Menggali Filosofi dalam Lomba 17-an

Hari ini kita sudah memasuki bulan Agustus di tahun 2011 ini. Bulan Agustus merupakan bulan yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Betapa tidak. Bulan ini merupakan bulan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia. Tepatnya tanggal 17 Agustus 1945. Sejak itulah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, bebas dari cengkeraman penjajah. Oleh karena itulah, tidak berlebihan bila segenap warga negera Indonesia mengistimewakan bulan Agustus ini. Menyambut bulan Agustus, berarti menyambut hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Berbagai kegiatan digelar untuk menyemarakkannya. Mulai dari tingkat RT hingga tingkat nasional.

 Salah satu kegiatan yang hampir selalu ada dalam kegiatan tujuh belasan adalah diselenggarakannya berbagai lomba sederhana yang dapat diikuti semua warga. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk memeriahkan hari ulang tahun proklamasi tersebut.

Kita semua tentu tak asing lagi dengan lomba panjat pinang, lomba bakiak, lomba lari kelereng di atas sendok, lomba makan kerupuk, lomba memasukkan paku ke dalam botol, yang hampir selalu ada dalam kegiatan 17-an di lingkungan kita. Bahkan kita semua pasti pernah ikut serta dalam lomba-lomba tersebut.

Meski terlihat sederhana, lomba-lomba tersebut ternyata menyimpan filosofi yang sungguh bermakna.

1.   lomba panjat pinang

      Lomba panjat pinang merupakan lomba yang selalu ditunggu dalam perayaan 17-an. Cara bermain dalam lomba ini adalah dengan memanjat pohon pinang yang telah dilumuri oli untuk meraih hadiah-hadiah yang digantungkan di atas pinang. Hanya yang berhasil naik sampai ke puncak yang dapat meraih hadiahnya. Bila dicermati, hampir tidak mungkin seseorang dapat sendirian sampai ke puncak. Untuk itu, peserta lomba akhirnya sepakat untuk bahu-membahu dan hadiahnya nanti dibagi.

      Filosofi dari permainan/lomba ini adalah setiap orang harus bahu-membahu, berbagi posisi dan upaya, serta menciptakan kerjasama yang kokoh untuk meraih sasaran dan tujuan.

2.   lomba bakiak

      Lomba bakiak di sini adalah bakiak beregu. Biasanya satu bakiak panjang untuk tiga orang. Cara bermainnya adalah berlomba adu cepat dengan tiap-tiap kelompok terdiri dari tiga orang yang berada dalam satu bakiak dan berjalan secepat mungkin untuk mencapai finish. Meski sederhana lomba ini tidaklah mudah. Bila salah langkah bisa terjatuh.

      Filosofi dari permainan/ lomba ini adalah dalam satu kelompok semua anggotanya harus bisa menyamakan visi, menyatukan langkah, cekatan dalam bertindak, serta maju bersama untuk merebut prestasi.

3.   lomba lari kelereng di atas sendok

      Lomba ini paling digemari anak-anak. Cara bermainnya adalah berlomba jalan cepat untuk mencapai finish dengan menggigit sendok yang di atasnya berisi  sebutir kelereng. Bila kelereng jatuh berarti kalah. Bentuk kelereng yang bulat dan licin tentu membuat setiap peserta lomba ini harus berhati-hati saat berjalan.

      Filosofi dari lomba ini adalah seseorang harus senantiasa berhati-hati dalam menjaga kecepatan dan tetap fokus pada misi yang diemban. Sebab keduanya merupakan kunci sukses dalam perjalanan mencapai keberhasilan.

4.   lomba makan kerupuk

      Permainan dalam lomba ini dilakukan dengan cara kerupuk terikat pada seutas tali, dan digantung yang tingginya di atas mulut peserta lomba. Aturan main, kedua tangan tidak boleh memegang tali/kerupuk, untuk itu kedua tangan disembunyikan di belakang badan. Hebohnya, tali gantungan kerap berayun akibat tarikan dari peserta lain. Peserta yang peling cepat menghabiskan kerupuklah yang menang.

      Filosofi dari lomba ini adalah untuk meraih prestasi dalam keterbatasan situasi dan kondisi yang dihadapi, setiap orang harus tetap menjaga sportivitas dan integritas (kejujuran)

5.   lomba memasukkan paku ke dalam botol

      Permainan dalam lomba ini dilakukan dengan cara mengikat paku dengan seutas tali yang digantungkan di belakang badan peserta lomba. Paku yang terayun-ayun di ujung tali tersebut harus dimasukkan ke dalam botol yang terletak di bawah badan peserta. Peserta yang paling cepat berhasil memasukkan pakunya, dialah yang menang.

      Filosofi dari lomba ini adalah bahwa dalam meraih prestasi diperlukan perpaduan antara potensi yang dimiliki dengan keterampilan memanfaatkan peluang.

 Demikianlah filosofi yang bisa digali dari beberapa lomba 17-an yang sering kita lihat di lingkungan kita. Bila diperhatikan, filosofi-filosofi tersebut sepertinya bisa juga diterapkan dalam bidang kehidupan lain, artinya tidak sekadar bagi lomba-lomba di atas. Dirgahayu Republik Indonesiaku. Salam###

6 responses to “Menggali Filosofi dalam Lomba 17-an

  1. wheeew, bagus!🙂
    pas banget momennya di bulan Agustus. n sepertinya emang banyak yg belum memaknai makna2 di balik lomba2 tersebut.

    oiya, mau izin share buat ditaro di Citizen Journalism web Annida-Online ya, Mbak🙂
    terima kasih..

  2. Ping-balik: Lomba Permainan Tradisional – Merajut Cinta Sesama Anak Negeri | Jejak Budaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s