Menang dan Kalah dalam Pilkada DKI

Pilkada DKI telah menyedot perhatian masyarakat hampir satu tahun terakhir ini. Pemungutan putaran ke-2 sudah dilaksanakan kemarin. Ini berarti hiruk pikuk pilkada DKI sudah hampir habis, tinggal menunggu keputusan resmi KPU berdasarkan hasil hitung. Proses politik yang cukup pelik di DKI tentu memberikan pembelajaran dan pendewasaan politik bagi masyarakat DKI bahkan Indonesia.

Selamat untuk Gubernur dan Wakil Gubernur DKI terpilih. Perjuangan Anda baru akan dimulai, karena perjuangan sesungguhnya adalah menata Ibu Kota yang masih ‘semrawut’.

Pilkada DKI sangat menguras energi, tidak hanya rakyat Jakarta, tetapi juga bangsa Indonesia. Untuk itu, dengan hasil yang sudah didapat, kepada seluruh masyarakat, sudahlah, mari berdoa saja keadaan Jakarta lebih baik. Sudahi kesalahpahaman yang sempat memecah belah persatuan bangsa, biarkan hukum berjalan sebagaimana mestinya. Jangan sampai pemilihan gubernur usai, kemudian pertengkaran di tengah masyarakat berlanjut akibat penerimaan siapa yang kalah dan menang tidak betul-betul dari hati.

Waktunya memihak sudah ditunaikan, hak suara telah diberikan. Biarkan kondisi Jakarta tenang, sembari mengawal kinerja gubernur yang baru. Pada akhirnya, suara rakyatlah yang memenangkan pemilihan kepala daerah kali ini dan suara rakyat pula yang harus diperdengarkan bila pasangan gubernur beserta wakil gubernur tidak melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik dan benar.

Kritik dan saran yang bersifat membangun dibutuhkan untuk pengembangan kota Jakarta. Ingatlah, Jakarta itu miniatur Indonesia di mata dunia, sehingga cacat sedikit saja akan jadi pergunjingan yang mencederai pesona bangsa. Untuk itu, masyarakat Jakarta hendaknya ikut bahu membahu membangun Jakarta, lewat kerja keras dan doa dengan sepenuh cinta.

Kalah atau menang itu hanyalah hasil, sedangkan yang berharga ialah proses panjang untuk berdamai dengan diri sendiri menyangkut kesantunan lahir-batin dalam menjawab tantangan peradaban yang semakin kompleks. Ikhlaslah bila kalah, sabarlah bila menang, sebab kekalahan dan kemenangan sama-sama ujian dari Tuhan.

Kalah itu ujian agar belajar ilmu ikhlas, sebuah renung terdalam untuk tetap bekerja keras mendukung yang menang sebab kemenangan itu milik warga Jakarta, maka memenangkan rakyat dengan menjadi warga yang baik juga bagian dari kebijaksanaan pemimpin yang sesungguhnya.

Menang itu ujian agar belajar ilmu sabar, sebab Tuhan sedang menguji kualitas lahir-batin apakah layak disebut pemimpin. Percayalah kemenangan sejati itu pembuktian saat menjabat, saat bisa membuat warga Jakarta merasakan aman, damai, adil,  makmur dan sejahtera.

Selamat kepada Anies – Sandi. Semoga bisa menjadi Pemimpin yang amanah untuk memimpin Ibukota Negara ini, sebagaimana harapan banyak masyarakat sesuai janji-janji yang pernah disampaikannya.

Terima kasih untuk Ahok – Djarot, yang telah memberikan kontribusi terbaiknya untuk kemajuan DKI. Semoga Tuhan membalas segala kebaikan yang telah Anda sumbangkan untuk Negara ini. Mudah-mudahan sejarah mencatat bahwa Anda berdua adalah salah satu pasangan pemimpin terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini.

Menjadi Manusia Sehat di Zaman Gila

emha-1Siapa yang tak kenal dengan Emha Ainun Nadjib atau yang akrab dipanggil Cak Nun. Ia hampir selalu ada dan bergerak di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Tak jarang orang menyebutnya sebagai manusia komplet: budayawan, sastrawan, penyair, penulis, kolumnis, kiai, dan sebagainya.  Ia tidak hanya hadir secara fisik di tengah-tengah masyarakat, tetapi juga lewat tulisan-tulisannya di berbagai media massa sejak tahun 1980-an. Bahkan sejak tahun 90-an, buku-bukunya laris bak kacang goreng dan sampai sekarang terus dicetak ulang.

Akhir 2016 ini, bukunya kembali hadir, Hidup Itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem, yang diterbitkan oleh Noura Books Publishing. Buku ini menyampaikan topik-topik bahasan yang amat dekat dengan permasalahan kehidupan sehari-hari, seperti tentang keikhlasan hidup, mengabdi sebagai hamba, melayani sesama, dan sebagainya. Bahasannya diikuti dengan contoh, analogi, serta pemikiran-pemikiran yang akan membuat wawasan dan batin pembaca semakin terbuka. Melalui beberapa contoh mendasar yang disertakan dalam setiap pernyataan, mampu membantu jalur pikiran pembaca lebih teriring secara fokus pada permasalahan.

Dibanding dengan buku-buku Cak Nun yang lain, buku ini jauh terasa lebih ringan dari segi gaya bertutur dan bahasa penyampaian. Bahasanya sederhana. Lebih mirip seseorang yang tengah bercakap langsung dengan bahasa sehari-hari. Membaca buku ini serasa menonton dan mendengar ceramah-ceramah Cak Nun  yang tersebar di You Tube. Mudah dicerna, seru, dan penuh hikmah sehingga terasa jauh lebih renyah untuk dikonsumsi. Gaya bertutur dan berpikir Cak Nun memang unik. Sebagaimana disampaikan Candra Malik pada sampul belakang buku bahwa Cak Nun menyampaikan kabar langit dengan bahasa membumi.

Cak Nun seakan terus menerus menyalakan suluh di tengah gelap. Ia, dengan jama’ah Maiyah Nusantara, mengadakan diskusi-diskusi kebudayaan yang membahas tema-tema relevan dengan keseharian kita: dari politik, hukum, hingga pendidikan. Bahkan, tema-tema yang sebelumnya dipandang remeh-temeh, oleh Cak Nun diurai menjadi tema diskusi yang mendalam, yang sublim dengan refleksi kehidupan kita.

Selain isi buku yang mampu membawa membaca pada perenungan-perenungan dan pencerahan, buku ini juga didesain dengan tampilan yang apik dan menarik. Di sana-sini, terdapat kejutan lembar halaman dengan warna berbeda dan info-info grafis untuk menggarisbawahi poin-poin penting dari isi buku.

Melalui buku ini, Cak Nun tidak sekedar menyajikan refleksi mendalam. Ia juga menghentak kesadaran manusia, untuk tidak larut dengan dunia, tertimbun oleh jutaan kepentingan yang senantiasa menyergap manusia. Ia mengajak semua orang untuk terus mengartikan makna dan tujuan hidup, untuk selanjutnya berkarya demi kemanusiaan. Ia juga mengajak pembaca untuk menjadi manusia cerdas. Di tengah kehidupan yang saling berhimpit dengan nafsu dan kepentingan, selalu ada cara untuk mencari kejernihan ilmu. Cak Nun mengajak pembaca untuk selalu memaknai setiap peristiwa dengan konteks kehidupannya. Pengabdian dan kontribusi pada masyarakat dan bangsa, akan menjadikan manusia sebagai orang yang bermanfaat.

 

Pendidikan yang Humanis dari Anies Baswedan

Anies Baswedan memang kini tak lagi menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan setelah Presiden Jokowi melakukan reshuffle kabinetnya pada 27 Juli 2016 lalu. Banyak pihak yang kaget dan tidak menduga, karena menganggap menteri yang berpenampilan selalu santun dan murah senyum ini sudah tepat menjalankan tugas dan fungsinya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tetapi, itulah kenyataannya. Menteri baru telah ditunjuk Presiden Jokowi untuk menggantikan posisinya.

Selama 20 bulan masa kepemimpinannya di Kemendikbud, sesungguhnya ada berbagai terobosan dan gebrakan yang dilakukan Anies. Yang paling banyak dirasakan oleh masyarakat adalah upaya Anies Baswedan dalam mewujudkan pendidikan yang memanusiakan manusia atau pendidikan yang humanis. Anies mencoba mengembalikan ruh kemanusiaan dalam jiwa pendidikan nasional. Anies memandang bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memanusiakan manusia, baik dari sisi guru maupun peserta didiknya.

Tentu kita belum lupa, salah satu hal yang lekat dengan Anies Baswedan adalah semangatnya membumikan kembali ajaran Ki Hajar Dewantara. Dikatakannya, bahwa para guru harus belajar dari filosofi yang digagas bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara, menamakan lembaga pendidikannya Taman Siswa yaitu tempat yang penuh kebahagian dan menyenangkan karena anak butuh bermain. Pendidikan di Indonesia harus adiktif atau membuat anak ketagihan ingin kembali belajar. Karena kita akan senang kalau anak mengatakan semoga besok cepat datang agar bisa ke sekolah, bukan berkata semoga besok sekolah tidak ada. Sebuah sekolah – apapun bentuknya – seharusnya mampu membentuk akal dan budi manusia agar menjadi insan-insan yang luhur dan efektif, serta bermakna bagi lingkungannya.

Dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang humanis, Anies juga mengusung sekolah berintegritas. Hal ini didorong oleh keprihatinannya melihat ketidakjujuran di lingkungan sekolah, khususnya berkaitan dengan Ujian Nasional. UN yang selama ini menjadi penentu kelulusan telah menciptakan berbagai ekses. Yang paling menonjol tentunya mendorong ketidakjujuran. Anies berupaya mengembalikan UN pada kedudukan dan fungsinya, yaitu memotret capaian pendidikan yang sesungguhnya. Dan, pada masa jabatannya, Anies menghapus syarat UN sebagai penentu kelulusan. Ia mengusung indeks integritas Ujian Nasional (IIUN) sebagai parameter yang membanggakan sekolah dan daerah. Sekolah dengan IIUN tinggi diberi piagam sebagai bukti bahwa sekolah itu berikhtiar menjunjung kejujuran dalam penyelenggaraan UN.

Dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang maju, Anies juga membentuk Direktorat Pendidikan Keluarga. Hal ini dimaksudkan bahwa keluarga juga harus turut bertanggung jawab atas keberhasilan pendididkan putra putrinya. Bahkan Anies juga membuat gebrakan mengenai kewajiban orangtua untuk mengantar anaknya pada hari pertama masuk sekolah.

Anies juga mencanangkan Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti. Hal ini didorong oleh keinginannya untuk membangun dan memperbaiki moral bangsa yang saat ini banyak terdegradasi oleh pengaruh-pengaruh negatif, baik dari dalam mupun luar negeri. Meski pendidikan karakter ini bukan hal baru, tetapi Anies lebih menekankannya sebagai gerakan sehingga hingar bingarnya cukup terasa. Khususnya, mengenai karakter nasionalisme Anies mewajibkan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebelum memulai pelajaran.

Menjelang akhir masa jabatannya, Anies mencanangkan masa orientasi peserta didik baru yang bebas dari kekerasan. Hal ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, terutama orangtua. Masa orientasi peserta didik baru selama ini menjadi ajang perploncoan senior kepada yuniornya. Bibit-bibit kekerasan sering muncul pada kegiatan tersebut. Hal ini akan terus terjadi jika rantai tidak diputus.

Khusus bagi guru, Anies menempatkan guru sebagai sosok yang mulia karena guru adalah ujung tombak pendidikan. Dalam berbagai kesempatan Anies terus memotivasi dan memompa semangat guru untuk secara total mengabdi mencerdaskan anak-anak bangsa. Anies mengatakan bahwa menjadi guru bukanlah sekadar pekerjaan, melainkan pelukis masa depan. Menjadi guru bukanlah pengorbanan, melainkan sebuah penghormatan. Guru adalah pembuat sejarah, dan sebagainya. Anies juga mendorong guru untuk selalu berkarya, guru mulia karena karya. Karya guru yang paling Nampak adalah terciptanya generasi muda bangsa yang cerdas dan berkarakter mulia.

Hal-hal yang dilakukan oleh Anies adalah upayanya dalam menciptakan pendidikan humanistik, yaitu pendidikan yang berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai inilah yang saat ini banyak tercerabut dalam jiwa bangsa Indonesia. Dengan gayanya yang khas, Anies selalu mengingatkan untuk memanusiakan peserta didik dan memanusiakan guru. Pendidikan humanistik adalah sebuah konsep pendidikan yang berupaya menyentuh hati manusia sebagai upaya untuk menanamkan karakter atau budi pekerti yang baik. Hati hanya bisa disentuh dengan hati, dan ketulusan hati seorang guru dalam mengajar akan sangat berdampak terhadap perkembangan belajar peserta didik.

Kini, Anies Baswedan memang tak lagi menjabat sebagai Mendikbud. Namun, upaya-upaya berharga yang telah dirintisnya ada baiknya untuk terus dilanjutkan demi mewujudkan pendidikan nasional yang bermartabat.

RIP Majalah Sastra Horison

majalah horisonKabar kurang menyenangkan yang harus saya dengar di penghujung Juli ini adalah Majalah Sastra Horison versi cetak resmi berhenti terbit dan akan fokus ke versi berbasis jaringan (online). Resmi berhenti terbitnya Majalah Sastra Horison ini disampaikan oleh Taufiq Ismail (salah satu pendirinya) dalam peringatan 50 tahun Horison di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Selasa (26/07/2016).

Alasannya cukup klasik, yaitu ketiadaan dana. Memang, sampai saat ini sastra masih dianggap dunia yang sepi dan tidak menguntungkan. Jadi, tak banyak yang mau meliriknya, apalagi menjadi sponsor untuk menyokong pendanaannya.

Padahal, majalah ini telah menjadi kawan setia saya lebih dari 10 tahun terakhir. Selain saya perlukan untuk mengikuti perkembangan dunia sastra, majalah ini juga saya gunakan sebagai sumber belajar dan materi mengajar di sekolah. Setiap bulan, saya sengaja membelinya di toko buku. Bahkan saya meminta karyawan toko buku tersebut untuk memberi kabar jika edisi terbaru majalah tersebut sudah datang. Dan, bulan Juli ini kabar kehadirannya tak juga sampai. Hingga akhir Juli ini, yang saya dengar justru kabar dari penyair Taufik Ismail yang mengumumkan bahwa versi cetak majalah Horison harus berhenti. Duh!

Berhenti cetaknya majalah Horison ini menunjukkan betapa susahnya mencintai dan memperjuangkan sastra. Dunia yang sepi, dunia yang sering dipandang tak berarti. Tanpa bisa berbuat apa-apa, saya pun harus merelakan ketiadaannya. Selanjutnya hari-hari ke depan saya harus membiasakan diri tanpanya, serta membiasakan diri untuk membaca versi daring (online)-nya.

Ringkasan Revisi Kurikulum 2013

hasil-revisi-kurikulum-2013-terbaru-edisi-final-tahun-2016

Ringkasan Revisi Kurikulum 2013

  1. Nama Kurikulum tidak berubah menjadi Kurikulum Nasional tetapi menggunakan nama Kurikulum 2013 Edisi Revisi yang berlaku secara Nasional;
  1. Penilaian sikap KI 1 & KI 2 sudah ditiadakan di setiap mata pelajaran hanya agama dan PPKn namun Kompetensi Inti ( KI ) tetap dicantumkankan dalam penulisan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP);
  1. Jika ada 2 (dua) nilai praktek dalam 1 Kompetensi Dasar (KD), maka yang diambil adalah  nilai yang tertinggi. Penghitungan nilai ketrampilan dalam 1 KD ditotal (praktek, produk, dan portofolio) dan diambil nilai rata-rata. Untuk pengetahuan, bobot penilaian harian dan penilaian akhir semester itu sama;
  1. Pendekatan saintifik 5M bukanlah satu-satunya metode saat mengajar dan apabila digunakan maka susunannya tidak harus berurutan;
  1. Silabus Kurikulum 2013 Edisi Revisi lebih ramping hanya 3 (tiga) kolom yaitu KD, materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran;
  1. Perubahan terminologi ulangan harian menjadi penilaian harian, UAS menjadi penilaian akhir semester untuk semester 1 (satu) dan penilaian akhir tahun untuk semester 2 (dua). Dan sudah tidak ada lagi UTS langsung ke penilaian akhir semester;
  1. Dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), tidak perlu disebutkan nama metode pembelajaran yang digunakan, dan materi dibuat dalam bentuk lampiran berikut dengan rubrik penilaian (jika ada);
  1. Skala penilaian menjadi 1 – 100. Penilaian sikap diberikan dalam bentuk predikat dan deskripsi;
  1. Remedial diberikan untuk yang kurang, namun sebelumnya siswa diberikan pembelajaran ulang. Nilai remedial inilah yang dicantumkan dalam hasil

Berkaitan  dengan upaya standarisasi pendidikan nasional kita, Pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah menerbitkan sejumlah peraturan baru, diantaranya:

  1. Permendikbud No. 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah yang digunakan sebagai acuan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan. Dengan diberlakukanya    Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 Tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
  2. Permendikbud No. 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah  yang memuat tentang  Tingkat Kompetensi dan Kompetensi Inti sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Kompetensi Inti meliputi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan ketrampilan. Ruang lingkup materi yang spesifik untuk setiap mata pelajaran dirumuskan berdasarkan Tingkat Kompetensi dan Kompetensi Inti untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Dengan diberlakukannya Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
  3. Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah yang merupakan kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan dasar menengah untuk mencapai kompetensi lulusan. Dengan diberlakukanya    Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
  4. Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan yang merupakan kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dengan diberlakukannya Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 104 Tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Keempat peraturan menteri di atas tidak dapat dilepaskan dari adanya upaya revisi Kurikulum 2013 yang saat ini sedang diterapkan di beberapa sekolah sasaran. Dengan kata lain, keempat peraturan menteri di atas pada dasarnya merupakan landasan yuridis bagi penerapan kurikulum 2013 yang telah direvisi.

Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang keempat peraturan di atas, silahkan klik tautan tautan di bawah ini:

Permendikbud Nomor 20/2016: SKL
Permendikbud Nomor 21/2016: Standar Isi
Permendikbud Nomor 22/2016: Standar Proses
Permendikbud Nomor 23/2016: Standar Penilaian