Hari Buku: Semoga Tak Menjadi Sebatas Peringatan

Tanggal 23 April ditetapkan UNESCO sebagai Hari Buku Sedunia (World Book Day). Sayangnya, gaung peringatannya selalu kalah pamor dengan peringatan hari lainnya, terutama di Indonesia. Lain halnya dengan Hari Buruh, Hari AIDS, atau Hari Valentine. Saat peringatan Hari Buruh pengerahan massa besar-besaran seringkali mewarnai peringatannya. Saat peringatan Hari AIDS, beberapa aktivis aktif berkampanye di tempat-tempat umum dengan membagi-bagikan sesuatu. Demikian pula saat peringatan Valentine, orang bahkan jauh-jauh hari melakukan persiapan untuk menyambutnya. Namun, di hari buku, adakah orang yang menyiapkan sekadar bingkisan berupa buku untuk dibagikan kepada orang-orang terdekat? Sepertinya memang hampir tak pernah ada. Bahkan kapan peringatannya pun barangkali tak pernah dihafal.

Hari Buku yang ditetapkan UNESCO sejak tahun 1995 lalu bertujuan untuk mengkampanyekan agar masyarakat menyenangi kegiatan membaca buku. Hal ini didasarkan kenyataan yang tak dapat dimungkiri bahwa buku merupakan sumber ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, semakin banyak membaca buku, pengetahuan seseorang akan semakin baik dan luas. Bahkan dalam Islam, perintah pertama yang diturunkan berbunyi iqra’ yang artinya ‘bacalah’. Dengan banyak membaca akan dapat menguasai dan membangun peradaban dunia.

Di masyarakarat kita, slogan ”buku adalah gudang ilmu” atau ”buku adalah jendela dunia” memang sudah sangat akrab di telinga. Namun, sejauh manakah masyarakat telah mampu memaknai dan mengimplementasikan makna slogan tersebut? Ya, bukan rahasia lagi bila penyakit malas baca buku telah lama menjangkiti masyarakat kita, tak terkecuali generasi muda. Yang lebih memprihatinkan lagi, kegiatan membaca yang belum sempat menjadi kebiasaan, kini justru semakin terkikis dengan derasnya arus perkembangan teknologi. Tawaran games, facebook, film; merupakan media visual yang bagi sebagian orang lebih menarik. Hal ini dapat dilihat pada generasi sekarang yang memang akan tahan berjam-jam membaca SMS atau BlackBerry Messeger (BBM). Namun, jangan tanya ketahanan mereka untuk membaca buku.

Hingga saat ini, masyarakat kita memang belum menjadikan membaca buku sebagai suatu kebutuhan. Membaca buku masih selalu tersingkir dari kebutuhan-kebutuhan lain. Padahal, kegiatan membaca sesungguhnya memiliki banyak manfaat. Di antaranya, dengan membaca otak bisa bekerja dengan baik. Informasi yang diperoleh dapat lebih lama disimpan dalam otak daripada mendengar atau melihat saja. Dengan aktivitas membaca, seseorang dapat mengembangkan imajinasi dan daya pikirnya dari informasi yang diperolehnya. Akhirnya, kemampuan daya nalar dan kreativitas seseorang dapat terus berkembang dan memiliki kemampuan daya pikir jauh lebih cepat dibandingkan mereka yang tidak senang membaca.

Kebiasaan membaca juga bisa mendorong seseorang untuk menulis. Sebab, dengan banyak membaca, seseorang dapat terdorong untuk mengkomunikasikan pengetahuan yang diperolehnya ke dalam bentuk tulisan. Kenyataannya, masyarakat kita lebih senang menonton daripada membaca dan menulis. Akibatnya, daya dan potensi otak tidak berkembang secara kritis.

Bangsa yang maju adalah bangsa yang dibangun oleh masyarakat yang cerdas. Oleh karena itu, peringatan Hari Buku kali ini hendaknya dapat menjadi momentum penyadaran bagi diri kita untuk mencintai buku. Agar  bangsa yang besar, maju, cerdas dan berperadaban tinggi tak sekadar menjadi sebatas angan-angan. Salam.##

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s