Biar Salah Asal Gagah

Penggunaan bahasa asing (Inggris) dalam masyarakat kita bukanlah hal yang baru. Jangan heran, hampir seluruh lapisan masyarakat mulai dari pejabat, kalangan bisnis, sampai artis berlomba-lomba berbahasa Inggris. Simak saja jika pejabat dan artis berbicara, pasti diselingi dengan bahasa Inggris yang sebetulnya compang-camping.

Penggunaan bahasa Inggris yang compang-camping ini tidak hanya dalam bentuk lisan, tetapi juga meluas dalam bentuk tulisan. Hal ini bisa dilihat pada papan-papan nama, nama-nama tempat wisata dan hiburan, judul acara televisi, judul film, dan masih banyak lagi. Hitung saja, lebih banyak mana judul film remaja yang berbahasa Inggris dengan yang menggunakan bahasa Indonesia? Bahkan demi menyambut globalisasi, pengajaran di sekolah juga wajib menggunakan bahasa Inggris (kecuali tentu untuk mapel bahasa Indonesia), terlebih untuk sekolah yang menggunakan embel-embel internasional.

Bila diamati, maraknya penggunaan bahasa asing dalam masyarakat sesungguhnya tidak lepas dari pandangan sebagian masyarakat yang menganggap bahasa asing memiliki gengsi lebih tinggi dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Dengan menggunakan bahasa Inggris, pembicara/pengguna lebih terlihat lebih gagah, modern, dan terdidik. Hanya saja tidak jarang pengguna tersebut tidak paham betul dengan kosa ataupun ejaan kata asing (bahasa Inggris) yang dipakai. Bagi mereka yang penting terlihat gagah karena telah menggunakan bahasa asing (Inggris). Akhirnya, demi gengsi tersebut masyarakat tidak lagi memerhatikan kebenaran ejaan sebagaimana terlihat pada gambar-gambar berikut.

Memang, untuk menyambut era global kita harus mampu bersaing dengan orang asing sehingga kita harus mampu berbahasa Inggris. Tapi bukan berarti globalisasi menjadi alasan penginggrisan. Hal ini merupakan kesalahkaprahan memaknai paham globalisasi dan internasionalisasi. Apalagi jika bahasa Inggris itu digunakan hanya untuk gengsi atau gagah-gagahan. Sampai-sampai bahasa Indonesia terlupakan. Sebab kata/istilah asing sudah banyak yang di-Indonesiakan. Kita dapat menggunakan istilah asing tersebut jika memang belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

Mempelajari dan menguasai bahasa asing, terutama bahasa Inggris, tentu saja perlu. Akan tetapi, pelajari dan pahami secara benar. Dan yang tidak kalah penting, penggunaannya sebaiknya tidak dicampuradukkan dengan bahasa Indonesia, yang akhirnya justru merusak kaidah berbahasa. Ujung-ujungnya bukan terlihat lebih gagah dan modern, tetapi justru membingungkan pembaca/pendengar dan juga menjadi bahan tertawaan.###

6 responses to “Biar Salah Asal Gagah

  1. Bengkel yang ada di gambar dekat rumah, jadi ikut malu. he.. Penggunaan bahasa Inggris seperti tidak bisa ditahan ya bu, he.. Padahal kosa kata bahasa Indonesia pun tak kalah kaya.

    • sepakat bapak, belum lagi serbuan bahasa alay … he..he..
      seharusnya memang kita melestarikan bahasa Indonesia, bukan malah menguburnya …
      sebab, kalau bukan kita – warga negara Indonesia, siapa lagi yang mau melestarikan bahasa Indonesia?

  2. Saya pernah membaca dan mengulasnya sedikit dalam blog saya, bahwa kecenderungan untuk mengucap bahasa asing itu (padahal ada padanannya) termasuk kelainan yang disebut xenoglossofilia.

    Artikel bermanfaat, dan blognya saya suka😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s