Karya Sastra Tak Cukup Hanya Dibaca

novel remaja-1Tujuan pembelajaran sastra adalah untuk membentuk sikap peserta didik yang apresiatif dan kreatif terhadap sastra dan bahasa secara umum. Melalui kegiatan membaca dan menikmati karya-karya sastra, diharapkan peserta didik mampu memahami isi karya sastra. Di samping itu, lebih lanjut peserta didik juga belajar menggunakan bahasa untuk dapat mencipta sebuah karya sastra sederhana.

Namun demikian, pembelajaran sastra tidaklah cukup hanya membaca untuk memahami isi dan bahasa. Itu barulah merupakan bagian permukaan saja. Hal yang lebih penting dalam belajar sastra adalah bagaimana peserta didik mampu menggali dan mengambil nilai-nilai positif yang terdapat dalam karya sastra. Sebagaimana diketahui, sastra sesungguhnya banyak memberi sumbangan terhadap perkembangan budi pekerti, mengingat dalam sastra terkandung nilai-nilai kehidupan. Jika peserta didik sudah mampu bersikap apresiatif terhadap karya sastra, maka mereka sekaligus juga mampu menangkap nilai-nilai dan amanat yang ada dalam karya tersebut. Artinya selain belajar memahami karya sastra, peserta didik juga bisa menyerap nilai budi pekerti yang terkandung di dalam karya itu. Bukankah para pendahulu kita dulu mengajarkan dan menanamkan budi pekerti melalui dongeng dan cerita?

Agar karya sastra bisa dipelajari dengan baik sehingga merangsang peserta didik untuk apresiatif maka sastra itu harus diajarkan dengan menarik, ringan, dan kreatif. Hal yang pertama harus dilakukan dalam pelajaran sastra itu pesrta didik harus mau membaca karya sastra secara langsung dan utuh, tidak cukup membaca sinopsisnya. Oleh karena itu, guru juga hendaknya mampu menunjukkan karya-karya mana yang baik dan dapat membekali budi pekerti kepada peserta didik. Ini berarti guru harus lebih dulu membaca sebelum diberikan kepada peserta didik. Bahan-bahan sastra saat ini banyak dan mudah ditemukan.

Setelah membaca karya sastra, peserta didik diajak untuk menilai karya sastra yang dibaca. Peserta didik perlu memahami teks sastra, baik segi instrinsik maupun ekstrinsik. Dalam pembelajaran sastra di sekolah, masalah pemahaman sastra ini sangat memprihatinkan karena kegiatan “menilai” karya sastra baru sebatas pengetahuan (knowledge) yang berkutat pada apa itu sastra, siapa pengarangnya. Kalau pun agak jauh baru sebatas menemukan siapa tokohnya, bagaimana alurnya, bagaimana latarnya, dan lain-lain. Kegiatan ini belum masuk pada inti persoalan, yaitu bagaimana sastra memberi ruang yang luas dan lengkap bagi peserta didik untuk menaruh penghargaan pada sastra serta bagaimana sastra mampu memberi kontribusi tentang nilai-nilai yang bermanfaat bagi kehidupannya sebagai manusia berbudaya.

Menjadikan sastra sebagai wahana untuk menggali nilai-nilai kehidupan tentu tidak mudah. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi guru bahasa (dan sastra) Indonesia. Proses belajar-mengajar sastra di sekolah harusnya berani untuk keluar dari kurikulum resmi yang ditetapkan oleh lembaga resmi pendidikan. Terlebih dalam Kurikulum 2013 ini (pada jenjang SMA/SMK), ruang untuk belajar sastra sangat sempit. Artinya, guru bahasa (dan sastra) harus berani melakukan terobosan-terobosan untuk mendobrak batasan-batasan pengajaran sastra yang selama ini dilakukan secara konvensional. Dengan demikian, pembelajaran sastra akan memiliki ruang yang lebih luas bagi penanaman nilai-nilai kehidupan bagi peserta didik. Salam.##

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s