Menakar Kembali Semangat Pengabdian Guru

ngajar Beberapa tahun lalu, bila bercerita tentang guru, yang tergambar adalah sosok yang sederhana, yang mengemban tugas sangat mulia, yaitu mendidik dan mencerdaskan anak-anak bangsa. Sederhana, karena kehidupan guru identik dengan kehidupan yang sangat pas-pasan. Gaji guru waktu itu memang kurang memenuhi standar kehidupan yang layak. Terlebih bila dibandingkan dengan tugasnya yang begitu mulia. Keberadaan guru selalu penuh dengan ironi yang memprihatinkan, hidup pas-pasan dan terkadang harus terseok-seok menghidupi diri dan keluarganya. Oleh karena itu, sebutan “pahlawan tanpa tanda jasa” menjadi gelar yang begitu melekat pada sosok guru.

Seiring dengan perjalanan waktu, perlahan-lahan kehidupan guru mulai berubah. Ironi itu perlahan namun pasti mulai dipupus pemerintah lewat alokasi anggaran negara untuk sektor pendidikan melalui program sertifikasi guru. Melalui program sertifikasi guru ini, diharapkan guru mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka, sehingga para guru bisa lebih fokus menggeluti profesinya tanpa harus terganggu mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kini, kehidupan guru telah menjadi sangat sejahtera. Jika dulu guru berjalan dalam kesunyian, kini guru berjalan dengan tubuh tegak berdiri.

Upaya meningkatkan kesejahteraan guru sungguh merupakan usaha yang mulia. Sayangnya, begitu banyak guru yang belum selesai dengan dirinya. Ketika pemerintah terus menaikkan gaji dan memberikan beragam tunjangan, para guru tergagap-gagap hingga mabuk. Mereka menjadi limbung karena panggilan jiwa sebagai pendidik telah kosong, jiwa mereka kian kerontang. Keprihatinan hidup yang cukup panjang karena gaji kecil membuat para guru menjadi dahaga uang. Akhirnya, guru hanya dimaknai sebagai sebuah pekerjaan, sebuah profesi. Guru sebagai pekerjaan yang identik dengan pengabdian kini menjadi tema usang dan bahan olok-olokan.

Ternyata tak cukup niat baik menyejahterakan guru dengan terus meningkatkan gaji dan tunjangan. Penerapan kebijakan itu membuat sejumlah guru pun bertindak tanpa nurani. Demi meraup uang, mereka tak peduli nasib rekan sejawat. Tak ada lagi solidaritas antarsesama guru. Ketika nafsu untuk meraup uang kian bergelora, sejumlah guru bahkan menjadi berubah karakter, dari abdi menjadi budak. Segala yang dikerjakannya harus diberi upah. Niat awal meningkatkan kesejahteraan agar guru kian bermartabat, kini justru berubah menjadi menghancurkan martabat guru sendiri.

Guru memang membutuhkan pendapatan yang layak. Namun, guru tak boleh berangkat dari situ. Guru lebih tinggi derajatnya bila hanya dibandingkan dengan ukuran materi. Guru adalah pelita kehidupan. Ia hanya bisa menjadi penerang kehidupan bila ada “nyala” dalam jiwanya. Ini akan terjadi ketika hidupnya ditautkan pada panggilan jiwanya sebagai pendidik. Menjadi guru merupakan aktivitas pengabdian dan kepahlawanan yang sangat mulia. Apabila niat menjadi guru sudah benar, maka materi akan dengan sendirinya mengikuti. Sebagaimana kalimat Pak Harfan, Kepala Sekolah dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang mengatakan “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.”  Kata-kata Pak Harfan ini kiranya dapat menggugah kembali semangat pengabdian guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Menyalakan kembali jiwanya sehingga dapat menjadi pencerah generasi bangsa. SELAMAT HARI GURU. Salam.##

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s