Masihkah Indonesia menjadi Cintamu? (Refleksi Diri bagi Anak Negeri)

Menyebut Indonesia rasanya ada yang bergetar di rongga dada. Demikianlah semestinya kita semua sebagai warga Indonesia. Terlebih saat ini, saat Indonesia tak henti-hentinya diterjang prahara. Mulai dari krisis berkepanjangan, bencana alam (lumpur lapindo), ancaman teroris, dan sebagainya. Siapa lagi yang akan menyelamatkan Indonesia, jika bukan kita sendiri, yang insyaallah lahir, hidup, dan mati di bumi Indonesia ini.

Berbicara tentang Indonesia, seperti kita dengar dari nenek moyang kita bahwa Indonesia adalah negeri yang indah, masyur, dan kaya-raya, sehingga tak heran banyak bangsa yang menginginkannya. Sebagai negeri kepulauan yang besar, Indonesia tampah indah dengan ribuan pulau yang dikelilingi oleh pantai dan lautnya. Indonesia masyur karena keramahan budi dan bahasa warganya. Indonesia kaya-raya akan kekayaan alam dan keragaman budayanya. Lalu, sedalam apakah kita – generasi sekarang – mencintai atau peduli dengan Indonesia?

Beberapa hari yang lalu kita tersentak oleh pemberitaan yang menyebutkan bahwa Tari Pendet (Bali) telah digunakan Malaysia untuk promosi pariwisata Malaysia. Hal ini memang bukan yang pertama kali terjadi. Sebab, kurang lebih dua tahun yang lalu, lagu ”Rasa Sayange” yang akrab di telinga kita sejak puluhan tahun yang lalu, tiba-tiba diklaim sebagai lagu milik Malaysia. Bahkan lagu tersebut dipakai sebagai lagu tema (jingle) promosi pariwisata Malaysia. Kurang lebih sebulan kemudian kembali kesenian Barong, Reog Ponorogo diklaim juga sebagai kesenian milik Malaysia.

Kita, semua warga Indonesia kaget, terperangah, tidak terima, dan memaki-maki Malaysia. Kita anggap Malaysia sebagai perampok milik Indonesia. Berbagai kalangan, baik pemerintah maupun seniman sampai masyarakat luas turut angkat bicara. Padahal, peristiwa semacam itu bukan baru sekali ini terjadi. Sebab, alat musik angklung sudah lebih dulu diklaim Malaysia. Akankah kita akan menunggu lebih banyak lagi milik Indonesia diambil oleh Malaysia atau negara lainnya?

Selama ini kita sepertinya hanya bisa marah dan mencaci Malaysia. Tapi, pernahkah kita mencoba melihat diri kita sendiri? Misalnya, pernahkah selama ini kita mencoba peduli, menghargai, dan memperhatikan milik kita itu? Bukankah selama ini kita lebih suka dengan yang ”berbau” asing? Hampir dalam segala hal, mulai dari pakaian, tarian, musik, makanan, sinetron, sampai bahasa, kita lebih suka yang ”berbau” asing. Karena kita beranggapan bahwa sesuatu yang ”berbau” asing itu lebih bergengsi, meskipun belum tentu baik. Orang Indonesia sangat senang jika diidentikkan dengan orang Barat. Bukankah demikian?

Hal tersebut dapat kita lihat di keseharian kita. Untuk tarian generasi sekarang lebih suka dance atau salsa. Berapa banyak anak muda yang mampu membawakan tari tradisional daerahnya masing-masing. Untuk musik, coba hitung, dalam satu sekolah misalnya, berapa siswa yang mampu menyanyikan lagu daerah nusantara atau memainkan alat musik tradisional. Bahkan ketika mengadakan kegiatan seni – terutama yang diadakan oleh dan untuk anak muda – adakah atau berapa banyak yang menampilkan kesenian tradisional? Kita semua tentu dapat menyaksikannya sendiri.

Demikian pula untuk bahasa. Jangan heran, hampir seluruh lapisan masyarakat mulai dari pejabat, kalangan bisnis, sampai artis berlomba-lomba berbahasa Inggris. Hitung saja, lebih banyak mana judul film remaja yang berbahasa Inggris dengan yang menggunakan bahasa Indonesia? Simak juga jika pejabat berbicara, pasti diselingi dengan bahasa Inggris yang sebetulnya compang-camping. Bukannya penulis anti-bahasa Inggris. Memang, untuk menyambut era global kita harus mampu bersaing dengan orang asing sehingga kita harus mampu berbahasa Inggris. Tapi bukan berarti globalisasi menjadi alasan penginggrisan. Hal ini merupakan kesalahkaprahan memaknai paham globalisasi dan internasionalisasi. Apalagi jika bahasa Inggris itu digunakan hanya untuk gengsi. Sampai-sampai bahasa Indonesia terlupakan. Sebab kata/istilah asing sudah banyak yang di-Indonesiakan. Kita dapat menggunakan istilah asing tersebut jika memang belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

Ada suatu cerita yang pernah penulis baca. Suatu hari, seorang turis asing yang menginap di sebuah hotel di Yogyakarta, bertanya kepada resepsionis hotel tempat ia menginap dengan menggunakan bahasa Indonesia. Pertanyaannya sederhana, yaitu ”Di mana letak pusat kebugaran terdekat?” Resepsionis itu kebingungan. Setelah diusut ternyata resepsionis itu tidak tahu maksud istilah ”pusat kebugaran” yang diucapkan turis. Namun, ketika si turis mengucap ”fitness centre” resepsionis itu pun langsung paham. Akhirnya resepsionis itu pun malu karena orang asing justru lebih tahu istilah dalam bahasa Indonesia daripada dirinya sendiri yang nyata-nyata orang Indonesia. Nah lho…

Bila kita kembali ke masa silam, tahun 1928 pendahulu bangsa telah bersumpah, yang bunyinya tentu masih kita ingat, yaitu ”1) Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia. 2) Berbangsa satu, bangsa Indonesia. 3) Menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Kalau kita cermati sumpah yang ke tiga, para pendahulu bangsa tidak menggunakan frasa ”berbahasa satu”. Hal ini menunjukkan bahwa mereka (pendahulu bangsa) menyadari bahwa bahasa masyarakat Indonesia memang tidaklah satu, karena memang Indonesia terdiri dari berbagai suku yang memiliki bahasa daerah masing-masing. Di samping itu, pendahulu kita sudah dapat melihat bahwa di masa yang akan datang masyarakat Indonesia memerlukan bahasa asing untuk dapat berkomunikasi dengan bangsa lain. Sehingga sumpah tersebut menggunakan frasa ”menjunjung tinggi bahasa persatuan”. Artinya pendahulu kita tidak memaksa kita untuk berbahasa satu, tetapi harus menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Pakar bahasa Anton M. Moeliono juga berpendapat bahwa kedwibahasaan atau ketribahasaan tidak merugikan, bahkan menguntungkan pemakai bahasa asal tidak mengorbankan bahasa kebangsaan sendiri (Kompas, 28 November 2005).

Beberapa waktu lalu, penulis juga sempat miris ketika muncul wacana bahwa menyambut globalisasi, pengajaran di sekolah juga wajib menggunakan bahasa Inggris (kecuali tentu untuk mapel bahasa Indonesia), terlebih untuk sekolah yang menggunakan embel-embel internasional. Yang menjadi kerisauan penulis, bukankah selama ini ketika di rumah kita banyak menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah)?. Lalu jika  kemudian ketika di sekolah kita harus menggunakan bahasa Inggris, kapan kita akan menggunakan bahasa Indonesia?

Bahasa memang merupakan salah satu produk budaya. Menurut pemikir kebudayaan, Ignas Kleden, bangsa Indonesia belum menganggap bahasa sebagai identitas yang memberi kebanggaan. Bahasa Indonesia tidak dipandang sebagai bagian dari sebuah martabat dan kebanggaan bangsa, tetapi hanya sekedar alat komunikasi. Sebagai contoh kecil, sekarang ini dapat kita lihat bahwa untuk panggilan kepada orang tua, banyak yang tidak lagi  menggunakan panggilan ”ibu – bapak”. Hampir semua sudah berubah menjadi ”mama – papa”, ”mami – papi”, atau ”umi – abi”. Padahal, hal-hal kecil seperti ini lama kelamaan akan menghilangkan identitas kita sebagai bangsa Indonesia karena kita semua tahu bahwa panggilan-panggilan tersebut berasal dari bahasa asing. Kita menjadi tidak bisa menunjukkan bahwa Indonesia memang memiliki ciri/karakteristik yang berbeda dengan bangsa lain. Dengan semakin banyak menggunakan bahasa asing, identitas bangsa Indonesia menjadi hilang.

Menurut Ignas Kleden juga, orang Malaysia itu kagum dan iri melihat orang Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia, tidak saja sebatas percakapan sehari-hari, tetapi juga digunakan dalam diskusi ilmiah untuk cabang ilmu yang spesifik seperti ilmu alam dan filsafat. Sebab masyarakat Malaysia hanya menggunakan bahasa Melayu sebatas dalam percakapan sehari-hari. Begitu mereka diskusi ilmiah ”terpaksa” menggunakan bahasa Inggris (Kompas, 2 Oktober 2005).

Hal inilah yang harus mulai kita renungkan. Indonesia adalah milik seluruh rakyat Indonesia, yang tentunya milik kita juga. Berbagai seni budaya yang ada adalah warisan leluhur kita yang wajib kita jaga dan lestarikan. Bahkan untuk bahasa, kita telah bersumpah untuk ”Menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”. Akankah kita ingkari sumpah itu? Kalau generasi sekarang sudah tidak peduli dengan milik bangsa sendiri, lalu siapa yang harus menjaga? Relakah jika identitas kita itu diambil orang lain atau punah? Di pundak kita – generasi penerus bangsa – kelangsungan bangsa Indonesia diamanatkan.

2 responses to “Masihkah Indonesia menjadi Cintamu? (Refleksi Diri bagi Anak Negeri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s