Religiusitas dalam Puisi “Doa” Chairil Anwar

sholatSebuah karya sastra dihasilkan dari pergulatan pengalaman estetik penulisnya. Pengalaman-pengalaman estetik yang diwujudkan ke dalam karya dapat dilihat sebagai ekspresi diri penulisnya. Salah satu dari sekian ekspresi yang dituangkan di dalam karya sastra adalah pengalaman estetik tentang religiusitas penulisnya. Sebagai genre sastra, puisi juga seringkali digunakan penulisnya untuk mengungkapkan pengalaman estetiknya, termasuk pengalaman religiusnya. Pengalaman religius tersebut menjadi dasar penciptaan karyanya.

Religius sendiri dapat diartikan sebagai hubungan batin antara seseorang dengan Tuhan, perasaan ketuhanan, cinta akan Tuhan. Kesadaran religiusitas itu bisa berupa kecintaan dan ketaqwaan pada Tuhan, kesadaran akan kebesaran Tuhan, kesadaran akan takdir, kesadaran hidup tak pernah abadi, dan sebagainya. Pengalaman religius tersebut juga pernah dituliskan penyair besar Chairil Anwar dalam puisinya.

Chairil Anwar merupakan seorang maestro dalam perpuisian Indonesia. Dialah pendobrak perpuisian Indonesia. Karya-karyanya merupakan cermin ekspresi yang begitu tinggi akan kebebasan jiwa, entah itu dari kekangan penjajah maupun dari tradisi lama perpuisian Indonesia. Ia membawa gaya dan visi baru dalam puisinya. Puisinya tengah keluar dari aturan puitis yang serba mengikat.

Chairil Anwar yang terkenal meledak-ledak dalam puisi-puisinya pada akhirnya mengalami pengalaman yang teramat menekan-nekan batinnnya. Pengalaman tentang kerinduannya pada Sang Pencipta. Puisi yang menggambarkan kerinduan tersebut adalah Doa.

DOA
                      kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943

Puisi ini memiliki religiusitas yang sangat kental. Chairil pada dasarnya dalam puisi ini mengungkapkan akan betapa kuatnya eksistensi Tuhan atas manusia. Puisi ini menggambarkan kekalutan diri penyair yang akhirnya membawanya kepada kesadaran bahwa ia hanya bisa menggantungkan dirinya kepada Tuhan. Secara tidak langsung, Chairil menyarankan lewat diri pribadinya bahwasannya ketika seseorang dalam suasana kalut dan bingung seyogyanya ia mengingat dan meyebut nama Tuhan yang Agung.

Tuhanku // Dalam termangu // Aku masih menyebut namaMu (bait 1)

Saat dalam kondisi kalut dan bingung semacam itu, Chairil masih berdzikir (mengingat) kepada Tuhan. Ia ingat akan keagungan Tuhan. Tuhan-lah yang kuasa atas segala yang ada. Dialah yang memberi pertolongan bagi setiap manusia yang dalam kesusahpayahan serta membutuhkan perlindungan.

Biar susah sungguh // mengingat Kau penuh seluruh (bait 2)

Larik-larik di atas tampaknya merupakan sebuah penegasan dari larik-larik sebelumnya. Dalam bait kedua tersebut pernyataan Chairil lebih diperjelas akan kondisi pribadinya. Ia sungguh dalam kesusahpayahan saat itu. Saat suasana batin semakin bertambah kalut, justru ia malah semakin mengingat akan eksistensi tuhan dalam realitas kehidupan ini. Ia menyadari bahwa Tuhan-lah yang berkuasa atas segalanya, sehingga tiada yang patut disebut dan dilantunkan kecuali nama tuhan. Dialah yang bakal memberi pertolongan dan jalan keluar terhadap semua permasalahan yang melingkupi dirinya saat itu.

Chairil dalam sajak ini tergambarkan sebagai sesosok yang meyakini bahwa hanya tuhanlah yang sanggup memberi petunjuk dan menunjukkan jalan keluar dari permasalahan yang sedang ia hadapi. Ia begitu bingung dan kalut sebab terhimpit beban derita hidupnya.

cayaMu panas suci // tinggal kerdip lilin di kelam sunyi (bait 3)

Kata cayaMu panas suci memiliki arti bahwa cahaya (petunjuk) ketuhananlah yang memberikan kehidupan bagi setiap makhluk yang ada. Cahaya (petunjuk) ketuhanan itulah yang menjadi penunjuk jalan manusia saat ia berada dalam kegelapan, saat ia dalam permasalahan dan saat dalam penderitaan. Cahaya itulah yang bakal menuntun ke jalan yang terang dan penuh dengan kebahagiaan.

Dalam kondisi kesusahpayahan yang dialami saat itu, Chairil benar-benar memasrahkan dirinya secara penuh kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ia meyakini bahwa tak ada daya dan upaya yang sanggup dilakukannya kecuali atas izin dan kuasa dari Tuhan. Segala ketentuan nasib yang bakal menimpa dirinya disandarkan kepada-Nya.

Tuhanku // aku hilang bentuk // remuk (bait 4 dan 5)

Chairil saat itu benar-benar merasakan dirinya dalam kondisi terpuruk. Ia tergambarkan dalam keadaan yang tidak berdaya.

Tuhanku // Aku mengembara di negeri asing (bait 6 dan 7).

Larik-larik tersebut menggambarkan kesadaran Chairil bahwa selama ini ia telah jauh dari Tuhan. Ia seolah menyesali atas segala perbuatan yang telah dilakukannya. Ia berharap agar Tuhan berkenan mengampuni segala dosa yang telah diukirnya dan berkenan memberi pertolongan kepadanya. Sungguh, saat itu ia tak sanggup berpaling dari-Nya, ia sangat membutuhkan pertolongan-Nya, sebab ia tahu hanya Tuhan-lah yang sanggup menolongnya.

Tuhanku // di pintuMu aku mengetuk // aku tidak bisa berpaling (bait 8)

Puisi di atas menggambarkan realitas gemuruh batin Chairil Anwar yang terjadi saat itu. Ketidakberdayaan dan kekalutan batin Chairil ketika terhimpit permasalahan yang akhirnya membawanya pada kesadaran akan keberadaan dan kebesaran Tuhan. Perasaan kalut, sendiri, sunyi, dan rindu menyebabkan Chairil merasakan kehadiran Tuhan meskipun dengan Tuhan masih ada pintu yang coba ia ketuk. Kerinduan akan kehadiran Tuhan seakan-akan memaksa Chairil untuk bersimpuh dengan kondisi yang payah penuh compang-camping atau penuh dosa. Chairil sadar dirinya berjarak dan ia ingin sekali menjadikan jarak tersebut hilang dan membuatnya dapat menyatu dengan Tuhan.

Puisi Doa menampilkan kegelisahan-kegelisahan manusia yang ingin kembali mendekatkan jarak yang sudah lama berkarat. Dibutuhkan kehendak dan kesadaran kuat untuk kembali merekatkan jarak tersebut. Salam.##

One response to “Religiusitas dalam Puisi “Doa” Chairil Anwar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s