RIP Majalah Sastra Horison

majalah horisonKabar kurang menyenangkan yang harus saya dengar di penghujung Juli ini adalah Majalah Sastra Horison versi cetak resmi berhenti terbit dan akan fokus ke versi berbasis jaringan (online). Resmi berhenti terbitnya Majalah Sastra Horison ini disampaikan oleh Taufiq Ismail (salah satu pendirinya) dalam peringatan 50 tahun Horison di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Selasa (26/07/2016).

Alasannya cukup klasik, yaitu ketiadaan dana. Memang, sampai saat ini sastra masih dianggap dunia yang sepi dan tidak menguntungkan. Jadi, tak banyak yang mau meliriknya, apalagi menjadi sponsor untuk menyokong pendanaannya.

Padahal, majalah ini telah menjadi kawan setia saya lebih dari 10 tahun terakhir. Selain saya perlukan untuk mengikuti perkembangan dunia sastra, majalah ini juga saya gunakan sebagai sumber belajar dan materi mengajar di sekolah. Setiap bulan, saya sengaja membelinya di toko buku. Bahkan saya meminta karyawan toko buku tersebut untuk memberi kabar jika edisi terbaru majalah tersebut sudah datang. Dan, bulan Juli ini kabar kehadirannya tak juga sampai. Hingga akhir Juli ini, yang saya dengar justru kabar dari penyair Taufik Ismail yang mengumumkan bahwa versi cetak majalah Horison harus berhenti. Duh!

Berhenti cetaknya majalah Horison ini menunjukkan betapa susahnya mencintai dan memperjuangkan sastra. Dunia yang sepi, dunia yang sering dipandang tak berarti. Tanpa bisa berbuat apa-apa, saya pun harus merelakan ketiadaannya. Selanjutnya hari-hari ke depan saya harus membiasakan diri tanpanya, serta membiasakan diri untuk membaca versi daring (online)-nya.

Ulasan Singkat Puisi Derai-derai Cemara

Chairil Anwar merupakan salah satu penyair besar Indonesia. Keberaniannya menciptakan pembaharuan dalam perpuisian di Indonesia membuatnya senantiasa dikenang. Karya-karyanya pun banyak dibicarakan. Tulisan ini pun berupaya mengupas salah satu puisinya – Derai-derai Cemara – yang kebetulan sering keluar sebagai soal Ujian Nasional. Dengan ulasan sederhana ini diharapkan peserta didik menjadi lebih mudah untuk memahami isi dan makna puisi tersebut.

 Derai-derai Cemara
 Karya Chairil Anwar
 Cemara menderai sampai jauh
 Terasa hari akan jadi malam
 Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
 Dipukul angin yang terpendam
 Aku sekarang orangnya bisa tahan
 Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi
 Tapi dulu memang ada suatu bahan
 Yang bukan dasar perhitungan kini
 Hidup hanya menunda-nunda kekalahan
 Tambah terasing dari cinta dan sekolah rendah
 Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
 Sebelum pada akhirnya kita menyerah

Derai-derai cemara yang dipakai pengarang untuk judul sajak merupakan gambaran dari daun-daun cemara yang berguguran yang merupakan metafor tentang runtuhnya harapan si aku lirik.

Bait pertama, pohon cemara menggambarkan tentang sesuatu yang lemah, ringkih, sesuai dengan bentuk daun cemara yang kecil, meruncing mudah terhempas oleh angin yang bertiup. Sementara itu, malam identik dengan kesunyian, kegelapan, waktu istirahat dan akhir dari sebuah hari atau perjalanan. Si aku lirik merasakan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Tidak hanya daun-daunnya yang luruh, bahkan dahan-dahannya juga mulai merapuh karena sering dipukul angin. Larik ini dapat dimaknai bahwa kondisi si aku sudah semakin rapuh diterpa oleh berbagai cobaan hidup. Angin memberikan gambaran tentang segala cobaan dan kepahitan dalam hidup, yang menghempas kehidupan si aku lirik sehingga membuatnya kian rapuh.

Secara singkat bait pertama dapat dimaknai sebagai kesadaran si aku lirik akan kondisinya yang kian rapuh diterpa oleh berbagai cobaan hidup (termasuk kesehatan). Si aku lirik pun merasakan perjalanan hidup dirinya sudah mendekati maut, akan berakhir.

Bait ke dua menggambarkan kedewasaan si aku lirik, yang digambarkan dari kalimat sudah berapa waktu si aku lirik bukan kanak lagi. Kedewasaan si aku lirik ditandai oleh kemampuannya menghadapi berbagai cobaan hidup (larik aku sekarang orangnya bisa tahan). Sesuatu yang pernah dicita-citakan dulu sepertinya tidak bisa lagi dipertahankan kini, sebab sudah tidak relevan dan kondisinya pun sudah tidak memungkinkan. Pandangan aku lirik terhadap hidup saat kanak-kanak berbeda dengan pandangannya saat kini sudah dewasa.

Secara singkat bait ke dua dapat dimaknai sebagai kesadaran si aku lirik bahwa dirinya sekarang sudah bukan kanak-kanak lagi (sudah dewasa) sehingga harus dapat memandang kehidupan dengan cara dewasa, termasuk dapat bertahan menghadapi berbagai cobaan hidup.

Bait ke tiga , si aku lirik menyadari bahwa hidup manusia pasti akan berakhir atau mati. Hidup manusia hanya menunggu mati. Kematian merupakan bentuk kekalahan manusia. Manusia tak bisa mengelak karena kematian merupakan ketentuan yang harus diterimanya dari Sang Maha Hidup. Cita-cita si aku lirik pada masa lampaunya yang begitu cemerlang namun si aku lirik selalu mengalami penderitaan dalam hidupnya. Nampak dari kata terasing yang digunakan yang menceritakan tentang rencana si tokoh tentang cita-citanya namun berbeda dengan apa yang diharapkan sehingga membawa dia ke dunia yang dianggap asing dan pada akhirnya berujung pada kepasrahan, menyerah pada kematian.

Secara singkat bait ke tiga dapat dimaknai sebagai kesadaran si aku lirik bahwa hidup manusia pada akhirnya akan menyerah pada kematian.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan, puisi Derai-derai Cemara merupakan ungkapan tentang perjalanan si aku lirik yang hidupnya penuh didera cobaan, dia sempat mempunyai cita-cita yang cemerlang pada masa kecilnya namun pada kenyataannya hidupnya mengalami kepahitan dan penderitaan, sehingga membawa pada sebuah keterasingan dan menyadarkan tentang kehidupannya di dunia ini pasti akan berakhir dengan mati.

Bersahabat dengan Sastra

bukusastra-bektipatria2Dalam hidup, seringkali seseorang membutuhkan sahabat sebagai tempat bercerita, berbagi suka dan duka. Seseorang akan merasa tenang dan nyaman bila memiliki sahabat yang setia menemani hari-harinya, serta selalu sedia menjadi curahan hatinya setiap saat. Berbicara mengenai sahabat, ternyata tidaklah selalu harus berwujud sesosok manusia. Lantas siapakah atau apakah yang dapat menjadi sahabat dan mampu menjadi tempat curahan hati kita? Jawabnya adalah sastra. Ya, sastra dapat menjadi sahabat yang baik dan setia.

Barangkali selama ini memang hal itu hampir tak disadari, sebab seringkali banyak orang buru-buru mengambil jarak dengannya sebelum berkenalan lebih dalam dengan sastra. Banyak yang beranggapan bahwa sastra merupakan makhluk “aneh” karena sastra merupakan salah satu wujud “permainan” bahasa yang sulit dipahami. Misalnya, menganggap puisi itu susah dipahami, puisi itu bikin pusing, puisi itu tak gaul, dan segala macam anggapan yang minor. Begitu pula cerpen atau novel, selalu membuat kita terlalu mudah dan cepat untuk berpaling, karena dianggap terlalu panjang, buang-buang waktu saja membacanya.

Dalam kehidupan keseharian, sastra memang masih menjadi wilayah tak terjamah. Sastra hampir tidak pernah menjadi sesuatu yang masuk dalam daftar kebutuhan. Tak usahlah dibandingkan dengan kebutuhan pokok, semacam kebutuhan sandang, pangan, atau papan. Namun, cukuplah bandingkan dengan kebutuhan seperti jalan-jalan di mall, berasyik masyuk dengan media sosial, atau wisata kuliner. Sastra masih kalah jauh dengan semua kebutuhan itu.

Lalu, bagaimana bersahabat dengan sastra? Sebenarnya, jawabannya bisa didapatkan dari proses membaca (dan menulis) sastra itu sendiri. Sebagai dunia teks, mengakrabi sastra mau tidak mau pasti akan berhadapan dengan proses membaca dan menulis. Ketika mulai membaca karya sastra, baik cerpen, novel, maupun puisi misalnya, seseorang seringkali menjumpai berbagai hal, pengalaman, atau peristiwa dalam karya sastra sebagaimana yang sedang dia alami atau rasakan dalam kehidupannya. Adanya kesamaan ini, membuat sastra seolah-olah menjadi sesuatu yang dapat memahami diri dan perasaan seseorang tersebut. Bukankah seorang sahabat juga demikian?

Demikian juga dengan menulis sastra. Sastra, baik berupa puisi, cerpen, maupun novel dapat menjadi media seseorang untuk bercerita. Bahkan melalui menulis sastra, seseorang sering kali menjadi lebih jujur dan berani berterus terang menceritakan pengalaman maupun perasaannya. Seseorang bisa leluasa mengutarakan isi hatinya. Misalnya, seseorang ingin mengungkapkan kerinduannya pada orang lain. Namun, ia tidak berani mengungkapkannya secara langsung, mungkin merasa malu atau takut ditertawakan. Nah, dengan menulis sastra seseorang dapat menuangkan kerinduannya itu tanpa harus merasa malu. Karya sastra yang berhasil ditulisnya tak akan menertawakannya, bahkan setia menampung curahan hatinya. Demikian pula ketika seseorang merasa kecewa, ia dapat mengungkapkan kekecewaannya dengan menulis sastra tanpa harus membuat orang lain tersinggung. Hal ini menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi sahabat yang baik.

Ya, sastra dapat dijadikan sebagai sahabat yang baik. Bukankah sahabat yang baik dan setia adalah sahabat yang selalu mengerti tentang perasaan kita? Sahabat yang bisa jadi pendengar yang baik, sahabat yang menemani di kala sendiri dan sunyi, serta sahabat yang bisa diajak dialog dan bercerita tentang berbagai problem. Selain itu, juga sahabat yang dapat memberi pengaruh baik pada seseorang karena memberi kesempatan seseorang untuk berkembang dengan kegiatan membaca dan menulis. Sastra, menjanjikan untuk bisa memerankan itu semua. Asal, akrabilah ia dengan membaca dan menuliskannya. Salam##

Menikmati dan Memahami Puisi

puisi-bektipatriaHarus diakui bahwa sebagian besar orang tampaknya tidak suka dengan makhluk yang namanya puisi. Hal ini terlihat dari keberadaan buku-buku puisi di rak-rak toko buku hampir tak tersentuh oleh para pembeli. Hadirnya rubrik puisi yang cukup banyak terserak di berbagai media massa – koran – di  tiap hari Minggu, juga sesungguhnya belum bisa menandakan bahwa para pembaca suka pada puisi. Bahkan, di sekolah-sekolah, di kampus-kampus, yang suka puisi pun bisa dihitung dengan jari. Kenapa demikian?

Ada banyak sebab yang membuat orang kurang suka pada puisi. Salah satu sebab utama adalah soal apresiasi. Sejak lama diakui, bahwa apresiasi masyarakat kita terhadap karya sastra – terutama puisi – masih sangat rendah. Hal ini disebabkan antara lain karena budaya baca-tulis dalam masyarakat kita memang masih tergolong rendah. Nah, apalagi ketika berhadapan dengan puisi, yang wujudnya hampir selalu memakai bahasa yang tak biasa. Bahasa yang aneh dan kadang terasa asing. Dibanding dengan jenis sastra lain, seperti cerpen dan novel, puisi memang memiliki kekhasan. Cerpen dan novel juga lebih gampang dicerna daripada puisi. Bahasa puisi yang tidak biasa menjadikan puisi sulit dipahami.

Soal apresiasi sebenarnya adalah soal bagaimana memahami dan menikmati. Untuk puisi, tidak selamanya sesuatu yang tak bisa dipahami, tak bisa pula dinikmati. Banyak yang bilang, “ah, saya tak paham puisi ini.” Atau bilang begini, “Aduh, apa sih artinya puisi ini?” Sehingga, karena tak kunjung dapat dipahami, maka puisi itu pun tak jadi dibaca. Sekadar contoh, puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, “aku ingin” atau “hujan bulan juni”, yang memiliki metafor yang sangat kuat, pilihan katanya sangat indah, hingg terkadang sulit dipahami. Namun, membaca puisi-puisi tersebut ternyata mampu mengantar pada kenikmatan yang luar biasa.

Menikmati puisi layaknya menikmati sebuah hidangan. Bedanya, makanan untuk asupan raga, sedangkan puisi untuk jiwa. Tingkat kenikmatan yang dirasakan ketika membaca puisi dipengaruhi oleh seperti apa puisi itu dihidangkan, dan bagaimana menikmati hidangan puisi tersebut. Sebenarnya setiap puisi sudah memiliki makna sejak puisi itu dilahirkan oleh penulisnya. Kemudian saat puisi itu dilemparkan kepada pembaca, maknanya mungkin saja akan berbeda atau bahkan menyimpang dari makna yang disetujui oleh penulisnya. Hal ini tentunya merupakan sesuatu hal yang wajar dan masuk akal, karena pemaknaan puisi tidak memiliki keterikatan. Artinya, puisi bebas untuk diartikan seperti apa, tergantung pembaca mengartikannya seperti apa, sesuai dengan suasana hatinya. Perlu juga diketahui bahwa saat puisi itu sudah dilemparkan kepada pembaca, puisi tersebut tidak lagi hanya milik penulisnya, namun juga sudah menjadi milik pembaca.

Ya, sesungguhnya puisi diciptakan pengarang pertama-tama memang untuk dinikmati. Menikmati, tanpa harus paham betul makna dan maksudnya. Ini bukan berarti menggampangkan isi makna yang terkandung dari sebuah puisi. Tapi lebih kepada bagaimana caranya pembaca bisa masuk dengan mudah ke dalam puisi itu sendiri dan leluasa untuk menikmati berbagai “permainan” yang disuguhkan. Misalnya, dalam puisi ada bunyi. Biasanya kerap disebut sebagai rima dan juga ritme. Sehingga, kerap pula puisi dapat dinyanyikan, yang kemudian dikenal dengan istilah “musikalisasi puisi.” Puisi bisa juga dijadikan syair lagu. Sebagai contoh, lagu-lagu Bimbo sebagian besar adalah puisi ciptaan Taufik Ismail. Bait-baitnya adalah puisi. Demikian juga pada lagu-lagu Ebiet G Ade, Iwan Fals, atau yang lebih baru lagu-lagu Kla Poject dan Letto. Banyak sekali lagu-lagu popular yang liriknya terdengar sangat puitis. Ini menunjukkan bahwa dalam lagu-lagu itu ada puisi yang dapat dinikmati.

Memang, dalam jagad perpuisian, ada pula puisi-puisi yang “sulit” dicerna, seperti puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri atau Afrizal Malna misalnya? Untuk dapat memahaminya, awalilah dengan menikmati puisi sebagaimana menikmati musik, menikmati suara burung, suara air terjun, suara ocehan dan tangisan bayi, dan berbagai suara di sekitar yang terkadang tak semuanya dapat dipahami maksudnya. Namun, bila sering dan intens mendengar suara-suara tersebut, akhirnya akan hadir pemahaman dengan sendirinya. Misalnya bahwa suara tangisan bayi adalah ekspresi kesedihannya. Atau mungkin karena lapar atau merasakan sesuatu yang tidak nyaman pada dirinya. Suara kicau burung, apakah bisa dinikmati? Sementara ia tak mengucapkan dengan verbal lewat kata-kata. Atau, sesekali nikmatilah puisi, sebagaimana ketika menikmati gemericik air sungai di tepi sawah, matahari tenggelam pada sebuah senja yang temaram, yang tentu akan aduhai merasuk ke dalam jiwa.

Ketika sudah mulai dirasuki oleh kenikmatan yang luar biasa dari sebuah puisi, maka sesungguhnya secara perlahan akan mengantar pada pemahaman. Terkadang secara tidak sengaja puisi tersebut mulai dicoba untuk dberi arti atau ditafsirkan berdasarkan kenikmatan yang berhasil dirasakan. Maka di sinilah “pemahaman” terhadap puisi sedang bekerja. Ada berbagai suasana hati akan muncul: sendu, sedih, bahagia, rindu, haru, sunyi, mimpi-mimpi, ada pula harapan-harapan, dan sebagainya.

Dengan demikian, puisi memang bukan cuma untuk dipahami, tanpa harus berusaha menikmatinya. Justru dengan menikmatinya, dengan sendirinya akan mengantar kepada pemahaman. Jika hanya paham isi puisi, tapi tak mau menikmati bagaimana jiwa puisi itu, tentu kurang imbang. Bahkan akan sulit untuk menemukan daya sentuh dan daya gugah dari puisi tersebut. Untuk itu, jangan terlalu cepat menganggap sebuah puisi itu “terlampau serius” hanya gara-gara ia sulit dipahami bahasanya. Kalau pun memang sulit, puisi tetaplah bisa untuk dinikmati. Salam.#