Bahasa dalam Nama Diri dan Identitas Bangsa

Memasuki tahun pelajaran baru, sebagai seorang guru, saya selalu dihadapkan pada nama-nama peserta didik baru. Mencermati nama-nama tersebut membuat saya miris dan prihatin hingga tergerak untuk membuat tulisan ini. Bagaimana tidak. Mencermati nama-nama generasi saat ini (sepuluh tahun terakhir ini) rasanya semakin asing, sebab identitas “keindonesiaan” dari nama-nama tersebut telah hilang. Nama-nama mereka kini didominasi oleh nama-nama yang menggunakan bahasa asing. Kalau tidak kebarat-baratan, ya kearab-araban. Barangkali pembaca sekalian juga banyak menjumpai nama-nama seperti Gebby, Sheila, Raffaela, Monikha, Gary, Keyla, Alfredo, Enrico, Marcell, Zulfa, Izza, Habibah, Al Abied, An Naufal, Daffa, Fadhil, Nazaruddin. dan masih banyak lagi. Padahal pemilik nama-nama tersebut jelas-jelas orang Indonesia asli, bukan blasteran.

Mungkin dianggap terlalu sepele atau mengada-ada kalau (hanya) soal kegemaran menggunakan/memberikan nama berbahasa asing dipermasalahkan. Lantaran, memberi nama pada anak memang menjadi hak prerogatif orang tua. Selain itu, kita pun juga kerap mendengar jargon yang menyatakan, “Apalah arti sebuah nama?” Tapi benarkah nama itu merupakan sesuatu yang sepele? Sesuatu yang tidak ada pengaruhnya dalam kehidupan? Tentu saja tidak. Sebenarnya nama merupakan hal penting dalam kehidupan seseorang,  karena selain menunjukkan identitas diri, nama juga dapat menunjukkan identitas suatu suku/bangsa. Dengan nama itu, orang lain bisa menerka asal muasal pemilik nama tersebut berikut kepercayaan yang dianutnya. “Nama” secara umum bisa disimpulkan sebagai identitas bagi diri seseorang untuk mengenal dirinya dan membedakan dia dengan orang lain serta sebagai tanda agar orang lain dapat mengenal dirinya.

Pemberian nama kepada seorang anak dalam konteks budaya adalah sesuatu yang sangat esensial sifatnya. Dalam nama seorang anak, terdapat harapan dan doa yang dititipkan orang tua agar kelak setelah dewasa si anak akan mengikuti arti nama yang melekat pada dirinya. Selain itu, penggunaan nama seseorang bukan hanya sekadar doa dan harapan, melainkan nama juga berfungsi sebagai penanda sosial seseorang dalam masyarakat. Sehingga orang tua berusaha memberi nama sebaik mungkin bagi sang anak.

Dalam masyarakat kita sekarang ini, memang masih terlihat bahwa nama-nama tersebut dapat menunjukkan identitas pribadi si pemilik nama. Namun, nama-nama tersebut kini sudah tidak lagi menunjukkan identitas suku/bangsa. Hal ini terlihat pada pemakaian nama-nama yang berbahasa asing tersebut, kebarat-baratan atau kearab-araban. Sehingga identitas keindonesiaan tak lagi terlihat. Memang bukan hal baru dalam masyarakat kita yang selalu menganggap bahwa sesuatu yang berbau asing itu lebih baik. Dalam hal atau bidang apa pun. Bangsa kita selalu merasa tidak percaya diri dengan miliknya sendiri. Sehingga mereka dengan mudah meninggalkan kekayaan budaya bangsanya sendiri.

Demikian pula dalam soal nama. Masyarakat Islam di Indonesia pun berlomba-lomba memberikan nama berbahasa Arab untuk anak-anak mereka. Alasannya mencari nama yang khas Islam karena sama dengan bahasa Al-Quran. Mereka juga beralasan mencari nama yang unik, tidak pasaran. Padahal Arab belum tentu Islam. Di Arab sendiri nama seperti Nabila, Nazma, Thaariq, dan lain-lain, mungkin beragama Nasrani (Kristen) atau Yahudi. Dan lagi, nama-nama tersebut di Arab sana juga banyak dipakai orang alias nama pasaran.

Yang lebih parah lagi, ada juga orang tua yang memberi nama anaknya hanya karena kagum pada tokoh tertentu, misalnya artis, bintang olah raga, dan sebagainya, tanpa mengetahui makna nama tersebut. Yang penting menyandang nama orang terkenal, biar terlihat mentereng. Seorang rekan saya juga beranggapan nama-nama Indonesia itu sudah kuno. Kalau mau modern, ya pakai nama berbahasa asing. Pernah juga suatu kali saya bertanya kepada peserta didik saya mengenai arti nama yang disandangnya itu (kebetulan berbahasa Arab). Ternyata mereka juga tidak tahu artinya.

Kalau alasannya mencari nama yang baik, bukankah banyak pula nama-nama baik yang asli Indonesia? Yang berasal dari budaya Indonesia? Misalnya: mahardika, abiyasa, kinasih, maheswara, satria, dan sebagainya. Bangsa kita adalah bangsa yang besar dengan keanekaragaman suku dan budaya yang melimpah. Banyak nama-nama baik yang bisa diambil dari sana. Bahkan sekaligus mencirikan masing-masing daerahnya. Dengan nama-nama Indonesia ini, selain menunjukkan identitas suku/bangsa, juga dapat menunjukkan kebanggaan kita sebagai orang Indonesia. Sehingga apabila nama itu disebut, seluruh bangsa di dunia tahu bahwa pemilik nama itu berasal dari Indonesia. Hal inilah yang membuat identitas Indonesia semakin dikenal di dunia. Bukankah ada ungkapan “Bahasa menunjukkan bangsa”?

Beberapa negara seperti China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea, dan India misalnya, mereka begitu bangga dengan nama dan budaya yang mereka miliki sehingga mereka tidak perlu memberikan nama-nama yang berbau asing kepada anak-anak mereka (kecuali mereka yang blasteran), dan bangsa lain pun akan mudah untuk mengenali asal muasal mereka dari nama-nama mereka. Lantas mengapa kita tidak meniru mereka?

Ya, sebuah bangsa yang kuat dibangun dari setiap sendi elemen budaya yang juga harus tak kalah kuatnya dalam bahu-membahu menyusunnya. Elemen tersebut salah satunya adalah bahasa. Bahasa adalah salah satu identitas (jati diri) bangsa. Warga bangsa Indonesia hendaknya mananamkan dalam dirinya bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang pantas untuk dibanggakan. Bahasa Indonesia juga kaya. Kalau tidak percaya, coba saja buka Kamus Besar Bahasa Indonesia, pasti banyak kata yang belum kita ketahui sebelumnya.

Memang masalah nama ini sepintas kelihatan sepele, tapi jika kita telaah lebih mendalam, masalah nama ini memiliki peran besar dalam menunjukkan budaya, identitas, rasa nasionalisme, dan kebanggaan menjadi bagian dari sebuah bangsa. Bila tidak kita sadari dan benahi, bukan tidak mungkin identitas Indonesia akan benar-benar tenggelam. Lantas bila suatu saat nanti ada bangsa lain yang bertanya ”Indonesia itu yang mana? Yang seperti apa?” Apa jawab kita bila yang terlihat memang Indonesia sudah menjadi kearab-araban dan kebarat-baratan.

Oleh karena itu, para orang tua hendaknya mulai menyadari pentingnya memberikan nama dari budaya asli Indonesia kepada anak-anak supaya budaya Indonesia tetap terjaga dan identitas bangsa tidak menjadi rancu karenanya. Melalui nama asli Indonesia ini, orang tua juga dapat mulai menanamkan nasionalisme kepada anaknya. Dari sikap orang tua ini, rasa nasionalisme yang ditunjukkan orang tua juga sekaligus menjadi contoh bagi sang anak. Bukankah membangun karakter memerlukan keteladanan?

Alangkah malangnya sebuah bangsa atau negara yang tidak memiliki bahasa sediri, seperti bangsa (negara) Australia, Malaysia, misalnya. Tetapi alangkah lebih malang bila sebuah bangsa yang sudah tegas-tegas mengikrarkan bahasa sebagai jati diri bangsanya, lalu mengabaikan begitu saja yang telah diikrarkan itu. Oleh karena itu, sebagai refleksi di hari kemerdekaan negeri kita ini, melalui tulisan ini tidak ada salahnya kita kembali introspeksi diri. Seberapa banggakah kita terhadap Indonesia? Seberapa cintakah kita terhadap budaya Indonesia? Siapa yang harus mencintai, membanggakan, dan membesarkan Indonesia? Semoga nurani kita bisa menjawabnya. Dirhagayu Indonesiaku. Salam.###

About these ads

13 responses to “Bahasa dalam Nama Diri dan Identitas Bangsa

  1. Barangkali nama seperti nama saya, Sungkowo, adalah nama yang lebih menyentuh ke sendi-sendi Jawa, ya Bu. Tapi sayang, menurut Kamus Bahasa Jawa, “sungkowo” itu berarti susah, sedih. Ya begitulah. Saya tetap bersyukur punya nama itu karena orang lain akhirnya mengenal dan dapat memanggil saya.
    Salam kekerabatan.

  2. wah..menarik. klo nama saya mbak “artyn Souhara”..?^^
    nama memang terkadang menjadi karakter atau ciri seseorang…

  3. wah, pemakaian nama asing pada nama diri ternyata berpengaruh juga pada identitas bangsa. semoga masyarakat kita kian menyadarinya.

  4. kalo keindia-indiaan gimana, bu? banyak juga toh orang yang memiliki nama yang kalau ditelusuri adalah berasal dari bahasa sansekerta ataupun erat kaitannya dengan kebudayaan di india sana.

    atau yang keoriental-orientalan? mengingat anak-anak muda zaman sekarang banyak yang menyukai musik/film/gaya hidup jepang/korea/china.

    kedua macam yang saya sebutkan itu pun tidak bisa diklaim sebagai asli indonesia toh?

    • perkembangan bahasa Indonesia tidak menutup diri dari masuknya bahasa lain. banyak bahasa asing, termasuk bahasa sanskerta yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. ketika bahasa asing itu sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia, berarti sudah menjadi bahasa Indonesia.

  5. saya tertarik dengan ‘nama’…
    untuk kajian nama diri, apakah dalam Bahasa Indonesia telah ada klasifikasi atau pengkategorian untuk ‘nama diri’ seperti halnya proper name/ noun dalam bahasa Inggris. mohon infonya (buku atau sumber lain) yang bisa saya akses, karena saya sedang meneliti tentang penerjemahan nama..terima kasih

  6. Salam kenal mba’ bekti tulisan anda bagus, apalagi disertai gambar dengan pakaian adat…….. bolehkah saya meminta izin menggunakan gambar tersebut untuk saya pergunakan ..lucu habis …. terima kasih atas izin yg mba’ berikan ? Merdekaaaa….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s