Wajah Politik dalam Puisi

25069040Buku yang berjudul Manusia Istana ini berisikan puisi politik, sebagaimana tertulis pada sampul buku, judul buku ini adalah Manusia Istana: Sekumpulan Puisi Politik. Di dalamnya ada 31 puisi dengan nuansa politik yang begitu kuat.

`… Berpuluh laksa tentara berderap menjadi istana: memintaku duduk di singgasana// aku memandang langit/ matahari tersenyum: 42 derajad celsius// sebagian serdadu tumbang…//’.

`Aku biarkan pasukan berlaksa itu/ menyorongkan ujung tombaknya/ matahari kering// tapi mata maharani basa/ hari itu maharaja mati…//’ (Lidah Tak Bertakhta)

Puisi-puisi Radhar kali ini begitu politis. Ia seakan menandaskan politikus sejatinya jangan ingkar janji dan nista kepada rakyat. Kekuasaan memang memberikan kedigdayaan bagi pemimpin. Itu bisa kita tengok pada sepenggal puisi Kopiah sang Jenderal. Bunyinya: `…Operasi alpa rakyat sengsara/batalyon slogan menyerbu media/ komando bertingkat usai di tongkat/jenderal mati kopiah kini berdiri.’

Persoalan politik memang menjadi tema Manusia Istana. Radhar tidak sekadar menghadirkan puisi. Ia juga menjadi saksi zaman, terutama saat terjadi perubahan sistem kekuasaan di Indonesia. Sebagaimana dikemukakan penulis, puisi-puisi ini bertema politik yang ditulis dalam periode 2007-2009. Radhar Panca Dahana sepertinya sangat muak dengan reformasi sejak kerusuhan 1998 silam. Era yang dulu begitu dibangga-banggakan banyak orang seantero Tanah Air itu ternyata dinilai jauh lebih munafik dibanding zaman Orde Baru (orba).

Radhar mungkin tak seorang diri yang merasa muak dan jemu dengan dunia perpolitikan. Namun, ia menyuarakannya berbeda dengan yang lain. Bagi Radhar, tiap orang memiliki kebahagiaan, ketuhanan, keterusterangan yang mudah dipahami. Sayangnya, semua itu direbut oleh pikiran dan tindakan yang tidak hanya melukai, mendestruksi, dan mengkriminalisasi kebudayaan karena sebetulnya kebudayaan itu sendiri yang telah memberi keagungan terhadap sebuah istana dan orang-orang di sekitarnya.

Terlepas dari tema politik, sesungguhnya Radhar juga masih wawas diri kepada Sang Kuasa. Mantan wartawan itu terkadang cengeng sebagaimana manusia biasa. Ia tak jarang menitikan air mata. Itu begitu tersurat lewat puisi liris “Airmata Uma 1”.

Sepenggal baitnya berbunyi: `Tuhanku, maafkan doaku/meminta waktuMu lagi/menunaikan amanah ini/menuntaskan sisa waktu/ memanggul segunung batu…//Bersamaku, mahkhluk yang renta dan tak berdaya//segala yang mulia, hanya untukMu//’.

Melalui bahasa puisinya yang penuh semangat, keterbukaan, dan pencerahan, Radhar ingin menyampaikan pesan yang tidak menyerang para politisi atau siapa pun yang berada di pucuk kekuasaan. Kehadiran buku Radhar mampu membangunkan kita semua dari amnesia kolektif dan bius-bius atau candu-candu, atau uap-uap kekuasaan. Sebab, selama ini masyarakatlah yang kerap menjadi sasaran bius-bius kekuasaan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s