Guru, Pelukis Masa Depan

Menjadi guru bukanlah sekadar pekerjaan, melainkan pelukis masa depan.
Menjadi guru bukanlah pengorbanan, melainkan sebuah penghormatan.

2015-11-29_10.28.57Dua kalimat di atas merupakan kalimat yang sering disampaikan Mendikbud, Anies Baswedan, mengenai profesi guru. Kalimat tersebut disampaikan pula saat peringatan Hari Guru Nasional tahun 2015 ini. Seseorang yang menjadi guru berarti telah memilih jalan terhormat, hadir bersama anak-anak yang menjadi pemilik masa depan Indonesia. Guru-lah yang ikut menentukan warna pada anak-anak didiknya. Di pundak guru dititipkan masa depan bangsa. Guru memiliki peran yang sangat mulia dan strategis dalam membangun masa depan sebuah bangsa.

Kita semua tentu sepakat, pendidikan adalah ikhtiar yang fundamental untuk memajukan bangsa. Potensi bangsa ini akan dapat berkembang jika manusianya terkembang dan terbangunkan. Kualitas manusia adalah hulunya kemajuan dan pendidikan adalah salah satu unsur paling penting dalam meningkatkan kualitas manusia. Dan guru-lah yang menjadi kunci utamanya.

Guru berada di barisan terdepan dalam membangun manusia menuju kemajuan sebuah bangsa. Ada tiga tugas penting yang diemban oleh seorang guru, yaitu mengajarkan ilmu, membentuk karakter yang mulia, dan menanamkan optimisme serta cita-cita positif kepada peserta didik. Setiap tutur, langkah, dan karya guru adalah ikhtiar untuk mencerdaskan bangsa. Hal ini harus menjadi ruh bagi setiap guru. Oleh karena itulah, pada peringatan Hari Guru tahun ini diangkat sebuah tema “Guru Mulia Karena Karya”. Karya guru ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk “kerja”, misalnya inovasi pembelajaran, karya tulis, kerja keras, juga melalui teladan-teladan baik yang diberikan, yang semuanya dapat menjadi inspirasi bagi siswa-siswa khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Melalui karyanya, guru dapat memuliakan dirinya.

Sebagai garda terdepan membangun manusia Indonesia, guru perlu terus belajar. Guru harus menjadi seorang pembelajar. Terlebih di era informasi yang berjalan begitu cepat. Jangan mengajar, jika sudah berhenti belajar. Guru hendaknya senantiasa mawas diri dan melakukan perbaikan-perbaikan diri guna mengembalikan ruh sejati seorang guru. Pendidikan yang baik hanya dapat terwujud di tangan guru-guru yang berkualitas, kreatif, berdedikasi, dan berintegritas tinggi. Diperlukan totalitas dan kesungguhan guru dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik.

Sebagai guru, tentu tak ingin kelak dikenang siswa sebagai guru yang galak, tetapi alangkah bahagianya jika kelak dikenang siswa sebagai guru yang inspiratif. Menjadi guru yang inspiratif tentu dapat terwujud jika guru memiliki ruh/spirit yang baik, yang mampu menggerakkan siswa ke arah yang positif. Ruh/spirit guru ini dapat hadir jika guru memiliki kebanggaan terhadap profesi mulia yang disandangnya ini.

Sepertinya benar ungkapan yang terdapat dalam sebuah khazanah pendidikan Islam bahwa metode lebih penting daripada materi/kurikulum. Guru lebih penting daripada metode. Namun, ruh/spirit guru jauh lebih penting daripada guru itu sendiri. Selamat Hari Guru Nasional untuk seluruh guru di tanah air Indonesia. Salam.##

Wajah Politik dalam Puisi

25069040Buku yang berjudul Manusia Istana ini berisikan puisi politik, sebagaimana tertulis pada sampul buku, judul buku ini adalah Manusia Istana: Sekumpulan Puisi Politik. Di dalamnya ada 31 puisi dengan nuansa politik yang begitu kuat.

`… Berpuluh laksa tentara berderap menjadi istana: memintaku duduk di singgasana// aku memandang langit/ matahari tersenyum: 42 derajad celsius// sebagian serdadu tumbang…//’.

`Aku biarkan pasukan berlaksa itu/ menyorongkan ujung tombaknya/ matahari kering// tapi mata maharani basa/ hari itu maharaja mati…//’ (Lidah Tak Bertakhta)

Puisi-puisi Radhar kali ini begitu politis. Ia seakan menandaskan politikus sejatinya jangan ingkar janji dan nista kepada rakyat. Kekuasaan memang memberikan kedigdayaan bagi pemimpin. Itu bisa kita tengok pada sepenggal puisi Kopiah sang Jenderal. Bunyinya: `…Operasi alpa rakyat sengsara/batalyon slogan menyerbu media/ komando bertingkat usai di tongkat/jenderal mati kopiah kini berdiri.’

Persoalan politik memang menjadi tema Manusia Istana. Radhar tidak sekadar menghadirkan puisi. Ia juga menjadi saksi zaman, terutama saat terjadi perubahan sistem kekuasaan di Indonesia. Sebagaimana dikemukakan penulis, puisi-puisi ini bertema politik yang ditulis dalam periode 2007-2009. Radhar Panca Dahana sepertinya sangat muak dengan reformasi sejak kerusuhan 1998 silam. Era yang dulu begitu dibangga-banggakan banyak orang seantero Tanah Air itu ternyata dinilai jauh lebih munafik dibanding zaman Orde Baru (orba).

Radhar mungkin tak seorang diri yang merasa muak dan jemu dengan dunia perpolitikan. Namun, ia menyuarakannya berbeda dengan yang lain. Bagi Radhar, tiap orang memiliki kebahagiaan, ketuhanan, keterusterangan yang mudah dipahami. Sayangnya, semua itu direbut oleh pikiran dan tindakan yang tidak hanya melukai, mendestruksi, dan mengkriminalisasi kebudayaan karena sebetulnya kebudayaan itu sendiri yang telah memberi keagungan terhadap sebuah istana dan orang-orang di sekitarnya.

Terlepas dari tema politik, sesungguhnya Radhar juga masih wawas diri kepada Sang Kuasa. Mantan wartawan itu terkadang cengeng sebagaimana manusia biasa. Ia tak jarang menitikan air mata. Itu begitu tersurat lewat puisi liris “Airmata Uma 1”.

Sepenggal baitnya berbunyi: `Tuhanku, maafkan doaku/meminta waktuMu lagi/menunaikan amanah ini/menuntaskan sisa waktu/ memanggul segunung batu…//Bersamaku, mahkhluk yang renta dan tak berdaya//segala yang mulia, hanya untukMu//’.

Melalui bahasa puisinya yang penuh semangat, keterbukaan, dan pencerahan, Radhar ingin menyampaikan pesan yang tidak menyerang para politisi atau siapa pun yang berada di pucuk kekuasaan. Kehadiran buku Radhar mampu membangunkan kita semua dari amnesia kolektif dan bius-bius atau candu-candu, atau uap-uap kekuasaan. Sebab, selama ini masyarakatlah yang kerap menjadi sasaran bius-bius kekuasaan tersebut.

Haruskah Bahasa Indonesia Tergadai demi Mendongkrak Ekonomi?

bendera-indonesiaKebijakan penghapusan persyaratan kewajiban berbahasa Indonesia bagi Tenaga Kerja Asing (TKA) menjadi kabar mengejutkan tahun ini. Kebijakan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 16 tahun 2015 menggantikan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenakertrans) Nomor 12 Tahun 2013. Peraturan itu sudah disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM, 29 Juni 2015. Namun, baru diketahui publik akhir Agustus lalu yang akhirnya banyak menuai kritik.

Kebijakan pemerintah menghapus persyaratan tersebut patut disayangkan. Sebab hal itu menunjukkan sikap mundur dan tidak menunjukkan nasionalisme. Sebagai bangsa besar yang memiliki penduduk lebih dari 250 juta jiwa, bahasa Indonesia adalah simbol dan jati diri bangsa. Bahasa Indonesia juga membedakan bangsa Indonesia dari bangsa lain, serta menunjukkan keberadaan bangsa Indonesia di antara bangsa lain. Bahasa Indonesia juga menunjukkan karakter, budaya dan identitas bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia adalah kehormatan bangsa.

Sesungguhnya, masing-masing negara di dunia, termasuk negara-negara ASEAN, memberlakukan persyaratan kemampuan berbahasa tempatan bagi tenaga kerja asing. Di berbagai negara, seperti Saudi Arabia, Jerman, Tiongkok, Jepang, Korea, bahkan Thailand dan Malaysia memberlakukan kewajiban penggunaan bahasa negara tempatan. Hal tersebut untuk menegaskan kedaulatan budaya negara bersangkutan.

Di tengah gelombang ekonomi global, sudah banyak negara yang mempelajari Bahasa Indonesia. Menurut berbagai sumber, tercatat ada 46 negara yang mempelajari bahasa Indonesia. Bahkan di Australia, bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran wajib di beberapa sekolah. Begitu juga di Korea Selatan dan Tiongkok, ratusan mahasiswa mereka dikirim ke Indonesia sekadar untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia. Sejatinya, mereka terus membidik pasar Indonesia. Mereka menyadari bahwa Indonesia merupakan negara berkembang yang bisa menjadi tujuan investasi. Lantas, ketika tenaga kerja asing tidak perlu menggunakan bahasa Indonesia maka sudah pasti mempelajari bahasa Indonesia di negara mereka menjadi hal yang percuma.

Ya, bahasa Indonesia sudah sejak lama terseok-seok, disampingkan bahkan tak berdaya. Gengsi tinggi untuk menggunakan bahasa asing menjadikan bahasa sendiri kalah bersaing. Mulai nama gedung, papan petunjuk di tempat-tempat umum, nama pertokoan, merk dagang lain, serta judul buku dan film lebih bangga bila dilabeli dengan nama berbahasa asing. Berkali-kali penggunaan bahasa asing di ruang publik dibentengi. Badan Bahasa pun berusaha keras membenahi atau mengganti. Bahasa Indonesia harusnya dapat berjaya di negerinya sendiri.

Lewat Sumpah Pemuda 1928, bangsa Indonesia telah berikrar untuk menjunjung bahasa Indonesia. Itu merupakan komitmen kebangsaan yang terus-menerus harus dirawat dan dihidupkan. Berbagai upaya dilakukan untuk memajukan dan memantapkan kedudukan bahasa Indonesia, bahkan mendorongnya menjadi bahasa internasional. Namun, upaya itu kini kian tak berdaya. Benteng terakhir agar bahasa Indonesia kian mengglobal mungkin hanya tinggal cerita. Bahasa Indonesia akan digadai demi ekonomi. Sungguh kebijakan yang perlu ditinjau ulang.

Membaca, membaca, membaca …

membacaPada tahun pelajaran 2015/2016 ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan dan menerapkan Program Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) untuk diterapkan di sekolah. Salah satu isi dari program tersebut adalah penumbuhan potensi unik dan utuh setiap anak yang dilakukan dengan kegiatan wajib membaca buku 15 menit sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Melalui pembiasaan membaca, diharapkan bisa menumbuhkembangkan potensi utuh para siswa. Buku yang dibaca bukan buku mata pelajaran. Hal yang terpenting, buku itu harus pantas dan disukai oleh para siswa sesuai dengan tingkatannya. Buku-buku yang dibaca bisa berjenis sastra Indonesia dan luar negeri. Bahkan jenis bacaan serupa koran atau majalah bisa digunakan sekolah.

Program pembiasaan ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat minta baca paling rendah di dunia. Minat baca masyarakat Indonesia memang sangat mengkhawatirkan. Sastrawan Taufik Ismail bahkan mengatakan siswa kita sudah menderita ‘rabun’ membaca dan ‘pincang’ menulis. Sementara itu, di negara-negara lain, sudah berpuluh-puluh tahun lalu membaca menjadi kewajiban siswa di bangku sekolah – membaca buku selain buku paket pelajaran. Oleh karena itu, tidak heran jika kemampuan literasi siswa-siswa kita menduduki peringkat paling rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Rendahnya minat baca ini pada akhirnya akan berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Meski sangat terlambat, upaya ini patut diapresiasi. Namun demikian, upaya menumbuhkan minat baca, khususnya bagi pelajar, tentu tidak mudah. Terlebih di tengah serbuan perkembangan teknologi yang nyaris tak terbendung dan telah mencengkeram waktu generasi muda. Hal ini terlihat setelah hampir 2 bulan tahun pelajaran berjalan, kebiasaan membaca ini belum dapat maksimal dilaksanakan di sekolah. Siswa masih tampak enggan membaca buku.

Menumbuhkan minat baca memang menjadi masalah yang hampir tidak pernah selesai bagi bangsa ini. Harga buku dan ketersediaan buku selalu menjadi alasan. Membeli buku selalu menempati urutan daftar kebutuhan paling bawah. Dan jika harga-harga kebutuhan konsumtif lainnya naik, kebutuhan membeli buku-lah yang pertama kali akan dicoret dari daftar kebutuhan. Padahal, masyarakat bisa sangat konsumtif untuk hal-hal lain.

Selain itu, dalam kehidupan masyarakat juga menunjukkan bahwa orang-orang yang tidak pernah membaca pun dapat hidup sejahtera, dapat hidup kaya – ukuran materi yang selalu digadang-gadang oleh setiap orang. Jadi, untuk apa harus membaca, yang penting sudah hidup enak. Berbagai propaganda tentang manfaat membaca buku yang sering disampaikan juga tidak mampu mengubah keadaan.

Menumbuhkan minat baca tidak cukup hanya dengan peraturan atau perintah. Untuk awal memang perlu sedikit dipaksakan, dalam arti dipaksakan dalam penyediaan waktu sebagaimana diprogramkan oleh Kememdikbud. Namun demikian, bahan bacaan diserahkan/dibebaskan kepada siswa – yang tentunya tetap memperhatikan unsur kemanfaatannya. Bacaan yang bermanfaat tentu akan membantu menumbuhkan potensi siswa.

Penumbuhan minat baca di sekolah, tentunya memerlukan peran guru. Guru harus menjadi model atau contoh. Guru harus lebih dulu memiliki minat baca yang baik sebelum menuntut siswa gemar membaca. Selain itu, guru yang sering membaca buku akan memiliki referensi berbagai bacaan yang baik dan banyak. Dengan begitu, guru akan lebih mudah merekomendasikan bacaan-bacaan yang baik tersebut kepada para siswa. Guru juga tidak khawatir siswa akan salah memilih bacaan.

Kebiasaan membaca juga harus dibangun oleh lingkungan, yaitu lingkungan yang mendukung tumbuhnya minat baca. Selain penyediaan waktu, penumbuhan minat baca juga harus dilakukan dengan penyediaan buku-buku yang berkualitas, baik di perpustakaan sekolah maupun perpustakaan kelas, penyediaan koran dinding di tempat-tempat strategis, juga buku-buku elektronik untuk menyiasati siswa yang saat ini memang cenderung lebih akrab dengan teknologi. Dengan upaya ini diharapkan minat baca siswa akan semakin tumbuh. Salam.##

Memotret Kepalsuan dalam “Sajak Palsu”

3712219pBeberapa minggu terakhir, berita-berita yang mengungkap kepalsuan marak di berbagai media. Mulai dari beras palsu, kosmetik palsu, dokter kecantikan palsu, sampai ijazah palsu. Bentuk-bentuk kepalsuan memang bukan hal baru di negeri ini. Dan yang paling mengusik dunia pendidikan tentunya kasus ijazah palsu. Ijazah, merupakan selembar kertas yang menjadi bukti seseorang telah menempuh pendidikan pada jenjang tertentu. Hanya saja, banyak orang yang mengambil jalan pintas. Demi gelar yang mentereng di depan atau di belakang namanya, seseorang menempuh cara instan dengan membeli ijazah yang banyak ditawarkan oleh oknum-oknum tertentu.

          Beragam kepalsuan yang merebak di masyarakat mengingatkan saya pada puisi salah seorang penyair Indonesia, Agus R. Sarjono. Puisi ini sering saya bacakan di depan kelas, selain isinya yang unik menggelitik, juga bisa menjadi bahan renungan bagi peserta didik dan guru sendiri agar tidak terjebak dalam berbagai macam kepalsuan.

SAJAK PALSU

Agus R. Sarjono

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu. Sebagian
menjadi guru, ilmuwan dan seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakat pun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu

Dalam puisi tersebut, Agus R. Sarjono tampaknya berusaha memotret realitas yang ada dalam masyarakat. Kepalsuan dimulai dari lembaga pendidikan, yaitu sekolah. Ini terlihat pada larik-larik awal.

 …… . Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru

 Kutipan di atas menggambarkan bahwa kepalsuan juga merambah dunia pendidikan, yaitu sekolah. Guru dan siswa ikut larut dalam bentuk-bentuk kepalsuan tersebut. Sungguh miris bila sekolah selalu menanamkan kepalsuan. Sebab pada akhirnya, akan memunculkan kepalsuan-kepalsuan baru untuk menutup kepalsuan-kepalsuan sebelumnya. Lembaga pendidikan hanya akan melahirkan lulusan-lulusan yang palsu. Jika demikian, tak hanya kualitas pendidikan yang ambruk, tetapi juga kualitas dan mental sumber daya manusia sendiri yang juga kian merosot sebagaimana terlihat pada larik-larik berikutnya

  …..       Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu. Sebagian
menjadi guru, ilmuwan dan seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu.

           Dari kutipan di atas menunjukkan akibat dari ketidakjujuran yang dijunjung ketika di bangku sekolah mengakibatkan lahirnya kesuksesan yang palsu pula. Begitu banyak masyarakat mempercayai kesuksesan mereka namun masyarakat tertipu akan kesuksesan mereka yang didapat dari kepalsuan. Masyarakat menganggap mereka sebagai panutan untuk di contoh oleh generasi mudah. Namun, yang patut dicontoh oleh generasi muda dan negeri ini seseorang yang memiliki jati diri yang memegang teguh akan ke jujuran. Pada kutipan di atas juga menunjukkan kebohongan yang dilakukan mereka untuk menipu masyarakat dengan berpura-pura menjunjung kesejahteraan masyarakat. Namun, mereka memanfaatkan akan kelemahan masyarakat untuk mencari keuntungan dan kepentingan mereka sendiri. Tanpa peduli perasaan masyarakat dan kepercayaan masyarakat ke pada mereka.

 Melalui puisi tersebut, penyair mengungkapkan potret realitas dalam masyarakat dengan penyajian yang ringan, terkesan berseloroh, tetapi justru mengangkat sebuah persoalan besar yang menyangkut kehidupan bangsa. Dengan gaya penyajian seperti itu, Agus seolah menertawakan kehidupan sosial kita yang serba palsu dan penuh kepura-puraan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa puisi sajak palsu sesungguhnya menyuguhkan realita keindonesiaan yang tragis, sehingga dapat memotivasi kita untuk memperjuangkan dan memperbaiki wajah pendidikan di Indonesia.

          Kepalsuan di dunia pendidikan tentu patut menjadi bahan renungan dan introspeksi kita semua, terutama yang berkecimpung dalam dunia pendidikan itu sendiri, yaitu guru dam dosen. Pendidikan menjadi sendi utama keberadaban bangsa. Dapat dikatakan bahwa segala kehidupan bangsa dimulai dari pendidikan. Pendidikan seharusnya menjadi ladang untuk menyemai nilai-nilai kebaikan yang nantinya dapat mengangkat harkat seseorang. Namun, bila dunia pendidikan sudah melakukan hal-hal yang korup, manusia yang bermartabat akan sulit diwujudkan.