Ujian Nasional dan Kejujuran

Ujian Nasional sesungguhnya lebih dari sekadar menjawab soal-soal di atas kertas.
Sebab di situ ada yang jauh lebih penting, yaitu: ujian kejujuran,
ujian kerja keras, ujian ketekunan, juga ujian kesabaran
dari seluruh proses yang sudah dijalani bertahun-tahun.
 

menyontek_3Pekan ini, hajatan tahunan Ujian Nasional tingkat SMA sederajat kembali digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pelaksanaan hajatan tahunan ini hampir tidak pernah sepi dari masalah hingga menuai kontroversi antara yang pro dan yang kontra. Banyak hal yang disoroti terkait dengan pelaksanaan Ujian Nasional ini. Mulai dari esensinya sebagai salah satu faktor penentu kelulusan, masalah distribusi soal, materi soal, isu kebocoran soal, penyebaran kunci jawaban, tindak kecurangan dan sebagainya.

Ujian Nasional sesungguhnya sudah berpuluh-puluh tahun dilaksanakan, meski dengan nama yang berganti-ganti, mulai dari Evaluasi Tahap Akhir Nasional (Ebtanas) tahun 1985, Ujian Akhir Nasional (UAN), dan sekarang Ujian Nasional (UN). Ujian Nasional sebenarnya dimaksudkan sebagai alat ukur yang dipergunakan pemerintah untuk menentukan tingkat daya serap sekaligus untuk menilai keberhasilan proses belajar mengajar secara nasional. Dari  hasil itu akan ada pemetaan tentang kebijakan yang akan diambil demi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Sejak digunakan sebagai penentu kelulusan (mulai tahun 2003), Ujian Nasional benar-benar menjadi momok. Tidak hanya bagi peserta didik, tetapi juga bagi kepala sekolah (sekolah), kepala dinas, hingga kepala daerah. Hal ini terjadi karena keberhasilan UN yang dilihat dari tingkat kelulusan peserta didik di suatu sekolah atau daerah akan berpengaruh dalam meningkatkan gengsi sekolah atau daerah tersebut. Disadari atau tidak, hal ini telah turut berperan sebagai faktor pendorong munculnya berbagai tindak kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Mulai dari nyontek berjamaah, guru dan kepala sekolah yang menyebarkan kunci jawaban, jual beli kunci jawaban, dan sebagainya.

Kejujuran benar-benar menjadi barang langka dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Hal ini tentu benar-benar menampar wajah dunia pendidikan itu sendiri. Dunia pendidikan yang digadang-gadang sebagai institusi yang berperan dalam membangun generasi bangsa secara fisik dan mental sepertinya telah gagal. Celakanya, kegagalan ini justru terjadi karena ulah dari para pelaku pendidikan itu sendiri. Bila hasil Ujian Nasional didapatkan dari perbuatan yang tidak jujur, bagaimana akan bisa digunakan sebagai alat ukur kualitas dan pemetaan pendidikan?

Perlu dipahami oleh semua pihak, bahwa ujian sesungguhnya merupakan hal yang biasa diberikan kepada anak sekolah. Dalam setiap ujian, tentu wajar jika ada yang lulus atau tidak lulus. Kelulusan atau ketidaklulusan tentu bisa menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak, pemerintah, sekolah, guru, dan peserta didik sendiri. Guru harus berani jujur untuk melihat dirinya, apakah selama ini sudah mengajar dengan baik kepada peserta didiknya? Peserta didik juga harus berani jujur untuk mengakui, apakah selama ini sudah belajar dengan baik? Dan sebagainya. Dengan demikian, ujian nasional tidak hanya menguji peserta didik, tetapi juga menguji guru, sekolah, pemerintah agar tetap berada di jalur yang benar. Selamat menempuh Ujian Nasional, semoga sukses. Salam.##

2 responses to “Ujian Nasional dan Kejujuran

  1. di zaman ini, kejujuran semakin menjadi barang langka. bahkan dunia pendidikan yang seharusnya memegang teguh nilai-nilai kejujuran sudah kebobolan. apa kata dunia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s