Memberdayakan Pembelajaran Apresiasi Sastra di Sekolah

pembelajaran-bekti patriaPembelajaran sastra di sekolah sudah sejak dulu diperbincangkan. Bukan rahasia lagi dan telah menjadi masalah umum bahwa pembelajaran apresiasi sastra di sekolah terkesan kering, lesu, alias tidak bergairah sehingga tidak memperoleh hasil sesuai harapan. Hal ini tampak pada rendahnya minat baca sastra yang berpengaruh pula pada lemahnya kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sastra. Hal ini diperparah oleh situasi pengajaran di sekolah yang berorientasi pada capaian nilai Ujian Nasional. Selain itu, tenaga guru bahasa yang ada belum tentu juga merupakan seorang pecinta sastra. Hal ini tentu membuat pembelajaran sastra menjadi jauh dari tujuan.

Dalam Standar Isi mata pelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2006 (KTSP) disebutkan bahwa mata pelajaran bahasa Indonesia bertujuan antara lain agar peserta didik memiliki kemampuan menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, juga menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Dari sini sesungguhnya pembelajaran sastra memiliki tujuan yang mulia dan besar. Hanya saja tujuan tersebut hanya akan menjadi slogan apabila dalam pembelajaran sastra di sekolah tidak dilakukan secara maksimal. Oleh karena itu, untuk mewujudkan dan mengembalikan pembelajaran sastra pada tujuan tersebut, maka pembelajaran apresiasi sastra yang saat ini lesu dan tak berdaya ini harus kembali diberdayakan.

Baca lebih lanjut

Pembelajaran Sastra dan Penanaman Karakter

PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA
SEBAGAI WAHANA PENANAMAN KARAKTER KEPADA SISWA

(tulisan ini dimuat dalam BENDE, majalah seni dan budaya Jawa Timur)

Akhir-akhir ini, pendidikan karakter banyak dan sering menjadi pembahasan berbagai kalangan, terutama kalangan pendidikan. Hal ini terdorong oleh adanya fakta bahwa siswa sebagai produk pendidikan belum kuat secara kemanusiaan, serta kepribadiannya masih lemah sehingga mudah terpengaruh oleh hal-hal dari luar. Selain itu, semangat untuk belajar, berdisiplin, beretika, bekerja keras, dan sebagainya kian menurun. Peserta didik banyak yang tidak siap untuk menghadapi kehidupan sehingga dengan mudah meniru budaya luar yang negatif, terlibat di dalam amuk massa, melakukan kekerasan di sekolah atau kampus, dan sebagainya. Meningkatnya kemiskinan, menjamurnya budaya korupsi, munculnya plagiarisme, menguatnya politik uang, dan sebagainya merupakan cerminan dari kehidupan yang tidak berkarakter kuat untuk menuju bangsa yang berperadaban maju.

Pendidikan yang ada selama ini dianggap gagal dalam membentuk karakter siswa. Selama ini pendidikan hanya berorientasi pada angka/nilai semata. Padahal, dalam UU Sisdiknas tahun 2003, Bab II, pasal 3, jelas disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Baca lebih lanjut

Pengajaran Apresiasi Puisi di Sekolah

Puisi bukanlah sesuatu yang baru bagi kita semua. Namun, bukan rahasia lagi bahwa bagi sebagian siswa – seperti yang dialami penulis – baru  mendengar kata ’puisi’ langsung terbayang sesuatu yang sulit, sesuatu yang tidak terjangkau. Mereka sepertinya ingin sedapat mungkin menghindar, atau tidak usah bertemu dengan yang namanya ’puisi’. Hal ini bahkan tidak saja terjadi pada siswa, tetapi juga pada guru bahasa Indonesia. Terlebih jika dikaitkan dengan kegiatan apresiasi. Padahal, kegiatan apresiasi puisi tidak dapat dihindari dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia karena memang ada dalam kurikulum sekolah. Lalu apa yang harus diketahui dan dilakukan guru agar pengajaran apresiasi puisi di sekolah dapat berjalan dengan baik sesuai harapan?

Apresiasi puisi pada dasarnya merupakan sikap jiwa pembaca terhadap puisi yang dibaca. Apresiasi puisi menyiratkan suatu kualitas rohaniah menghadapi objek yang disikapi, yakni puisi. Pembelajaran apresiasi puisi pada hakikatnya merupakan pembelajaran menggali nilai yang terdapat dalam puisi tersebut. Hal yang termasuk kegiatan apresiasi puisi antara lain 1) Membaca puisi, 2) Menganalisis puisi, 3) Membuat ulasan mengenai suatu puisi, 4) Menampilkan puisi melalui deklamasi atau musikalisasi puisi, 5) Menulis puisi

Tujuan yang harus dicapai dalam pengajaran apresiasi puisi adalah 1) Siswa memperoleh kesadaran yang lebih baik terhadap dirinya sendiri, orang lain, dan kehidupan di sekitarnya, 2) Siswa memperoleh kesenangan dari membaca dan mempelajari puisi, 3) Siswa memperoleh pengetahuan dan pengertian dasar tentang puisi.

Agar tujuan tersebut tercapai, maka tugas guru dalam pengajaran apresiasi puisi adalah 1) Mendidik dan membimbing siswa agar mampu mencintai sastra (puisi) agar dapat mengapresiasi secara benar, 2) Membekali dirinya agar mampu mengapresiasi sastra (puisi) sebelum mendidik siswanya. Di samping itu, guru juga harus mampu menempatkan diri sebagai 1) apresiator yang menjembatani antara siswa dengan puisi, 2) motivator yang mampu menumbuhkan rasa apresiasi pada diri siswa, 3) perunding yang mampu dengan penuh kearifan untuk mengakomodasikan berbagai tanggapan dari siswa sebagai bentuk apresiasi terhadap puisi yang tengah dinikmati.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam mengajarkan puisi

Baca lebih lanjut