Melihat Sisi Lain Demonstrasi dari Cerpen

Beberapa hari terakhir ini, pemberitaan di tanah air, baik media cetak maupun elektronik diwarnai oleh maraknya demonstrasi menolak rencana kenaikan BBM. Para demonstran, yang sebagian besar mahasiswa, berusaha mendesak pemerintah untuk membatalkan kenaikan BBM yang rencananya akan diberlakukan mulai 1 April 2012 ini. Para demonstran menganggap atau menjadikan diri mereka sebagai pembawa suara rakyat yang selama ini memang selalu menjadi korban kebijakan pemerintah. Sehingga demonstrasi yang mereka lakukan seringkali mengatasnamakan rakyat.

Memang bukan hal baru, bila masyarakat (mahasiswa) menggunakan demonstrasi sebagai cara untuk menyuarakan aspirasi mereka. Bahkan sejarah bangsa ini telah mencatat bahwa demonstrasi (mahasiswa) benar-benar telah membawa pengaruh besar pada alur perjalanan bangsa Indonesia, yaitu sekitar tahun 1966 dan 1998. Namun, melihat perkembangan demonstrasi akhir-akhir ini, barangkali kita juga merasa jengah, prihatin, bahkan miris. Sebab, tak jarang demonstrasi-demonstrasi tersebut diwarnai dengan tindakan anarkis yang merugikan banyak pihak, termasuk rakyat sendiri. Alih-alih menyelesaikan masalah, tetapi justru menimbulkan masalah baru.

Pada tulisan ini, saya tidak akan membahas mengenai berbagai tindakan anarkis dalam demonstrasi yang dilakukan para mahasiswa tersebut. Namun, saya ingin mengajak pembaca melihat demonstrasi dari sisi yang lain, yaitu melalui sebuah cerpen karya Agus R. Sarjono yang berjudul ”Prajurit Jatiman” (dimuat dalam Horison XXXV/2/2002). Cerpen itu sendiri bertanggal 23 Maret 2001. Isi cerpen ini memang berkaitan dengan demonstrasi mahasiswa. Juga pertentangan antara mahasiswa dan aparat yang seringkali mewarnai sebuah demonstrasi.

Cerpen ”Prajurit Jatiman” ini menampilkan kisah seorang aparat berpangkat prajurit yang bernama Jatiman. Sebagai seorang Prajurit, gaji Jatiman sangat kecil untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di kota besar. Bahkan tidak sampai dua minggu gajinya sudah habis. Hutang mereka pun menumpuk di sana-sini. Hal itulah yang membuat istri Jatiman sering uring-uringan sehingga mendesak Jatiman untuk mencari penghasilan tambahan.

Istrinya marah-marah kurang belanja, mengeluh panjang-pendek soal kenakalan anak yang susah di atur seperti setan. Utang di sana-sini, tukang kredit, koperasi, warung, baju yang sudah lusuh dan bikin malu dan bikin bingung untuk dipakai kondangan perkawinan anak komandan, bingung bajunya dan bingung kadonya.

Namun, Jatiman menolak karena pekerjaan tambahan itu tidak sejalan dengan nuraninya. Yaitu menjadi pendamping (backing)  tukang karcis di loket stasiun, loket pertunjukan, bahkan perjudian. Pekerjaan sebagai backing tersebut memang sangat mudah mendapat uang suap ketika ada orang yang berusaha masuk secara illegal. Bagi Jatiman, pekerjaan seperti itu sama saja menghancurkan martabatnya sebagai tentara yang sejak kecil memang dibanggakan dan dicita-citakannya.

Kehidupan Jatiman yang serba susah membuatnya jadi serba salah, hatinya pun semakin gelisah. Barak yang sempit, udara panas, istri yang uring-uringan, latihan berat, kemarahan komandan, serta tugas-tugas atasan, membuat hati dan pikirannya semakin tertekan. Hingga keesokan harinya, ketika Jatiman harus berangkat kerja tak tersedia sarapan untuknya, karena memang tak ada lagi yang bisa dimasak. Dan hari itu Jatiman harus bertugas mengamankan demonstrasi mahasiswa. Di bawah terik matahari Jatiman berupaya melaksanakan tugas dengan baik, meskipun beberapa kali Jatiman menerima lemparan batu dari para demonstran. Namun, setelah berjam-jam berdiri di bawah terik matahari yang kian memanggang, perutnya yang kian berteriak lapar, juga tekanan masalah-masalah di rumah, Jatiman tiba-tiba kalap setelah mendapat lemparan batu yang kesekian. Jatiman memukuli mahasiswa. Berbagai stasiun televisi pun memberitakannya. Jatiman akhirnya ditangkap, dimasukkan sel, bahkan dipecat karena dianggap mencemarkan nama baik militer.

Melalui cerpen ini, Agus R. Sarjono berusaha mengajak pembaca melihat sisi lain dari sebuah peristiwa demonstrasi yang selama ini tak pernah terjamah oleh pemberitaan media. Agus R. Sarjono berusaha mengangkat sisi kemanusiaan seorang aparat melalui tokoh Prajurit Jatiman. Selama ini, pembaca (barangkali termasuk kita) selalu memandang negatif sikap aparat dalam sebuah aksi demonstrasi. Bahkan pemberitaan media massa pun menguatkan sikap negatif tersebut. Aparat seringkali berada pada pihak yang salah ketika terjadi peristiwa anarkis dalam sebuah demonstrasi. Padahal, sebagaimana kalimat iklan ”prajurit juga manusia”, sehingga aparat (prajurit) harus dipahami sebagai manusia yang memiliki berbagai problem, memiliki cita-cita, bisa marah, bisa gundah, bisa menentang hal yang tidak sesuai dengan nuraninya, dan sebagainya.

Dengan gaya bertutur yang ringan, sederhana, serta dialog-dialog yang lancar, Agus R. Sarjono mampu menyajikan cerpen ini menjadi sesuatu menarik untuk dibaca. Potret sosial yang terjadi di sekitar kita mampu dihadirkan dan dikemas secara apik. Misalnya saja ironi antara kehidupan di sinetron dengan kehidupan nyata, sikap hidup konsumtif yang melanda sebagian besar masyarakat kita, juga sikap mahasiswa yang seringkali keterlaluan saat berdemonstrasi.

          Tiba-tiba sebuah batu, entah  yang ke berapa, Prajurit Jatiman sudah tak mau menghitung lagi, menghantam pipinya. Berdarah.
        Prajurit Jatiman sudah lupa bagaimana mulanya. Ia menjambret mahasiswa di depannya lalu menhajarnya bertubi-tubi diselingi gumam keras mirip raungan hewan menjelang ajal.
            ”Kalian demonstrasi! Demonstrasi! Tapi kalian bukan orang susah! Sebentar lagi kalian jadi sarjana. Jadi ahli hukum pembela konglomerat busuk dan koruptor! Jadi ahli ekonomi yang menguntungkan orang kaya dan bikin miskin rakyat jelata! Jadi politikus, menipu rakyat kecil! Jadi menteri dan presiden!!! Huh!! Dulu juga mahasiswa demonstrasi-demonstrasi begini, hasilnya rakyat tetap miskin!! Demonstrannya yang kaya, jadi pengusaha, jadi macam-macam ahli-ahlian, semuanya bikin sengsara!! Sekarang begini lagi, demonstrasian-demonstrasian lagi, jadi penguasa lagi, jadi politisi lagi, jadi menteri lagi, kaya sendiri, senang sendiri, kami tetap sengsara. Terus sengsara. Sengsara selama-lamanya!!” …

Cerpen ini menunjukkan kepekaan pengarang ketika melihat suatu ketimpangan, ketidakadilan di sekitarnya. Yang dalam hal ini ketidakadilan yang seringkali ditimpakan pada aparat ketika terjadi huru-hara di saat demonstrasi.  Selama ini kita barangkali terlena dan terlalu mengelu-elukan mahasiswa yang seringkali menyatakan diri sebagai pembela rakyat dan mengatasnamakan rakyat saat demonstrasi. Para demonstran barangkali lupa, bahwa prajurit adalah juga rakyat. Para prajurit hanyalah menjalankan tugas. Para prajurit bukanlah lawan mereka. Yang mestinya dilawan para demonstran adalah para pembuat kebijakan, bukan prajurit.

Sebuah karya sastra memang lahir dari hasil imajinasi dan refleksi pengarang dalam menangkap kenyataan di sekitarnya. Dan melalui cerpen ini, Agus R. Sarjono mampu mewujudkannya secara apik dan penuh makna. Cerpen ini tak hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga mampu membuat pembaca merenung bahwa dibalik hiruk-pikuk demonstrasi mahasiswa, ada hal lain yang juga perlu mendapat perhatian, ada suara hati lain yang musti juga didengar.  Salam. ###

4 responses to “Melihat Sisi Lain Demonstrasi dari Cerpen

  1. Menarik mba’..Keadaan situasi Ekonomi yang menghimpit terkadang membuat orang kalap.
    Saya tertarik dg kalimat terakhir pengarang “Sekarang begini lagi, demonstrasian-demonstrasian lagi, jadi penguasa lagi, jadi politisi lagi, jadi menteri lagi, kaya sendiri, senang sendiri, kami tetap sengsara. Terus sengsara. Sengsara selama-lamanya!!” … Kayaknya tentara “sengsara tidak kentara” dan ini saya anggap suatu yang ironis…dan kalo mau dilihat lebih jauh lagi kehidupan seorang tentara sebagian besar jauh dari yg disebut layak..,
    sastra memang bahasa yang bisa menangkap makna dari sebuah kenyataan dengan keelokan bahasanya.

    Salam…^^

  2. hehehe.. sangat menarik bunda bekti… aku pengen jd sperti bunda… mohon bimbingannya bun..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s