Bersahabat dengan Sastra

bukusastra-bektipatria2Dalam hidup, seringkali seseorang membutuhkan sahabat sebagai tempat bercerita, berbagi suka dan duka. Seseorang akan merasa tenang dan nyaman bila memiliki sahabat yang setia menemani hari-harinya, serta selalu sedia menjadi curahan hatinya setiap saat. Berbicara mengenai sahabat, ternyata tidaklah selalu harus berwujud sesosok manusia. Lantas siapakah atau apakah yang dapat menjadi sahabat dan mampu menjadi tempat curahan hati kita? Jawabnya adalah sastra. Ya, sastra dapat menjadi sahabat yang baik dan setia.

Barangkali selama ini memang hal itu hampir tak disadari, sebab seringkali banyak orang buru-buru mengambil jarak dengannya sebelum berkenalan lebih dalam dengan sastra. Banyak yang beranggapan bahwa sastra merupakan makhluk “aneh” karena sastra merupakan salah satu wujud “permainan” bahasa yang sulit dipahami. Misalnya, menganggap puisi itu susah dipahami, puisi itu bikin pusing, puisi itu tak gaul, dan segala macam anggapan yang minor. Begitu pula cerpen atau novel, selalu membuat kita terlalu mudah dan cepat untuk berpaling, karena dianggap terlalu panjang, buang-buang waktu saja membacanya.

Dalam kehidupan keseharian, sastra memang masih menjadi wilayah tak terjamah. Sastra hampir tidak pernah menjadi sesuatu yang masuk dalam daftar kebutuhan. Tak usahlah dibandingkan dengan kebutuhan pokok, semacam kebutuhan sandang, pangan, atau papan. Namun, cukuplah bandingkan dengan kebutuhan seperti jalan-jalan di mall, berasyik masyuk dengan media sosial, atau wisata kuliner. Sastra masih kalah jauh dengan semua kebutuhan itu.

Lalu, bagaimana bersahabat dengan sastra? Sebenarnya, jawabannya bisa didapatkan dari proses membaca (dan menulis) sastra itu sendiri. Sebagai dunia teks, mengakrabi sastra mau tidak mau pasti akan berhadapan dengan proses membaca dan menulis. Ketika mulai membaca karya sastra, baik cerpen, novel, maupun puisi misalnya, seseorang seringkali menjumpai berbagai hal, pengalaman, atau peristiwa dalam karya sastra sebagaimana yang sedang dia alami atau rasakan dalam kehidupannya. Adanya kesamaan ini, membuat sastra seolah-olah menjadi sesuatu yang dapat memahami diri dan perasaan seseorang tersebut. Bukankah seorang sahabat juga demikian?

Demikian juga dengan menulis sastra. Sastra, baik berupa puisi, cerpen, maupun novel dapat menjadi media seseorang untuk bercerita. Bahkan melalui menulis sastra, seseorang sering kali menjadi lebih jujur dan berani berterus terang menceritakan pengalaman maupun perasaannya. Seseorang bisa leluasa mengutarakan isi hatinya. Misalnya, seseorang ingin mengungkapkan kerinduannya pada orang lain. Namun, ia tidak berani mengungkapkannya secara langsung, mungkin merasa malu atau takut ditertawakan. Nah, dengan menulis sastra seseorang dapat menuangkan kerinduannya itu tanpa harus merasa malu. Karya sastra yang berhasil ditulisnya tak akan menertawakannya, bahkan setia menampung curahan hatinya. Demikian pula ketika seseorang merasa kecewa, ia dapat mengungkapkan kekecewaannya dengan menulis sastra tanpa harus membuat orang lain tersinggung. Hal ini menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi sahabat yang baik.

Ya, sastra dapat dijadikan sebagai sahabat yang baik. Bukankah sahabat yang baik dan setia adalah sahabat yang selalu mengerti tentang perasaan kita? Sahabat yang bisa jadi pendengar yang baik, sahabat yang menemani di kala sendiri dan sunyi, serta sahabat yang bisa diajak dialog dan bercerita tentang berbagai problem. Selain itu, juga sahabat yang dapat memberi pengaruh baik pada seseorang karena memberi kesempatan seseorang untuk berkembang dengan kegiatan membaca dan menulis. Sastra, menjanjikan untuk bisa memerankan itu semua. Asal, akrabilah ia dengan membaca dan menuliskannya. Salam##

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s