Menjadi Manusia Sehat di Zaman Gila

emha-1Siapa yang tak kenal dengan Emha Ainun Nadjib atau yang akrab dipanggil Cak Nun. Ia hampir selalu ada dan bergerak di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Tak jarang orang menyebutnya sebagai manusia komplet: budayawan, sastrawan, penyair, penulis, kolumnis, kiai, dan sebagainya.  Ia tidak hanya hadir secara fisik di tengah-tengah masyarakat, tetapi juga lewat tulisan-tulisannya di berbagai media massa sejak tahun 1980-an. Bahkan sejak tahun 90-an, buku-bukunya laris bak kacang goreng dan sampai sekarang terus dicetak ulang.

Akhir 2016 ini, bukunya kembali hadir, Hidup Itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem, yang diterbitkan oleh Noura Books Publishing. Buku ini menyampaikan topik-topik bahasan yang amat dekat dengan permasalahan kehidupan sehari-hari, seperti tentang keikhlasan hidup, mengabdi sebagai hamba, melayani sesama, dan sebagainya. Bahasannya diikuti dengan contoh, analogi, serta pemikiran-pemikiran yang akan membuat wawasan dan batin pembaca semakin terbuka. Melalui beberapa contoh mendasar yang disertakan dalam setiap pernyataan, mampu membantu jalur pikiran pembaca lebih teriring secara fokus pada permasalahan.

Dibanding dengan buku-buku Cak Nun yang lain, buku ini jauh terasa lebih ringan dari segi gaya bertutur dan bahasa penyampaian. Bahasanya sederhana. Lebih mirip seseorang yang tengah bercakap langsung dengan bahasa sehari-hari. Membaca buku ini serasa menonton dan mendengar ceramah-ceramah Cak Nun  yang tersebar di You Tube. Mudah dicerna, seru, dan penuh hikmah sehingga terasa jauh lebih renyah untuk dikonsumsi. Gaya bertutur dan berpikir Cak Nun memang unik. Sebagaimana disampaikan Candra Malik pada sampul belakang buku bahwa Cak Nun menyampaikan kabar langit dengan bahasa membumi.

Cak Nun seakan terus menerus menyalakan suluh di tengah gelap. Ia, dengan jama’ah Maiyah Nusantara, mengadakan diskusi-diskusi kebudayaan yang membahas tema-tema relevan dengan keseharian kita: dari politik, hukum, hingga pendidikan. Bahkan, tema-tema yang sebelumnya dipandang remeh-temeh, oleh Cak Nun diurai menjadi tema diskusi yang mendalam, yang sublim dengan refleksi kehidupan kita.

Selain isi buku yang mampu membawa membaca pada perenungan-perenungan dan pencerahan, buku ini juga didesain dengan tampilan yang apik dan menarik. Di sana-sini, terdapat kejutan lembar halaman dengan warna berbeda dan info-info grafis untuk menggarisbawahi poin-poin penting dari isi buku.

Melalui buku ini, Cak Nun tidak sekedar menyajikan refleksi mendalam. Ia juga menghentak kesadaran manusia, untuk tidak larut dengan dunia, tertimbun oleh jutaan kepentingan yang senantiasa menyergap manusia. Ia mengajak semua orang untuk terus mengartikan makna dan tujuan hidup, untuk selanjutnya berkarya demi kemanusiaan. Ia juga mengajak pembaca untuk menjadi manusia cerdas. Di tengah kehidupan yang saling berhimpit dengan nafsu dan kepentingan, selalu ada cara untuk mencari kejernihan ilmu. Cak Nun mengajak pembaca untuk selalu memaknai setiap peristiwa dengan konteks kehidupannya. Pengabdian dan kontribusi pada masyarakat dan bangsa, akan menjadikan manusia sebagai orang yang bermanfaat.

 

Iklan

Wajah Politik dalam Puisi

25069040Buku yang berjudul Manusia Istana ini berisikan puisi politik, sebagaimana tertulis pada sampul buku, judul buku ini adalah Manusia Istana: Sekumpulan Puisi Politik. Di dalamnya ada 31 puisi dengan nuansa politik yang begitu kuat.

`… Berpuluh laksa tentara berderap menjadi istana: memintaku duduk di singgasana// aku memandang langit/ matahari tersenyum: 42 derajad celsius// sebagian serdadu tumbang…//’.

`Aku biarkan pasukan berlaksa itu/ menyorongkan ujung tombaknya/ matahari kering// tapi mata maharani basa/ hari itu maharaja mati…//’ (Lidah Tak Bertakhta)

Puisi-puisi Radhar kali ini begitu politis. Ia seakan menandaskan politikus sejatinya jangan ingkar janji dan nista kepada rakyat. Kekuasaan memang memberikan kedigdayaan bagi pemimpin. Itu bisa kita tengok pada sepenggal puisi Kopiah sang Jenderal. Bunyinya: `…Operasi alpa rakyat sengsara/batalyon slogan menyerbu media/ komando bertingkat usai di tongkat/jenderal mati kopiah kini berdiri.’

Persoalan politik memang menjadi tema Manusia Istana. Radhar tidak sekadar menghadirkan puisi. Ia juga menjadi saksi zaman, terutama saat terjadi perubahan sistem kekuasaan di Indonesia. Sebagaimana dikemukakan penulis, puisi-puisi ini bertema politik yang ditulis dalam periode 2007-2009. Radhar Panca Dahana sepertinya sangat muak dengan reformasi sejak kerusuhan 1998 silam. Era yang dulu begitu dibangga-banggakan banyak orang seantero Tanah Air itu ternyata dinilai jauh lebih munafik dibanding zaman Orde Baru (orba).

Radhar mungkin tak seorang diri yang merasa muak dan jemu dengan dunia perpolitikan. Namun, ia menyuarakannya berbeda dengan yang lain. Bagi Radhar, tiap orang memiliki kebahagiaan, ketuhanan, keterusterangan yang mudah dipahami. Sayangnya, semua itu direbut oleh pikiran dan tindakan yang tidak hanya melukai, mendestruksi, dan mengkriminalisasi kebudayaan karena sebetulnya kebudayaan itu sendiri yang telah memberi keagungan terhadap sebuah istana dan orang-orang di sekitarnya.

Terlepas dari tema politik, sesungguhnya Radhar juga masih wawas diri kepada Sang Kuasa. Mantan wartawan itu terkadang cengeng sebagaimana manusia biasa. Ia tak jarang menitikan air mata. Itu begitu tersurat lewat puisi liris “Airmata Uma 1”.

Sepenggal baitnya berbunyi: `Tuhanku, maafkan doaku/meminta waktuMu lagi/menunaikan amanah ini/menuntaskan sisa waktu/ memanggul segunung batu…//Bersamaku, mahkhluk yang renta dan tak berdaya//segala yang mulia, hanya untukMu//’.

Melalui bahasa puisinya yang penuh semangat, keterbukaan, dan pencerahan, Radhar ingin menyampaikan pesan yang tidak menyerang para politisi atau siapa pun yang berada di pucuk kekuasaan. Kehadiran buku Radhar mampu membangunkan kita semua dari amnesia kolektif dan bius-bius atau candu-candu, atau uap-uap kekuasaan. Sebab, selama ini masyarakatlah yang kerap menjadi sasaran bius-bius kekuasaan tersebut.

Mendulang Hikmah dari Peristiwa Kehidupan

kang sodrunJudul Buku  : Kang Sodrun Merayu Tuhan
Penulis        : Yazid Muttaqin
Penerbit      : Tinta Medina
Tahun          : 2014
Tebal            : 242 halaman

Sebagai makhluk sosial, keberadaan manusia tidak bisa lepas dari manusia lain. Antara manusia yang satu dengan manusia lain saling bergantung dan saling melengkapi. Oleh karena itu, Islam menganjurkan menjalin hubungan baik tidak hanya dengan Yang Maha, tetapi juga dengan sesama. Bahkan hubungan baik dengan sesama dapat menjadi jalan untuk menjalin hubungan baik dengan Yang Maha. Buku Kang Sodrun Merayu Tuhan ini mencoba mengungkapkan hal itu.

Secara garis besar, buku ini menebarkan kesalehan sosial dan hikmah filosofis tentang hakikat kehidupan. Berisi ilustrasi kehidupan seorang hamba yang dikemas dalam bentuk cerita yang mengalir. Melalui tokoh cerita bernama Kang Sodrun, penulis mencoba merekam pengalaman-pengalaman reflektif dan penuh hikmah. Nama tersebut terkesan Jawa, ndeso, dan merakyat, sehingga cerita-cerita yang disampaikannya nampak sangat dekat dan nyata. Kang Sodrun hanyalah orang biasa, tak ada yang luar biasa pada dirinya. Ia sungguh merasa dirinya bukan siapa-siapa. Hidup dan kehidupannya pun ia jalani sebagaimana orang-orang biasa menjalaninya.

Pembaca diajak Kang Sodrun untuk belajar dari Mbah Ngis, perempuan tua yang memberi pendidikan luhur lewat sebungkus bakwan dan tempe goreng. Kang Sodrun juga tak segan menggali ilmu dari Mbah Darmo dan Mbok Jumi’ah, pedagang nasi bungkus yang rela menyisihkan penghasilannya yang tak seberapa demi menjadi tamu Sang Rahman. Juga belajar dari Mbah Rajim dan seorang pedagang asongan yang keduanya ia sebut sebagai guru jalanan. Melalui perilaku-perilaku yang sering kali dianggap remeh dan sepele, Kang Sodrun berusaha mendekati Tuhannya. Merayu Tuhannya.

Melalui kisah-kisah yang disajikan, Kang Sodrun membagikan berbagai pengalaman hidupnya yang tinggal di lingkungan yang sederhana. Kejutan kejutan dalam perjalanan hidupnya sangatlah menarik untuk diikuti, bahkan beberapa perlu diteladani. Di satu sisi anda bisa tertawa karena lucunya tingkah Kang Sodrun, di sisi lain juga bercucuran air mata karena pengalaman beliau yang menggetarkan hati. Dibalut dengan kehidupan Jawa dan Islam yang kental memperkuat ilustrasi kehidupan muslim Jawa dalam buku ini.

Beragam pelajaran hidup yang dapat dipetik dari buku ini. Di antaranya bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya, ternyata tidak cukup hanya menerima uluran Tuhan, tapi juga uluran tangan kita untuk berbagi dan berkurban kepada sesama. Buku ini juga menjadi pengingat lupa seorang hamba kepada Tuhannya. Isinya dapat menjadi bahan refleksi bagi pembaca untuk berbenah diri. Sejauh manakah kehadiran kita mengingat Tuhan? Dan, apa fungsi kehidupan selama ini, selain sekadar mencari kesenangan duniawi? Dikemas dengan bahasa santai dan mudah dicerna, tentu menjadikan pembaca akan mudah memahami pesan-pesan yang sengaja dibawa Kang Sodrun untuk semesta. Salam.##

Nyanyian Akar Rumput: Suara Kaum Marginal

9786020302898

Judul Nyanyian Akar Rumput
Pengarang Wiji Thukul
Penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Terbit 2014
Halaman 248

 Wiji Thukul merupakan salah satu penyair Indonesia yang berhasil mencatatkan namanya di jagad perpuisian Indonesia. Puisi-puisinya banyak menyuarakan penderitaan masyarakat akar rumput (kaum marginal, kelas bawah). Suara akar rumput inilah yang selalu menjadi tema utama dalam puisi-puisinya yang ditulis sekitar tahun 1980-an hingga menjelang reformasi tahun 1998. Bahkan berbagai kritik tajam yang dituangkan dalam puisi-puisinya sempat membuat gerah rezim penguasa saat itu. Hal ini pula yang diduga menjadi penyebab hilangnya Wiji Thukul yang sampai sekarang tidak diketahui kabar dan keberadaannya.

Wiji Thukul lahir di kampung Sorogenen, Solo pada 26 Agustus 1963. Lahir dari keluarga tukang becak, Wiji drop out dari sekolahnya di Sekolah Menengah Karawitan untuk kemudian menjadi buruh pelitur mebel. Menulis puisi sejak SD, bakatnya tertempa ketika ikut teater sejak SMP. Puisi-puisinya telah diterbitkan dalam sejumlah buku kumpulan puisi. Di antaranya ada Puisi Pelo dan Darman dan Lain-lain (keduanya diterbitkan Taman Budaya Surakarta pada 1984), Mencari Tanah Lapang (Manus Amici, Belanda 1994) dan Aku Ingin Jadi Peluru (Indonesia Tera, 2000).Namun, di luar itu sebenarnya masih banyak lagi karya Wiji Thukul yang tersebar di berbagai selebaran, majalah, koran mahasiswa, jurnal buruh dan media lainnya.

Nyanyian Akar Rumput: Kumpulan Lengkap Puisi Wiji Thukul merupakan buku kumpulan lengkap puisi Wiji Thukul, baik yang pernah diterbitkan dalam bentuk buku, maupun yang tersebar di berbagai media. Buku kumpulan lengkap puisi yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, Maret 2014 ini menjadi salah satu buku yang berupaya mengumpulkan semua. Total ada 171 puisi yang dibagi dalam 7 bab. Yakni, bab (1) Lingkungan Kita si Mulut Besar, (2) Ketika Rakyat Pergi, (3) Darman dan Lain-lain, (4) Puisi Pelo, (5) Baju Loak Sobek Pundaknya, (6) Yang Tersisih, dan (7) Para Jendral Marah-marah. Judul buku, “Nyanyian Akar Rumput” diambil dari salah satu puisi yang diambil dari bab pertama, hal 25. Berikut petikannya.

jalan raya dilebarkan/ kami terusir/ mendirikan kampung/ digusur/ kami pindah-pindah/ menempel di tembok-tembok / dicabut/ terbuang/ kami rumput/ butuh tanah/ dengar!/ ayo gabung ke kami/ biar jadi mimpi buruk presiden! / juli 88

Puisi-puisi dalam kumpulan ini kental bicara tentang kemiskinan, ketertindasan, keterpinggiran yang dialami oleh kaum marginal (masyarakat kelas bawah). Puisi-puisi tersebut masih relevan hingga kini. Kata-kata dan bahasanya sangat keras, tegas, dan jauh dari basa-basi, romantisme, dan kata-kata yang berbunga-bunga. Tak perlu mengerutkan kening untuk memahami puisi-puisi Wiji Thukul, semua begitu gamblang diekspresikan oleh penyair. Berbagai hal yang dekat dengan masyarakat bawah banyak ditampilkan dalam buku puisi ini, misalnya gudang, pabrik, perkampungan kumuh, air comberan, sambal bawang, dan masih sebagainya. Puisi-puisi Wiji Thukul dalam kumpulan puisi ini menyuarakan penderitaan, tetapi tidak dengan cara yang cengeng dan rapuh.

Nyanyian akar rumput menjadi pengingat sekaligus potret buram perjalanan negeri ini. Di saat para pejabat menikmati kekuasaan mereka, selalu ada rakyat kecil yang terjepit dan menjerit. Nasib rakyat menjadi permainan kekuasaan. Selarik puisinya yang berjudul ”perlawanan” menjadi jargon yang sangat terkenal dalam perjuangan melawan penindasan dan kesewenang-wenangan rezim penguasa: Hanya satu kata, lawan!

Sonata Musim Kelima: Romantisme dalam Imaji Puitis

13493975Judul Buku : Sonata Musim Kelima
Pengarang   : Lan Fang
Cetakan        : Pertama, Februari 2012
Penerbit       : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal             : 152 halaman

Go Lan Fang atau yang lebih dikenal dengan nama Lan Fang, sastrawan berdarah Tionghoa yang dilahirkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada tanggal 5 Maret 1970. Ia merupakan salah satu penulis produktif yang dimiliki Indonesia. Ia juga dikenal sebagai perempuan hebat, penuh energi, dan humanis yang menjunjung pluralisme.

Sonata Musim Kelima adalah kumpulan cerpen Lan Fang, yang diterbitkan setelah beliau tutup usia pada 25 Desember 2011 dalam usia 41 tahun akibat mengidap penyakit kanker hati. Sonata Musim Kelima diterbitkan pada Februari 2012 merupakan upaya untuk mengenang dan memberikan penghargaan pada kiprah Lan Fang dalam sastra Indonesia.

Sonata Musim Kelima menampilkan 15 cerita pendek. Seperti karya-karya Lan Fang lainnya, dalam kumpulan cerpen ini, ia menyajikan cerita bergaya bahasa melankolis dan puitis. Sebagian besar cerpen dalam buku ini bercerita tentang kisah romantisme percintaan. Seperti “Surat Untuk Sakai” yang mengungkapkan kerinduan seorang wanita terhadap mantan kekasihnya, atau “Dermaga” pertemuan perempuan dengan laki-laki misterius di dermaga Docklands, Melbourne. Adapula “Hujan di Atas Ciuman” yang mengisahkan hubungan seorang pelukis dan penulis novel dan “Sonata” yaitu perempuan tuli berwajah rusak yang menyukai laki-laki buta yang mahir bermain piano. Cinta yang tidak selalu mesti bersatu menjadi benang merah pada dalam kumpulan ini.

Meski tema cinta sudah banyak ditulis orang, ditangan Lan Fang tema ini diramu menjadi cerita yang tak biasa.  Baik itu dinilai dari gaya bercerita, alur, maupun tokoh-tokohnya. Ia bercerita dengan legenda China, kisah Mahabrata dan hal-hal yang terkesan remeh temeh namun filosofis. Gaya bahasa Lan Fang misalnya terlihat pada kutipan cerpen ”Musim Kelima” berikut ini.

” …, ini hujan yang tak tahu malu. Memaksa sebelum waktunya. Bukankah akan lebih indah bila bersabar dan menunggu saat rumput begitu rindu dengan sentuhannya? Ciuman di pucuk musim yang paling gersang adalah yang tak terlupakan. Itu kecupan yang bisa membuat dada meledak karena seluruh rindu muntah di sana” (h. 81)

Pada cerpen “Bai She Jing” yang ide cerpennya berasal dari legenda China: Bai She Jing, siluman ular putih, menceritakan tentang manusia dengan kenangan masa lalunya. Yang unik dari cerpen ini adalah tokoh yang digunakan sebagai sudut pandang penceritaan, yaitu tokoh “aku” yang tidak lain adalah mesin ketik. Ini tentu unik dan tidak lazim.Tokoh “aku” atau mesin ketik inilah  yang bercerita dalam cerpen ini. “Aku hanya mesin tik tua yang mati-matian menyelamatkan sehelai cerita cinta yang kuanggap belum usai”. (h. 18)

Sisi lain yang menarik dari kisah lainnya adalah kisah yang menunjukkan ketertarikan Lan Fang terhadap cerita wayang, seperti “Dear Gani”, “Festival Topeng”, “dan “Sri Kresna”. Sedangkan budaya Tionghoa yang mengalir di darahnya turut mencetuskannya untuk menuangkan cerita yang bertemakan Cina, seperti “Bai She Jing, Tukang Dongeng dan Tukang Mimpi”, “Qiu Shui Yi” serta “Gandrung.”

Berbeda dengan cerpen-cerpen lainnya, cerpen “Festival Topeng” menampilkan cerita yang menarik, karena di cerita ini Lan Fang mencoba untuk menyindir dunia politik Indonesia. Sindiran yang mengungkapkan bagaimana setiap menjelang pemilu para calon anggota dewan kerap ‘memasang topeng’ untuk menarik perhatian publik.

Lan Fang banyak memberikan kisah hubungan antar dua insan dari berbagai sisi. Lan Fang ingin menunjukkan sisi kemanusiaan melalui hubungan antarindividu dalam kehidupan sehari-hari. Ide itu disampaikan dalam bentuk sastra agar mudah dipahami masyarakat luas. Meski Lan Fang sudah ‘pergi’ meninggalkan dunia sastra, tetapi imajinasi puitis dan goresan karyanya tetap tertanam dan memperkaya khasanah sastra Indonesia. Salam.##