Berkarya Bersama

sketsa-masaMenumbuhkan kebiasaan menulis bukanlah hal yang mudah. Tak terkecuali di kalangan guru. Namun, penerbitan buku antologi puisi ini berusaha mematahkan anggapan tersebut. Para penulis yang semua berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia, yang tentunya masih penulis pemula, berupaya menyajikan karya-karya puisinya dalam antologi puisi ini. Mereka adalah Abi Kusno C.S. (guru SMAN 1 Ponorogo), Bekti Patria (guru SMAN 2 Madiun), Y. Niken Sasanti (guru dan Kasek SMPN 10 Yogyakarta), Yukhsan Wahyudi (guru SMK Maarif 1 Kebumen), dan Abdul Ghoni A. (dosen IKIP PGRI Bojonegoro).

Banyak sisi-sisi kehidupan yang disentuh dan direfleksikan, banyak tema yang diangkat ke permukaan. Puisi-puisi dengan tema beragam yang disajikan dalam antologi ini terlihat sebagai hasil rekaman para penulisnya atas berbagai rona kehidupan yang mereka alami. Ada puisi-puisi yang sangat personal dengan kontemplasi yang memperkaya spiritualitas, ada pula puisi-puisi sosial dengan kritik dan pemikiran-pemikiran yang segar, ada pula yang humanis, religius, dan liris.

Memang ada kedalaman dan kedangkalan dalam puisi-puisi ini. Ada pengolahan kata yang masih sederhana. Namun, seperti apa pun kondisi dan kualitasnya, para penulis sudah mencoba menunjukkan upaya untuk melahirkan tulisan. Suatu hal yang tentunya membutuhkan kesungguhan dan niat yang kuat di tengah aktivitas mengajar mereka.

Selain hadir sebagai bentuk upaya mendorong para guru untuk menulis, antologi puisi ini juga dimaksudkan sebagai ajang reuni para penulis yang pernah dipertemukan takdir untuk bersama menimba ilmu di Pascasarjana UNS. Para menulis berharap penerbitan antologi ini dapat memotivasi guru-guru lain serta peserta didik untuk ikut menulis. Semoga penerbitan antologi ini akan disusul dengan penerbitan tulisan-tulisan berikutnya. Salam.##

Ulasan Singkat Puisi Derai-derai Cemara

Chairil Anwar merupakan salah satu penyair besar Indonesia. Keberaniannya menciptakan pembaharuan dalam perpuisian di Indonesia membuatnya senantiasa dikenang. Karya-karyanya pun banyak dibicarakan. Tulisan ini pun berupaya mengupas salah satu puisinya – Derai-derai Cemara – yang kebetulan sering keluar sebagai soal Ujian Nasional. Dengan ulasan sederhana ini diharapkan peserta didik menjadi lebih mudah untuk memahami isi dan makna puisi tersebut.

 Derai-derai Cemara
 Karya Chairil Anwar
 Cemara menderai sampai jauh
 Terasa hari akan jadi malam
 Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
 Dipukul angin yang terpendam
 Aku sekarang orangnya bisa tahan
 Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi
 Tapi dulu memang ada suatu bahan
 Yang bukan dasar perhitungan kini
 Hidup hanya menunda-nunda kekalahan
 Tambah terasing dari cinta dan sekolah rendah
 Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
 Sebelum pada akhirnya kita menyerah

Derai-derai cemara yang dipakai pengarang untuk judul sajak merupakan gambaran dari daun-daun cemara yang berguguran yang merupakan metafor tentang runtuhnya harapan si aku lirik.

Bait pertama, pohon cemara menggambarkan tentang sesuatu yang lemah, ringkih, sesuai dengan bentuk daun cemara yang kecil, meruncing mudah terhempas oleh angin yang bertiup. Sementara itu, malam identik dengan kesunyian, kegelapan, waktu istirahat dan akhir dari sebuah hari atau perjalanan. Si aku lirik merasakan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Tidak hanya daun-daunnya yang luruh, bahkan dahan-dahannya juga mulai merapuh karena sering dipukul angin. Larik ini dapat dimaknai bahwa kondisi si aku sudah semakin rapuh diterpa oleh berbagai cobaan hidup. Angin memberikan gambaran tentang segala cobaan dan kepahitan dalam hidup, yang menghempas kehidupan si aku lirik sehingga membuatnya kian rapuh.

Secara singkat bait pertama dapat dimaknai sebagai kesadaran si aku lirik akan kondisinya yang kian rapuh diterpa oleh berbagai cobaan hidup (termasuk kesehatan). Si aku lirik pun merasakan perjalanan hidup dirinya sudah mendekati maut, akan berakhir.

Bait ke dua menggambarkan kedewasaan si aku lirik, yang digambarkan dari kalimat sudah berapa waktu si aku lirik bukan kanak lagi. Kedewasaan si aku lirik ditandai oleh kemampuannya menghadapi berbagai cobaan hidup (larik aku sekarang orangnya bisa tahan). Sesuatu yang pernah dicita-citakan dulu sepertinya tidak bisa lagi dipertahankan kini, sebab sudah tidak relevan dan kondisinya pun sudah tidak memungkinkan. Pandangan aku lirik terhadap hidup saat kanak-kanak berbeda dengan pandangannya saat kini sudah dewasa.

Secara singkat bait ke dua dapat dimaknai sebagai kesadaran si aku lirik bahwa dirinya sekarang sudah bukan kanak-kanak lagi (sudah dewasa) sehingga harus dapat memandang kehidupan dengan cara dewasa, termasuk dapat bertahan menghadapi berbagai cobaan hidup.

Bait ke tiga , si aku lirik menyadari bahwa hidup manusia pasti akan berakhir atau mati. Hidup manusia hanya menunggu mati. Kematian merupakan bentuk kekalahan manusia. Manusia tak bisa mengelak karena kematian merupakan ketentuan yang harus diterimanya dari Sang Maha Hidup. Cita-cita si aku lirik pada masa lampaunya yang begitu cemerlang namun si aku lirik selalu mengalami penderitaan dalam hidupnya. Nampak dari kata terasing yang digunakan yang menceritakan tentang rencana si tokoh tentang cita-citanya namun berbeda dengan apa yang diharapkan sehingga membawa dia ke dunia yang dianggap asing dan pada akhirnya berujung pada kepasrahan, menyerah pada kematian.

Secara singkat bait ke tiga dapat dimaknai sebagai kesadaran si aku lirik bahwa hidup manusia pada akhirnya akan menyerah pada kematian.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan, puisi Derai-derai Cemara merupakan ungkapan tentang perjalanan si aku lirik yang hidupnya penuh didera cobaan, dia sempat mempunyai cita-cita yang cemerlang pada masa kecilnya namun pada kenyataannya hidupnya mengalami kepahitan dan penderitaan, sehingga membawa pada sebuah keterasingan dan menyadarkan tentang kehidupannya di dunia ini pasti akan berakhir dengan mati.

Bentuk Baku Kata Berimbuhan

13702719461546589075 Manakah yang benar antara memerkarakan dan memperkarakan? Apakah memesona atau mempesona? Memercayai atau mempercayai? Memerkosa atau memperkosa? Bagaimana pula dengan memunyai dan mempunyai, mana yang benar menurut kaidah baku tata bahasa Indonesia?

Beberapa kata dalam bahasa Indonesia mengalami sedikit perubahan ketika mendapatkan imbuhan, terutama awalan (prefiks). Perubahan ini sebetulnya memiliki kaidah tertentu. Hanya saja, banyak pemakai bahasa Indonesia yang kurang memerhatikan, bahkan enggan membuka kamus Bahasa Indonesia untuk mengetahui bentuk-bentuk yang benar dan baku. Berikut ini disajikan beberapa bentuk baku kata-kata yang mendapatkan imbuhan.

memedulikan

pe·du·li v mengindahkan; memperhatikan; menghiraukan: mereka asyik memperkaya diri, mereka tidak — orang lain yg menderita;
me·me·du·li·kan v mengindahkan; menghiraukan; memperhatikan; mencampuri (perkara orang dsb): orang tua itu suka ~ orang lain;
ke·pe·du·li·an n perihal sangat peduli; sikap mengindahkan (memprihatinkan);
~ sosial sikap mengindahkan (memprihatinkan) sesuatu yg terjadi dl masyarakat

memesona

pe·so·na n 1 guna-guna; jampi; mantra (sihir): dukun itu membuat (mengenakan) — kpd gadis itu; 2 daya tarik; daya pikat: senyum gadis itu penuh –;
me·me·so·na v sangat menarik perhatian; mengagumkan: tari-tarian Minang klasik dng pakaiannya yg cemerlang sungguh ~;
me·me·so·nai v membuat (seseorang) supaya kena pesona;
me·me·so·na·kan v 1 mengenakan pesona (kpd); menjampi; 2 mengagumkan; memukau: tari-tarian Sunda modern telah ~ para penonton;
ter·pe·so·na v 1 kena pesona (guna-guna); 2 terkena daya tarik; sangat terpikat (tergiur) hatinya; terkagum-kagum: saya ~ oleh pemandangan seindah itu

Kata dasarnya {pesona}, yang diberi awalan {meM-}. Dalam morfologi, variasi prefiks {me-} antara lain adalah {mem-}, {men-}, dan {meng-}.
Engkau mungkin masih mengingat pelajaran bahasa Indonesia di bangku sekolah: bila awalan {me-} dibubuhkan pada kata-kata dasar yang berfonem pertama /k/, /p/, /s/, atau /t/, maka huruf pertama kata itu akan melumer menjadi bunyi nasal /ng/, /m/, /ny/, dan /n/, terkecuali fonem kedua kata itu berupa konsonan (seperti produksimemproduksi; kritikmengkritik).
Alhasil, seperti tersurat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bentukan yang benar dari {meM-} + {pesona} adalah memesona, bukan mempesona. Fonem pertama /p/ pada {pesona} melumer menjadi /m/.

memerkosa

per·ko·sa, me·mer·ko·sa v 1 menundukkan dng kekerasan; memaksa dng kekerasan; menggagahi; merogol: ~ negeri orang; laki-laki bejat itu telah ~ gadis di bawah umur; 2 melanggar (menyerang dsb) dng kekerasan: tindakan itu dianggapnya ~ hukum yg berlaku; negara itu dicap sbg negara yg ~ hak asasi manusia;
pe·mer·ko·sa n orang yg memerkosa;
pe·mer·ko·sa·an n 1 proses, perbuatan, cara memerkosa; 2 ki pelanggaran dng kekerasan

Penjadian kata berimbuhan ini persis seperti kasus memesona, yaitu dengan afiks {meM-}. Kata dasarnya {perkosa}. Jadi, penulisan yang benar adalah memerkosa seperti dimuat dalam KBBI, bukan memperkosa.

mentransfer

trans·fer 1 v pindah atau beralih tempat; 2 n Olr pengalihan pemain ke perkumpulan lain dng imbalan uang;
men·trans·fer v 1 memindahkan (mengalihkan) sesuatu dr satu tempat ke tempat lain atau dr seseorang ke orang lain; 2 menyerahkan atau mengalihkan (hak milik, uang, dsb) kpd orang lain: membukukan kredit atau ~ ke luar negeri hanya boleh dilakukan oleh bank; 3 mengirim

memengaruhi

pe·nga·ruh n daya yg ada atau timbul dr sesuatu (orang, benda) yg ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang: besar sekali — orang tua thd watak anaknya;
ber·pe·nga·ruh v 1 ada pengaruhnya; mempunyai pengaruh: keadaan rumah tangga sangat ~ thd perkembangan watak anak-anak; 2 berkuasa: ia seorang yg kaya dan sangat ~ di negeri itu;
me·me·nga·ruhi v 1 berpengaruh pd: keadaan batin seseorang akan ~ daya kerjanya; 2 mengenakan pengaruh pd: calo itu berusaha ~ wanita itu agar ia mau menjual mutiaranya;
ter·pe·nga·ruh v terkena pengaruh

memercayai

per·ca·ya v 1 mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata: — kpd ceritanya; — akan kabar itu; 2 menganggap atau yakin bahwa sesuatu itu benar-benar ada: — kpd barang gaib; 3 menganggap atau yakin bahwa seseorang itu jujur (tidak jahat dsb): beliau tidak — lagi kpd Amir; 4 yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan seseorang atau sesuatu (bahwa akan dapat memenuhi harapannya dsb): — kpd diri sendiri;
— angin percaya yg sia-sia;
me·mer·ca·yai v 1 menganggap benar atau nyata; mengakui benar atau nyata: ia tiada ~ segala kata dan keterangan saksi itu; 2 mengharapkan benar atau memastikan (bahwa akan dapat memenuhi harapannya dsb): ia ~ anak buahnya untuk membayar biaya pemasangan telepon;

Penulisan kata yang benar menurut KBBI adalah memercayai, bukan mempercayai. Prosesnya mirip dengan memesona dan memerkosa.
Kata dasar {percaya} diberi gabungan afiks {me-i}, yakni awalan {meM-} dan akhiran {-i}. Dalam kasus kata percaya, prefiks {me-} menjadi {meM-} → /M/ didapat dari pelumeran /p/ pada {percaya}. Jadiannya, memercaya, kemudian ditambahkan dengan akhiran {-i}, dan akan menghasilkan bentuk memercayai.

Menanti Reinkarnasi UN yang Bermartabat

menyontek_3Hajatan Ujian Nasional tahun 2015 akan segera digelar. Kemedikbud telah mengeluarkan jadwal Ujian Nasional untuk jenjang SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK, yang pelaksanaannya dimulai pertengahan bulan April tahun ini. Meski merupakan kegiatan tahunan, Ujian Nasional tahun ini akan mengalami beberapa perubahan mendasar. Di berbagai kesempatan, Mendikbud Anies Baswedan, mengatakan bahwa Ujian Nasional tahun ini tidak lagi digunakan sebagai penentu kelulusan tetapi hanya akan digunakan sebagai pemetaan pendidikan nasional.

Mendikbud Anies Baswedan bersama Badan Standardisasi Nasional Pendidikan akan menghentikan fungsi ujian nasional sebagai unsur penentu kelulusan. Hal ini didorong oleh keberadaan Ujian Nasional selama 10 tahun terakhir yang digunakan sebagai penentu kelulusan justru telah mengebiri fungsi pendidikan itu sendiri.

Bukan rahasia lagi bahwa begitu peserta didik naik ke jenjang akhir (kelas 3), hampir seluruh kegiatan sekolah berhenti, kecuali latihan ujian. Orientasi belajar semacam ini tidak akan membuat anak menjadi pembelajar (learning), tetapi hanya sekadar studying. Belajar untuk menghadapi tes/ujian. Hal ini terjadi karena ketakutan peserta didik apabila nilai mereka tidak bisa memenuhi kriteria minimal yang ditentukan oleh Kemendikbud.

Ujian Nasional menjadi semacam palu penentu nasib peserta didik. Peserta didik akhirnya dihantui oleh ketakutan yang tak lagi wajar. Ujian Nasional menjadi sesuatu yang angker. Ditambah lagi, pelaksanaannya terkesan cukup menyeramkan. Tidak cukup diawasi oleh pengawas ruang, tetapi kelas juga dipasang CCTV, ada pengawas dari perguruan tinggi, bahkan sekolah juga harus dijaga polisi.

Yang lebih memprihatinkan, segala cara akhirnya dilakukan untuk memperoleh kelulusan. Kita tentu tak menutup mata bahwa ujian nasional telah mengakibatkan banyak kerusakan moralitas kaum pendidik karena dihantui untuk wajib meluluskan sebanyak mungkin siswa, guru-guru berlomba-lomba melakukan kecurangan dengan berbagai cara kerja. Ada yang memberikan jawaban saat ujian berlangsung. Ada yang memberikan jawaban atas dasar soal-soal yang dibocorkan sebelum hari pelaksanaan ujian. Di pihak siswa, membeli soal untuk ujian nasional dengan harga mahal pun diperjuangkan sebab, semahal apapun, nilai kelulusan itu lebih penting bagi mereka.

Oleh karena itu, dengan menghapus fungsi Ujian Nasional, Mendikbud Anies Baswedan ingin membuat proses ujian atau tes bukan sesuatu yang membebani, mengerikan, bahkan mengubah orientasi belajar. Peserta didik diharapkan benar-benar menyadari kebutuhan belajar. Tidak sekadar mengejar nilai kelulusan. Belajar menjadi suatu kebutuhan yang menyenangkan, bukan menakutkan, bahkan membatasi kreativitas karena hanya mendapatkan drill soal.

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan untuk menghilangkan fungsi ujian nasional sebagai syarat kelulusan menjadi tonggak baru harapan peningkatan kualitas pendidikan. Fungsi UN sebagai syarat kelulusan yang menjadi sumber segala masalah, seperti inflasi nilai oleh sekolah dan berbagai macam dampak negatif UN, seperti pembelajaran mekanis dengan pemikiran tingkat rendah, sistem drill, kecurangan massal, fenomena kebocoran soal, pengawalan ketat polisi, stres, bahkan sampai ada yang bunuh diri, diharapkan tidak akan terjadi lagi.

Siswa, guru, dan orangtua, semestinya juga lega, karena proses belajar mengajar di sekolah sudah bisa kembali ke jalur yang benar secara pedagogis, yaitu proses pembelajaran berkualitas, menarik, membangkitkan semangat belajar, dan motivasi tinggi tanpa ancaman dan paksaan.

Mendulang Hikmah dari Peristiwa Kehidupan

kang sodrunJudul Buku  : Kang Sodrun Merayu Tuhan
Penulis        : Yazid Muttaqin
Penerbit      : Tinta Medina
Tahun          : 2014
Tebal            : 242 halaman

Sebagai makhluk sosial, keberadaan manusia tidak bisa lepas dari manusia lain. Antara manusia yang satu dengan manusia lain saling bergantung dan saling melengkapi. Oleh karena itu, Islam menganjurkan menjalin hubungan baik tidak hanya dengan Yang Maha, tetapi juga dengan sesama. Bahkan hubungan baik dengan sesama dapat menjadi jalan untuk menjalin hubungan baik dengan Yang Maha. Buku Kang Sodrun Merayu Tuhan ini mencoba mengungkapkan hal itu.

Secara garis besar, buku ini menebarkan kesalehan sosial dan hikmah filosofis tentang hakikat kehidupan. Berisi ilustrasi kehidupan seorang hamba yang dikemas dalam bentuk cerita yang mengalir. Melalui tokoh cerita bernama Kang Sodrun, penulis mencoba merekam pengalaman-pengalaman reflektif dan penuh hikmah. Nama tersebut terkesan Jawa, ndeso, dan merakyat, sehingga cerita-cerita yang disampaikannya nampak sangat dekat dan nyata. Kang Sodrun hanyalah orang biasa, tak ada yang luar biasa pada dirinya. Ia sungguh merasa dirinya bukan siapa-siapa. Hidup dan kehidupannya pun ia jalani sebagaimana orang-orang biasa menjalaninya.

Pembaca diajak Kang Sodrun untuk belajar dari Mbah Ngis, perempuan tua yang memberi pendidikan luhur lewat sebungkus bakwan dan tempe goreng. Kang Sodrun juga tak segan menggali ilmu dari Mbah Darmo dan Mbok Jumi’ah, pedagang nasi bungkus yang rela menyisihkan penghasilannya yang tak seberapa demi menjadi tamu Sang Rahman. Juga belajar dari Mbah Rajim dan seorang pedagang asongan yang keduanya ia sebut sebagai guru jalanan. Melalui perilaku-perilaku yang sering kali dianggap remeh dan sepele, Kang Sodrun berusaha mendekati Tuhannya. Merayu Tuhannya.

Melalui kisah-kisah yang disajikan, Kang Sodrun membagikan berbagai pengalaman hidupnya yang tinggal di lingkungan yang sederhana. Kejutan kejutan dalam perjalanan hidupnya sangatlah menarik untuk diikuti, bahkan beberapa perlu diteladani. Di satu sisi anda bisa tertawa karena lucunya tingkah Kang Sodrun, di sisi lain juga bercucuran air mata karena pengalaman beliau yang menggetarkan hati. Dibalut dengan kehidupan Jawa dan Islam yang kental memperkuat ilustrasi kehidupan muslim Jawa dalam buku ini.

Beragam pelajaran hidup yang dapat dipetik dari buku ini. Di antaranya bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya, ternyata tidak cukup hanya menerima uluran Tuhan, tapi juga uluran tangan kita untuk berbagi dan berkurban kepada sesama. Buku ini juga menjadi pengingat lupa seorang hamba kepada Tuhannya. Isinya dapat menjadi bahan refleksi bagi pembaca untuk berbenah diri. Sejauh manakah kehadiran kita mengingat Tuhan? Dan, apa fungsi kehidupan selama ini, selain sekadar mencari kesenangan duniawi? Dikemas dengan bahasa santai dan mudah dicerna, tentu menjadikan pembaca akan mudah memahami pesan-pesan yang sengaja dibawa Kang Sodrun untuk semesta. Salam.##