Yuk, Mengakrabi Kamus Bahasa Indonesia …

Anda orang Indonesia? Sudah berapa lama Anda mengenal bahasa Indonesia? Sudah berapa tahun Anda belajar bahasa Indonesia? Apakah Anda masih bingung dan ragu-ragu untuk memilih bentuk kata yang baku ketika dihadapkan dengan kata-kata berikut?

besok – besuk;        paham – faham;      pikir – fikir;       salat – shalat – sholat;
menyontek – mencontek;        memesona – mempesona;      mengubah – merubah
olahraga – olah raga;       saputangan – sapu tangan;      narasumber – nara sumber

kamus-besar-bahasa-indonesiaYa, barangkali banyak orang Indonesia, yang merupakan penutur bahasa Indonesia, masih bingung untuk memilih bentuk baku dari kata-kata tersebut. Memang, bukan hal baru bila masyarakat Indonesia kurang memahami bentuk-bentuk baku bahasa Indonesia. Mengapa hal itu bisa terjadi? Tentu bukan rahasia lagi bila masih banyak orang Indonesia yang kurang peduli, masih menganggap remeh, dan merasa tidak perlu serius mempelajari bahasa Indonesia. Menurut mereka, yang penting bisa saling mengerti dan memahami ketika berkomunikasi. Anggapan semacam ini tentu tidak terlalu menjadi masalah dalam bahasa lisan. Namun, akan menjadi masalah besar bila digunakan dalam bahasa tulis.

Sikap kurang peduli terhadap bahasa Indonesia ini akhirnya juga mengakibatkan  banyak orang Indonesia yang kehilangan keakrabannya dengan perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia. Sehingga mereka sering bingung dan keliru ketika dihadapkan pada kata-kata sebagaimana contoh di atas. Banyak orang Indonesia yang tidak mau mengakrabi kamus bahasa Indonesia yang menjadi acuan utama untuk mengetahui dan memahami kosakata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jangankan mengakrabi, menyentuh saja barangkali tidak pernah. Bahkan, banyak orang Indonesia yang mempunyai bermacam-macam kamus bahasa asing, tetapi TIDAK MEMILIKI satu pun kamus bahasa Indonesia. Seolah-olah seluruh kosa kata bahasa Indonesia telah dikuasainya dengan baik. (Coba Anda cek di rumah Anda, adakah kamus bahasa Indonesia di sana?).

Kebingungan di atas mungkin masih akan berlanjut ketika harus memilih kata-kata yang serupa tapi tak sama untuk digunakan dalam kalimat. Misalnya kata pemenang – juara; pertandingan – perlombaan; petinju – peninju; petambak – penambak; dan sebagainya. Juga kata-kata serapan seperti: zaman – jaman; standardisasi – standarisasi; aktivitas – aktifitas; dan sebagainya.

Atau juga kata-kata yang sering terbolak-balik maknanya. Seperti kata “bergeming” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna ”tidak bergerak sedikit pun, diam saja”, tetapi sering diartikan ”bergerak”. Sebagaimana terlihat dalam kalimat berikut.

Para demonstran tidak bergeming meski terik matahari membakar kepala. (salah)

Bila dicermati, “tidak bergeming” dalam kalimat tersebut menjadi bermakna “tidak diam saja” atau “bergerak”. Kalimat yang benar seharusnya berbunyi:

Para demonstran bergeming meski terik matahari membakar kepala. (benar)

Demikian juga kata acuh yang dalam KBBI bermakna ”peduli”, tetapi dalam pemakaiannya sering diartikan ”tidak peduli”. Masih ingatkah Anda dengan lirik lagu populer dari grup band d’Masiv Cinta Ini Membunuhku yang berbunyi sebagai berikut.

Kau membuat ku berantakan
Kau membuat ku tak karuan
Kau membuat ku tak berdaya
Kau menolakku acuhkan diriku

Dalam lirik lagu tersebut terlihat bahwa kata ”acuh” dimaknai sebagai ”tidak peduli”. Sebab tentu tak mungkin terjadi menolak, tapi mengacuhkan.

Kebingungan dan kekeliruan tersebut sesungguhnya tidak akan terjadi bila kita mau mengakrabi kamus bahasa Indonesia. Sebab, kata-kata yang baku, baik, dan benar pasti ada dalam kamus bahasa Indonesia. Penyebab kebingungan dan kekeliruan sesungguhnya karena ketidaktahuan. Kalau kita sering membuka kamus bahasa Indonesia, maka kita akan semakin tahu dan paham dengan kosa kata bahasa Indonesia. Apalagi sekarang tersedia juga KBBI Daring yang bisa digunakan saat terhubung dengan jaringan internet, juga KBBI Luring berupa perangkat lunak (software) yang bisa diunduh dan disimpan dalam komputer atau laptop sehingga lebih praktis dan dapat digunakan sewaktu-waktu. Jadi, tunggu apa lagi, mari kita mulai mengakrabi kamus bahasa Indonesia. Salam. #

12 responses to “Yuk, Mengakrabi Kamus Bahasa Indonesia …

  1. betul juga, ya
    selama ini banyak orang Indonesia yang tidak akrab dengan kamus bahasa Indonesia. sehingga banyak yang tidak tahu bentuk-bentuk kosakata bahasa Indonesia yang baku.

    • akibat dari tidak akrab ini juga membuat orang Indonesia mengambil/memakai kosakata asing yang sebenarnya sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia.
      akhirnya kosakata bahasa Indonesia menjadi jarang dipakai sehingga lama kelamaan akan semakin tidak dikenal/mati. kalau sudah begini, siapa yang rugi?

  2. waduh, bu… saya tertohok juga nih … di rumah saya tidak ada kamus bahasa Indonesia. malah kamus bahasa Inggrisnya ada 3 buah.

  3. orang Indonesia kadang terlihat kurang kerjaan, khususnya mengenai penerjemahan bahasa IT. kosakata IT yang berbahasa Inggris tentu sudah banyak dikenal masyarakat, seperti “download”, “upload”, online”, dsb. menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia menjadi “unduh”, “unggah”, “dalam jaringan”, dsb. justru terkesan dan terdengar aneh.

    • terkesan dan terdengar aneh karena memang belum terbiasa. tugas kita semua untuk memasyarakatkan dan membumikan kosakata baru tersebut agar makin dikenal masyarakat dengan cara memakainya dalam komunikasi tulis maupun lisan. bila kita tidak mau memakai kosakata bahasa Indonesia tersebut, maka kosakata tersebut lama-lama akan punah. hal ini tentu menghambat dan merugikan perkembangan bahasa Indonesia sendiri.

    • Orang Indonesia kebanyakan sangat tidak bangga dengan miliknya sendiri termasuk bahasanya sendiri, mungkin salah satunya karena adanya sindrom postkolonialisme yang selalu menganggap budaya luar itu lebih tinggi, padahal orang asing banyak yang mempelajari bahasa kita, bahkan bahasa Jawa kuno kita sudah tak punya pakarnya, yang ada justru adanya di universitas ternama di Amerika, mereka bangga belajar bahasa kita, bangga belajar gamelan kita, tapi kita sendiri menganggap bahasa Indonesia itu kuno, yaitu karena kita adalah bangsa yang minder! akibatnya kita selalu malu dengan yang kita punya, tapi akan ribut,ngamuk kalau ada orang asing mengaku-aku milik kita adalah milik mereka! iya kan?

  4. Saya juga ngucapin banyak terima kasih atas tulisan ibu.
    Dengan tulisan itu, saya dapat belajar untuk lebih baik lagi.

      • Saya setuju dengan Anda Patria. Saya sering terusik dengan fenomena anak muda kita yang sekarang lebih bangga menggunakan bahasa gaul ala Jakarta sebagai “bahasa resmi mereka” bahasa gaul itu muncul di mana-mana selayaknya bahasa persatuan pemuda Indonesia, baik di media TV, film, radio, sosial media, dan ini akan memusnahkan bahasa Indonesia yang benar sebagai bahasa persatuan Indonesia. Mereka sangat asing dengan bahasanya yang benar, mereka tak tahu makna “acuh, “bergeming”, “kendati”, dan masih banyak lainnya…kata-kata “lu”, “gue”, “bokap”,”nyokap”, menjadi bahasa persatuan anak muda kita saat ini…coba lihat radio yang bisa streaming…maka kita akan merasa kita semua adalah orang Jakarta…!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s