Novel Remaja: Satu Jalan untuk Mendekatkan Sastra kepada Siswa

novel remaja-1Bukan rahasia lagi bila selama ini banyak siswa yang kurang tertarik mempelajari sastra. Mereka beranggapan bahwa sastra merupakan sesuatu yang sulit karena bahasanya yang sering tidak mudah dimengerti dan dipahami bahkan harus dibaca berkali-kali untuk bisa menangkap maknanya. Terlebih, bagi siswa yang tingkat apresiasi sastranya masih rendah. Apalagi, masih juga banyak anggapan bahwa sastra merupakan sesuatu yang masih diragukan kemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi ini tentu memerlukan upaya kreatif guru selaku kunci utama pembelajaran sastra. Kreativitas guru hendaknya didayagunakan untuk memanfaatkan teks-teks sastra remaja sebagai bahan pembelajaran sastra di kelas. Guru harus kreatif dalam memilih materi sastra agar siswa tertarik dan tidak merasa terbebani dalam belajar sastra. Untuk siswa SMA, salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah memanfaatkan novel-novel remaja.

Sebagai salah satu bentuk sastra remaja, novel remaja adalah hasil karya sastra yang menampilkan permasalahan remaja dan berusaha untuk memenuhi selera remaja. Tema permasalahan yang diangkat, tokoh-tokoh, serta gaya bahasanya disesuaikan dengan selera dan dunia remaja. Ada beberapa istilah untuk menyebut sastra remaja, antara lain chicklit (akronim dari chick literature) dan teenlit (akronim dari teen literature), yang dapat diartikan sebagai literatur remaja. Jenis-jenis cerita remaja sendiri dapat dikelompokkan menjadi: cerita detektif, cerita petualangan, cerita drama percintaan atau kehidupan keluarga.

Bila dicermati, saat ini perkembangan sastra Indonesia – termasuk novel remaja – bisa dikatakan cukup pesat dan menggairahkan. Banyak penulis muda yang menghasilkan karya-karya sastra yang enak dibaca dan mudah dipahami, sekaligus memberikan inspirasi. Contohnya, Andrea Hirata dengan karyanya tetralogi Laskar Pelangi, A. Fuadi dengan (trilogi) Negeri 5 Menara, Donny Dirgantoro dengan 5 cm, Dewi Lestari dengan Perahu Kertas, Tere Liye dengan Daun Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Aku Kau dan Sepucuk Angpau Merah, dan masih banyak karya-karya lainnya yang cukup memukau.

Novel remaja sendiri sesungguhnya bukan baru hadir sekarang ini, tetapi sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Sekedar contoh, akhir 70-an ada karya-karya Marga T., dekade 80-an muncul Hilman dengan serial Lupus, awal 90-an ada Gola Gong dengan serial remaja petualang, Balada Si Roy. Memasuki tahun 2000-an karya-karya remaja semakin banyak bermunculan dan cukup menyedot perhatian kaum remaja, bahkan pengamat sastra.

Sebagaimana umumnya cerita fiksi, novel remaja juga berbicara tentang kehidupan. Pengarang merefleksikan realitas yang dilihat, dirasa, dan dihayati dalam keseharian. Novel remaja biasanya menggunakan bahasa yang lebih ringan dan mengabdi kepada kekinian sehingga menjadi lebih komunikatif dengan sasaran pembacanya, yaitu kaum remaja. Pengarang cenderung menggunakan bentuk ucap yang memikat dan menyenangkan. Meski terkesan ringan, novel remaja tetap memperhatikan tanggung jawab etis dan moral. Hal ini dilatarbelakangi bahwa alam kehidupan remaja menuntut adanya nilai dan imbauan tertentu bagi perkembangannnya.

Yang paling esensial dalam pemanfaatan novel remaja sebagai bahan ajar di kelas adalah mengenalkan remaja kepada kehidupan. Melalui jalinan cerita yang ada, pembaca (remaja) disuguhi berbagai persoalan serta bagaimana tokoh-tokoh yang ada dalam cerita berupaya mengatasi berbagai persoalan yang dihadapinya. Dari sini, secara tidak langsung remaja mengenal berbagai masalah remaja sekaligus belajar mengatasinya. Bahkan, dalam novel-novel remaja tersebut sering pula ditemukan hal-hal yang sangat inspiratif dan sangat kuat dalam memberikan motivasi bagi pembacanya.

Hal yang tidak kalah penting, melalui novel remaja, guru juga dapat mengenalkan latar kehidupan nyata. Selain latar kehidupan sosial dengan berbagai permasalahannya, guru sekaligus juga dapat mengenalkan tempat-tempat yang terdapat dalam cerita. Sekadar contoh, novel Laskar Pelangi (Andre Hirata) berlatar daerah Belitung dengan segala keterbatasannya, novel Negeri 5 Menara (A. Fuadi) berlatar kehidupan pesantren yang mungkin selama ini tak banyak diketahui masyarakat termasuk remaja, novel 5 cm (Donny Dirgantoro) berlatar gunung Semeru, novel Aku Kau dan Sepucuk Angpau Merah (Tere Liye) berlatar daerah Pontianak yang didominasi dengan kehidupan sungai dan perahu, dan sebagainya. Hal ini tentu akan memperkaya pengetahuan siswa mengenai tempat-tempat yang ada di Indonesia.

Menilik kandungan isinya sebagaimana diuraikan di atas, novel remaja seharusnya dapat menjadi ladang subur untuk memperkaya bahan pembelajaran dan bahan diskusi di kelas. Tentu saja, sudah menjadi suatu keharusan bagi guru, dengan segala cara dan kreativitasnya, untuk dapat selalu mengikuti dan atau terlibat dalam tren-tren dunia remaja. Guru perlu membaca, mengenali, dan menyelami terlebih dahulu novel-novel remaja yang ada. Di samping itu, guru juga harus menjajagi dan menimbang masak-masak kemampuan siswa sehingga dapat memilih dan memilah novel-novel remaja mana yang tepat digunakan untuk siswanya.

Pemanfaatan novel remaja merupakan upaya mengenalkan remaja dengan karya-karya sastra yang dekat dengan dunianya. Dengan demikian, pembelajaran sastra tidak harus dipenuhi dengan ritual hafalan dan belenggu pengetahuan tentang sastra, yang seringkali menjadikan siswa merasa terasing dengan dunianya sendiri. Salam.##

One response to “Novel Remaja: Satu Jalan untuk Mendekatkan Sastra kepada Siswa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s