Batu Sandung: Membaca Perempuan dari Perempuan

Saya menemukan buku ini dalam sebuah pameran buku di kota saya. Bukunya kecil dan sangat tipis (hanya 134 halaman). Saya memang menyukai karya-karya Ratna Indraswari Ibrahim (alm.) yang seringkali berbicara tentang perempuan, suara hati perempuan. Gaya bahasanya sederhana dan sangat dekat dengan kehidupan (perempuan) sehari-hari. Dan benar, buku BATU SANDUNG ini pun masih mencoba berbicara tentang perempuan. Ya, bukan hal baru bila perempuan mencoba berbicara tentang perempuan dalam karyanya. Buku ini merupakan kumpulan tiga novelette yang kesemua tokoh utamanya adalah perempuan yang bercerita mengenai dirinya, pikirannya, sikap hidup, dan norma-norma. Melalui buku ini, Ratna mencoba menguak sisi-sisi menarik dari perempuan dengan segala permasalahannya.

Dalam novelet pertama yang berjudul ‘Batu Sandung’, pengarang ingin menghanyutkan pembaca dalam sebuah dilema yang dihadapi Irina, perempuan cacat tokoh utama novelet tersebut. Irina mencoba berjuang sendiri mengatasi egonya dan jungkir balik membuktikan bahwa dia sebenarnya tak kalah normal ketimbang orang lain. Irina yakin dirinya bukan model gadis yang harus dikasihani dan dibantu-bantu dalam ini-itu. Dia benar-benar kesal ketika ibunya menangisi cacatnya akibat polio dan tentang nasibnya yang belum juga punya pasangan hidup saat usianya sudah pertengahan 20-an. Sebagaimana terlihat dalam kutipan berikut.

“Ah, saya benci sekali! Merasa disepelekan. Saya merasa Adis jadi sok tahu dengan segala persoalan hidup saya. Mungkin dia sama sekali tidak mengerti kalau saya merasa terhina dengan sikapnya ini. Bukankah yang bisa dilindungi terus menerus hanya orang-orang yang dianggap tidak bisa berkembang menjadi dewasa? Apakah kelumpuhan saya ini sudah jadi alasan bagi orang lain untuk mengatur jalan hidup saya?”

Dalam novelet ini juga terasa adanya aroma perang melawan marginalisasi orang cacat. Pertentangan batin tokoh Irina antara sebuah eksistensi dan cinta, dipadukan secara apik dengan bahasa yang lugas namun menarik oleh Ratna. Novelet ’Batu Sandung’ lebih tepat kita sebut otobiografi dari penulisnya. Ratna sadar benar bahwa kondisi tubuhnya yang cacat akan memperburuk hubungan sosialnya. “Bila saya telusuri, hidup ini sebetulnya seluruhnya adalah tragedi. Mungkin kedengarannya aneh bahwa kecacatan terkadang bisa jadi sahabat yang pas buat saya. Dengan asyiknya saya bisa bermain dengan waktu, tanpa kontak dengan orang lain.” (halaman 12).

Masih tentang eksistensi perempuan, dalam novelet kedua berjudul ‘Garis Ibu’, Ratna seolah ingin menggambarkan tentang sosok ibu yang mencari eksistensinya dari peran yang disandangnya. Pembaca diajak menyelami gelora batin seorang ibu yang menginginkan indahnya hidup bagi dia dan keluarganya sambil mengharap banyak keluarga serta anak-anaknya bisa ikut membahagiakannya. Si ibu ingin membahagiakan putra-putranya, namun dia juga ingin mewujudkan mimpinya memiliki anak perempuan—ibu ini punya dua putra dan tidak punya kesempatan melahirkan seorang anak perempuan karena tumor menyerang rahimnya setelah kehamilan keduanya. Maka dia senang luar biasa ketika Murni, putri sahabat dekatnya, akan ‘dititipkan’ di rumahnya untuk persiapan kuliah. Namun hatinya terbelah manakala kedua putranya mencintai Murni dan patah hati karena keduanya tidak dipilih Murni. Dia menginginkan seorang putri—yang mana Murni akan sesuai—tetapi dia tidak suka jika gadis ini membuat putranya tidak lagi rukun. Bahkan di akhir cerita, ia pun harus dihadapkan pada kecamuk perasaan ketika putranya memilih gadis cacat sebagai pendamping hidupnya.

Sementara di novelet terakhirnya berjudul ‘Hari-Hari yang Tercecer’ Ratna mencoba mengisahkan sebuah kemerdekaan cinta. Cerita ini berkisah tentang seorang perempuan (Maya) yang merupakan istri dan ibu dari dua anak yang yang tidak lagi  sanggup mencintai suaminya (Bono) justru di saat ia terlalu dicintai oleh suaminya. Sosok suaminya terlalu superior, sehingga dia sendiri merasa terbungkam di hadapannya. Si suami terlalu memandang tokoh perempuan sebagai seorang obyek cinta yang harus selalu menurut yang membuatnya tak bisa mengekspresikan diri dan pikiran dalam rengkuhan suaminya. Si suami, seorang dokter, sangat mencintai perempuan ini, tetapi cintanya bukan model cinta yang membebaskan. Cintanya adalah cinta yang memiliki, menguasai. Sehingga, alih-alih bahagia selamanya dalam cinta, si perempuan pada akhirnya menemui kendala ketika tak terbendung lagi hasratnya untuk mengaktualisasikan diri. Dia sudah bosan menjadi ‘obyek’ cinta suaminya. Dia menjadi obyek bukan karena dia direndahkan, tetapi karena derajatnya terlalu ditinggikan, hingga seolah terpajang di awang-awang, karena cinta yang berlebih. Akhirnya dia pun mendapatkan kebebasan itu dengan berpisah dari suami yang telah menganyam hidup rumah tangga selama dua puluh tahun.

“Dua puluh tahun bukan waktu yang pendek untuk mengiyakan seluruh ucapanmu. Kau kira selama menjadi istri, saya bahagia? Tidak! Setiap malam saya sulit tidur dan suka gugup kalau ingin mengeluarkan pikiran”. Begitulah kutipan percakapan antara Maya dengan Bono.

Pada ‘Hari-hari yang Tercecer’ ini, Ratna sukses mendeskripsikan perkawinan bangsa timur yang memang selalu berpusat pada suami (suami sentris). Dalam perkawinan yang seperti ini wanita seringkali menjadi obyek ketimbang menjadi subyek yang utuh. Kisah ini membuktikan dirinya sebagai contoh sebuah kisah Indonesia yang bermuatan perspektif feminis dengan cara yang halus.  Ya, perempuan yang berani mengambil sikap dengan segala risiko demi menciptakan kebahagiaannya sendiri.

Demikianlah, Ratna sepertinya memang ingin mengajak pembaca (khususnya perempuan) untuk memahami diri mereka sebagai manusia yang merdeka. Buku ini memang bukan buku baru. Namun, isinya masih relevan untuk dibaca sampai saat ini. Sebab permasalahan yang ada di dalamnya masih sering kita jumpai dalam kehidupan (perempuan) sehari-hari.

6 responses to “Batu Sandung: Membaca Perempuan dari Perempuan

  1. Ping-balik: Belajar Menyusun Resensi Novel « ruang imaji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s