Nyanyian Akar Rumput: Suara Kaum Marginal

9786020302898

Judul Nyanyian Akar Rumput
Pengarang Wiji Thukul
Penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Terbit 2014
Halaman 248

 Wiji Thukul merupakan salah satu penyair Indonesia yang berhasil mencatatkan namanya di jagad perpuisian Indonesia. Puisi-puisinya banyak menyuarakan penderitaan masyarakat akar rumput (kaum marginal, kelas bawah). Suara akar rumput inilah yang selalu menjadi tema utama dalam puisi-puisinya yang ditulis sekitar tahun 1980-an hingga menjelang reformasi tahun 1998. Bahkan berbagai kritik tajam yang dituangkan dalam puisi-puisinya sempat membuat gerah rezim penguasa saat itu. Hal ini pula yang diduga menjadi penyebab hilangnya Wiji Thukul yang sampai sekarang tidak diketahui kabar dan keberadaannya.

Wiji Thukul lahir di kampung Sorogenen, Solo pada 26 Agustus 1963. Lahir dari keluarga tukang becak, Wiji drop out dari sekolahnya di Sekolah Menengah Karawitan untuk kemudian menjadi buruh pelitur mebel. Menulis puisi sejak SD, bakatnya tertempa ketika ikut teater sejak SMP. Puisi-puisinya telah diterbitkan dalam sejumlah buku kumpulan puisi. Di antaranya ada Puisi Pelo dan Darman dan Lain-lain (keduanya diterbitkan Taman Budaya Surakarta pada 1984), Mencari Tanah Lapang (Manus Amici, Belanda 1994) dan Aku Ingin Jadi Peluru (Indonesia Tera, 2000).Namun, di luar itu sebenarnya masih banyak lagi karya Wiji Thukul yang tersebar di berbagai selebaran, majalah, koran mahasiswa, jurnal buruh dan media lainnya.

Nyanyian Akar Rumput: Kumpulan Lengkap Puisi Wiji Thukul merupakan buku kumpulan lengkap puisi Wiji Thukul, baik yang pernah diterbitkan dalam bentuk buku, maupun yang tersebar di berbagai media. Buku kumpulan lengkap puisi yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, Maret 2014 ini menjadi salah satu buku yang berupaya mengumpulkan semua. Total ada 171 puisi yang dibagi dalam 7 bab. Yakni, bab (1) Lingkungan Kita si Mulut Besar, (2) Ketika Rakyat Pergi, (3) Darman dan Lain-lain, (4) Puisi Pelo, (5) Baju Loak Sobek Pundaknya, (6) Yang Tersisih, dan (7) Para Jendral Marah-marah. Judul buku, “Nyanyian Akar Rumput” diambil dari salah satu puisi yang diambil dari bab pertama, hal 25. Berikut petikannya.

jalan raya dilebarkan/ kami terusir/ mendirikan kampung/ digusur/ kami pindah-pindah/ menempel di tembok-tembok / dicabut/ terbuang/ kami rumput/ butuh tanah/ dengar!/ ayo gabung ke kami/ biar jadi mimpi buruk presiden! / juli 88

Puisi-puisi dalam kumpulan ini kental bicara tentang kemiskinan, ketertindasan, keterpinggiran yang dialami oleh kaum marginal (masyarakat kelas bawah). Puisi-puisi tersebut masih relevan hingga kini. Kata-kata dan bahasanya sangat keras, tegas, dan jauh dari basa-basi, romantisme, dan kata-kata yang berbunga-bunga. Tak perlu mengerutkan kening untuk memahami puisi-puisi Wiji Thukul, semua begitu gamblang diekspresikan oleh penyair. Berbagai hal yang dekat dengan masyarakat bawah banyak ditampilkan dalam buku puisi ini, misalnya gudang, pabrik, perkampungan kumuh, air comberan, sambal bawang, dan masih sebagainya. Puisi-puisi Wiji Thukul dalam kumpulan puisi ini menyuarakan penderitaan, tetapi tidak dengan cara yang cengeng dan rapuh.

Nyanyian akar rumput menjadi pengingat sekaligus potret buram perjalanan negeri ini. Di saat para pejabat menikmati kekuasaan mereka, selalu ada rakyat kecil yang terjepit dan menjerit. Nasib rakyat menjadi permainan kekuasaan. Selarik puisinya yang berjudul ”perlawanan” menjadi jargon yang sangat terkenal dalam perjuangan melawan penindasan dan kesewenang-wenangan rezim penguasa: Hanya satu kata, lawan!

2 responses to “Nyanyian Akar Rumput: Suara Kaum Marginal

  1. jika dicermati, puisi-puisi wiji thukul memang menyuarakan perlawanan terhadap rezim yang berkuasa pada saat itu. sehingga rezim saat itu merasa perlu ‘mengamankan’ wiji thukul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s