Ulasan Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer

MEMBONGKAR KETIDAKADILAN KEKUASAAN PRIYAYI

DALAM MASYARAKAT TRADISIONAL JAWA

(Ulasan terhadap novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer)

/1/

Sastra merupakan cermin masyarakat. Keberadaan karya sastra memang tidak lepas dari masyarakat dan kenyataan sosial di sekelilingnya. Karya sastra dapat hadir sebagai refleksi dari realitas sosial dan refleksi kesejarahan yang terjadi di masyarakat. Memang, sastra sebagai refleksi dari kenyataan masyarakat rasanya sulit diingkari kebenarannya, sebab seorang sastrawan tidak mungkin hidup terasing dari masyarakatnya, sehingga ia tidak buta dan tuli terhadap segala peristiwa yang terjadi di masyarakatnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Goldmann bahwa karya sastra diciptakan oleh pengarang sebagai hasil dari sebuah proses merespons situasi lingkungan dan sosialnya (dalam Teeuw, 1984: 103). Oleh karena itu, karya sastra yang besar akan mampu mengidentifikasikan kecenderungan-kecenderungan sosial yang penting pada zamannya sehingga bisa mencapai ekspresi yang padu dengan realita.

Meski karya sastra menampilkan realita sosial, karya sastra tidak lahir begitu saja. Karya sastra lahir dari hasil kreativitas, pergulatan antara realitas dan imajinasi pengarang. Dengan imajinasinya pengarang ingin mewujudkan kembali sederetan pengalaman-pengalaman tertentu yang pernah akrab dengan lingkungan dan kehidupannya. Adanya karya sastra yang berangkat dari realitas, paling tidak bisa memberikan penceritaan kepada masyarakat tentang sesuatu yang pernah terjadi pada masa tertentu.

Salah seorang pengarang yang mahir memadukan realitas dengan imajinasinya menjadi sebuah karya sastra adalah Pramoedya Ananta Toer. Kebesaran nama Pramoedya tak diragukan lagi, meski polemik dan kontroversi selalu mengikutinya hingga akhir hayat. Dari tangannya telah lahir karya-karya besar yang mendapat sambutan yang luar biasa hingga  ke mancanegara. Pramoedya telah menulis 53 buku yang beberapa di antaranya telah diterjemahkan ke dalam 41 bahasa dunia, bahkan ada yang telah menjadi bacaan wajib siswa di negara tetangga. Pramoedya juga merupakan satu-satunya sastrawan Indonesia yang berkali-kali dicalonkan untuk mendapat hadiah Nobel.

Sekalipun fiktif dan imajinatif, kisah dan tokoh-tokoh Pramoedya selalu berkait dan diangkat dari kenyataan dan pengalaman sejarah sosial budaya manusia-manusia Indonesia. Bila dicermati, hampir semua karya Pramoedya memang mempunyai latar kenyataan yang cukup mantap: pertama-tama kenyataan hidupnya sendiri lahir dan batin, kenyataan orang di sekitarnya, kenyataan masyarakat Indonesia sezaman, dan juga kenyataan sejarah. Dalam tulisan ini akan coba diulas salah satu karya Pramoedya yang berhasil memadukan realitas dan imajinasi pengarangnya, yaitu roman Gadis Pantai. Roman yang ditulis tahun 1962 ini mencoba mengangkat realitas kehidupan masyarakat pada awal abad ke-20, khususnya peradaban tradisional Jawa yang masih mengenal sistem pelapisan sosial pada masyarakatnya.

/2/

Sebagaimana kita ketahui, dalam kenyataan hidup masyarakat Jawa dikenal adanya lapisan sosial yang dianggap masih nyata perbedaannya, yaitu golongan priyayi yang disebut sebagai golongan kelas atas, dan golongan wong cilik (orang kebanyakan, rakyat kecil) yang disebut sebagai golongan kelas bawah. Yang termasuk golongan kelas atas (priyayi) adalah para bangsawan dan kaum terpelajar yang biasanya juga masih merupakan kerabat bangsawan. Sementara yang termasuk golongan kelas bawah (wong cilik) adalah rakyat kebanyakan, seperti petani, nelayan, dan pekerja kasar lainnya. (Koentjaraningrat, 1998:344).  Hubungan priyayi dengan rakyat kecil bersifat otoriter.

Hubungan Pramoedya dengan dunia Jawa tempat ia berasal sangatlah dekat. Ia sendiri terlibat dalam struktur masyarakat Jawa yang menunjukkan ciri feodal dengan sistem pelapisan sosial tersebut. Pertentangan kedua kelas yang seringkali melahirkan ketidakadilan menjadi permasalahan utama roman Gadis Pantai ini. Ketidakadilan yang ditimpakan pada manusia yang berasal dari golongan orang kebanyakan (kelas bawah) oleh manusia yang berasal dari golongan priyayi (kelas atas). Roman ini sepertinya hendak membongkar sekaligus memusnahkan peradaban tradisional Jawa yang kehalusannya sering dipuji muluk-muluk.  Kebudayaan Jawa yang konon merupakan harmoni yang mengatasi unsur-unsurnya yang bertentangan, sesungguhnya merupakan dunia semu, dunia pura-pura, yang di dalamnya ketidaksamaan dan ketidakadilan merajalela.

Gadis Pantai merupakan sebuah roman keluarga karena berkait dengan keluarga pengarang sendiri. Sebagaimana diungkapkan oleh Pramoedya sendiri dalam kata pengantar roman tersebut bahwa ”kisah ini hasil imajinasi saya pribadi tentang nenek saya dari pihak ibu, nenek yang mandiri dan yang saya cintai.” (h. vi). Hal ini dipertegas lagi pada kalimat-kalimat pembuka roman tersebut, yang mencoba mendeskripsikan sosok nenek yang dimaksud, yang antara lain disebutkan ”Dia, nenek darahku sendiri, pribadi yang kucintai, kukagumi, kubanggakan. Inilah tebusan janjiku. Pada dia yang tak pernah ceritakan sejarah diri. Dia yang tak pernah kuketahui namanya. Maka cerita ini kubangun dari orang lain, dari yang dapat kusaksikan, kukhayalkan, kutuangkan.” (h.viii)

Kisah roman yang berlatar daerah pesisir utara Jawa ini diawali dengan adanya seorang gadis berusia 14 tahun dari kampung nelayan (Gadis Pantai) yang diperistri oleh seorang priyayi tinggi (Bendoro) dari wilayah Rembang. Gadis Pantai sendiri sebenarnya tidak mau menikah dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya itu. Namun, ia dipaksa dan diyakinkan kedua orangtuanya bahwa ia akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik karena bersuamikan seorang pembesar. Cerita kemudian bergulir dalam kisah kehidupan gadis tersebut setelah memasuki dunia kepriyayian. Ia masuk ke dunia yang sama sekali asing baginya, dan hidup dalam kesepian dan ketidakmengertian tentang dunia priyayi itu sendiri. Di awal kehidupannya dalam gedung (kediaman Bendoro), ia dibimbing oleh seorang bujang tua, yang bertugas menyiapkan Gadis Pantai menjadi seorang istri priyayi. Dari bujang tua itu pula Gadis Pantai mengetahui bahwa tugasnya yang paling penting adalah taat dan mengabdi secara penuh pada kehendak suaminya (Bendoro).

Semakin hari, banyak hal baru yang diketahui Gadis Pantai setelah masuk dunia kepriyayian, termasuk pengetahuan tentang dirinya sendiri, tentang kekuasaan priyayi, dan tentang perbedaan antara orang kebanyakan dengan priyayi yang selama ini tak pernah ia ketahui. Gadis Pantai menjadi semakin sadar akan kedudukannya, yang di satu sisi dia telah masuk ke dalam kelas priyayi, tapi di sisi lain yang tak terbantahkan adalah bahwa ia tetaplah berasal dari orang kebanyakan, sehingga di dalam dunia priyayi ia tidak memiliki hak apa-apa, bahkan terhadap dirinya sendiri. Terlebih ketika ada kerabat Bendoro yang berniat menyingkirkan dirinya, sebab Bendoro harus segera memiliki istri dari golongan yang sederajat.

Ketika Gadis Pantai mendapat kesempatan mengunjungi orang tuanya di kampung nelayan, ia justru menemukan kekecewaan. Ia tidak lagi diterima sebagai orang kebanyakan, tetapi disanjung dan dihormati sebagai priyayi. Hal ini membuat Gadis Pantai merasa asing di kampungnya sendiri. Sepertinya telah ada jarak yang jauh antara dirinya dengan orang-orang kampung, termasuk orang tuanya sendiri

Setelah beberapa lama di kampung serta mengalami beberapa peristiwa, Gadis Pantai harus kembali ke kota (gedung kediaman Bendoro). Hingga kemudian dia hamil dan melahirkan seorang bayi perempuan. Setelah tiga setengah bulan usia anaknya, Gadis Pantai diusir keluar gedung oleh Bendoro tanpa boleh membawa anaknya itu. Dia pun selamanya dilarang kembali ke gedung untuk menengok anaknya, bahkan Gadis Pantai diharuskan untuk melupakan bahwa ia pernah melahirkan. Hal inilah yang paling memukul jiwanya. Namun, hal itu harus diterimanya sebab kekuasaan Bendoro tidak boleh dan tidak mungkin dilawan.

/3/

Sebagaimana telah diungkapkan di muka, fokus roman ini adalah ketidakadilan, yaitu ketidakadilan yang muncul akibat adanya sistem pelapisan sosial masyarakat, yang membagi masyarakat ke dalam golongan kelas atas dan kelas bawah. Golongan kelas atas yang memiliki kekuasaan dapat sewenang-wenang memperlakukan masyarakat kelas bawah. Mereka selalu benar dan menang. Sementara golongan kelas bawah dalam ketidakberdayaannya harus menerima kesewenang-wenangan itu. Mereka selalu berada pada pihak yang kalah dan dikalahkan.

Tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam roman ini tentu saja mewakili kelas masing-masing. Gadis Pantai, tokoh utama dalam roman ini merupakan salah satu wakil golongan masyarakat kelas bawah, orang kebanyakan. Ia berasal dari sebuah kampung nelayan di pesisir pantai utara Jawa. Sebagai orang kebanyakan, keberadaannya selalu dibayang-bayangi oleh kekuasaan kelas atas (priyayi) yang menimbulkan ketidakadilan bagi dirinya dan orang kebanyakan lainnya. Tokoh Gadis Pantai inilah satu-satunya tokoh dalam roman ini yang mengalami proses pematangan karakter akibat tahap-tahap peristiwa yang dialaminya. Semula dia adalah seorang bocah kampung nelayan yang tidak tahu apa-apa tentang dunia luar. Di akhir cerita dia mampu menjadi seorang yang matang dalam berpikir dan bertindak.

Sementara itu, tokoh yang merupakan wakil masyarakat kelas atas yang lengkap dengan kekuasaannya tampak pada sosok Bendoro. Ia merupakan simbol kekuasaan mutlak. Pada sosok Bendoro, mentalitas priyayi digambarkan sebagai orang selalu memandang rendah pada rakyat kecil (h. 28). Priyayi tidak boleh ditentang jika tidak ingin mendapat kesulitan atau hukuman. Priyayi juga memiliki mental suka memerintah dan tak boleh disalahkan.”…Tak ada orang atasan bisa dan boleh disalahkan. Mereka ditakdirkan untuk memerintah.” (h. 89). Di samping itu, priyayi juga memiliki mental senang dipuji, dihormati sehingga akan ketakutan bila orang tidak lagi menghormatinya (h. 129). Tokoh Bendoro juga digambarkan memiliki pribadi yang berlawanan. Di satu sisi ia digambarkan sebagai pribadi yang taat menjalankan ibadah, rajin membaca kitab dan buku-buku agama, tapi di sisi lain ia tetaplah seorang priyayi yang sesuai sistem memiliki kekuasaan dan bebas bertindak sewenang-wenang.

Sejak awal cerita, bentuk ketidakadilan ini sudah tampak, yaitu terlihat  ketika Gadis Pantai menikah (dinikahkan), Bendoro yang merupakan mempelai laki-laki tidak datang, tetapi hanya diwakili oleh sebilah keris. Hal ini menunjukkan kedudukan si mempelai wanita yang memang direndahkan. Pernyataan itu dapat disimak pada kutipan roman berikut.

”Kemarin malam ia telah dinikahkan. Dinikahkan dengan sebilah keris. Detik itu ia tahu: kini ia bukan anak bapaknya lagi. Ia bukan anak emaknya lagi. Kini ia istri sebilah keris, wakil seseorang yang tak pernah dilihatnya seumur hidup” (h. 2)

”Ah, hanya orang kebanyakan dikawini dengan keris” (h. 41)

Keris sendiri merupakan lambang kekuasaan. Seorang Bendoro, yang  memiliki kekuasaan tentu bisa melakukan apa saja yang dikehendakinya, tetapi tidak bagi rakyat kecil. Sebetulnya keinginan orang tua Gadis Pantai untuk menikahkannya dengan seorang priyayi juga muncul sebagai dampak struktur sosial itu. Dalam gambaran orang tua, dengan menjadi istri pembesar status sosial anak mereka juga akan meningkat, yaitu dari golongan kelas bawah naik ke golongan kelas atas. Naiknya status sosial anaknya itu otomatis juga akan diikuti oleh kemapanan hidup yang lebih baik. Hidup enak dan tak perlu melakukan pekerjaan kasar seperti di kampung nelayan. ”….ia nangis melihat anaknya keluar selamat dari kampung nelayan, jadi wanita terhormat, tak perlu berkeringat, tak perlu berlari-larian mengangkat ikan jemuran bila rintik hujan mulai membasuh bumi ” (h. 3)

Kehidupan yang diharapkan oleh kedua orangtua Gadis Pantai tidaklah semudah yang dibayangkan. Meski telah menjadi istri pembesar, Gadis Pantai tetaplah manusia yang berasal dari orang kebanyakan, sehingga ketidaksamaan dan ketidakadilan masih saja ditimpakan kepadanya. Sebagai istri yang berasal dari orang kebanyakan, kedudukannya hanyalah sebagai istri selir. Sebagai istri selir, geraknya di dalam gedung pun terbatas. Ia hanya boleh berada di ruang belakang, tidak boleh menemui tamu, apalagi tamu dari golongan yang lebih tinggi. Hal ini terlihat pada dialog batin pelayan tua sebagai berikut.

Nampak bujang itu merasa kasihan kepada Gadis Pantai. Pengalaman selama ini membuat ia banyak tahu tentang perbedaan antara kehidupan orang kebanyakan dan kaum Bendoro di daerah pantai. Seorang Bendoro dengan istri orang kebanyakan tidaklah dianggap sudah beristri, sekalipun telah beranak selusin. Perkawinan demikian hanyalah satu latihan buat perkawinan sesungguhnya: dengan wanita dari karat kebangsawanan yang setingkat. Perkawinan dengan orang kebanyakan tidak mungkin bisa menerima tamu dengan istri dari karat kebangsawanan yang tinggi, karena dengan istri asal orang kebanyakan – itu penghinaan bila menerimanya.(h. 62)

Kutipan tersebut juga menunjukkan usaha pengarang dalam menghadirkan realitas di sekitarnya dan mengolah dengan imajinasinya menjadi sebuah kalimat sastra yang indah. Memang menurut catatan sejarah, pada awal abad ke-20 para bangsawan memiliki gaya hidup berpoligami, mempunyai istri utama (garwa padmi) yang sama-sama berasal dari kaum bangsawan, dan memiliki istri selir yang boleh berasal dari golongan kelas bawah.

Kehidupan di dalam gedung semakin menampakkan bentuk ketidaksamaan dan ketidakadilan itu. Di satu sisi Gadis Pantai telah menjadi bagian dari dunia priyayi yang notabene memiliki kekuasaan, bertugas memberi perintah kepada bujang-bujangnya kapan pun dia mau. Namun, di sisi lain Gadis Pantai tidak memiliki hak apa-apa (h. 51), bahkan terhadap dirinya sendiri (h. 69). Kemerdekaannya dirampas. Ia tidak boleh bertemu orang tuanya tanpa seizin Bendoro, tidak boleh keluar gedung, dan sebagainya. Kekuasaan mutlak ada pada Bendoro, suaminya. Menurut istilah pelayan tua, Gadis Pantai hanyalah orang bawahan yang menumpang di tempat atasan.

Ketidakadilan yang ditimpakan kepada golongan masyarakat kelas bawah oleh kesewenang-wenangan golongan kelas atas juga tampak dialami oleh tokoh pelayan tua, seorang abdi yang telah bertahun-tahun tinggal di gedung Bendoro. Dia harus diusir dari gedung karena berani menggugat kerabat Bendoro pada peristiwa pencurian di kamar Gadis Pantai. Meski ia benar, ia tetap harus menerima hukuman karena tindakannya itu (h. 97). Di sini kembali rakyat kecil tidak berdaya dan kalah oleh kekuasaan dan kesewenang-wenangan Bendoro.

Dalam roman ini Pramoedya juga memunculkan masalah ketidakadilan terhadap perempuan. Pramoedya memihak kepada perempuan yang tertindas dan mencela laki-laki yang menyalahgunakan kuasanya atas perempuan. Beberapa masalah mengenai ketidakadilan terhadap perempuan yang disinggung dalam roman ini antara lain, istri yang harus mengabdi penuh kepada suaminya, tetapi di sisi lain istri tidak boleh tahu segala yang dikerjakan suami, wilayah wanita hanyalah rumah tangga (h. 60). Istri pun tidak memiliki hak apa-apa, bahkan dirinya sendiri sudah menjadi hak milik lelaki, suaminya (h. 69). Dan ketika Gadis Pantai melahirkan seorang bayi perempuan, Bendoro (suaminya) tampak kurang senang dengan melontarkan kalimat ”Jadi cuma perempuan?” (h. 215). Kata ’cuma’ pada kalimat Bendoro tersebut mengisyaratkan bahwa anak laki-lakilah yang sebetulnya lebih diharapkan.

Sebagai pihak perempuan, yang kebetulan juga berasal dari kelas bawah, Gadis Pantai harus menderita macam-macam hal dari perlakuan suaminya, yang secara struktur sosial memang berada di atasnya. Gadis Pantai tidak mungkin melawan struktur sosial itu. Ia selalu tidak berdaya berhadapan dengan kekuasaan suaminya. Namun, di balik ketidakberdayaannya itu Gadis Pantai mampu lebih tegar dan tabah menjalani hidup berdasarkan nilai dan norma moral yang lebih positif dan manusiawi.  Hal ini terlihat di akhir cerita, saat Gadis Pantai diusir dari gedung oleh Bendoro tanpa boleh membawa serta anaknya. Gadis Pantai tidak lantas menyalahkan orangtuanya yang telah menikahkan dirinya dengan Bendoro yang ternyata menyebabkan dirinya mengalami berbagai penderitaan, sebagaimana terlihat pada kutipan dialog antara Gadis Pantai dengan bapaknya berikut ini.

”Maafkan aku, nak,” bapak berkata perlahan dari samping ranjang, ”tiada kuduga sebelumnya seperti begini bakal jadinya.”

”Ah, bapak, bapak orang baik. Bapak tidak salah, tidak keliru.”

……

”Maafkan bapakmu yang bodoh ini, nak.”

”Kita maafkan semua dan segalanya, bapak, terkecuali satu…..” (h. 221)

Peristiwa pengusiran itu sendiri semakin melengkapi wujud ketidakadilan yang ditimpakan pada orang kebanyakan oleh kekuasaan dan kesewenang-wenangan kelas atas. Gadis Pantai harus pergi dengan penderitaannya sendiri.

Melalui roman ini Pramoedya tampak mencemooh mentalitas priyayi, orang-orang yang menghindarkan diri dari tanggung jawab sosialnya dan menikmati kebudayaannya yang selalu dipuji dengan mendzalimi dan menghinakan sesama manusia. Melalui tokoh utamanya Pramoedya juga secara terang-terangan mencoba menggambarkan dunia kepriyayian yang penuh kesewenang-wenangan, tak berperasaan sebagaimana terlihat pada kalimat-kalimat berikut.

”Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini…..”

”…..batu tanpa perasaan” (h. 221)

”…..Seganas-ganas laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi.” (h. 226)

Dia akan jadi priyayi. Dia anakku. Dia akan tinggal di gedung. Dia akan memerintah. Ah, tidak. Aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedung berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tak berperasaan. …. (h. 229)

Roman ini tak jauh berbeda dengan karya Pramoedya lainnya, yang hampir selalu memperlihatkan bagaimana usaha manusia, individu, untuk tetap dapat mempertahankan idealismenya, integritas pribadinya. Hal ini tampak di akhir cerita ketika Gadis Pantai sudah diusir dari gedung, Gadis Pantai memutuskan untuk tidak kembali pada keluarganya di kampung nelayan yang selama ini sangat ia dirindukan. Padahal, justru saat itulah ia memiliki kesempatan untuk bersatu kembali dengan keluarga dan kampungnya, dan bahkan pada saat itu sesungguhnya ia amat membutuhkan mereka. Gadis Pantai lebih memilih pergi jauh. ….”Tidak,  bapak, aku tak kembali ke kampung. Aku mau pergi jauh!” (h. 230). Gadis Pantai mampu menentukan jalan hidupnya sendiri.

/4/

Sastra yang baik diharapkan dapat mengungkapkan nilai-nilai yang mampu memberikan pencerahan kepada pembaca. Hal ini karena sastra selalu berhubungan dengan manusia dan masyarakat dalam usahanya untuk memperbaiki kehidupan. Roman ini pun berupaya untuk melakukan hal itu. Tema sentral yang diangkat dalam roman ini sesungguhnya merupakan refleksi dari kenyataan sosial yang terjadi pada masyarakat tradisional Jawa saat itu. Pramoedya ingin memberitahukan kepada masyarakat bahwa sistem pelapisan sosial yang terdapat pada masyarakat tradisional Jawa ternyata memiliki sisi buruk. Masyarakat kelas atas yang memiliki kekuasaan dapat bertindak sewenang-wenang terhadap golongan masyarakat kelas bawah.

Tidak dapat dimungkiri, dalam roman ini Pramoedya mampu bertutur dengan lancar. Bahasanya yang relatif sederhana dapat dengan mudah dimengerti oleh siapa saja. Meskipun pada dasarnya gaya sastra Pramoedya adalah gaya sastra konvensional, tapi di tangan Pramoedya, gaya yang biasa itu menjadi luar biasa. Ketelitiannya menggarap detail dan menghidupkan tokoh-tokohnya membuat pembaca berhasil dipikat oleh nasib dan perjalanan hidup tokoh-tokohnya. Meski mengangkat masalah pertentangan kelas akibat adanya pelapisan sosial dalam masyarakat tradisional Jawa, roman ini tidak menghadirkan perlawanan massal. Tokoh yang dihadirkan mewakili dirinya sendiri, bahkan di akhir cerita sang tokoh utama tidak muncul sebagai pemenang. Pelajaran yang paling mudah diambil adalah bahwa dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak boleh membeda-bedakan sesama manusia, sebab manusia memiliki derajat yang sama di mata Tuhan.

Roman Gadis Pantai ini memang bukanlah sebuah dokumen sejarah, tetapi paling tidak ia dapat menjadi saksi atas peristiwa sejarah dan sosial, serta perkembangan masyarakat Jawa pada awal abad ke-20. Akhirnya, tanpa mempersoalkan kontroversi mengenai diri pengarangnya, roman ini telah berusaha memberikan kesadaran kepada masyarakat akan tanggung jawabnya sebagai manusia untuk selalu berpihak pada kebenaran dan keadilan dalam usahanya memperbaiki kehidupan.

PUSTAKA RUJUKAN

Faruk. 2006. ”Pramoedya Ananta Toer: Karya, Manusia, dan Pandangan Hidupnya”. Kompas, 16 Juli. Jakarta

Kartodirdjo, Sartono. dkk. 1987. Perkembangan Peradaban Priyayi. Yogyakarta: Gajah Mada Univesity Press

Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka

___________. 1998. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan

Kurniawan, Eka. 2006. “Realisme Pramoedya Ananta Toer”. Kompas, 5 Agustus. Jakarta

Luxemburg, Jan van. dkk. (terj. Dick Hartoko). 1992. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya

Toer, Pramoedya Ananta. 2000. Gadis Pantai. Jakarta: Hasta Mitra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s