Haruskah Bahasa Indonesia Tergadai demi Mendongkrak Ekonomi?

bendera-indonesiaKebijakan penghapusan persyaratan kewajiban berbahasa Indonesia bagi Tenaga Kerja Asing (TKA) menjadi kabar mengejutkan tahun ini. Kebijakan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 16 tahun 2015 menggantikan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenakertrans) Nomor 12 Tahun 2013. Peraturan itu sudah disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM, 29 Juni 2015. Namun, baru diketahui publik akhir Agustus lalu yang akhirnya banyak menuai kritik.

Kebijakan pemerintah menghapus persyaratan tersebut patut disayangkan. Sebab hal itu menunjukkan sikap mundur dan tidak menunjukkan nasionalisme. Sebagai bangsa besar yang memiliki penduduk lebih dari 250 juta jiwa, bahasa Indonesia adalah simbol dan jati diri bangsa. Bahasa Indonesia juga membedakan bangsa Indonesia dari bangsa lain, serta menunjukkan keberadaan bangsa Indonesia di antara bangsa lain. Bahasa Indonesia juga menunjukkan karakter, budaya dan identitas bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia adalah kehormatan bangsa.

Sesungguhnya, masing-masing negara di dunia, termasuk negara-negara ASEAN, memberlakukan persyaratan kemampuan berbahasa tempatan bagi tenaga kerja asing. Di berbagai negara, seperti Saudi Arabia, Jerman, Tiongkok, Jepang, Korea, bahkan Thailand dan Malaysia memberlakukan kewajiban penggunaan bahasa negara tempatan. Hal tersebut untuk menegaskan kedaulatan budaya negara bersangkutan.

Di tengah gelombang ekonomi global, sudah banyak negara yang mempelajari Bahasa Indonesia. Menurut berbagai sumber, tercatat ada 46 negara yang mempelajari bahasa Indonesia. Bahkan di Australia, bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran wajib di beberapa sekolah. Begitu juga di Korea Selatan dan Tiongkok, ratusan mahasiswa mereka dikirim ke Indonesia sekadar untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia. Sejatinya, mereka terus membidik pasar Indonesia. Mereka menyadari bahwa Indonesia merupakan negara berkembang yang bisa menjadi tujuan investasi. Lantas, ketika tenaga kerja asing tidak perlu menggunakan bahasa Indonesia maka sudah pasti mempelajari bahasa Indonesia di negara mereka menjadi hal yang percuma.

Ya, bahasa Indonesia sudah sejak lama terseok-seok, disampingkan bahkan tak berdaya. Gengsi tinggi untuk menggunakan bahasa asing menjadikan bahasa sendiri kalah bersaing. Mulai nama gedung, papan petunjuk di tempat-tempat umum, nama pertokoan, merk dagang lain, serta judul buku dan film lebih bangga bila dilabeli dengan nama berbahasa asing. Berkali-kali penggunaan bahasa asing di ruang publik dibentengi. Badan Bahasa pun berusaha keras membenahi atau mengganti. Bahasa Indonesia harusnya dapat berjaya di negerinya sendiri.

Lewat Sumpah Pemuda 1928, bangsa Indonesia telah berikrar untuk menjunjung bahasa Indonesia. Itu merupakan komitmen kebangsaan yang terus-menerus harus dirawat dan dihidupkan. Berbagai upaya dilakukan untuk memajukan dan memantapkan kedudukan bahasa Indonesia, bahkan mendorongnya menjadi bahasa internasional. Namun, upaya itu kini kian tak berdaya. Benteng terakhir agar bahasa Indonesia kian mengglobal mungkin hanya tinggal cerita. Bahasa Indonesia akan digadai demi ekonomi. Sungguh kebijakan yang perlu ditinjau ulang.

2 responses to “Haruskah Bahasa Indonesia Tergadai demi Mendongkrak Ekonomi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s