Gadis Pakarena: Kisah Kegetiran Berbalut Warna Lokal

Gadis Pakarena-beckJudul Buku: Gadis Pakarena
Pengarang: Khrisna Pabichara
Penyunting: Salahuddien Gz
Tebal: 180 halaman
Cetakan: 1, Juli 2012
Penerbit: Dolphin

Kisah fiksi yang mengusung warna lokal sudah bukan menjadi hal baru di dunia sastra. Namun, barangkali masih jarang ditemukan karya yang menampilkan warna lokal Bugis, Makasar dengan begitu kental. Adalah Gadis Pakarena mencoba menawarkan warna tersebut. Buku ini menyajikan beberapa kisah karya Khrisna Pabhicara, penulis yang lahir di Borongtammatea, Jeneponto- sekitar 89 Kilometer dari Makasar.

Gadis Pakarena yang terbit awal Juli 2012 merupakan buku kumpulan cerpen berisi 14 Cerita Pendek berlatar adat Bugis-Makasar. Sebelumnya, karya ini pernah terbit dengan judul Mengawini Ibu yang masih berisi 12 cerita pendek. Buku Gadis Pakarena ini tampil dengan sampul bergambar memikat -wanita cantik berpakaian adat Bugis lengkap dengan aksesoris selendang dan kipas- sudah cukup mengisyaratkan ‘seorang penari’. Pakarena adalah sejenis tarian asal Makasar, Sulawesi Selatan.

Hampir keseluruhan cerita dalam buku kumpulan cerpen ini berkisah tentang kegetiran. Kegetiran hidup, kegetiran cinta yang berbalut dengan adat yang melingkupi kehidupan masyarakatnya. Sebagai penulis yang lahir dan besar di lingkungan adat Bugis Makasar, Khrisna Pabhicara berhasil melukiskan dengan sangat lengkap dan cantik tentang adat di sana, sehingga pembaca serasa ikut larut dalam setiap detail cerita yang dikisahkannya.

Pada cerpen “Gadis Pakarena” yang digunakan sebagai judul buku ini, merupakan kisah percintaan  antara seorang anak pribumi dengan seorang gadis keturunan Tionghoa. Adalah Kim Mei, seorang gadis keturunan Tionghoa telah memikat hati seorang putera Makassar. Kenangan demi kenangan tumbuh bersama cinta dan harapan yang tiba-tiba saja, dipaksa pupus oleh peradaban. Cinta mereka dikalahkan demi alasan ras-suku-agama dan adat yang berbeda. Mereka saling mencintai, tapi suku, agama, ras, dan adat mengusik hubungan mereka. Keluarga sang narator membenci keluarga Mei, sedangkan keluarga Mei memandang remeh keluarga sang narator. Tapi kata sang narator, “Sungguh, aku lebih memilih cinta daripada tradisi yang abai meletakkan manusia pada tempat yang sesungguhnya.”

Kisah cinta sepasang kekasih yang berbalut tragedi juga dihadirkan dalam cerpen berjudul “Rumah Panggung di Kaki Bukit” dan “Silariang”. Lagi-lagi karena perbedaan beralaskan adat, sepasang kekasih tidak bisa merangkai mimpi mereka bersatu dalam ikatan luhur sebuah perkawinan. Cinta terbentur pada mahar yang sedemikian mahal sehingga tidak mampu ditebus pihak pria yang hendak meminang.

Dalam cerita “Rumah Panggung di Kaki Bukit”, demi memenuhi syarat sang pria merantau mencari gelar dan harta. “Cinta memang tak memandang martabat,” kata ayah Kana. “Tapi, pikirkan kehormatan keluarga. Tak layak kamu bersanding dengan Bori.” (hlm. 65). Penolakan yang dialaminya memicu Bori mengadu nasib di Jakarta. Kana menunggunya dengan setia hingga lima belas tahun kemudian Bori mengabarkan kepulangannya dan telah memenuhi syarat. Bori pernah berjanji akan membangun bagi mereka berdua sebuah rumah panggung di kaki bukit dengan pelataran laut Makassar dan pemandangan menawan setiap senja. Juga sebuah keluarga bahagia dan cinta sepanjang masa. Tapi, apakah Bori masih tetap Bori yang dikenal dan dicintai Kana? Sekembalinya ke kampung halaman, sang kekasih yang setia menunggu hingga berjuluk ‘perawan tua’ harus menghadapi kenyataan bahwa kekasihnya datang hanya untuk memperkenalkan istri yang dipinangnya dari kota. Cerpen ini mengedepankan betapa getirnya pembalasan dendam, dan perempuan yang mesti menanggung akibatnya.

Sementara Silariang adalah istilah ‘kawin lari’ dalam adat Makassar. Aisha dalam cerpen “Silariang” melakukan silariang dengan Tola, kekasihnya, sebagai bentuk perlawanan terhadap keluarga. Ketidaksetujuan ayah Aisha menikahkan putrinya dengan Tola disebabkan dendam lama. Ayah Aisha pernah meminang adik perempuan ayah Tola tapi ditolak mentah-mentah oleh kakek Tola. Kendati awalnya tidak merestui hubungan Tola dan Aisha, keluarga Tola akhirnya memutuskan melamar Aisha. Seperti yang sudah bisa diduga, ayah Aisha membalas dendam dengan menetapkan mahar yang tidak bisa dibayarkan keluarga Tola. Karena tidak bisa menikah dengan baik-baik, Aisha dan Tola memutuskan melakukan silariang. Bagaikan kutuk, pihak keluarga pria maupun wanita yang melakukan Silariang menanggung aib yang hanya bisa ditebus dengan kematian sang pengantin. Lima tahun setelah meninggalkan Makassar, mereka belum bisa berdamai dengan keluarga. Sampai suatu hari, seorang mendatangi rumah mereka dan berkata, “Tola, kamu pasti tahu, badik yang tercabut dari sarungnya pantang kembali sebelum darah membasahinya!” (hlm. 98). Pembaca sudah bisa menduga apa yang akan terjadi walaupun pengarang tidak menceritakannya.

Pengarang tidak semata-mata membincang kisah kasih dan keluarga dalam cerpen-cerpennya. Ia juga mengais problematika yang bersumber dari budaya asalnya. Beberapa cerita adalah lukisan watak pria Makasar yang keras serta benturan hati nurani dengan tuntutan adat terhadap peran seorang pria dalam masyarakat Bugis. Cerita “Ulu Badik Ulu Hati” mengisahkan balas dendam tak berkesudahan. “Arajang” bercerita seorang ‘Calabai’, lelaki yang menyerupai perempuan yang harus menghadapi ayah yang kecewa dengan ‘kelainan’ sang putera. “Laduka” yang merupakan seorang pria perantau merasa belum pantas pulang ke kampung halaman karena usahanya yang belum berhasil. Adapula “Haji Baso” yang mengisah mitos ‘kulau bassi’ sebagai benda yang mampu membuat penggunanya kebal terhadap serangan senjata musuh. Sementara “Mengawini Ibu” membuat kita terhenyak kaget, seorang anak tumbuh dengan menyaksikan kesetiaan sang ibu pada suaminya yang selalu membawa wanita selingkuhannya ke rumah. Pada akhirnya justru ia ketagihan menyetubuhi para ‘ibu tiri’ yang dibawa ayahnya.

Kisah-kisah dalam Gadis Pakarena dituturkan pengarang dengan kalimat-kalimat yang sangat puitis. Namun, kepuitisannya tidak menyulitkan pembaca memahami makna cerita, tetapi justru membuat pembaca terbuai mengikuti setiap alur cerita yang dikisahkannya. Kisah yang sederhana, tetapi hadir memukau dan enak dibaca. Tidak hanya berkisah, membaca buku ini juga membuat pembaca tanpa sadar memperoleh pengetahuan baru tentang budaya Makassar. Di sana-sini bermunculan istilah lokal yang tadinya mungkin asing di telinga pembaca.

Gadis Pakarena kental dengan warna lokal Sulawesi Selatan, termasuk dalam cerpen-cerpen yang kisahnya terjadi di luar daerah. Melalui kisah-kisah dalam cerpen ini, pembaca diajak mengenal lebih dekat kebudayaan Bugis-Makassar sekaligus problematika yang biasa muncul di dalamnya. Semua karakter ditampilkan secara jujur dan manusiawi. Kebaikan dan kejahatan adalah bagian dari kehidupan mereka sebagai manusia, seperti orang-orang di tempat lain. Adat tak selamanya membawa menjaga, melindungi, berpihak pada masyarakatnya, tetapi terkadang justru menjadi dinding tebal yang menyesakkan. Upaya Khrisna mengangkat warna lokal ke dalam kisah-kisahnya telah memberi satu warna dalam khazanah sastra di Indonesia. Salam.##

2 responses to “Gadis Pakarena: Kisah Kegetiran Berbalut Warna Lokal

  1. cerpen-cerpen dalam buku ini membantu pembaca mengenal budaya makasar yang barangkali tak banyak di ketahui masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s