Pendidikan Nilai yang Terpinggirkan

kerusuhan

(tulisan ini dimuat dalam MEDIA, majalah pendidikan Jawa Timur)

Akhir-akhir ini, hampir tiap hari kita disuguhi peristiwa yang sungguh membuat kita terperangah sekaligus tercenung. Sebut saja kasus kerusuhan Priok, kerusuhan buruh perusahaan di Batam, kerusuhan Koja, konflik antarsuku, tawuran mahasiswa dengan aparat di berbagai daerah, dan masih banyak lagi tindak brutal lainnya. Di sisi lain, para petinggi negeri yang seharusnya memberi teladan bagi masyarakat, justru melakukan tindakan yang jauh dari terpuji. Sebagaimana kita lihat di televisi, ada yang berdebat hingga mengeluarkan kata-kata kotor, bahkan sampai adu jotos, lempar botol, bahkan lempar kursi. Belum lagi mereka juga sering terlibat korupsi, mafia hukum, dan sebagainya.

Melihat semua itu hati kita sesungguhnya sangat miris. Apa sesungguhnya yang sedang terjadi dengan bangsa ini? Adakah yang salah dalam perjalanan bangsa ini? Di manakah nilai-nilai luhur yang dulu begitu diagungkan bangsa ini?

Ya, tak dapat kita mungkiri, fenomena-fenomena tersebut sesungguhnya terjadi karena kegagalan kita dalam menumbuhkembangkan pendidikan nilai dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Pendidkan nilai seperti kejujuran,  disiplin, adil, bertanggung jawab, cinta tanah air, saling menghargai, cinta lingkungan, daya juang, bersyukur selama ini kita pinggirkan.

Kita seringkali menilai kesuksesan anak dalam pendidikan adalah ketika anak itu mendapat nilai tinggi di sekolah, lantas lulus dengan nilai yang bagus pula, segera mendapat pekerjaan yang mapan, gaji besar, dan kaya. Kita sering mengukur kesuksesan dari materi yang terlihat mata. Sementara itu, pendidikan nilai seringkali terabaikan.

Di lingkungan keluarga misalnya, sering kita lihat, banyak orang tua yang bingung, cemas, dan resah ketika anaknya yang berusia 5 tahun belum bisa membaca, sehingga harus dicarikan guru privat. Namun, di sisi lain, orang tua ini tidak pernah bingung atau cemas ketika si anak tidak mengucapkan “terima kasih” ketika menerima pemberian atau si anak diam-diam mencuri mainan temannya. Contoh lain yang juga sering kita jumpai adalah orang tua akan selalu memberi hadiah (berupa materi) kepada anaknya ketika mendapat nilai bagus, meraih ranking 1 di sekolah. Tetapi, pernahkah para orang tua itu memberi hadiah kepada anaknya ketika si anak berlaku jujur dalam ulangan meski hasilnya kurang memuaskan?

Di lingkungan sekolah, nasib pendidikan nilai tak jauh beda. Pendidikan di sekolah saat ini hanya mengejar aspek kognitif saja, mengejar angka di atas kertas, sehingga banyak siswa kita menempuh jalan pintas dengan berbuat curang demi mendapatkan nilai yang bagus. Bahkan pada kasus Ujian Nasional, para guru pun sepertinya mengamini dan mendukung kecurangan siswa demi pencapaian target kelulusan seratus persen di sekolahnya. Di sekolah, pendidikan nilai bukan lagi menjadi prioritas dalam mendidik siswa. Bahkan, sebagai lembaga pendidikan, saat ini sekolah seringkali justru menjadi ajang bisnis semata, yang lagi-lagi ukurannya hanya materi. Hubungan antara sekolah dengan masyarakat tak beda dengan hubungan antara pasar dan konsumen. Siapa bisa membeli, dia akan mendapatkan. Sehingga tak heran bila sekarang banyak lahir orang pintar tapi bermental korup.

Pendidikan sesungguhnya tidak cukup berhenti pada tujuan untuk mencerdaskan anak sehingga di masa depan tidak kesulitan mencari kerja. Tetapi pendidikan mesti mampu mewariskan nilai-nilai luhur yang tidak kalah pentingnya dalam membekali anak memiliki keterampilan menjalani hidup. Bukankah dalam Undang-undang Sisdiknas tahun 2003, pasal 3 menyatakan Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sementara itu, di lingkungan masyarakat, pendidikan nilai juga semakin tak tersentuh. Terlebih saat kondisi ekonomi semakin menghimpit. Masyarakat disibukkan oleh aktivitas pemenuhan kebutuhan ekonominya (lagi-lagi materi). Banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Misalnya, memalsukan produk untuk mendapatkan keuntungan besar tanpa memikirkan dampaknya bagi orang lain. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin juga semakin lebar.

Perilaku masyarakat juga sudah semakin berubah dan jauh dari nilai-nilai luhur. Mereka semakin berani melakukan hal-hal yang dulu sangat ditabukan. Media masyarakat (baik cetak maupun elektronik) yang seharusnya mampu menjadi alat untuk menanamkan nilai luhur, seringkali justru menampilkan hal-hal yang jauh dari nilai luhur tersebut. Alasannya, hal-hal seperti itulah yang paling laku di masyarakat (ah, lagi-lagi materi menjadi target utama)

Ya, pendidikan nilai sepertinya tak lagi dapat diabaikan bila kita tak menginginkan bangsa ini semakin hancur. Akan kita bawa kemanakah bangsa ini? Ini menjadi tanggung jawab kita bersama dengan jalan menumbuhkembangkan pendidikan nilai di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

12 responses to “Pendidikan Nilai yang Terpinggirkan

  1. karna itu betapa pentingnya pendidikan dalam keluarga. orang-tua harus menciptakan keluarga yang harmonis spy tidak mudah si anak menerima efek negative dari lingkungan.

  2. betul sekali bu bekti. tugas sekolah makin berat. banyak ortu yang hanya menyerahkan nasib pendidikan anaknya kepada sekolah, tak mau ikut memikiran nasib pendidikan nilai yang makin terpinggirkan. para guru harus menghadapi kenyataan, pendidikan nilai yang dikembangkan di sekolah ternyata tdk sesuai dengan apa yang terjadi di tengah2 kehidupan masyarakat.

  3. pendidikan tak bisa sepenuhnya diserahkan pada lembaga pendidikan naumn juga tanggung jawab bersama dengan orang tua dan masyarakat, hal ini yang sering kurang dipahami oleh orang tua

  4. Pendidikan nilai perlu juga dibangunoleh lembaga pendidikan dan masyarakat. Ketika nilai-nilai kebangsaan sudah begitu rusak, dan lembaga pendidikan tak mampulagi berbuat banyak, maka semuanya harus kembali kepada diri masing-masing. mari kita mulai dari diri kita.

  5. sebuah prestasi di masyarakat kita masih berpatok pada banyak sedikitnya materi yang dimiliki, racun ini telah menjangkiti setiap sendi kehidupan kita, dan bagaimana pers yang berlindung di bawah UU pers berbuat tanpa berpikir akibat yang ditimbulkanya dan berujung pada rating serta keuntungan

    pembangunan nilai bangsa ini harus diusahakan seiya sekata dari semua unsur kehidupan berbangsa, hentikan silat lidah untuk membenarkan tindakan bedebah, karungi niat untuk jadi kaya dalam waktu singkat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s