Balada Si Roy: Pengembaraan Pencarian Identitas

BALADA SI ROY: Pengembaraan Pencarian Identitas

Tadinya kisah ini tidak akan aku tulis. Jangankan untuk mengulanginya, mengenangnya pun aku takut. Tapi, akhirnya dengan pertimbangan dan kemungkinan, ternyata sesuatu yang sia-sia itu masih bisa ada harganya. Ini tidak lain agar orang-orang yang mencintai kehidupan bisa bercermin lewat kisah ini (h. 12)

Itulah baris-baris kalimat yang dituliskan pengarangnya, Gol A Gong, untuk mengawali seri pertama serial cerita dalam bundel Balada Si Roy ini.

Bagi remaja di akhir era 80-an atau awal 90-an yang gemar membaca, pasti mengenal serial Balada Si Roy (BSR) ini. Ya, serial yang dimuat di Majalah Remaja HAI yang terbit mingguan [tahun 1989 – 1992]. Serial ini mendapat tempat di hati para pembacanya waktu itu [termasuk saya], hingga akhirnya pernah pula diterbitkan dalam bentuk buku (10 jilid) oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Serial BSR ini begitu menginspirasi pembacanya. Kalimat-kalimat yang ada di dalamnya seolah mampu memengaruhi, bahkan membantu pembaca untuk bergerak mengubah wawasan hidupnya. Dan kini, kesepuluh jilid itu diterbitkan kembali dalam satu bundel [kertas HVS, 672 halaman, jilid hard cover] oleh Gong Publishing.

Sesuai judul serialnya, cerita ini menampilkan tokoh remaja Roy, seorang pemuda yang gemar berpetualang, bertubuh jangkung atletis, rambut gondrong, rahang kukuh; dengan senyum nakal; dan sorot mata yang liar, tetapi di lain waktu sorot mata itu begitu sendu dan teduh seolah lautan.

Tokoh Roy yang diciptakan penulisnya (Gol A Gong) begitu membius dan merasuki jiwa remaja-remaja saat itu. Ada banyak anak muda ingin seperti Roy. Ia sepertinya menularkan spirit yang luar biasa kepada setiap lelaki pada zamannya, bagaimana semestinya sosok seoarang lelaki tumbuh dan membentuk sikap. Pengembaraan dan petualangan seorang remaja dan lika-liku kehidupan yang dia jalani dengan blue ranselnya di kota-kota di mana kakinya ingin melangkah dalam pencarian identitas diri melalui pengembaraan dan petualangan. Sebagai remaja, Roy ingin banyak belajar. Dan bagi Roy belajar tidak hanya dari dalam ruang-ruang kelas, tetapi harus pergi untuk menyaksikan secara langsung kehidupan yang tergelar di muka bumi ini. Kegelisahan Roy adalah juga kegelisahan remaja pada umumnya.

Tokoh Roy dihadirkan sebagai manusia yang utuh; kadang hitam, kadang putih. Tidak seperti tokoh dalam sinetron kita, yang seringkali tokohnya sangat malaikat atau sangat iblis. Yang baik terlalu baik, dan yang jahat terlalu jahat. Namun, tidak demikian dengan Roy. Suatu ketika dia berandal, tapi pada ketika yang lain dia bisa sangat iba bila menyaksikan kesedihan dan benci pada ketidakdilan yang dijumpai dalam petualangannya. Ia suka menggombali perempuan, tapi ia juga sangat menyayangi ibunya. Roy sangat berani, punya sikap, memegang teguh persahabatan, memiliki solidaritas tinggi, cinta keluaraga, disukai perempuan, dan jago menulis.

Hal yang tidak kalah menarik dan membuat BSR berbeda dengan karya-karya lain adalah setiap serialnya selalu diawali (dibuka) dengan kutipan puisi atau kata-kata bijak. Inilah ciri khas BSR yang hampir tidak dimiliki oleh cerita-cerita sezamannya. Misalnya kutipan puisi Toto ST Radik yang mengawali cerita Solidarnos berikut.

dan sungai yang mengalir ke samudra/ dan ombak yang menjemputnya di muara/ ialah cinta yang tak pernah alpa/ ketulusan tak putus ditikam musim/ jarak mengobarkan rindu dalam rahim/ bagai unggun api yang terus menyala/ angin pun tak kuasa memadamkannya!

Kalimat-kalimat dalam cerita ini mengalir lancar. Kadang terasa sangat menghibur, hingga memaksa pembaca harus tersenyum-senyum sendiri ketika membaca. Namun, tanpa terkesan menggurui, tak jarang juga penulis menyajikan kalimat-kalimat yang membuat pembaca sejenak merenung dan meresapinya. Misalnya ”Seseorang memang perlu mengalami meneguk air pahit dulu dalam hidupnya, agar lain waktu kalau mengalami meneguk air pahit lagi, lidahnya sudah terbiasa. Minimal, dia pernah mengalami dalam mencari jalan keluar untuk mengatasi masa-masa yang sulit” (BSR, Nightmare)

Sebagai cerita lama yang diterbitkan ulang, latar cerita dalam BSR memang sudah berbeda dengan keadaan sekarang. Namun, problematika remaja dan semangat yang dimiliki Roy masih sangat relevan dengan remaja saat ini. Kisah ini dapat menjadi cermin untuk belajar bagaimana semestinya menyikapi hidup; menentukan langkah; mencari jati diri; juga untuk memahami, bagaimana semestinya menjadi lelaki. Dan bagi yang mantan remaja bisa bernostalgia dengan mengingat masa remajanya yang telah lewat.***

11 responses to “Balada Si Roy: Pengembaraan Pencarian Identitas

  1. hmm gola gong nama yang tak terlupa.hmm aku jadi pengen baca Novelnya Balada si roy. Tapi akupun saat ini sedang ingin memulai lagi baca2 karya satra. salam kenal dari kami kawanlama95

    • jangan ragu untuk terus membaca karya-karya sastra, sebab hal itu akan memperkaya jiwa Anda
      salam kenal juga, terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak di sini

  2. balada si roy … aku jadi ingat ama joe yg setia menemani, toni yg kehilangan kakinya dll
    sebuah karya yg gaul banget di jamanku doeloe … sampai sekarang juga masih enak dibaca, sayang koleksiku dah pada hilang eh nemu versi softnya di web anu.
    jadi nostalgia masa doeloe nih … maturnuwun sudah berbagi
    http://duniasithole.wordpress.com

    • juga iwin yang telinganya putus, dewi venus, dan masih banyak lagi yang bisa kita dapat dari serial BSR ini, terutama pengalaman-pengalaman hidup yang dijumpai Roy selama berpetualang yang mampu membuka mata dan hati pembaca terhadap kehidupan dan membuat pembaca seperti ikut bertualang.
      terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak di sini.

  3. ya, bu bekti, si roy mrmang pernah jadi idola anak2 muda sekitar tahun 80-an. trend dan gaya hidup anak muda agaknya akan terus berubah mengikuti kehendak zaman. terima kasih atas review-nya, bu.

  4. Saya menangkap tokoh Roy adalah tokoh yang “sempurna” sebagai remaja-pemuda. Dan, karenanya menjadi idola para remaja-pemuda. Hanya, rasanya kehadiran Roy sebagai tokoh yang demikian itu tak dapat “diproduk” oleh pendidikan. Roy tumbuh sendiri. Dan, betapa langkanya remaja-pemuda yang demikian itu, hampir di segala masa.

    Salam kekerabatan.

  5. merindukan karya fenomenal seperti dulu kala

    mungkin karena pergeseran keadaan, orang2 sekarang lebih banyak dibuai oleh siaran tv dan ada keengganan untuk membaca buku, novel dan karya tulis lainya

    mungkin perlu kejutan sebuah karya sastra……??

  6. Ping-balik: Belajar Menulis bersama Gol A Gong « bahasa dan sastra

  7. Ping-balik: Belajar Menyusun Resensi Novel « ruang imaji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s