Ulasan Singkat Puisi Derai-derai Cemara

Chairil Anwar merupakan salah satu penyair besar Indonesia. Keberaniannya menciptakan pembaharuan dalam perpuisian di Indonesia membuatnya senantiasa dikenang. Karya-karyanya pun banyak dibicarakan. Tulisan ini pun berupaya mengupas salah satu puisinya – Derai-derai Cemara – yang kebetulan sering keluar sebagai soal Ujian Nasional. Dengan ulasan sederhana ini diharapkan peserta didik menjadi lebih mudah untuk memahami isi dan makna puisi tersebut.

 Derai-derai Cemara
 Karya Chairil Anwar
 Cemara menderai sampai jauh
 Terasa hari akan jadi malam
 Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
 Dipukul angin yang terpendam
 Aku sekarang orangnya bisa tahan
 Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi
 Tapi dulu memang ada suatu bahan
 Yang bukan dasar perhitungan kini
 Hidup hanya menunda-nunda kekalahan
 Tambah terasing dari cinta dan sekolah rendah
 Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
 Sebelum pada akhirnya kita menyerah

Derai-derai cemara yang dipakai pengarang untuk judul sajak merupakan gambaran dari daun-daun cemara yang berguguran yang merupakan metafor tentang runtuhnya harapan si aku lirik.

Bait pertama, pohon cemara menggambarkan tentang sesuatu yang lemah, ringkih, sesuai dengan bentuk daun cemara yang kecil, meruncing mudah terhempas oleh angin yang bertiup. Sementara itu, malam identik dengan kesunyian, kegelapan, waktu istirahat dan akhir dari sebuah hari atau perjalanan. Si aku lirik merasakan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Tidak hanya daun-daunnya yang luruh, bahkan dahan-dahannya juga mulai merapuh karena sering dipukul angin. Larik ini dapat dimaknai bahwa kondisi si aku sudah semakin rapuh diterpa oleh berbagai cobaan hidup. Angin memberikan gambaran tentang segala cobaan dan kepahitan dalam hidup, yang menghempas kehidupan si aku lirik sehingga membuatnya kian rapuh.

Secara singkat bait pertama dapat dimaknai sebagai kesadaran si aku lirik akan kondisinya yang kian rapuh diterpa oleh berbagai cobaan hidup (termasuk kesehatan). Si aku lirik pun merasakan perjalanan hidup dirinya sudah mendekati maut, akan berakhir.

Bait ke dua menggambarkan kedewasaan si aku lirik, yang digambarkan dari kalimat sudah berapa waktu si aku lirik bukan kanak lagi. Kedewasaan si aku lirik ditandai oleh kemampuannya menghadapi berbagai cobaan hidup (larik aku sekarang orangnya bisa tahan). Sesuatu yang pernah dicita-citakan dulu sepertinya tidak bisa lagi dipertahankan kini, sebab sudah tidak relevan dan kondisinya pun sudah tidak memungkinkan. Pandangan aku lirik terhadap hidup saat kanak-kanak berbeda dengan pandangannya saat kini sudah dewasa.

Secara singkat bait ke dua dapat dimaknai sebagai kesadaran si aku lirik bahwa dirinya sekarang sudah bukan kanak-kanak lagi (sudah dewasa) sehingga harus dapat memandang kehidupan dengan cara dewasa, termasuk dapat bertahan menghadapi berbagai cobaan hidup.

Bait ke tiga , si aku lirik menyadari bahwa hidup manusia pasti akan berakhir atau mati. Hidup manusia hanya menunggu mati. Kematian merupakan bentuk kekalahan manusia. Manusia tak bisa mengelak karena kematian merupakan ketentuan yang harus diterimanya dari Sang Maha Hidup. Cita-cita si aku lirik pada masa lampaunya yang begitu cemerlang namun si aku lirik selalu mengalami penderitaan dalam hidupnya. Nampak dari kata terasing yang digunakan yang menceritakan tentang rencana si tokoh tentang cita-citanya namun berbeda dengan apa yang diharapkan sehingga membawa dia ke dunia yang dianggap asing dan pada akhirnya berujung pada kepasrahan, menyerah pada kematian.

Secara singkat bait ke tiga dapat dimaknai sebagai kesadaran si aku lirik bahwa hidup manusia pada akhirnya akan menyerah pada kematian.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan, puisi Derai-derai Cemara merupakan ungkapan tentang perjalanan si aku lirik yang hidupnya penuh didera cobaan, dia sempat mempunyai cita-cita yang cemerlang pada masa kecilnya namun pada kenyataannya hidupnya mengalami kepahitan dan penderitaan, sehingga membawa pada sebuah keterasingan dan menyadarkan tentang kehidupannya di dunia ini pasti akan berakhir dengan mati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s