Kebangkitan Nasional dan Bahasa Indonesia

merah-putih-dan-anak-anak-Indonesia-496x330Tanggal 20 Mei diperingati bangsa Indonesia sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Peringatan ini penting dan strategis, bukan hanya untuk mengingat kembali perjuangan para pendahulu kita, tetapi sekaligus mengukuhkan semangat kebangsaan saat ini dan ke depan. Semangat kebangsaan yang diperjuangkan oleh para pendahulu itu merupakan refleksi perjuangan dari segenap komponen bangsa. Tidak peduli dari suku mana ia berasal, bahasa apa yang digunakan, dan agama apa yang dipeluknya. Semuanya, kini melebur menyatu dalam wadah sebuah bangsa, sebuah negara, Indonesia. Semangat kebangsaan atau nasionalisme yang dibangun Indonesia memang memiliki keunikan tersendiri. Nasionalisme Indonesia memiliki sifat yang tidak antagonis terhadap fakta multi-etnik, multi-kultur, multi-agama, dan multi-lingual.

Dalam perjalanan bangsa, rasa kebangsaan atau nasionalisme menunjukkan tanda-tanda penurunan. Arus globalisasi memaksa negara-negara dunia ketiga untuk tunduk pada aturan yang diberlakukan negara-negara besar. Berbagai macam aktivitas berusaha ditawarkan mulai dari liberalisasi agama, budaya, bahasa, sistem ekonomi, konstitusi, pendidikan bahkan kesehatan. Pengaruh global tersebut perlahan-lahan menggerus jati diri bangsa Indonesia dan semakin memarginalkan posisi nasionalisme. Oleh karena itu, peringatan Kebangkitan Nasional merupakan momentum untuk mengukuhkan kembali identitas dan jati diri sebagai bangsa Indonesia, tidak hanya di dalam negeri, namun juga di mata internasional.

Jati diri—atau yang lazim juga disebut identitas—merupakan ciri khas yang menandai seseorang, sekelompok orang, atau suatu bangsa. Jika ciri khas itu menjadi milik bersama suatu bangsa, hal itu tentu menjadi penanda jati diri bangsa tersebut. Seperti halnya bangsa lain, bangsa Indonesia juga memiliki jati diri yang membedakannya dari bangsa lain di dunia. Jati diri itu sekaligus juga menunjukkan keberadaan bangsa Indonesia di antara bangsa lain. Salah satu simbol jati diri bangsa Indonesia itu adalah bahasa, dalam hal ini tentu bahasa Indonesia. Hal itu sejalan dengan semboyan yang selama ini kita kenal, yaitu “bahasa menunjukkan bangsa”.

Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia dijunjung tinggi di samping bendera nasional, Merah Putih, dan lagu nasional bangsa Indonesia, Indonesia Raya. Dalam melaksanakan fungsi ini, bahasa Indonesia tentulah harus memiliki  identitasnya sendiri sehingga serasi dengan lambang kebangsaan lainnya. Bahasa Indonesia dapat mewakili identitasnya sendiri apabila masyarakat pemakainya membina dan mengembangkannya sedemikian rupa sehingga bersih dari unsur-unsur bahasa lain, yang memang benar-benar tidak diperlukan, misalnya istilah/kata dari bahasa Inggris yang sering diadopsi, padahal istilah/kata tersebut sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

Kalau dilihat secara cermat, kondisi kebahasaan di Indonesia saat ini cukup memprihatinkan, terutama penggunaan bahasa Indonesia di tempat umum, seperti pada nama bangunan, pusat perbelanjaan, hotel dan restoran, serta kompleks perumahan, sudah mulai tergeser oleh bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Tempat yang seharusnya menggunakan bahasa Indonesia itu mulai banyak yang menggunakan bahasa yang tidak lagi menunjukkan jati diri keindonesiaan. Akibatnya, wajah Indonesia menjadi tampak asing di mata masyarakatnya sendiri. Kondisi seperti itu harus disikapi dengan bijak agar tidak menjadi asing di negeri sendiri.

Di sisi lain, juga terlihat sikap sebagian masyarakat yang tampaknya merasa lebih hebat, lebih bergengsi, jika dapat menyelipkan beberapa kata asing dalam berbahasa Indonesia, padahal kosakata asing yang digunakannya itu ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Misalnya, sebagian masyarakat lebih suka menggunakan kata di-follow up-i, di-pending, meeting, dan on the way. Padahal, bahasa Indonesia memiliki kata ditindaklanjuti untuk di-follow up-i, kata ditunda untuk di-pending, pertemuan atau rapat untuk meeting, dan sedang di jalan untuk on the way, lalu mengapa harus menggunakan kata asing? Sikap yang tidak “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia itu, harus dikikis dan harus mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia sebagai simbol jati diri bangsa.

Tidak seharusnya bahasa Indonesia dibiarkan larut dalam arus komunikasi global yang menggunakan media bahasa asing seperti itu. Jika hal seperti itu dibiarkan, tidak tertutup kemungkinan jati diri keindonesiaan sebagai suatu bangsa pun akan pudar, bahkan tidak tertutup kemungkinan terancam larut dalam arus budaya global. Jika hal itu terjadi, jangankan berperan di tengah kehidupan global, menunjukkan jati diri keindonesiaan sebagai suatu bangsa pun bangsa Indonesia tidak mampu. Kondisi seperti itu tentu tidak akan dibiarkan terjadi. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya agar jati diri bangsa Indonesia tetap hidup di antara bangsa lain di dunia. Dalam konteks kehidupan global seperti itu, bahasa Indonesia sesungguhnya selain merupakan jati diri bangsa, sekaligus juga merupakan simbol kedaulatan bangsa.

Setiap bahasa pada dasarnya merupakan simbol jati diri penuturnya, begitu pula halnya dengan bahasa Indonesia juga merupakan simbol jati diri bangsa. Bahasa Indonesia harus senantiasa dijaga dan dilestarikan, serta secara terus-menerus harus dikembangkan agar tetap dapat memenuhi fungsinya sebagai sarana komunikasi modern yang mampu membedakan bangsa Indonesia dari bangsa-bangsa lain di dunia. Lebih-lebih dalam era global seperti sekarang ini, jati diri suatu bangsa menjadi suatu hal yang amat penting untuk dipertahankan agar bangsa tetap dapat menunjukkan keberadaannya di antara bangsa lain di dunia. Peringatan Kebangkitan Nasional kali ini hendaknya dapat menumbuhkan semangat nasionalisme dalam diri warga bangsa untuk senantiasa menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa. Salam.##

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s