Menanti Reinkarnasi UN yang Bermartabat

menyontek_3Hajatan Ujian Nasional tahun 2015 akan segera digelar. Kemedikbud telah mengeluarkan jadwal Ujian Nasional untuk jenjang SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK, yang pelaksanaannya dimulai pertengahan bulan April tahun ini. Meski merupakan kegiatan tahunan, Ujian Nasional tahun ini akan mengalami beberapa perubahan mendasar. Di berbagai kesempatan, Mendikbud Anies Baswedan, mengatakan bahwa Ujian Nasional tahun ini tidak lagi digunakan sebagai penentu kelulusan tetapi hanya akan digunakan sebagai pemetaan pendidikan nasional.

Mendikbud Anies Baswedan bersama Badan Standardisasi Nasional Pendidikan akan menghentikan fungsi ujian nasional sebagai unsur penentu kelulusan. Hal ini didorong oleh keberadaan Ujian Nasional selama 10 tahun terakhir yang digunakan sebagai penentu kelulusan justru telah mengebiri fungsi pendidikan itu sendiri.

Bukan rahasia lagi bahwa begitu peserta didik naik ke jenjang akhir (kelas 3), hampir seluruh kegiatan sekolah berhenti, kecuali latihan ujian. Orientasi belajar semacam ini tidak akan membuat anak menjadi pembelajar (learning), tetapi hanya sekadar studying. Belajar untuk menghadapi tes/ujian. Hal ini terjadi karena ketakutan peserta didik apabila nilai mereka tidak bisa memenuhi kriteria minimal yang ditentukan oleh Kemendikbud.

Ujian Nasional menjadi semacam palu penentu nasib peserta didik. Peserta didik akhirnya dihantui oleh ketakutan yang tak lagi wajar. Ujian Nasional menjadi sesuatu yang angker. Ditambah lagi, pelaksanaannya terkesan cukup menyeramkan. Tidak cukup diawasi oleh pengawas ruang, tetapi kelas juga dipasang CCTV, ada pengawas dari perguruan tinggi, bahkan sekolah juga harus dijaga polisi.

Yang lebih memprihatinkan, segala cara akhirnya dilakukan untuk memperoleh kelulusan. Kita tentu tak menutup mata bahwa ujian nasional telah mengakibatkan banyak kerusakan moralitas kaum pendidik karena dihantui untuk wajib meluluskan sebanyak mungkin siswa, guru-guru berlomba-lomba melakukan kecurangan dengan berbagai cara kerja. Ada yang memberikan jawaban saat ujian berlangsung. Ada yang memberikan jawaban atas dasar soal-soal yang dibocorkan sebelum hari pelaksanaan ujian. Di pihak siswa, membeli soal untuk ujian nasional dengan harga mahal pun diperjuangkan sebab, semahal apapun, nilai kelulusan itu lebih penting bagi mereka.

Oleh karena itu, dengan menghapus fungsi Ujian Nasional, Mendikbud Anies Baswedan ingin membuat proses ujian atau tes bukan sesuatu yang membebani, mengerikan, bahkan mengubah orientasi belajar. Peserta didik diharapkan benar-benar menyadari kebutuhan belajar. Tidak sekadar mengejar nilai kelulusan. Belajar menjadi suatu kebutuhan yang menyenangkan, bukan menakutkan, bahkan membatasi kreativitas karena hanya mendapatkan drill soal.

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan untuk menghilangkan fungsi ujian nasional sebagai syarat kelulusan menjadi tonggak baru harapan peningkatan kualitas pendidikan. Fungsi UN sebagai syarat kelulusan yang menjadi sumber segala masalah, seperti inflasi nilai oleh sekolah dan berbagai macam dampak negatif UN, seperti pembelajaran mekanis dengan pemikiran tingkat rendah, sistem drill, kecurangan massal, fenomena kebocoran soal, pengawalan ketat polisi, stres, bahkan sampai ada yang bunuh diri, diharapkan tidak akan terjadi lagi.

Siswa, guru, dan orangtua, semestinya juga lega, karena proses belajar mengajar di sekolah sudah bisa kembali ke jalur yang benar secara pedagogis, yaitu proses pembelajaran berkualitas, menarik, membangkitkan semangat belajar, dan motivasi tinggi tanpa ancaman dan paksaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s