Kebangkitan Nasional

merah-putih-dan-anak-anak-indonesia-496x330Tanggal 20 Mei 2015 ini bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ke-107 tahun. Kebangkitan nasional merupakan suatu momentum untuk membangun rasa dan semangat bersatu dan membangkitkan jiwa nasionalisme serta menyadarkan kita untuk meneruskan perjuangan pahlawan dan pendiri Republik Indonesia.

Peristiwa Kebangkitan Nasional pada tahun 1908 merupakan peristiwa penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Bila pada jaman dahulu fisik dan senjata adalah alat utama dalam memperjuangkan bangsa ini, maka pada masa sekarang, diri sendiri dan kekuatan asing yang tak terlihat oleh kasat mata merupakan pengaruh yang harus pintar-pintar bisa kita filter dengan baik. Hal tersebut dapat berupa pengaruh budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya. Maka dari itu, Hari Kebangkitan Nasional harus benar-benar dimaknai, bukan hanya sekedar peringatan yang hanya dilaksanakan setiap tanggal 20 Mei saja.

Lebih dari satu abad bangsa ini memperingati Hari Kebangkitan Nasional, sudah banyak sekali peristiwa yang tercatat dari bangsa ini, mulai dari prestasi sampai masalah yang tak kunjung reda. Banyak hal yang mesti dibenahi.

Masalah terbesar yang harus segera diatasi oleh sebagian besar bangsa Indonesia yaitu soal mental yang acap kali patah semangat, takut gagal, slalu mengatakan tidak bisa, pikiran yang negatif atas segala sesuatu, tidak disiplin, dan masih banyak lagi. Sikap-sikap tersebutlah yang semestinya dihapus dari jiwa dan pikiran kita. Berlaku untuk semua lapisan masyarakat, baik dari pemimpin, badan legislatif, dan kita semua sebagai rakyat Indonesia harus turut serta mengubah pandangan dan sikap dalam ragka memaknai Kebangkitan Nasional.

Apapun permasalahan yang terjadi pada bangsa ini baik dalam hal musibah bencana alam, masalah ekonomi, atau pun masalah kepemimpinan, tidak semsestinya saling menyalahkan kepada salah satu pihak yag terkait. Sikap dan kebiasaan seperti ini pun haus segera diubah. Bukan saatnya saling menjatuhkan satu sama lain, alangkah lebih baik jika saling berintropeksi diri dan bekerjasama dalam mengatasi segala masalah yang menimpa, karena bangsa Indonesia adalah satu kesatuan. Semangat untuk berjuang dan melakukan yang terbaik dalam segala aspek seharusnya menjadi pedoman yang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Untuk membangun karakter suatu bangsa yang baik, tak lepas dari peran masyarakat di dalamnya. Sebagai bagian dari warga bangsa harus mampu membuka pikiran lebih luas lagi, bukan saatnya lagi tindakan korupsi merajalela, melakukan tindakan kekerasan terhadap kaum lemah, buang sampah sembarangan, tawuran antar kelompok tertentu, penipuan, kecurangan dalam berdagang, dan lain sebagainya. Menilai seseorang tidak cukup dari sisi kecerdasannya saja, tetapi yang paling utama adalah persoalan moral atau sikapnya. Karena bangsa yang maju adalah bangsa yang rakyat dan pemimpinnya memiliki nilai-nilai atau sikap positif, menjunjung tinggi kejujuran, saling menghormati dalam perbedaan, hidup rukun.

Krisis moral yang terjadi di zaman sekarang sungguh sangat menakjubkan, seolah-olah tingkah laku atau sikap yang negatif sudah menjadi suatu hal yang lumrah. Kurangnya didikan moral menyebabkan makin buruknya kualitas atau perkembangan generasi muda apalagi untuk membantu memajukan bangsa ini.

Melihat persoalan semacam itu, peran dan fungsi pendidikan sangat berperan penting. Pendidikan moral saat ini memang sangat dibutuhkan, mengingat zaman sekarang merupakan zaman globalisasi di mana kebudayaan-kebudayaan luar sangat mudah masuk ke dalam negri. Hal ini menjadi PR kita semua, baik pemerintah, lembaga pendidikan, maupun keluarga dalam ikut serta meningkatkan moral anak. Bukan hanya moral anak atau remaja, akan tetapi semua warga bangsa Indonesia memiliki peran yang sangat penting untuk menjadikan Indonesia semakin baik dari tahun ke tahun.

Untuk itu, semangat kebangkitan nasional harus dimaknai dengan semangat untuk tetap menggelorakan jiwa dalam setiap individu warga negara Indonesia dalam menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan NKRI, tidak lelah untuk rela berkorban, menerapkan asas gotong royong dan kekeluargaan dalam kerja sama, menghargai sesama anak Indonesia, serta mencintai bangsa Indonesia merupakan modal kita untuk membantu mencapai cita-cita bangsa ini dalam mewujudkannya.

Berkarya Bersama

sketsa-masaMenumbuhkan kebiasaan menulis bukanlah hal yang mudah. Tak terkecuali di kalangan guru. Namun, penerbitan buku antologi puisi ini berusaha mematahkan anggapan tersebut. Para penulis yang semua berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia, yang tentunya masih penulis pemula, berupaya menyajikan karya-karya puisinya dalam antologi puisi ini. Mereka adalah Abi Kusno C.S. (guru SMAN 1 Ponorogo), Bekti Patria (guru SMAN 2 Madiun), Y. Niken Sasanti (guru dan Kasek SMPN 10 Yogyakarta), Yukhsan Wahyudi (guru SMK Maarif 1 Kebumen), dan Abdul Ghoni A. (dosen IKIP PGRI Bojonegoro).

Banyak sisi-sisi kehidupan yang disentuh dan direfleksikan, banyak tema yang diangkat ke permukaan. Puisi-puisi dengan tema beragam yang disajikan dalam antologi ini terlihat sebagai hasil rekaman para penulisnya atas berbagai rona kehidupan yang mereka alami. Ada puisi-puisi yang sangat personal dengan kontemplasi yang memperkaya spiritualitas, ada pula puisi-puisi sosial dengan kritik dan pemikiran-pemikiran yang segar, ada pula yang humanis, religius, dan liris.

Memang ada kedalaman dan kedangkalan dalam puisi-puisi ini. Ada pengolahan kata yang masih sederhana. Namun, seperti apa pun kondisi dan kualitasnya, para penulis sudah mencoba menunjukkan upaya untuk melahirkan tulisan. Suatu hal yang tentunya membutuhkan kesungguhan dan niat yang kuat di tengah aktivitas mengajar mereka.

Selain hadir sebagai bentuk upaya mendorong para guru untuk menulis, antologi puisi ini juga dimaksudkan sebagai ajang reuni para penulis yang pernah dipertemukan takdir untuk bersama menimba ilmu di Pascasarjana UNS. Para menulis berharap penerbitan antologi ini dapat memotivasi guru-guru lain serta peserta didik untuk ikut menulis. Semoga penerbitan antologi ini akan disusul dengan penerbitan tulisan-tulisan berikutnya. Salam.##

Ulasan Singkat Puisi Derai-derai Cemara

Chairil Anwar merupakan salah satu penyair besar Indonesia. Keberaniannya menciptakan pembaharuan dalam perpuisian di Indonesia membuatnya senantiasa dikenang. Karya-karyanya pun banyak dibicarakan. Tulisan ini pun berupaya mengupas salah satu puisinya – Derai-derai Cemara – yang kebetulan sering keluar sebagai soal Ujian Nasional. Dengan ulasan sederhana ini diharapkan peserta didik menjadi lebih mudah untuk memahami isi dan makna puisi tersebut.

 Derai-derai Cemara
 Karya Chairil Anwar
 Cemara menderai sampai jauh
 Terasa hari akan jadi malam
 Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
 Dipukul angin yang terpendam
 Aku sekarang orangnya bisa tahan
 Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi
 Tapi dulu memang ada suatu bahan
 Yang bukan dasar perhitungan kini
 Hidup hanya menunda-nunda kekalahan
 Tambah terasing dari cinta dan sekolah rendah
 Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
 Sebelum pada akhirnya kita menyerah

Derai-derai cemara yang dipakai pengarang untuk judul sajak merupakan gambaran dari daun-daun cemara yang berguguran yang merupakan metafor tentang runtuhnya harapan si aku lirik.

Bait pertama, pohon cemara menggambarkan tentang sesuatu yang lemah, ringkih, sesuai dengan bentuk daun cemara yang kecil, meruncing mudah terhempas oleh angin yang bertiup. Sementara itu, malam identik dengan kesunyian, kegelapan, waktu istirahat dan akhir dari sebuah hari atau perjalanan. Si aku lirik merasakan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Tidak hanya daun-daunnya yang luruh, bahkan dahan-dahannya juga mulai merapuh karena sering dipukul angin. Larik ini dapat dimaknai bahwa kondisi si aku sudah semakin rapuh diterpa oleh berbagai cobaan hidup. Angin memberikan gambaran tentang segala cobaan dan kepahitan dalam hidup, yang menghempas kehidupan si aku lirik sehingga membuatnya kian rapuh.

Secara singkat bait pertama dapat dimaknai sebagai kesadaran si aku lirik akan kondisinya yang kian rapuh diterpa oleh berbagai cobaan hidup (termasuk kesehatan). Si aku lirik pun merasakan perjalanan hidup dirinya sudah mendekati maut, akan berakhir.

Bait ke dua menggambarkan kedewasaan si aku lirik, yang digambarkan dari kalimat sudah berapa waktu si aku lirik bukan kanak lagi. Kedewasaan si aku lirik ditandai oleh kemampuannya menghadapi berbagai cobaan hidup (larik aku sekarang orangnya bisa tahan). Sesuatu yang pernah dicita-citakan dulu sepertinya tidak bisa lagi dipertahankan kini, sebab sudah tidak relevan dan kondisinya pun sudah tidak memungkinkan. Pandangan aku lirik terhadap hidup saat kanak-kanak berbeda dengan pandangannya saat kini sudah dewasa.

Secara singkat bait ke dua dapat dimaknai sebagai kesadaran si aku lirik bahwa dirinya sekarang sudah bukan kanak-kanak lagi (sudah dewasa) sehingga harus dapat memandang kehidupan dengan cara dewasa, termasuk dapat bertahan menghadapi berbagai cobaan hidup.

Bait ke tiga , si aku lirik menyadari bahwa hidup manusia pasti akan berakhir atau mati. Hidup manusia hanya menunggu mati. Kematian merupakan bentuk kekalahan manusia. Manusia tak bisa mengelak karena kematian merupakan ketentuan yang harus diterimanya dari Sang Maha Hidup. Cita-cita si aku lirik pada masa lampaunya yang begitu cemerlang namun si aku lirik selalu mengalami penderitaan dalam hidupnya. Nampak dari kata terasing yang digunakan yang menceritakan tentang rencana si tokoh tentang cita-citanya namun berbeda dengan apa yang diharapkan sehingga membawa dia ke dunia yang dianggap asing dan pada akhirnya berujung pada kepasrahan, menyerah pada kematian.

Secara singkat bait ke tiga dapat dimaknai sebagai kesadaran si aku lirik bahwa hidup manusia pada akhirnya akan menyerah pada kematian.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan, puisi Derai-derai Cemara merupakan ungkapan tentang perjalanan si aku lirik yang hidupnya penuh didera cobaan, dia sempat mempunyai cita-cita yang cemerlang pada masa kecilnya namun pada kenyataannya hidupnya mengalami kepahitan dan penderitaan, sehingga membawa pada sebuah keterasingan dan menyadarkan tentang kehidupannya di dunia ini pasti akan berakhir dengan mati.

Bentuk Baku Kata Berimbuhan

13702719461546589075 Manakah yang benar antara memerkarakan dan memperkarakan? Apakah memesona atau mempesona? Memercayai atau mempercayai? Memerkosa atau memperkosa? Bagaimana pula dengan memunyai dan mempunyai, mana yang benar menurut kaidah baku tata bahasa Indonesia?

Beberapa kata dalam bahasa Indonesia mengalami sedikit perubahan ketika mendapatkan imbuhan, terutama awalan (prefiks). Perubahan ini sebetulnya memiliki kaidah tertentu. Hanya saja, banyak pemakai bahasa Indonesia yang kurang memerhatikan, bahkan enggan membuka kamus Bahasa Indonesia untuk mengetahui bentuk-bentuk yang benar dan baku. Berikut ini disajikan beberapa bentuk baku kata-kata yang mendapatkan imbuhan.

memedulikan

pe·du·li v mengindahkan; memperhatikan; menghiraukan: mereka asyik memperkaya diri, mereka tidak — orang lain yg menderita;
me·me·du·li·kan v mengindahkan; menghiraukan; memperhatikan; mencampuri (perkara orang dsb): orang tua itu suka ~ orang lain;
ke·pe·du·li·an n perihal sangat peduli; sikap mengindahkan (memprihatinkan);
~ sosial sikap mengindahkan (memprihatinkan) sesuatu yg terjadi dl masyarakat

memesona

pe·so·na n 1 guna-guna; jampi; mantra (sihir): dukun itu membuat (mengenakan) — kpd gadis itu; 2 daya tarik; daya pikat: senyum gadis itu penuh –;
me·me·so·na v sangat menarik perhatian; mengagumkan: tari-tarian Minang klasik dng pakaiannya yg cemerlang sungguh ~;
me·me·so·nai v membuat (seseorang) supaya kena pesona;
me·me·so·na·kan v 1 mengenakan pesona (kpd); menjampi; 2 mengagumkan; memukau: tari-tarian Sunda modern telah ~ para penonton;
ter·pe·so·na v 1 kena pesona (guna-guna); 2 terkena daya tarik; sangat terpikat (tergiur) hatinya; terkagum-kagum: saya ~ oleh pemandangan seindah itu

Kata dasarnya {pesona}, yang diberi awalan {meM-}. Dalam morfologi, variasi prefiks {me-} antara lain adalah {mem-}, {men-}, dan {meng-}.
Engkau mungkin masih mengingat pelajaran bahasa Indonesia di bangku sekolah: bila awalan {me-} dibubuhkan pada kata-kata dasar yang berfonem pertama /k/, /p/, /s/, atau /t/, maka huruf pertama kata itu akan melumer menjadi bunyi nasal /ng/, /m/, /ny/, dan /n/, terkecuali fonem kedua kata itu berupa konsonan (seperti produksimemproduksi; kritikmengkritik).
Alhasil, seperti tersurat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bentukan yang benar dari {meM-} + {pesona} adalah memesona, bukan mempesona. Fonem pertama /p/ pada {pesona} melumer menjadi /m/.

memerkosa

per·ko·sa, me·mer·ko·sa v 1 menundukkan dng kekerasan; memaksa dng kekerasan; menggagahi; merogol: ~ negeri orang; laki-laki bejat itu telah ~ gadis di bawah umur; 2 melanggar (menyerang dsb) dng kekerasan: tindakan itu dianggapnya ~ hukum yg berlaku; negara itu dicap sbg negara yg ~ hak asasi manusia;
pe·mer·ko·sa n orang yg memerkosa;
pe·mer·ko·sa·an n 1 proses, perbuatan, cara memerkosa; 2 ki pelanggaran dng kekerasan

Penjadian kata berimbuhan ini persis seperti kasus memesona, yaitu dengan afiks {meM-}. Kata dasarnya {perkosa}. Jadi, penulisan yang benar adalah memerkosa seperti dimuat dalam KBBI, bukan memperkosa.

mentransfer

trans·fer 1 v pindah atau beralih tempat; 2 n Olr pengalihan pemain ke perkumpulan lain dng imbalan uang;
men·trans·fer v 1 memindahkan (mengalihkan) sesuatu dr satu tempat ke tempat lain atau dr seseorang ke orang lain; 2 menyerahkan atau mengalihkan (hak milik, uang, dsb) kpd orang lain: membukukan kredit atau ~ ke luar negeri hanya boleh dilakukan oleh bank; 3 mengirim

memengaruhi

pe·nga·ruh n daya yg ada atau timbul dr sesuatu (orang, benda) yg ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang: besar sekali — orang tua thd watak anaknya;
ber·pe·nga·ruh v 1 ada pengaruhnya; mempunyai pengaruh: keadaan rumah tangga sangat ~ thd perkembangan watak anak-anak; 2 berkuasa: ia seorang yg kaya dan sangat ~ di negeri itu;
me·me·nga·ruhi v 1 berpengaruh pd: keadaan batin seseorang akan ~ daya kerjanya; 2 mengenakan pengaruh pd: calo itu berusaha ~ wanita itu agar ia mau menjual mutiaranya;
ter·pe·nga·ruh v terkena pengaruh

memercayai

per·ca·ya v 1 mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata: — kpd ceritanya; — akan kabar itu; 2 menganggap atau yakin bahwa sesuatu itu benar-benar ada: — kpd barang gaib; 3 menganggap atau yakin bahwa seseorang itu jujur (tidak jahat dsb): beliau tidak — lagi kpd Amir; 4 yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan seseorang atau sesuatu (bahwa akan dapat memenuhi harapannya dsb): — kpd diri sendiri;
— angin percaya yg sia-sia;
me·mer·ca·yai v 1 menganggap benar atau nyata; mengakui benar atau nyata: ia tiada ~ segala kata dan keterangan saksi itu; 2 mengharapkan benar atau memastikan (bahwa akan dapat memenuhi harapannya dsb): ia ~ anak buahnya untuk membayar biaya pemasangan telepon;

Penulisan kata yang benar menurut KBBI adalah memercayai, bukan mempercayai. Prosesnya mirip dengan memesona dan memerkosa.
Kata dasar {percaya} diberi gabungan afiks {me-i}, yakni awalan {meM-} dan akhiran {-i}. Dalam kasus kata percaya, prefiks {me-} menjadi {meM-} → /M/ didapat dari pelumeran /p/ pada {percaya}. Jadiannya, memercaya, kemudian ditambahkan dengan akhiran {-i}, dan akan menghasilkan bentuk memercayai.