Mengajar Itu Seni

hardiknas2016q

Tidak semua nasihat harus diucap lewat kata. Karena ada beberapa nasihat yang jika diucapkan, akan terasa menyayat dan menyakitkan. Guru yang bijak tahu persis akan hal itu. Karenanya, ia menyisipkan banyak nasihat dalam laku. Kadang pada diamnya, kadang pada teladannya, terkadang pada ketakpedulian atau kecuekannya. Dan yang tak lazim, bahkan nasihat terkadang diberikan dengan kesengajaannya berbuat salah. Agar sang murid melihat dengan cara yang tepat sesuai konteksnya. Agar sang murid berakal dan menggunakan akalnya. Agar sang murid mengerti dengan hati dan paham sampai menembus nurani.

Di mata murid arogan. Guru yang semacam itu disebut guru yang tidak perhatian atau bahkan dianggap sebagai guru yang tidak pantas dan tidak pas. Namun, di mata murid yang siap belajar, yang demikian adalah nasihat paling santun yang akan dikenang kelak saat keberhasilan sudah di tangan.

Mengajar dan belajar adalah seni. Seni untuk saling mengerti dan saling memahami. Seperti rasa cinta 2 sejoli yang tak ingin kata-kata menjadi pengganggu saat berdua. Karena kadang, diam asal bersama adalah sebuah keromantisan.

Mengajar bukanlah sebuah kegiatan yang memiliki hubungan pasti antara subjek dan objek. Mengajar adalah sebuah seni dengan guru menjadi senimannya. Melalui mengajar, ia mengekspresikan kepribadiannya, dan para siswa adalah “hasil karya seni manusiawi” yang sifatnya tidak statis. Sama seperti kesenian, mengajar juga memberi kesempatan kepada guru untuk menjadi jujur kepada dirinya.

Mengajar merupakan sesuatu yang pribadi, yang tidak dapat digantikan begitu saja. Mengajar itu melibatkan guru sebagai sosok yang menyeluruh, bukan hanya sebagai seseorang yang mencoba menyampaikan sepotong pengetahuan.

Tak salah jika pepatah lama yang mengatakan “Guru akan muncul saat muridnya sudah siap”. Bukan berarti kala murid tak siap tak ada guru yang bisa dilihat. Guru ada, guru terlihat. Hanya saja, murid yang tak siap hanya akan melihat guru sebagai profesi. Seorang yang dibayar dan punya nama sebutan seperti profesor, mentor, motivator, dan sebagainya.

Sedangkan murid yang siap, akan mampu melihat guru sebagai pelita bagi kehidupannya. Mungkin tidak bergelar profesi, mungkin hanya sekedar guru kampung yang mengajar mengaji. Meski begitu, lautan ilmu kehidupannya seolah tak bertepi.

Akhirnya, yang belajar tak mengenal bosan karena ilmu semakin dalam. Yang mengajar tak kehabisan bahan, karena kehidupan masih menyisakan banyak hal untuk diolah dalam kajian hikmah. Hal paling penting dan utama menjadi guru ialah kecintaan dan semangat yang terus-menerus (passion) untuk menyampaikan ilmu sehingga dapat melahirkan pribadi-pribadi yang luhur.

Inilah sejatinya peran guru-guru kehidupan. Sudah sedikit memang jumlahnya. Namun, beliau-beliau masih ada. Menanti murid-murid yang siap untuk mengambil ilmu, lengkap dengan keberkahannya.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Nyalakan pelita, terangkan cita-cita.*

Kartini dan Ironi Literasi

kartini2Tiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia rutin memperingati dan merayakan hari Kartini. Hari yang diambil dari kelahiran seorang wanita yang menjadi inspirator pendidikan di Nusantara, penyala obor di kegelapan, wanita yang mampu terbang tinggi walau fisiknya dibatasi oleh tembok bangsawan, dia adalah Raden Ajeng Kartini. Ya, Kartini lahir tepatnya pada 21 April tahun 1879, di Kota Jepara, Jawa Tengah.

Kartini lahir dari keluarga bangsawan yang masih memegang erat adat istiadat. Kartini lahir dan hidup dengan tradisi dan sistem yang menempatkan perempuan dalam kedudukan rendah. Salah satu adat lokal yang menjadi ujian bagi Kartini kala itu adalah perempuan tidak diperbolehkan atau dilarang mengenyam pendidikan lebih dari laki-laki. Bisa dibayangkan, bila Kartini, yang anak seorang bangwasan saja hanya boleh mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar, lantas bagaimana nasib perempuan lain diluar keluarga bangasawan?

Namun, Kartini tidak pasrah dengan keadaan. Ia terus bergerak, mencari cara lain untuk tetap belajar, menambah wawasan dan mengikuti perkembangan dunia luar. Lalu, Kartini memilih berkawan dengan berbagai bacaan: buku-buku pelajaran, buku tentang ilmu pengetahuan dan surat kabar. Hari demi hari dilewati Kartini dengan membaca buku, sesekali berdiskusi dengan ayahnya jika ada kesulitan dalam memahami apa yang dibacanya.

Kartini mencintai buku seperti mencintai dirinya sendiri dan bangsanya. Ia bahkan mengulang membaca buku yang disukainya sampai tiga kali. Kartini kadang mengulas buku yang dibacanya kepada sahabat penanya. Ia pernah berdebat dengan kawannya tentang guna buku. Kartini percaya, buku dan kegemaran membaca akan membawa banyak perubahan bagi bangsanya.

Melalui bacaan-bacaan yang dibacanya, pemikiran Kartini menjadi semakin terbuka. Ia pun menuliskan ide-ide dan pemikiran-pemikirannya melalui surat-suratnya yang dikirimkan kepada sahabatnya yang berada di Negeri Kincir Angin, Belanda. Salah satunya kepada Mr.J.H Abendanon. Bagi Kartini, membaca dan menulis adalah ‘alat’ dan ‘senjata’ baginya dalam menampung pesan, juga dalam menyampaikan pesan atau buah-buah pikiran.

Keinginan Kartini untuk terus maju di bidang pendidikan tak hanya untuk dirinya sendiri. Kartini pun akhirnya bergerak memajukan kaum perempuan di zamannya dengan mengumpulkan teman-teman perempuannya untuk diajarkan ilmu menulis, membaca, dan ilmu yang lain. Inilah perjuangan Kartini yang sesungguhnya, mengajarkan membaca dan menulis kepada kaum perempuan di zamannya. Kartini seorang anak muda yang banyak membaca, merenungkan bacaannya, dan kemudian menuangkannya pikiran dan perasaannya melalui tulisan.

Namun, kini seperti ada yang terabaikan dari inti perjuangan Kartini. Yang terlihat kini, kaum perempuan hanya terinspirasi dari pakaian Kartini dan dari perjuangannya menembus dinding adat yang mengungkung perempuan. Kedua hal tersebut, perempuan kini sudah mendapatkannya. Padahal, mimpi besar Kartini bukan sebatas itu. Kartini mengajarkan membaca dan menulis agar wawasan kaum perempuan menjadi terbuka sehingga diharapkan akan memiliki pemikiran luas dan dapat melahirkan gagasan-gagasan yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia.

Ironisnya, kini semangat perjuangan Kartini untuk mencari dan membagi ilmu pengetahuan seperti tergeser. Hal ini terlihat pada setiap perayaan hari Kartini, masyarakat selalu mengadakan lomba berdandan dan berbusana kebaya ala Kartini. Sering pula menampilkan sosok perempuan yang mampu menduduki pekerjaan yang dulunya sering diisi oleh kaum laki-laki. Namun, semangat literasi yang diperjuangkan Kartini hampir tak pernah menjadi perhatian. Hampir tak pernah ada diselenggarakan lomba membaca dan menulis saat perayaan hari Kartini.

Sudah jamak diketahui, tingkat literasi – baca dan tulis – masyarakat  Indonesia sangat rendah, tentunya kaum perempuan juga termasuk di sini. Membaca dan menulis belum menjadi kebutuhan yang wajib dipenuhi. Bahkan mungkin jauh berada di bawah daftar kebutuhan konsumtif lainnya. Padahal, Kartini menjadi abadi karena ia melakukan sesuatu melalui literasi. Itu pula yang membuat Kartini berbeda dengan tokoh perempuan lain.

Kartini haus akan pengetahuan sehingga mendorongnya untuk banyak membaca. Kartini juga meninggalkan jejak pengetahuan dengan banyak menulis. Apa jadinya bila Kartini tidak membaca, menulis surat, selalu gelisah tentang keadaan sekitarnya, dan berbuat sesuatu? Oleh karena itu, jika ingin meneladani semangat perjuangan Kartini, tentunya semangat literasi ini menjadi hal yang paling inti. Salam.##

membaca koran pagi

dOfPaLDuB9

membaca koran pagi
tiba-tiba sebuah tanya
menggelembung dari pekat cuaca
sebuah negeri yang guncang
tempat rasa cemas tumbuh tanpa ditanam

suara-suara sumbang berkumandang
menjadi nyanyian negeri yang gelisah
luka negeri dipacu gelombang keserakahan
saling menerkam, saling menikam
tak jelas lagi
siapa kawan, siapa lawan
kegaduhan
kian menyisakan wajah buram

 

Guru, Pelukis Masa Depan

Menjadi guru bukanlah sekadar pekerjaan, melainkan pelukis masa depan.
Menjadi guru bukanlah pengorbanan, melainkan sebuah penghormatan.

2015-11-29_10.28.57Dua kalimat di atas merupakan kalimat yang sering disampaikan Mendikbud, Anies Baswedan, mengenai profesi guru. Kalimat tersebut disampaikan pula saat peringatan Hari Guru Nasional tahun 2015 ini. Seseorang yang menjadi guru berarti telah memilih jalan terhormat, hadir bersama anak-anak yang menjadi pemilik masa depan Indonesia. Guru-lah yang ikut menentukan warna pada anak-anak didiknya. Di pundak guru dititipkan masa depan bangsa. Guru memiliki peran yang sangat mulia dan strategis dalam membangun masa depan sebuah bangsa.

Kita semua tentu sepakat, pendidikan adalah ikhtiar yang fundamental untuk memajukan bangsa. Potensi bangsa ini akan dapat berkembang jika manusianya terkembang dan terbangunkan. Kualitas manusia adalah hulunya kemajuan dan pendidikan adalah salah satu unsur paling penting dalam meningkatkan kualitas manusia. Dan guru-lah yang menjadi kunci utamanya.

Guru berada di barisan terdepan dalam membangun manusia menuju kemajuan sebuah bangsa. Ada tiga tugas penting yang diemban oleh seorang guru, yaitu mengajarkan ilmu, membentuk karakter yang mulia, dan menanamkan optimisme serta cita-cita positif kepada peserta didik. Setiap tutur, langkah, dan karya guru adalah ikhtiar untuk mencerdaskan bangsa. Hal ini harus menjadi ruh bagi setiap guru. Oleh karena itulah, pada peringatan Hari Guru tahun ini diangkat sebuah tema “Guru Mulia Karena Karya”. Karya guru ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk “kerja”, misalnya inovasi pembelajaran, karya tulis, kerja keras, juga melalui teladan-teladan baik yang diberikan, yang semuanya dapat menjadi inspirasi bagi siswa-siswa khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Melalui karyanya, guru dapat memuliakan dirinya.

Sebagai garda terdepan membangun manusia Indonesia, guru perlu terus belajar. Guru harus menjadi seorang pembelajar. Terlebih di era informasi yang berjalan begitu cepat. Jangan mengajar, jika sudah berhenti belajar. Guru hendaknya senantiasa mawas diri dan melakukan perbaikan-perbaikan diri guna mengembalikan ruh sejati seorang guru. Pendidikan yang baik hanya dapat terwujud di tangan guru-guru yang berkualitas, kreatif, berdedikasi, dan berintegritas tinggi. Diperlukan totalitas dan kesungguhan guru dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik.

Sebagai guru, tentu tak ingin kelak dikenang siswa sebagai guru yang galak, tetapi alangkah bahagianya jika kelak dikenang siswa sebagai guru yang inspiratif. Menjadi guru yang inspiratif tentu dapat terwujud jika guru memiliki ruh/spirit yang baik, yang mampu menggerakkan siswa ke arah yang positif. Ruh/spirit guru ini dapat hadir jika guru memiliki kebanggaan terhadap profesi mulia yang disandangnya ini.

Sepertinya benar ungkapan yang terdapat dalam sebuah khazanah pendidikan Islam bahwa metode lebih penting daripada materi/kurikulum. Guru lebih penting daripada metode. Namun, ruh/spirit guru jauh lebih penting daripada guru itu sendiri. Selamat Hari Guru Nasional untuk seluruh guru di tanah air Indonesia. Salam.##

Wajah Politik dalam Puisi

25069040Buku yang berjudul Manusia Istana ini berisikan puisi politik, sebagaimana tertulis pada sampul buku, judul buku ini adalah Manusia Istana: Sekumpulan Puisi Politik. Di dalamnya ada 31 puisi dengan nuansa politik yang begitu kuat.

`… Berpuluh laksa tentara berderap menjadi istana: memintaku duduk di singgasana// aku memandang langit/ matahari tersenyum: 42 derajad celsius// sebagian serdadu tumbang…//’.

`Aku biarkan pasukan berlaksa itu/ menyorongkan ujung tombaknya/ matahari kering// tapi mata maharani basa/ hari itu maharaja mati…//’ (Lidah Tak Bertakhta)

Puisi-puisi Radhar kali ini begitu politis. Ia seakan menandaskan politikus sejatinya jangan ingkar janji dan nista kepada rakyat. Kekuasaan memang memberikan kedigdayaan bagi pemimpin. Itu bisa kita tengok pada sepenggal puisi Kopiah sang Jenderal. Bunyinya: `…Operasi alpa rakyat sengsara/batalyon slogan menyerbu media/ komando bertingkat usai di tongkat/jenderal mati kopiah kini berdiri.’

Persoalan politik memang menjadi tema Manusia Istana. Radhar tidak sekadar menghadirkan puisi. Ia juga menjadi saksi zaman, terutama saat terjadi perubahan sistem kekuasaan di Indonesia. Sebagaimana dikemukakan penulis, puisi-puisi ini bertema politik yang ditulis dalam periode 2007-2009. Radhar Panca Dahana sepertinya sangat muak dengan reformasi sejak kerusuhan 1998 silam. Era yang dulu begitu dibangga-banggakan banyak orang seantero Tanah Air itu ternyata dinilai jauh lebih munafik dibanding zaman Orde Baru (orba).

Radhar mungkin tak seorang diri yang merasa muak dan jemu dengan dunia perpolitikan. Namun, ia menyuarakannya berbeda dengan yang lain. Bagi Radhar, tiap orang memiliki kebahagiaan, ketuhanan, keterusterangan yang mudah dipahami. Sayangnya, semua itu direbut oleh pikiran dan tindakan yang tidak hanya melukai, mendestruksi, dan mengkriminalisasi kebudayaan karena sebetulnya kebudayaan itu sendiri yang telah memberi keagungan terhadap sebuah istana dan orang-orang di sekitarnya.

Terlepas dari tema politik, sesungguhnya Radhar juga masih wawas diri kepada Sang Kuasa. Mantan wartawan itu terkadang cengeng sebagaimana manusia biasa. Ia tak jarang menitikan air mata. Itu begitu tersurat lewat puisi liris “Airmata Uma 1”.

Sepenggal baitnya berbunyi: `Tuhanku, maafkan doaku/meminta waktuMu lagi/menunaikan amanah ini/menuntaskan sisa waktu/ memanggul segunung batu…//Bersamaku, mahkhluk yang renta dan tak berdaya//segala yang mulia, hanya untukMu//’.

Melalui bahasa puisinya yang penuh semangat, keterbukaan, dan pencerahan, Radhar ingin menyampaikan pesan yang tidak menyerang para politisi atau siapa pun yang berada di pucuk kekuasaan. Kehadiran buku Radhar mampu membangunkan kita semua dari amnesia kolektif dan bius-bius atau candu-candu, atau uap-uap kekuasaan. Sebab, selama ini masyarakatlah yang kerap menjadi sasaran bius-bius kekuasaan tersebut.