Menikmati dan Memahami Puisi

puisi-bektipatriaHarus diakui bahwa sebagian besar orang tampaknya tidak suka dengan makhluk yang namanya puisi. Hal ini terlihat dari keberadaan buku-buku puisi di rak-rak toko buku hampir tak tersentuh oleh para pembeli. Hadirnya rubrik puisi yang cukup banyak terserak di berbagai media massa – koran – di  tiap hari Minggu, juga sesungguhnya belum bisa menandakan bahwa para pembaca suka pada puisi. Bahkan, di sekolah-sekolah, di kampus-kampus, yang suka puisi pun bisa dihitung dengan jari. Kenapa demikian?

Ada banyak sebab yang membuat orang kurang suka pada puisi. Salah satu sebab utama adalah soal apresiasi. Sejak lama diakui, bahwa apresiasi masyarakat kita terhadap karya sastra – terutama puisi – masih sangat rendah. Hal ini disebabkan antara lain karena budaya baca-tulis dalam masyarakat kita memang masih tergolong rendah. Nah, apalagi ketika berhadapan dengan puisi, yang wujudnya hampir selalu memakai bahasa yang tak biasa. Bahasa yang aneh dan kadang terasa asing. Dibanding dengan jenis sastra lain, seperti cerpen dan novel, puisi memang memiliki kekhasan. Cerpen dan novel juga lebih gampang dicerna daripada puisi. Bahasa puisi yang tidak biasa menjadikan puisi sulit dipahami.

Soal apresiasi sebenarnya adalah soal bagaimana memahami dan menikmati. Untuk puisi, tidak selamanya sesuatu yang tak bisa dipahami, tak bisa pula dinikmati. Banyak yang bilang, “ah, saya tak paham puisi ini.” Atau bilang begini, “Aduh, apa sih artinya puisi ini?” Sehingga, karena tak kunjung dapat dipahami, maka puisi itu pun tak jadi dibaca. Sekadar contoh, puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, “aku ingin” atau “hujan bulan juni”, yang memiliki metafor yang sangat kuat, pilihan katanya sangat indah, hingg terkadang sulit dipahami. Namun, membaca puisi-puisi tersebut ternyata mampu mengantar pada kenikmatan yang luar biasa.

Menikmati puisi layaknya menikmati sebuah hidangan. Bedanya, makanan untuk asupan raga, sedangkan puisi untuk jiwa. Tingkat kenikmatan yang dirasakan ketika membaca puisi dipengaruhi oleh seperti apa puisi itu dihidangkan, dan bagaimana menikmati hidangan puisi tersebut. Sebenarnya setiap puisi sudah memiliki makna sejak puisi itu dilahirkan oleh penulisnya. Kemudian saat puisi itu dilemparkan kepada pembaca, maknanya mungkin saja akan berbeda atau bahkan menyimpang dari makna yang disetujui oleh penulisnya. Hal ini tentunya merupakan sesuatu hal yang wajar dan masuk akal, karena pemaknaan puisi tidak memiliki keterikatan. Artinya, puisi bebas untuk diartikan seperti apa, tergantung pembaca mengartikannya seperti apa, sesuai dengan suasana hatinya. Perlu juga diketahui bahwa saat puisi itu sudah dilemparkan kepada pembaca, puisi tersebut tidak lagi hanya milik penulisnya, namun juga sudah menjadi milik pembaca.

Ya, sesungguhnya puisi diciptakan pengarang pertama-tama memang untuk dinikmati. Menikmati, tanpa harus paham betul makna dan maksudnya. Ini bukan berarti menggampangkan isi makna yang terkandung dari sebuah puisi. Tapi lebih kepada bagaimana caranya pembaca bisa masuk dengan mudah ke dalam puisi itu sendiri dan leluasa untuk menikmati berbagai “permainan” yang disuguhkan. Misalnya, dalam puisi ada bunyi. Biasanya kerap disebut sebagai rima dan juga ritme. Sehingga, kerap pula puisi dapat dinyanyikan, yang kemudian dikenal dengan istilah “musikalisasi puisi.” Puisi bisa juga dijadikan syair lagu. Sebagai contoh, lagu-lagu Bimbo sebagian besar adalah puisi ciptaan Taufik Ismail. Bait-baitnya adalah puisi. Demikian juga pada lagu-lagu Ebiet G Ade, Iwan Fals, atau yang lebih baru lagu-lagu Kla Poject dan Letto. Banyak sekali lagu-lagu popular yang liriknya terdengar sangat puitis. Ini menunjukkan bahwa dalam lagu-lagu itu ada puisi yang dapat dinikmati.

Memang, dalam jagad perpuisian, ada pula puisi-puisi yang “sulit” dicerna, seperti puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri atau Afrizal Malna misalnya? Untuk dapat memahaminya, awalilah dengan menikmati puisi sebagaimana menikmati musik, menikmati suara burung, suara air terjun, suara ocehan dan tangisan bayi, dan berbagai suara di sekitar yang terkadang tak semuanya dapat dipahami maksudnya. Namun, bila sering dan intens mendengar suara-suara tersebut, akhirnya akan hadir pemahaman dengan sendirinya. Misalnya bahwa suara tangisan bayi adalah ekspresi kesedihannya. Atau mungkin karena lapar atau merasakan sesuatu yang tidak nyaman pada dirinya. Suara kicau burung, apakah bisa dinikmati? Sementara ia tak mengucapkan dengan verbal lewat kata-kata. Atau, sesekali nikmatilah puisi, sebagaimana ketika menikmati gemericik air sungai di tepi sawah, matahari tenggelam pada sebuah senja yang temaram, yang tentu akan aduhai merasuk ke dalam jiwa.

Ketika sudah mulai dirasuki oleh kenikmatan yang luar biasa dari sebuah puisi, maka sesungguhnya secara perlahan akan mengantar pada pemahaman. Terkadang secara tidak sengaja puisi tersebut mulai dicoba untuk dberi arti atau ditafsirkan berdasarkan kenikmatan yang berhasil dirasakan. Maka di sinilah “pemahaman” terhadap puisi sedang bekerja. Ada berbagai suasana hati akan muncul: sendu, sedih, bahagia, rindu, haru, sunyi, mimpi-mimpi, ada pula harapan-harapan, dan sebagainya.

Dengan demikian, puisi memang bukan cuma untuk dipahami, tanpa harus berusaha menikmatinya. Justru dengan menikmatinya, dengan sendirinya akan mengantar kepada pemahaman. Jika hanya paham isi puisi, tapi tak mau menikmati bagaimana jiwa puisi itu, tentu kurang imbang. Bahkan akan sulit untuk menemukan daya sentuh dan daya gugah dari puisi tersebut. Untuk itu, jangan terlalu cepat menganggap sebuah puisi itu “terlampau serius” hanya gara-gara ia sulit dipahami bahasanya. Kalau pun memang sulit, puisi tetaplah bisa untuk dinikmati. Salam.#

2 responses to “Menikmati dan Memahami Puisi

  1. betul sekali, puisi yang memiliki bahasa yang indah sangat menyenangkan untuk dinikmati, meskipun terkadang sulit dipahami

    • puisi memang ungkapan yang padat. sehingga kata dan bahasa yang dipilih harus mampu mewakili perasaan penyair. inilah yang membuat bahasa puisi terkesan sulit. namun, kesulitan itu sebetulnya dapat diatasi dengan sering bergaul dengan puisi itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s