Belajar dari Kasus LKS Heboh

MEMILIH MATERI AJAR BAHASA DAN SASTRA
YANG TEPAT BAGI PESERTA DIDIK
(Belajar dari Kasus LKS Heboh)

 Akhir-akhir ini, dunia pendidikan kembali mendapat sorotan. Hal itu terjadi lantaran di beberapa sekolah ditemukan buku dan LKS yang memuat materi ajar yang kurang tepat untuk diberikan kepada peserta didik. Sebagai contoh, ditemukannya gambar artis Miyabi di LKS Bahasa Inggris SMP di Mojokerto. Juga beberapa waktu lalu, cerita Bang Maman dan istri simpanan yang ditemukan pada LKS siswa SD di Jakarta. Di Magetan ditemukan kekeliruan struktur pemerintahan desa di LKS Pendidikan Kewarganegaraan SD. Di tempat lain juga ditemukan LKS yang mengandung muatan politik lainnya. Contoh-contoh tersebut menunjukkan kekurangjelian guru dalam memilih bahan ajar dan materi ajar yang tepat untuk siswa.

Sesungguhnya, kurikulum 2006 atau yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan  kurikulum yang memberi keleluasaan bagi sekolah dan guru untuk melakukan pengembangan. Berkaitan dengan isi kurikulum, pusat hanya memberikan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (yang merupakan standar minimal) yang harus dikuasai siswa pada setiap mata pelajaran. Ini berarti guru harus mengembangkan sendiri Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tersebut sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu, untuk materi pelajaran, sumber belajar, serta bahan ajar guru diberi keleluasaan untuk berkreasi.

Namun demikian, dalam kenyataan sehari-hari, memilih materi, sumber belajar, dan bahan ajar yang tepat dalam rangka membantu peserta didik mencapai kompetensi seringkali kurang mendapat perhatian guru. Hal ini terbukti masih banyak guru yang menempuh cara praktis dengan mempercayakan materi dari buku ajar yang sudah jadi (dari penerbit). Demikian pula dengan LKS. Padahal, tidak semua buku ajar dan LKS yang sudah jadi tersebut cocok dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik. Yang lebih memprihatinkan, guru sendiri belum mengkaji secara mendalam isi buku ajar yang dipilih tersebut sehingga terjadilah kasus-kasus di atas.

Berkaitan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, memilih materi, sumber, dan bahan ajar memang susah-susah gampang. Di katakan susah mengingat, hal-hal yang berkaitan dengan bahasa merupakan sesuatu  yang terus berkembang. Lain halnya dengan mata pelajaran eksakta atau ilmu pasti. Di katakan mudah karena sumber dan bahan ajar bahasa Indonesia sesungguhnya banyak tersebar di sekitar peserta didik, misalnya surat kabar, televisi, internet, surat-surat dinas, dan sebagainya. Namun demikian, sebelum diberikan kepada siswa, guru hendaknya bisa memilih dan memilah sesuai kebutuhan pelajaran.

Sebagai contoh untuk materi sastra. Pembelajaran sastra jika dilaksanakan secara benar akan dapat meningkatkan kualitas kebudayaan manusia. Daya edukatif sastra tidak terbatas jika pemilihan (bahan ajar)-nya dilakukan secara tepat. Peran guru dalam pengajaran sastra, termasuk di dalamnya adalah pemilihan bahan ajar sastra sangatlah besar. Menurut B. Rahmanto, beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam memilih atau menyediakan bahan ajar sastra bagi peserta didik adalah (1) Latar Belakang Budaya Siswa, (2) Aspek Psikologis, (3) Aspek Kebahasaan, dan (4) Nilai Didaktis.

1.  Latar Belakang Sosial Budaya

     Dalam memilih bahan ajar sastra, harus diperhatikan latar belakang budaya siswa yang mengacu pada ciri khas masyarakat tertentu dengan segala variasinya yang meliputi: pranata sosial, stratifikasi sosial, norma, tradisi, etos kerja, lembaga, hukum, seni, kepercayaan, agama, sistem kekerabatan, cara berpikir, mitologi, etika, moral, dan sebagainya. Demikian pula latar belakang karya sastra perlu diperhatikan seperti: sejarah, politik, sosiologis, kultur, kepercayaan, agama, geografis, dan sebagainya.

     Mudah dipahami bahwa pada umumnya para siswa akan lebih mudah tertarik pada karya sastra dengan latar belakang yang akrab dengan kehidupannya. Bahan ajar sastra akan mudah diterima oleh siswa jika dipilih karya sastra yang memiliki latar cerita yang dekat dengan dunianya. Dalam hal ini guru sastra harus mampu membaca apa yang diinginkan atau diminati siswa, selain tentunya sesuai dengan kebutuhan siswa.

2.  Aspek Psikologis

     Secara psikologis, setiap orang mengalami perkembangan, sehingga seorang anak akan berbeda dengan orang dewasa. Dalam menanggapi bacaan sastra pun taraf perkembangan kejiwaan seseorang sangat berperan. Yang pasti, perkembangan psikologis seseorang pasti mengalami tahap-tahap tertentu dan tiap tahap memiliki kecenderungan tertentu pula. Oleh karena itu, tahap-tahap perkembangan psikologis anak ini harus dipertimbangkan dalam pemilihan bahan ajar sastra. Jika bahan ajar sastranya tepat sesuai dengan tahap perkembangan psikologisnya, maka terbukalah kemungkinan bahwa pengajaran sastra akan diminati. Sebaliknya, jika tidak sesuai dengan tingkat perkembangan kejiwaannya, sulit diharapkan peserta didik tertarik mengikuti pengajaran sastra.

Satu hal yang harus dicatat, bahwa perkembangan psikologis peserta didik juga akan berpengaruh besar terhadap: etos belajar, daya penalaran, daya ingat, minat mengerjakan tugas, kerja sama dengan teman lain, pemahaman terhadap situasi, dan pemecahan masalah yang timbul. Makin sesuai dengan tingkat perkembangan psikologisnya, peserta didik makin berminat mengikuti pengajaran sastra, dan demikian pula sebaliknya. Ditinjau dari usianya, ada empat tahap perkembangan anak, yakni: (1) Usia 8-9 tahun adalah tahap pengkhayal (the auatitic stage); (2) Usia 10-12 tahun adalah tahap romantik (the romantic stage); (3) Usia 13-16 tahun adalah tahap realistik (the realistic stage), dan (4) Usia 16 tahun ke atas adalah tahap generalisasi (the generalizing stage) (Moody, 1975: 17).

3.  Aspek Kebahasaan

     Aspek kebahasaan dalam karya sastra termasuk di dalamnya adalah gaya pengucapan sastrawan. Dalam hal ini meliputi kosakata yang dipakai sastrawan, struktur kata dan kalimat, idiom, metafora, majas, citraan, dan lain-lain. Selain itu, guru sastra harus mempertimbangkan pula teknik penulisan yang dipakai sastrawan, ciri-ciri kebahasaan yang khas pengarang yang bersangkutan, kohesi atau hubungan antarkalimat, ungkapan, dan komunitas pembaca yang menjadi target sasaran sastrawan. Dengan demikian siswa diharapkan dapat memahami bahasa dengan segala fenomenanya yang dipakai dalam karya sastra. Yang perlu ditekankan dalam konteks ini adalah guru sastra diharapkan dapat memahami benar tingkat kemampuan kebahasaan para siswanya sehingga dapat memilih karya sastra yang tepat.

4. Aspek Didaktis

Dalam memilih materi ajar sastra, guru juga harus memperhatikan nilai didaktik yang terdapat di dalam karya selain juga harus pula mempertimbangkan karya sastra yang memiliki bobot literer, atau memiliki nilai sastra yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam konteks ini, guru sastra bertugas untuk mengembangkan daya kreatif peserta didik agar mereka terbiasa memberi makna terhadap karya sastra yang dibacanya. Jadi, guru harus berperan sebagai mediator untuk membantu peserta didik dalam menginterpretasi karya sastra yang dibacanya sehingga dapat menemukan nilai-nilai yang terdapat di dalam karya sastra yang dibaca.

Berkaitan dengan nilai didaktik, guru sastra diharapkan dapat memberikan karya-karya sastra yang menggugah empati, yang membangun nilai-nilai karakter positif (religius, nasionalisme, kemanusiaan, dan sebagainya). Dengan demikian, setelah belajar membaca dan mempelajari sastra peserta didik mendapat ”sesuatu” sebagai makanan rohaninya.

           Di samping materi sastra, mata pelajaran bahasa Indonesia juga sangat dekat dengan wacana. Sumber materi ajar wacana juga banyak tersebar di sekitar peserta didik. Namun demikian, pemilihan materi, sumber, dan bahan ajar, guru hendaknya memperhatikan beberapa hal, antara lain: 1) Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran, artinya wacana yang dipilih harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. 2) Up to date, artinya wacana yang dipilih diusahakan memuat informasi-informasi terbaru yang sedang bergaung dalam kehidupan sehari-hari. 3) Sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, artinya wacana yang dipilih harus sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, usia siswa, psikologi siswa, dan tingkat sosial siswa.

           Pemilihan materi dan materi ajar memang sepenuhnya berada di tangan guru. Untuk dapat memilih materi dan bahan ajar yang tepat tentu guru dituntut untuk banyak membaca. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula wawasan dan pengetahuan yang dimiliki guru. Dengan demikian, guru dapat memilih dan memilah materi dan bahan ajar yang tepat untuk di bawa ke dalam kelas sehingga kasus-kasus di atas pun tak perlu terjadi. Salam.##

6 responses to “Belajar dari Kasus LKS Heboh

    • benar, peran guru dalam pembelajaran masih sangat besar. terkait dengan pembelajaran bahasa dan sastra tentunya guru tidak hanya cukup hanya pandai mengajar. tetapi, guru juga harus banyak membaca, baik bacaan sastra maupun nonsastra.

    • itulah yang banyak terjadi di sekitar kita. tentu tidak semua guru malas membaca. banyak juga guru yang gemar membaca bahkan menulis buku.
      sebetulnya membaca seharusnya menjadi kebutuhan utama seorang guru agar memiliki wawasan dan pengetahuan yang semakin luas. di samping itu guru juga menjadi lebih mudah ketika harus mencari materi yang cocock dengan siswanya. membaca juga tidak harus membeli buku, sebab guru juga bisa memanfaatkan perpustakaan sekolah atau yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s