Memupuk Kecerdasan IQ, EQ, dan SQ melalui Sastra

bukusastra-bektipatria

(tulisan ini dimuat dalam MEDIA, majalah pendidikan Jawa Timur)

Barangkali banyak orang yang akan mengernyitkan dahi, terperangah, atau bahkan tersenyum sinis ketika membaca judul di atas. Mereka seakan-akan meragukan pernyataan tersebut. Namun, tentu saja saya bisa maklum. Sebab bukan sesuatu yang baru bila sampai saat ini peran sastra dalam dan bagi kehidupan masih dipandang sebelah mata. Atau dengan kata lain, manfaatnya bagi kehidupan masih diragukan. Dalam ritus kehidupan kita sehari-hari, sastra bukanlah hal penting, apalagi fundamental. Dibandingkan dengan dimensi kehidupan lainnya, katakanlah politik, ekonomi, hukum, bahkan hiburan, sastra memiliki posisi yang minor alias terpinggirkan. Merebaknya doktrin materialisme, konsumtivisme, dan hedonisme yang diusung oleh modernisasi membuat gebyar lahiriah dan duniawi lebih memiliki daya pikat. Sementara urusan batiniah, kemanusiaan, dan religius yang banyak diusung oleh sastra menjadi sesuatu yang terabaikan.

Namun demikian, dalam kenyataannya, karya sastra tidak pernah pudar dan mati. Selalu saja bermunculan karya-karya baru. Bahkan mampu menembus batas-batas negara. Hal ini bisa terjadi karena nilai-nilai yang diusung dalam karya sastra bersifat universal. Sastra selalu memiliki tema-tema universal, seperti ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, kematian, kelahiran, kesakitan, kesedihan, kesenangan, kesangsian, penantian, persengketaan, dendam, persaudaraan, cinta, dan nafsu-nafsu bawah sadar yang sangat mendasar dan berserak pada setiap manusia di seluruh jagat raya.

Sastra memang tidak mempunyai pengaruh secara langsung atau secara fisik dibandingkan dengan bidang-bidang lain. Peran sastra lebih pada membangun jiwa manusia. Sastra mengubah seseorang melalui pola pikir, wawasan dalam memandang kehidupan, dan sebagainya. Bahkan filsuf Aristoteles berpendapat bahwa sastra adalah jalan keempat menuju kebenaran setelah agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan. Artinya, sastra memiliki kedudukan yang sama dengan ketiga hal tersebut untuk mencapai kebenaran. Sekalipun fiktif, sastra selalu mengandung tiga muatan: imajinasi, pengalaman, dan nilai-nilai. Memang, menikmati sastra membutuhkan waktu yang cukup menyita dibandingkan dengan media lain (musik, film, dsb). Hal ini diperparah oleh budaya membaca masyarakat kita yang masih sangat rendah.

Lantas, bagaimana kaitan antara sastra dengan kecerdasan? Hal ini tentu terkait dengan fungsi utama sastra yaitu memperhalus budi, peningkatan rasa kemanusiaan dan kepedulian sosial, penumbuhan apresiasi budaya, penyaluran gagasan, penumbuhan imajinasi, serta peningkatan ekspresi secara kreatif dan konstruktif. Untuk mencapai hal tersebut, maka satu-satunya jalan yang dapat ditempuh adalah dengan mengakrabi dan menyelami karya sastra secara intens dan terus-menerus. Melalui kegiatan mengakrabi dan menyelami karya sastra inilah sesungguhnya kecerdasan pembaca dipupuk hampir dalam semua aspek.

A. Kecerdasan Intelektual (IQ)

Dengan membaca karya sastra, pembaca dapat menggali unsur-unsur pembangunnya, seperti tema, amanat, latar, tokoh, alur cerita, dan sebagainya. Antara karya satu dengan karya lainnya tentu berbeda. Semakin beragam karya sastra yang dibaca, akan semakin kaya pula pengetahuan yang diperoleh pembaca.

Selain itu, dengan sering membaca sastra, maka kekayaan bahasa pembaca juga akan bertambah. Sebab, bahasa dalam sastra sangat berbeda dengan bahasa yang digunakan untuk komunikasi sehari-hari. Dengan sering membaca sastra, pembaca dapat belajar bagaimana menceritakan suatu peristiwa, mendeskripsikan suasana tertentu, menggambarkan tokoh dengan karakter tertentu, atau melukiskan suatu tempat tertentu dengan cara memain-mainkan bahasa. Untuk itu, ketika membaca sastra,  hendaknya tidak hanya mengejar akhir ceritanya. Namun, sesekali perlu pula meluangkan sedikit waktu untuk mencermati bahasanya. Bagaimana kalimat-kalimat itu disusun dan dirangkai oleh pengarangnya sehingga menjadi sajian yang menarik, indah, bahkan tak jarang juga menyentuh hati. Dengan mencermati dan mempelajari bahasa dalam karya sastra tentu akan berpengaruh pada keterampilan menulis yang dimiliki pembaca. Sehingga, bukan tidak mungkin suatu waktu akan mendorongnya pula untuk mencoba berkreasi dan bereskpresi dengan menulis sastra.

B.  Kecerdasan Emosional (EQ)

Sebagaimana telah disebutkan di muka bahwa peran sastra adalah membangun jiwa. Sastra adalah jembatan untuk masuk ke hati manusia di segala sektor kehidupan. Sastra adalah pendidikan jiwa yang mengembangkan citra manusia dan kualitas kehidupan dari dalam batin manusia. Sastra akan membawa pembacanya bertemu dengan berbagai macam tema dan latar serta berbagai manusia dengan beragam karakter. Dengan membaca sastra, pembaca akan bertemu dengan bermacam-macam orang dengan bermacam-macam masalah. Dan yang lebih penting adalah bagaimana tokoh-tokoh tersebut bergulat mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapinya.

Sastra dalam banyak hal memberi peluang kepada pembaca untuk mengalami posisi orang lain, yang menjadikannya berempati kepada nasib dan situasi manusia lain. Melalui sastra,  seseorang dapat  mengalami menjadi seorang dokter, guru, gelandangan, tukang becak, ulama, ronggeng, pencuri, pengkhianat, pengacara, rakyat kecil, pejabat, dan sebagainya. Sikap empati ini tentu menggelitik dan menggugah emosi pembaca.

Mempelajari sastra berarti mengenal beragam kehidupan beserta latar dan watak tokoh-tokohnya. Membaca kisah manusia yang bahagia dan celaka, serta bagaimana seorang manusia harus bersikap ketika menghadapi masalah, akan menuntun pembacanya untuk memahami nilai-nilai kehidupan. Melalui sastra, pembaca diajak berhadapan dan mengalami secara langsung kategori moral dan sosial dengan segala parodi dan ironinya. Ruang yang tersedia dalam karya sastra itu membuka peluang bagi pembaca untuk tumbuh menjadi pribadi yang kritis pada satu sisi, dan pribadi yang bijaksana pada sisi lain. Bukankah dalam hal ini kecerdasan emosi dapat terasah?

Di samping itu, banyak karya sastra yang menawarkan pesan-pesan moral yang berkaitan dengan sifat luhur manusia, memperjuangkan hak dan martabat manusia. Nilai moral yang disampaikan pengarang menyatu dalam alur cerita. Dalam cerita itu pembaca akan bertemu dengan berbagai perbuatan tokoh yang dilukiskan pengarang dalam berbagai peristiwa. Dengan sendirinya pembaca akan memahami perilaku-perilaku yang baik atau pun yang buruk. Sifat luhur yang digambarkan pengarang melalui sikap dan tingkah laku para tokoh dalam karya sastra dapat membantu membentuk pribadi pembaca. Karya sastra dapat membukakan mata dan hati pembaca untuk melihat realitas sosial, politik, dan budaya yang ada di sekeliling pembaca dalam bingkai moral dan estetika.

C.  Kecerdasan Spiritual (SQ)

Telah kita ketahui bersama, banyak karya sastra yang bermuatan nilai-nilai religius. Bahkan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta dilukiskan dengan beragam cara oleh pengarangnya. Sekedar contoh, puisi Padamu Jua (Amir Hamzah), cerpen Robohnya Surau Kami (A.A. Navis), Gurindam 12-nya Raja Ali Haji, novel Negeri 5 Menara (A. Fuadi), cerpen Ayahku Seorang Guru Mengaji (Hamsad Rangkuti), puisi-puisi Emha Ainun Nadjib, puisi-puisi Ahmadun Yosi Herfanda, dan masih banyak lagi tema-tema religius yang diusung oleh karya sastra. Karya sastra dengan tema-tema religius semacam ini akan menuntun pembaca lebih memahami hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Hubungan yang memunculkan rasa rindu, rasa ingin bersatu, dan rasa ingin berada bersama dengan Tuhannya. Manusia juga akan semakin menyadari kekerdilannya dan kebergantungannya pada Tuhannya.

Dari uraian di atas, menjadi jelaslah bahwa mengakrabi dan menyelami sastra bukanlah sesuatu yang sia-sia dan hanya membuang-buang waktu saja. Menyelami sastra dapat memupuk kecerdasan penikmatnya. Sastra mempertajam perasaan, penalaran, daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan kehidupannya. Sastra memberikan atau menyediakan kekayaan imajinasi, melatih kepekaan pikiran, hati dan perasaan akan segala hal yang terkait dengan peri kehidupan. Dengan kekayaan imajinasi orang bisa menjadi kreatif. Dan dengan daya kreativitas orang akan selalu tergerak untuk mencari dan mengadakan upaya penemuan karya baru yang kreatif.

Sastra dapat menjadi ’sembako’ batin yang memperkaya jiwa pembacanya. Sastra adalah pembawa pesan yang menghibur, sehingga pesan yang tersampaikan bisa meresap dalam pikiran manusia secara tidak disadari. Sastra juga tidak menjauhkan manusia dari kehidupan. Justru sebaliknya, sastra mendekatkan manusia pada hidup, menyadarkan pada hakikat dan cinta kehidupan. Sastra bisa menghilangkan sekat-sekat antarmanusia yang terkait dengan agama, suku bangsa, ras, etnis, dan sebagainya. Oleh karena itu, rasanya memang tidak berlebihan bila John F. Kennedy pernah berkata: ”Seandainya ada lebih banyak politikus memahami puisi, saya yakin dunia yang kita diami ini akan menjadi tempat yang lebih baik.” Semoga.***

4 responses to “Memupuk Kecerdasan IQ, EQ, dan SQ melalui Sastra

    • terima kasih, Bapak.
      saya salut pada Bapak, orang kimia yang mampu mengajar bahasa. sementara saya yang orang bahasa, jelas gak sanggup kalau diminta mengajar kimia.
      sukses selalu, Bapak …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s