Cerpen “Mbok Darmi”

 Adzan subuh belum lama berlalu. Hari pun belum menampakkan terang. Hawa dingin pagi masih terasa. Jalanan tampak basah oleh sisa hujan semalam. Dari sebuah rumah, di pinggir jalur kereta api, tampak seseorang berjalan bergegas menuju kompleks perumahan di seberang kampung. Seseorang itu adalah Mbok Darmi yang sedang menuju rumah Bu Noto, orang selama ini menerima tenaganya untuk mencuci dan membereskan rumah.

            Sudah lebih dari lima belas tahun Mbok Darmi bekerja di rumah Bu Noto. Meski Bu Noto sendiri sebetulnya tidak terlalu membutuhkan tenaga Mbok Darmi. Tapi Mbok Darmi sendiri yang mendesak untuk ikut bantu-bantu di rumah Bu Noto agar memiliki penghasilan untuk kehidupannya sehari-hari. Di rumah Bu Noto, Mbok Darmi bekerja hanya setengah hari. Pagi datang dan pulang setelah Bu Noto datang dari mengajar.

Pagi itu Mbok Darmi sengaja datang lebih pagi dari biasanya karena dia berencana izin pulang sebelum pukul delapan pagi. Dua hari yang lalu Pak RT memberitahukan bahwa hari ini dia diminta datang ke Balai Kecamatan untuk mengambil dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diberikan pemerintah bagi masyarakat miskin. Mbok Darmi memang sudah menunggu-nunggu dan sangat mengharapkan dana itu. Memang Mbok Darmi mendapat upah bulanan dari Bu Noto, tapi penghasilannya itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Apalagi setelah suaminya meninggal tujuh tahun lalu karena sakit TBC. Dulu, waktu tenaganya masih kuat, sepulang dari rumah Bu Noto, Mbok Darmi masih bisa menerima pekerjaan mencuci di rumah-rumah lain untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Namun, hal itu kini tak dilakukannya lagi. Akhir-akhir ini, Mbok Darmi sudah sering sakit-sakitan. Bekerja di rumah Bu Noto saja sudah sering izin karena sakit. Jadi, tak mungkin memaksakan dirinya menerima pekerjaan dari rumah-rumah lain.

Sampai di rumah Bu Noto, tampak Bu Noto baru selesai memasak menyiapkan sarapan untuk keluarganya.

”Tumben, datangnya pagi sekali, Mbok?” tanya Bu Noto.

”Iya, Bu. Nanti sebelum jam delapan saya izin pulang. Saya harus ke Balai Kecamatan untuk mengambil dana BLT. Saya sengaja datang lebih pagi, biar nanti kalau saya pulang, semua pekerjaan sudah selesai, Bu.” lanjut Mbok Darmi.

’Ya sudah, segera Mbok mencuci bekas alat-alat masak yang kotor itu dulu, setelah itu baru mencuci pakaian. Hari ini kebetulan saya libur mengajar,” kata Bu Noto.

”Ya, Bu,” jawab Mbok Darmi sambil meraaih barang-barang dapur yang harus dicucinya.

Mbok Darmi pun segera asyik dengan pekerjaannya. Mencuci alat-alat masak, mencuci baju, dan menyapu rumah Bu Noto. Di usianya yang sudah lebih dari enam puluh tahun, Mbok Darmi memang tampak agak lamban dalam menyelesaikan pekerjaannya. Bu Noto seringkali masih harus mengerjakan beberapa pekerjaan rumah sendiri. Memang hanya atas dasar kasihan, Bu Noto masih mau memakai tenaga Mbok Darmi. Selain itu, Mbok Darmi orangnya lugu dan jujur. Selama lebih dari lima belas tahun bekerja di rumah Bu Noto, barang-barang berharga di rumah Bu Noto tidak pernah ada yang hilang. Padahal, Bu Noto dan keluarganya sering meninggalkan rumah untuk bekerja dan sekolah, bahkan kadang ke luar kota. Mbok Darmi-lah yang bertugas menjaga rumah bila keluarga Bu Noto pergi.

Setelah sarapan di rumah Bu Noto, Mbok Darmi pun pamit pulang. Sebelum pergi ke Balai Kecamatan, Mbok Darmi mampir ke rumah untuk mengambil KTP dan kartu BLT sebagai syarat pengambilan uang. Mbok Darmi berencana uang BLT itu akan dipakainya untuk memperbaiki atap rumah yang di musim hujan ini mulai tampak bocor di sana-sini. Kemarin, Parto tetangganya sudah sanggup membantu membetulkannya.

Rumah Mbok Darmi sendiri memang terlalu mewah untuk disebut sebagai rumah. Rumah yang berdiri di atas tanah milik PT KA itu hanya berupa bangunan semipermanen yang lebih mirip bedeng berukuran 3×6 meter. Hampir sama dengan rumah-rumah kecil yang berjubel di kiri kanannya. Dinding separo bagian bawah terbuat dari batu bata yang tidak ditutup semen, kemudian separo bagian atasnya disambung dengan tripleks. Sementara sebagai atap, bagian atas rumah itu ditutup seng. Rumah itu satu-satunya harta peninggalan suaminya. Suaminya dulu seorang tukang becak. Dari hasil menarik becak itu sebagian disisihkan dan dikumpulkan Mbok Darmi selama bertahun-tahun untuk membuat rumah itu. Di rumah itulah Mbok Darmi mengistirahatkan tubuh tuanya setelah bekerja.

Sekarang Mbok Darmi tinggal sendirian di rumah itu. Mbok Darmi memang tidak memiliki anak. Dulu, dia pernah mendapat seorang bayi perempuan dari tetangganya yang akan pergi mengadu nasib ke negeri seberang. Anak itu dirawatnya sejak usia lima bulan. Orang tua si bayi sudah memasrahkan sepenuhnya anak itu kepada Mbok Darmi, sehingga anak itu tak pernah ditanyakan atau dijenguk orang tuanya lagi sejak diberikan kepada Mbok Darmi. Mbok Darmi pun merawatnya seperti anaknya sendiri. Dalam kondisi ekonomi yang sempit, Mbok Darmi pun berupaya menyekolahkan anak itu. Mbok Darmi berharap anak itu dapat bernasib lebih baik dari dirinya di kemudian hari, serta menemani hari tuanya. Namun, setamat SMP anak itu malah pergi meninggalkannya. Katanya mau mengadu nasib menjadi TKI ke negeri seberang. Namun, sejak kepergiannya lima belas tahun yang lalu, anak itu tidak pernah pulang. Jangankan mengirim uang, memberi kabar pun tidak pernah. Akhirnya Mbok Darmi tidak peduli lagi tentang keberadaan anak angkatnya itu. Menjalani kehidupannya sendiri saja, saat ini sudah susah. Terlebih Mbok Darmi juga sering mendengar dari orang-orang tentang nasib TKI di negeri orang. Oleh karena itu, Mbok Darmi tidak mau larut dalam kesedihan. Mbok Darmi memasrahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa.

Hari terasa begitu panas, meski matahari belum tepat benar berada di atas kepala. Sudah dua jam, sejak pukul delapan tadi, Mbok Darmi berada di Balai Kecamatan. Kadang tampak duduk mencari tempat yang teduh, dan kadang tampak berdiri mendekati petugas untuk memastikan apakah dirinya sudah dipanggil. Sementara untuk terus ikut berdiri berbaris antri, di usianya itu, Mbok Darmi sudah tak kuat lagi. Oleh karena itu, Mbok Darmi hanya menghafal orang-orang yang tepat berada di depan dan di belakang antriannya. Kepada kedua orang itu, ia pamit untuk berteduh sebentar. Memang, berdasarkan aturan yang ada, pengambilan dana BLT tidak dapat diwakilkan. Jadi, harus diambil sendiri oleh yang bersangkutan.

Makin siang, makin banyak orang yang berteduh, terlebih ibu-ibu yang sudah tua. Di antara mereka tampak saling berbincang dengan sesamanya untuk membunuh waktu dan kebosanan. Mbok Darmi pun sesekali ikut berbincang.

”Uangnya nanti mau dipakai apa, Mbok?” tanya seorang ibu yang duduk berteduh di sebelahnya.

”Rencananya mau saya pakai membeli lembaran seng untuk mengganti atap rumah. Seng yang lama sudah banyak berkarat, jadi selalu bocor kalau hujan. Sebenarnya rumah itu ya tak seberapa. Tapi ya mau gimana lagi, cuma itu yang saya punya. Jadi, ya harus saya openi. Dan lagi, saya akan tinggal di mana kalau tidak di rumah itu. Saya tak punya siapa-siapa untuk saya tumpangi,” jawab Mbok Darmi panjang lebar.

”Oh, begitu ya, Mbok,” jawab ibu yang bertanya tadi.

”Lha, kalau sampeyan sendiri, uang BLT ini mau dipakai apa?” Mbok Darmi balas bertanya.

”Anu, Mbok, buat bayar sekolah anak saya. Sudah lima bulan ini dia belum bayar SPP. Apalagi bulan depan akan ujian. Dia takut kalau tidak bisa ikut ujian. Saya hanya penjual kue di pasar. Hasilnya untuk hidup sehari-hari saja sudah mepet. Bapaknya sudah gak ada,” jawab ibu itu tak kalah panjang.

”Ya, orang kecil seperti kita memang selalu kesulitan jika berhadapan dengan kebutuhan hidup. Makin hari rasanya makin susah. Sudah tiap hari banting tulang, tapi tetap saja kurang,” lanjut Mbok Darmi.

”Kalau tidak sabar, bisa-bisa kita edan!” sambung seseorang yang ikut mendengarkan percakapan mereka.

”Ya, mungkin saja,” sahut Mbok Darmi pendek, sambil kembali berdiri mendekati antrian untuk memastikan apakah namanya sudah dipanggil petugas atau belum. Saat berjalan, Mbok Darmi berpapasan dengan seorang bapak yang baru saja menerima uang BLT itu. Bapak itu tampak ngomel sambil bersungut-sungut.

”Oalah, bantuan untuk orang miskin kok ya disunat juga. Tega-teganya mereka makan hak orang miskin seperti kita. Pantas saja mereka-mereka itu menjadi tambah kaya dan kita menjadi semakin miskin,” kata bapak itu dengan nada kesal sambil menghitung uang yang baru saja diterimanya.

”Ada apa, Pak?” Mbok Darmi mencoba bertanya.

”Ini, uang kita kena potongan. Katanya sih, untuk biaya administrasi. Administrasi kok sampai dua puluh lima ribu perorang. Pasti itu cuma alasan mereka biar dapat ikut menikmati dana BLT kita,” jawab bapak itu sambil melangkah pergi.

Mbok Darmi hanya mengelus dada mendengar penjelasan bapak tadi. Ah, kok ya masih saja ada orang yang melik rezekine wong cilik, batinnya. Andai saja mereka merasakan susahnya kehidupan orang kecil.

Hari makin terasa panas. Matahari telah tepat berada di atas kepala. Mbok Darmi mulai merasakan haus dan lapar. Tapi dia tidak membawa apa-apa untuk mengisi perutnya. Tubuhnya mulai terasa lelah. Mbok Darmi pun kembali mencari tempat berteduh, karena gilirannya belum juga sampai. Orang-orang makin berdesakan. Mereka tampak resah dan tak sabar. Petugas pun berusaha menertibkan.

”Antri! Berdiri sesuai antrian! Jangan berdesakan! Biar nanti dipanggil sesuai antrian!” teriak petugas kecamatan.

”Saya sudah di sini sejak subuh,” jawab seseorang.

”Lha, siapa suruh kamu datang subuh. Loketnya saja baru jam delapan dibuka. Dan lagi, bukan kamu saja yang datang sejak pagi,” jawab petugas kecamatan tak mau kalah. Panasnya hari dan capeknya badan membuat petugas terpancing emosi. Sementara orang-orang juga mulai susah diatur.

”Antri yang baik. Mau dapat uang kok tidak mau sabar,” kata petugas lainnya lebih sabar.

Orang-orang kembali berbaris sesuai antrian. Mbok Darmi pun ikut pula berdiri, meski tubuhnya dirasakan makin lemas. Tapi ia tahu, tak lama lagi namanya pasti akan dipanggil petugas. Masih delapan orang yang berada di depannya. Satu persatu dipanggil. Dia paksakan untuk tetap berdiri, meski matanya terasa mulai berkunang-kunang. Kalau ditinggal bisa-bisa malah diserobot orang lain, karena orang-orang pun makin lelah dan tak sabar.

Antrian di depannya semakin berkurang. Keringat dingin pun mulai keluar. Suara petugas dan orang-orang makin lamat-lamat terdengar. Mbok Darmi pun tak kuat lagi. Akhirnya,…bruuk…., Mbok Darmi jatuh pingsan tepat saat namanya dipanggil petugas. Orang-orang pun makin ribut. Baris antrian kembali menjadi kacau. Mereka berusaha merangsek ke depan untuk melihat lebih dekat. Dua petugas segera mengangkat tubuh Mbok Darmi dan dibawa masuk ke salah satu ruang di Kantor Kecamatan. Sementara petugas lain tampak menyiapkan kendaraan untuk membawa Mbok Darmi ke Puskesmas Kecamatan.

Sudah hampir dua jam Mbok Darmi berbaring tak sadarkan diri di salah satu ruang rawat Puskesmas. Dokter pun sudah memeriksa kondisi Mbok Darmi. Tapi tak banyak yang dapat dilakukan selain menunggu. Akhirnya, tepat saat adzan asar berkumandang, Mbok Darmi dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa. Petugas Puskesmas segera menghubungi Kantor Kecamatan agar menyampaikan berita kematian Mbok Darmi kepada Pak RT tempat  Mbok Darmi tinggal. Sebelum magrib, jenazah Mbok Darmi tiba di rumah setelah sebelumnya disucikan di Puskesmas. Pak RT bersama warga setempat segera mempersiapkan segala sesuatu untuk pemakaman besok. Sore tadi, Pak RT didatangi petugas dari Kecamatan yang menyatakan turut berbela sungkawa sekaligus memberikan uang BLT Mbok Darmi. Pihak Kecamatan sepakat uang itu tetap diterimakan kepada Mbok Darmi meski Mbok Darmi telah meninggal dunia. Uang itu pula yang akhirnya digunakan Pak RT untuk membeli perlengkapan pemakaman dan kapling makam desa.

Keesokan harinya, jenazah Mbok Darmi pun dimakamkan di pemakaman desa, di sisi makam suaminya. Tak ada keluarga yang mengantar, hanya tetangga-tetangga dan kenalannya. Mbok Darmi telah pergi untuk selamanya. Meskipun tak jadi memperbaiki rumahnya, dengan dana BLT itu Mbok Darmi dapat membangun rumahnya yang abadi dan beristirahat dengan tenang di sana.

                                                                                                            Madiun, Mei 2007

Catatan:

bedeng             : bangunan sementara untuk pekerja proyek

openi               : rawat/rawati

sampeyan        : kamu, engkau

melik rezekine wong cilik        : menginginkan/menghendaki rezekinya orang miskin

2 responses to “Cerpen “Mbok Darmi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s