Mengasah Kepedulian Sosial Siswa melalui Kegiatan Menulis Pantun

(tulisan ini dimuat dalam MEDIA, majalah pendidikan Jawa Timur)

Pantun merupakan salah satu bentuk puisi lama yang paling akrab dengan masyarakat dibandingkan dengan bentuk puisi lama yang lain. Pemakaian pantun pun dirasa paling luas di kalangan masyarakat. Pantun dapat dimanfaatkan dalam berbagai kesempatan dan disampaikan dalam sembarang waktu, dalam kegiatan apa pun, dan dilakukan oleh siapa pun juga. Pantun pada gilirannya paling banyak diminati oleh masyarakat tanpa terikat oleh status sosial, agama, dan usia.

Pantun menjadi sarana yang efektif yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Pantun dapat digunakan sebagai alat komunikasi, untuk menyelusupkan nasihat atau wejangan, atau bahkan untuk melakukan kritik sosial, tanpa mencederai perasaan siapa pun. Mengingat pantun tidak terikat oleh batas usia, status sosial, agama atau suku bangsa, maka pantun, dapat dihasilkan atau dinikmati semua orang, dalam situasi apa pun, dan untuk keperluan yang bermacam-macam sesuai kebutuhan. Bahkan banyak lirik lagu yang menyisipkan pantun di dalamnya.

Pantun adalah bentuk puisi lama yang tampak luarnya sederhana, tetapi sesungguhnya mencerminkan kecerdasan dan kreativitas pembuatnya, karena pembuat pantun harus membuat sampiran dan isi yang keduanya sama sekali tidak berkaitan. Ciri utama pantun adalah bentuknya yang dalam setiap baitnya terdiri dari empat larik (baris) dengan pola persajakan a-b-a-b. Dua larik pertama disebut sampiran, dua larik berikutnya disebut isi. Bila dulu pemakaian pantun hanya berkisar pada nasihat, kisah percintaan muda-mudi, agama, maka saat ini pemakaian pantun dirasakan lebih luas. Misalnya untuk melakukan kritik sosial, bahkan untuk kampanye.

Demikian pula dalam pembelajaran di sekolah, pantun dapat digunakan sebagai sarana untuk mengasah kepedulian siswa terhadap masalah-masalah sosial yang dijumpainya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, sebagaimana kita ketahui bersama, banyak sekali masalah-masalah sosial, masalah-masalah bangsa yang membutuhkan pemecahan serius. Untuk itu pemikiran kaum muda tentu sangat diharapkan. Dalam kegiatan apresiasi sastra di sekolah, khususnya pada materi menulis puisi lama, siswa dapat diajak untuk mengasah kepeduliannya terhadap masalah-masalah bangsa dengan menuliskannya dalam sebuah pantun. Guru dapat memberikan sedikit apersepsi dan membatasi topik yang akan dituangkan dalam pantun agar tidak terlalu luas. Berikut ini contoh pantun hasil tulisan siswa yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial dan masalah-masalah bangsa, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan dan pengangguran. Bila dicermati isi pantun-pantun tersebut ada yang berupa kritikan (kepada pemerintah), ajakan, bahkan harapan-harapan mereka terhadap perbaikan kondisi bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa siswa berusaha menuangkan hal yang dialami atau pun dilihatnya dalam keseharian. Selamat menyimak.

Beberapa contoh pantun hasil tulisan siswa

A. Berkaitan dengan masalah pengangguran

1. Pergi ke Medan membawa ragi
Ragi diikat dengan periuk
Pengangguran semakin tinggi
Harkat bangsa makin terpuruk

(Rindu Setya, XD)

2.  Pergi ke pasar membeli baja
Tak lupa pula membeli besi
Mari perbanyak lapangan kerja
Agar pengangguran dapat teratasi

( Rizky K, XD)

3.  Anak kecil duduk di sampan
Berayun-ayun melempar kail
Mari kita berantas pengangguran
Dengan meningkatkan daya trampil

(Anisa F, XD)

4.  Adik menangis menjerit-jerit
Melihat monyet pakai celana
Lapangan kerja semakin sempit
Pengangguran merajalela

( Sisca, XF)

5.  Siang terik membeli rujak
Bumbunya cabe pasti sangat pedas
Kalau memang pemerintah bijak
Perhatikan pengangguran yang makin meluas

(Medina, XF)

6.  Buah nanas kulitnya bersisik
Ditanam di kebun dekat gereja
Wahai pemimpin negeri yang baik
Tolong ciptakan lapangan kerja

(Sheila, XF)

7. Mencari madu di sarang lebah
Sarang lebah di kayu lapuk
Lapangan kerja tak kunjung bertambah
Pengangguran pun semakin menumpuk

(Firda, XE)

B.      Berkaitan dengan masalah pendidikan

1. Beli kain berbahan tebal
Dijahit dengan memakai renda
Pendidikan kini kian mahal
Membuat orang miskin makin sengsara

(Novan, XD)

2.  Buah apel buah durian
Tidak bisa tumbuh di tanah gersang
Zaman sekarang zaman edan
Gelar sarjana dibeli dengan uang

(Ashwin, XD)

3.  Buah rambutan, buah manggis
Tidak  lupa buah mengkudu
Mari tingkatkan sekolah gratis
Bagi masyarakat yang tidak mampu

(Yogi, XD)

4.  Menyimpan kacang dalam jerami
Jerami dimasukkan ke dalam ember
Sungguh tak enak nasib kami
Ingin pintar saja biaya mencekik leher

(Nur Indah, XD)

5.  Jalan-jalan ke Kota Batu
Kalau pulang bawa terasi
Jika ingin pendidikan maju
Dana pendidikan jangan dikorupsi

(Daksa, XF)

6.  Jalan-jalan naik kapal
Kapal berlabuh di pelabuhan
Untuk apa sekolah mahal
Kalau lulus cuma jadi pengangguran

(Zultansyah, XF)

7.  Jalan-jalan ke tengah sawah
Sambil memanen rumput dibabat
Mari tingkatkan dana untuk sekolah
Daripada dikorupsi para pejabat

(Pradiana, XE)

8.  Pergi ke pasar membeli ikan
Ikan dikemas biar lebih praktis
Berilah subsidi pada pendidikan
Agar sekolah menjadi gratis

(Rizki, XE)

9.  Ke hutan mencari kulit
Terpeleset ke sungai menjadi basah
Biaya sekolah  yang melangit
Membuat masyarakat semakin susah

(Indah, XE)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s