Hikmah dari Abu Kelud

gambar1 -

gambar2

gambar3Kamis, 13 Februari 2014, sekitar pukul 22.50 WIB, Gunung Kelud di wilayah Kediri – Blitar, Jawa Timur kembali meletus. Letusannya luar biasa dahsyat. Diberitakan luncurannya hingga mencapai 17 km. Dampak letusannya juga sungguh luar biasa. Tak hanya wilayah sekitar, abu vulkanik serta pasir yang diluncurkan Gunung Kelud juga mencapai daerah-daerah yang secara geografis jauh dari Gunung Kelud. Terutama ke daerah barat hingga mencapai Jawa Tengah, Yogyakarta, bahkan Jawa Barat.

Masyarakat dibuat kalang kabut. Aktivitas di beberapa wilayah nyaris lumpuh. Sekolah-sekolah dan kantor-kantor diliburkan. Bandara ditutup.

Termasuk juga di Madiun, kota kecil di Jawa Timur bagian barat, yang berjarak kurang lebih 120 km dari Gunung Kelud. Abu vulkanik turun cukup tebal sejak Jumat dini hari. Pagi hari, setelah hari agak terang, genteng rumah-rumah penduduk, halaman, dan jalan-jalan terlihat memutih. Daun dan tangkai pohon-pohon merunduk menahan berat abu yang menumpuk di atasnya. Di samping itu, hujan abu tersebut juga mengakibatkan polusi udara yang sangat parah. Di jalan-jalan raya yang dilalui kendaraan, abu berterbangan amat pekat sehingga jarak pandang kira-kira hanya sekitar 7 meter. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah menginstruksikan untuk meliburkan sekolah-sekolah dan kantor-kantor pada hari Jumat itu.

Peristiwa alam ini sesungguhnya menunjukkan kepada manusia betapa dahsyatnya kuasa Allah, Sang Maha Kuasa, Sang Maha Perkasa, Sang Maha Besar. Betapa tidak, manusia yang selama ini merasa menjadi makhluk paling berkuasa di bumi dibuat kalang kabut dan tak berdaya oleh abu/debu yang dikirim-Nya. Melalui abu vulkanik yang dikirim Gunung Kelud kemarin, manusia baru menyadari bahwa selama ini, udara bersih yang dihirupnya secara gratis setiap saat adalah nikmat yang tiada tara yang diberikan-Nya. ”Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?’ (QS Ar-Rahman).

Betapa tak berdayanya manusia, menghadapi abu saja sudah kalang kabut.  Masihkah manusia akan menyombongkan diri? Kita, manusia inilah sesungguhnya debu yang paling debu. Salam.##

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s