Sonata Musim Kelima: Romantisme dalam Imaji Puitis

13493975Judul Buku : Sonata Musim Kelima
Pengarang   : Lan Fang
Cetakan        : Pertama, Februari 2012
Penerbit       : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal             : 152 halaman

Go Lan Fang atau yang lebih dikenal dengan nama Lan Fang, sastrawan berdarah Tionghoa yang dilahirkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada tanggal 5 Maret 1970. Ia merupakan salah satu penulis produktif yang dimiliki Indonesia. Ia juga dikenal sebagai perempuan hebat, penuh energi, dan humanis yang menjunjung pluralisme.

Sonata Musim Kelima adalah kumpulan cerpen Lan Fang, yang diterbitkan setelah beliau tutup usia pada 25 Desember 2011 dalam usia 41 tahun akibat mengidap penyakit kanker hati. Sonata Musim Kelima diterbitkan pada Februari 2012 merupakan upaya untuk mengenang dan memberikan penghargaan pada kiprah Lan Fang dalam sastra Indonesia.

Sonata Musim Kelima menampilkan 15 cerita pendek. Seperti karya-karya Lan Fang lainnya, dalam kumpulan cerpen ini, ia menyajikan cerita bergaya bahasa melankolis dan puitis. Sebagian besar cerpen dalam buku ini bercerita tentang kisah romantisme percintaan. Seperti “Surat Untuk Sakai” yang mengungkapkan kerinduan seorang wanita terhadap mantan kekasihnya, atau “Dermaga” pertemuan perempuan dengan laki-laki misterius di dermaga Docklands, Melbourne. Adapula “Hujan di Atas Ciuman” yang mengisahkan hubungan seorang pelukis dan penulis novel dan “Sonata” yaitu perempuan tuli berwajah rusak yang menyukai laki-laki buta yang mahir bermain piano. Cinta yang tidak selalu mesti bersatu menjadi benang merah pada dalam kumpulan ini.

Meski tema cinta sudah banyak ditulis orang, ditangan Lan Fang tema ini diramu menjadi cerita yang tak biasa.  Baik itu dinilai dari gaya bercerita, alur, maupun tokoh-tokohnya. Ia bercerita dengan legenda China, kisah Mahabrata dan hal-hal yang terkesan remeh temeh namun filosofis. Gaya bahasa Lan Fang misalnya terlihat pada kutipan cerpen ”Musim Kelima” berikut ini.

” …, ini hujan yang tak tahu malu. Memaksa sebelum waktunya. Bukankah akan lebih indah bila bersabar dan menunggu saat rumput begitu rindu dengan sentuhannya? Ciuman di pucuk musim yang paling gersang adalah yang tak terlupakan. Itu kecupan yang bisa membuat dada meledak karena seluruh rindu muntah di sana” (h. 81)

Pada cerpen “Bai She Jing” yang ide cerpennya berasal dari legenda China: Bai She Jing, siluman ular putih, menceritakan tentang manusia dengan kenangan masa lalunya. Yang unik dari cerpen ini adalah tokoh yang digunakan sebagai sudut pandang penceritaan, yaitu tokoh “aku” yang tidak lain adalah mesin ketik. Ini tentu unik dan tidak lazim.Tokoh “aku” atau mesin ketik inilah  yang bercerita dalam cerpen ini. “Aku hanya mesin tik tua yang mati-matian menyelamatkan sehelai cerita cinta yang kuanggap belum usai”. (h. 18)

Sisi lain yang menarik dari kisah lainnya adalah kisah yang menunjukkan ketertarikan Lan Fang terhadap cerita wayang, seperti “Dear Gani”, “Festival Topeng”, “dan “Sri Kresna”. Sedangkan budaya Tionghoa yang mengalir di darahnya turut mencetuskannya untuk menuangkan cerita yang bertemakan Cina, seperti “Bai She Jing, Tukang Dongeng dan Tukang Mimpi”, “Qiu Shui Yi” serta “Gandrung.”

Berbeda dengan cerpen-cerpen lainnya, cerpen “Festival Topeng” menampilkan cerita yang menarik, karena di cerita ini Lan Fang mencoba untuk menyindir dunia politik Indonesia. Sindiran yang mengungkapkan bagaimana setiap menjelang pemilu para calon anggota dewan kerap ‘memasang topeng’ untuk menarik perhatian publik.

Lan Fang banyak memberikan kisah hubungan antar dua insan dari berbagai sisi. Lan Fang ingin menunjukkan sisi kemanusiaan melalui hubungan antarindividu dalam kehidupan sehari-hari. Ide itu disampaikan dalam bentuk sastra agar mudah dipahami masyarakat luas. Meski Lan Fang sudah ‘pergi’ meninggalkan dunia sastra, tetapi imajinasi puitis dan goresan karyanya tetap tertanam dan memperkaya khasanah sastra Indonesia. Salam.##

3 responses to “Sonata Musim Kelima: Romantisme dalam Imaji Puitis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s