakarta), Yukhsan Wahyudi (guru SMK Maarif 1 Kebumen), dan Abdul Ghoni A. (dosen IKIP PGRI Bojonegoro).

Banyak sisi-sisi kehidupan yang disentuh dan direfleksikan, banyak tema yang diangkat ke permukaan. Puisi-puisi dengan tema beragam yang disajikan dalam antologi ini terlihat sebagai hasil rekaman para penulisnya atas berbagai rona kehidupan yang mereka alami. Ada puisi-puisi yang sangat personal dengan kontemplasi yang memperkaya spiritualitas, ada pula puisi-puisi sosial dengan kritik dan pemikiran-pemikiran yang segar, ada pula yang humanis, religius, dan liris.

Memang ada kedalaman dan kedangkalan dalam puisi-puisi ini. Ada pengolahan kata yang masih sederhana. Namun, seperti apa pun kondisi dan kualitasnya, para penulis sudah mencoba menunjukkan upaya untuk melahirkan tulisan. Suatu hal yang tentunya membutuhkan kesungguhan dan niat yang kuat di tengah aktivitas mengajar mereka.

Selain hadir sebagai bentuk upaya mendorong para guru untuk menulis, antologi puisi ini juga dimaksudkan sebagai ajang reuni para penulis yang pernah dipertemukan takdir untuk bersama menimba ilmu di Pascasarjana UNS. Para menulis berharap penerbitan antologi ini dapat memotivasi guru-guru lain serta peserta didik untuk ikut menulis. Semoga penerbitan antologi ini akan disusul dengan penerbitan tulisan-tulisan berikutnya. Salam.##

Ulasan Singkat Puisi Derai-derai Cemara

Chairil Anwar merupakan salah satu penyair besar Indonesia. Keberaniannya menciptakan pembaharuan dalam perpuisian di Indonesia membuatnya senantiasa dikenang. Karya-karyanya pun banyak dibicarakan. Tulisan ini pun berupaya mengupas salah satu puisinya – Derai-derai Cemara – yang kebetulan sering keluar sebagai soal Ujian Nasional. Dengan ulasan sederhana ini diharapkan peserta didik menjadi lebih mudah untuk memahami isi dan makna puisi tersebut.

 Derai-derai Cemara
 Karya Chairil Anwar
 Cemara menderai sampai jauh
 Terasa hari akan jadi malam
 Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
 Dipukul angin yang terpendam
 Aku sekarang orangnya bisa tahan
 Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi
 Tapi dulu memang ada suatu bahan
 Yang bukan dasar perhitungan kini
 Hidup hanya menunda-nunda kekalahan
 Tambah terasing dari cinta dan sekolah rendah
 Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
 Sebelum pada akhirnya kita menyerah

Derai-derai cemara yang dipakai pengarang untuk judul sajak merupakan gambaran dari daun-daun cemara yang berguguran yang merupakan metafor tentang runtuhnya harapan si aku lirik.

Bait pertama, pohon cemara menggambarkan tentang sesuatu yang lemah, ringkih, sesuai dengan bentuk daun cemara yang kecil, meruncing mudah terhempas oleh angin yang bertiup. Sementara itu, malam identik dengan kesunyian, kegelapan, waktu istirahat dan akhir dari sebuah hari atau perjalanan. Si aku lirik merasakan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Tidak hanya daun-daunnya yang luruh, bahkan dahan-dahannya juga mulai merapuh karena sering dipukul angin. Larik ini dapat dimaknai bahwa kondisi si aku sudah semakin rapuh diterpa oleh berbagai cobaan hidup. Angin memberikan gambaran tentang segala cobaan dan kepahitan dalam hidup, yang menghempas kehidupan si aku lirik sehingga membuatnya kian rapuh.

Secara singkat bait pertama dapat dimaknai sebagai kesadaran si aku lirik akan kondisinya yang kian rapuh diterpa oleh berbagai cobaan hidup (termasuk kesehatan). Si aku lirik pun merasakan perjalanan hidup dirinya sudah mendekati maut, akan berakhir.

Bait ke dua menggambarkan kedewasaan si aku lirik, yang digambarkan dari kalimat sudah berapa waktu si aku lirik bukan kanak lagi. Kedewasaan si aku lirik ditandai oleh kemampuannya menghadapi berbagai cobaan hidup (larik aku sekarang orangnya bisa tahan). Sesuatu yang pernah dicita-citakan dulu sepertinya tidak bisa lagi dipertahankan kini, sebab sudah tidak relevan dan kondisinya pun sudah tidak memungkinkan. Pandangan aku lirik terhadap hidup saat kanak-kanak berbeda dengan pandangannya saat kini sudah dewasa.

Secara singkat bait ke dua dapat dimaknai sebagai kesadaran si aku lirik bahwa dirinya sekarang sudah bukan kanak-kanak lagi (sudah dewasa) sehingga harus dapat memandang kehidupan dengan cara dewasa, termasuk dapat bertahan menghadapi berbagai cobaan hidup.

Bait ke tiga , si aku lirik menyadari bahwa hidup manusia pasti akan berakhir atau mati. Hidup manusia hanya menunggu mati. Kematian merupakan bentuk kekalahan manusia. Manusia tak bisa mengelak karena kematian merupakan ketentuan yang harus diterimanya dari Sang Maha Hidup. Cita-cita si aku lirik pada masa lampaunya yang begitu cemerlang namun si aku lirik selalu mengalami penderitaan dalam hidupnya. Nampak dari kata terasing yang digunakan yang menceritakan tentang rencana si tokoh tentang cita-citanya namun berbeda dengan apa yang diharapkan sehingga membawa dia ke dunia yang dianggap asing dan pada akhirnya berujung pada kepasrahan, menyerah pada kematian.

Secara singkat bait ke tiga dapat dimaknai sebagai kesadaran si aku lirik bahwa hidup manusia pada akhirnya akan menyerah pada kematian.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan, puisi Derai-derai Cemara merupakan ungkapan tentang perjalanan si aku lirik yang hidupnya penuh didera cobaan, dia sempat mempunyai cita-cita yang cemerlang pada masa kecilnya namun pada kenyataannya hidupnya mengalami kepahitan dan penderitaan, sehingga membawa pada sebuah keterasingan dan menyadarkan tentang kehidupannya di dunia ini pasti akan berakhir dengan mati.