Tahun Baru dalam Puisi Gus Mus

gusmus1Hari ini, 5 November 2013, umat muslim memasuki Tahun Baru (1 Muharram) 1435 Hijriyah. Tahun Baru merupakan saat yang tepat digunakan untuk introspeksi, merenung, melihat pada diri atas apa yang sudah dilakukan selama ini. Berkaitan dengan tahun baru, ada sebuah puisi yang menarik untuk diapresiasi sekaligus mengajak pembaca untuk memaknai peristiwa pergantian tahun itu secara benar. Sebagaimana karya sastra pada umumnya, puisi ini dicipta bukan tanpa tujuan. Melalui puisi ini pengarang ingin menyampaikan ”sesuatu” kepada pembaca sebagai bahan renungan, khususnya bertepatan dengan moment pergantian tahun ini.

Adalah Gus Mus yang memiliki nama asli KH.A. Mustofa Bisri, selain dikenal sebagai penyair dan budayawan, sesungguhnya adalah seorang kyai (pimpinan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah). Kemunculan beliau dalam blantika sastra Indonesia memberikan angin segar, tidak saja bagi puisi Indonesia melainkan juga bagi masyarakat Indonesia secara umum. Betapa tidak. Puisi-puisinya adalah suara kritis dari pedalaman pesantren, terdengar nyaring, keras, religius, namun juga jenaka.

Sebagai seorang ulama sekaligus seorang penyair, Gus Mus memandang dunia dengan mata batin seorang ulama sekaligus mata batin seorang penyair. Sebagai seorang ulama, Gus Mus memandang dunia dari sudut-pandang agama; pandangan-dunianya merefleksikan kesadaran religiusnya. Sementara, sebagai seorang penyair, Gus Mus memandang dunia dari intuisi kepenyairannya; pandangan-dunianya merefleksikan bangunan intuitifnya.

Pandangan dunia Gus Mus antara lain terlihat pada salah satu puisinya yang berjudul “Selamat Tahun Baru, Kawan”. Sebuah puisi karya Gus Mus mengajak pembaca untuk melihat diri dan introspeksi.

Selamat Tahun Baru Kawan
Oleh K.H. Mustofa Bisri

Kawan, sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk?
Memandang diri sendiri?
Bercermin firman Tuhan sebelum kita dihisab-Nya?

Kawan, siapakah kita ini sebenarnya?
Musliminkah?
Mukminin?
Muttaqin?
Khalifah Allah?
Umat Muhammad-kah kita?
Khaira ummatin kah kita?
Atau kita sama saja dengan makhluk lain?
Atau bahkan lebih rendah lagi?
Hanya budak-budak perut dan kelamin.

Iman kita kepada Allah dan yang ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan
Lebih pipih dari kain rok perempuan.
Betapapun tersiksa, kita khusyuk di depan massa
dan tiba-tiba buas dan binal justru di saat sendiri bersama-Nya.
Syahadat kita rasanya seperti perut bedug, atau pernyataan setia pegawai rendahan,
kosong tak berdaya.

Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam Ibu-ibu
Lebih cepat daripada menghirup kopi panas
Dan lebih ramai daripada lamunan seribu anak muda.
Doa kita sesudahnya justru lebih serius kita
Memohon hidup enak di dunia dan bahagia di surga.
Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan minum dan saat istirahat
Tanpa menggeser acara buat syahwat.
Ketika datang lapar atau haus; kitapun manggut-manggut,
“Oh beginikah rasanya.”
Dan kita sudah merasa  memikirkan saudara-saudara kita yang melarat.
Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilannya
untuk kupon undian yang sia-sia.
Kalaupun terkeluarkan harapanpun tanpa ukuran, upaya-upaya Tuhan menggantinya berlipat ganda.
Haji kita tak ubahnya tamasya  menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan material.
Membuang uang kecil dan dosa besar, lalu pulang membawa label suci asli made in Saudi. Haji.

Kawan, lalu bagaimana, bilamana dan berapa lama kita Bersama-Nya?
Atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya
Mensiasati dunia sebagai khalifah-Nya.

Kawan, tak terasa kita semakin pintar
Mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita,
paling tidak kita semakin pintar berdalih.
Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan
Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran
Melacur dan menipu demi keselamatan
Memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan
Memukul dan mencaci demi pendidikan
Berbuat semuanya demi kemerdekaan
Tidak berbuat apa-apa demi ketentraman
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian
Pendek kata, demi semua yang baik, halallah semua sampaipun yang paling tidak baik

Lalu bagaimana para cendikiawan dan seniman?
Para mubaligh dan kiai penyambung lidah Nabi?
Jangan ganggu mereka.
Para cendikiawan sedang memikirkan segalanya
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Para mubaligh sedang sibuk berteriak ke mana-mana
Para kiai sedang sibuk berfatwa dan berdoa
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
Biarkan mereka di atas sana
Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri.

Kawan, selamat tahun baru
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk dan memandang diri sendiri?

Menyimak larik-larik puisi tersebut seakan pembaca diajak larut di dalamnya. Pembaca bisa merasakan seolah-olah sebagai objek atau pemeran utamanya dalam tiap larik puisinya. Puisi yang syarat akan kritik moral keseharian serta kecintaan kepada Sang Pencipta. Dengan gaya bahasa yang sederhana dan kadang terkesan jenaka, puisi ini terasa sangat indah. Puisi religius, kritikan, dan renungan sangat terasa dalam setiap baitnya. Namun demikian, mampu menyentuh dan mengetuk mata batin pembaca dengan pelan tapi mengena. Puisi Musofa Bisri adalah refleksi dari kesadaran sosio-religiusnya dalam bahasa yang penuh tenaga: keras, ironis, dalam, kocak, jenaka. Gus Mus merupakan sosok manusia dengan kedalaman visi seorang ulama dan ketajaman intuisi seorang penyair.

Semoga tahun baru ini menyadarkan kita betapa rendahnya kita di hadapan Sang Kuasa. Sungguh sangat sedikit amal kebaikan yang kita lakukan, apalagi dibandingkan dengan ke-Mahaluasan rahmat-Nya. Selamat Tahun Baru 1435 Hijriyah, Kawan. Salam.##

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s