sholat, shalat, atau salat

13702719461546589075Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia tidak terlepas dari pengaruh bahasa asing, tak terkecuali bahasa Arab. Tentu saja pengaruh itu di satu sisi dapat memperkaya khazanah bahasa Indonesia. Salah satunya adalah kata “salat” yang dalam penulisannya sering juga ditulis “shalat” atau “sholat”. Padahal, sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (PUEYD), penulisan yang benar adalah “salat”. Untuk itu, perlu dipahami bahwa suatu kata yang telah menjadi warga kosakata bahasa Indonesia ditulis sesuai dengan kaidah penulisan yang ada yaitu Pedoman Umum EYD. Tak terkecuali kata yang berasal dari Arab.

Kata “salat” yang berasal dari bahasa Arab itu telah menjadi warga kosakata bahasa Indonesia. Kata itu telah dikenal secara luas dan tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Bila dicermati, dalam Pedoman Umum EYD, hanya empat satuan bunyi yang dilambangkan dengan dua huruf, yaitu kh, sy, ng, dan ny.

Lantas, bagaimana kelaziman untuk mengeja kata serapan dari bahasa Arab yang mengandung huruf hijaiyah sad? Penulisan hata-kata serapan semacam itu telah ditetapkan dan diberlakukan secara taat asas. Sekadar contoh untuk pembanding, kata sahabat, misalnya, tidak ditulis shahabat. Begitu juga dengan musibah, nasihat, maksud, kisah atau maksiat, tidak ditulis mushibah, nashihat, maqshud, qishah, atau ma’shiat.

Sejumlah contoh kata serapan dari bahasa Arab tersebut menunjukkan bahwa huruf sad menjadi s dalam bahasa Indonesia. Memang dalam Pedoman Umum EYD disebutkan bahwa ejaan kata yang berasal dari bahasa asing (termasuk Arab tentunya) hanya diubah seperlunya. Hal ini dimaksudkan agar ejaannya dalam bahasa Indonesia masih dapat dibandingkan dengan ejaan dalam bahasa asalnya.

Kalau kita bandingkan antara lafal lambang bunyi bahasa Arab dan lafal lambang bunyi bahasa Indonesia, kita melihat adanya perbedaan-perbedaan yang cukup besar. Upaya terbaik untuk mengatasi hal itu dalam pengindonesiaan kata bahasa Arab ialah mencarikan lambang bunyi yang paling dekat dengan lafal lambang bunyi serupa dalam bahasa Arab.

Penyerapan unsur bahasa Arab itu perlu dilakukan secara selektif. Kata serapan itu arus mampu mengisi kerumpangan konsep dalam khazanah bahasa Indonesia. Kata itu memang dibutuhkan dalam bahasa Indonesia untuk kepentingan pemerkayaan daya ungkap mengiringi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Nah, dengan uraian sederhana ini, kini Anda tak perlu ragu lagi untuk memilih kata yang tepat di antara sholat, shalat, atau salat. Salam.##

One response to “sholat, shalat, atau salat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s