Berkah nge-Blog

Alhamdulillah. Kalimat itulah yang begitu saja terucap ketika saya mendapat kabar bahwa blog ini berhasil menjadi pemenang pertama dalam Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan yang saya ikuti. Lomba Blog tersebut merupakan salah satu jenis lomba yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud, Jakarta dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan Sastra tahun 2011 ini.

Saya tertarik mendaftarkan blog ini untuk mengikuti Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan tersebut karena kebetulan tulisan-tulisan di blog ini memang didominasi oleh tulisan-tulisan yang tidak jauh dari tema kebahasaan dan kesastraan, yang merupakan salah satu ketentuan yang disyaratkan pada lomba ini.

Sekedar kilas balik, blog ini hadir ke dunia maya sekitar 2 tahun lalu ini (September 2009). Blog ini lahir karena terinspirasi oleh blog kawan yang secara tidak sengaja saya temukan. Dari situlah saya pun mulai belajar nge-blog yang dibantu oleh rekan guru yang sudah lebih mahir di bidang TI. Saya pun berupaya untuk mengembangkan dan menekuninya, sekaligus sebagai media dan wahana saya untuk belajar menulis. Tema-tema tulisan yang saya hadirkan dalam blog ini tentu saja saya pilih yang tidak jauh dari aktivitas keseharian saya, yaitu kebahasaan, kesastraan, dan pendidikan.

Dengan adanya blog ini, secara tidak langsung juga memaksa saya untuk terus mencoba menulis agar kelangsungan hidup blog ini senantiasa terjaga. Kebiasaan mengunjungi blog lain (blogwalking) hingga larut malam juga mengantarkan saya menemukan blog-blog para pemilik blog (blogger) yang luar biasa, terutama dari blog para guru, yang secara langsung maupun tidak langsung semakin memotivasi saya untuk konsisten menulis di blog. Kunjungan dan komentar-komentar para blogger tersebut seringkali juga memompakan semangat yang luar biasa, meski pertemuan tersebut hanya terjadi di dunia maya.

Seiring berjalannya waktu, tulisan-tulisan dalam blog ini pun terus bertambah. Akhirnya saya pun memberanikan diri untuk mendaftarkannya dalam Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan tahun 2011 ini (setelah tahun sebelumnya saya belum berani mendaftarkan pada lomba serupa). Menjadi pemenang pertama, tentu tak pernah saya duga. Terlebih ketika saya sempat mengintip blog peserta-peserta lain yang secara materi juga cukup bagus dan berkualitas.

Perkembangan teknologi akan memberikan manfaat positif bila kita memperlakukannya secara positif pula. Akhirnya, kemenangan ini tentu dapat menjadi bukti bahwa menekuni aktivitas nge-blog bukanlah sesuatu yang sia-sia.  Terlebih bila kita mampu dan tetap berupaya untuk memberikan informasi positif yang bermanfaat bagi semua.  Salam.###

Ulasan Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer

MEMBONGKAR KETIDAKADILAN KEKUASAAN PRIYAYI

DALAM MASYARAKAT TRADISIONAL JAWA

(Ulasan terhadap novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer)

/1/

Sastra merupakan cermin masyarakat. Keberadaan karya sastra memang tidak lepas dari masyarakat dan kenyataan sosial di sekelilingnya. Karya sastra dapat hadir sebagai refleksi dari realitas sosial dan refleksi kesejarahan yang terjadi di masyarakat. Memang, sastra sebagai refleksi dari kenyataan masyarakat rasanya sulit diingkari kebenarannya, sebab seorang sastrawan tidak mungkin hidup terasing dari masyarakatnya, sehingga ia tidak buta dan tuli terhadap segala peristiwa yang terjadi di masyarakatnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Goldmann bahwa karya sastra diciptakan oleh pengarang sebagai hasil dari sebuah proses merespons situasi lingkungan dan sosialnya (dalam Teeuw, 1984: 103). Oleh karena itu, karya sastra yang besar akan mampu mengidentifikasikan kecenderungan-kecenderungan sosial yang penting pada zamannya sehingga bisa mencapai ekspresi yang padu dengan realita.

Meski karya sastra menampilkan realita sosial, karya sastra tidak lahir begitu saja. Karya sastra lahir dari hasil kreativitas, pergulatan antara realitas dan imajinasi pengarang. Dengan imajinasinya pengarang ingin mewujudkan kembali sederetan pengalaman-pengalaman tertentu yang pernah akrab dengan lingkungan dan kehidupannya. Adanya karya sastra yang berangkat dari realitas, paling tidak bisa memberikan penceritaan kepada masyarakat tentang sesuatu yang pernah terjadi pada masa tertentu.

Salah seorang pengarang yang mahir memadukan realitas dengan imajinasinya menjadi sebuah karya sastra adalah Pramoedya Ananta Toer. Kebesaran nama Pramoedya tak diragukan lagi, meski polemik dan kontroversi selalu mengikutinya hingga akhir hayat. Dari tangannya telah lahir karya-karya besar yang mendapat sambutan yang luar biasa hingga  ke mancanegara. Pramoedya telah menulis 53 buku yang beberapa di antaranya telah diterjemahkan ke dalam 41 bahasa dunia, bahkan ada yang telah menjadi bacaan wajib siswa di negara tetangga. Pramoedya juga merupakan satu-satunya sastrawan Indonesia yang berkali-kali dicalonkan untuk mendapat hadiah Nobel.

Sekalipun fiktif dan imajinatif, kisah dan tokoh-tokoh Pramoedya selalu berkait dan diangkat dari kenyataan dan pengalaman sejarah sosial budaya manusia-manusia Indonesia. Bila dicermati, hampir semua karya Pramoedya memang mempunyai latar kenyataan yang cukup mantap: pertama-tama kenyataan hidupnya sendiri lahir dan batin, kenyataan orang di sekitarnya, kenyataan masyarakat Indonesia sezaman, dan juga kenyataan sejarah. Dalam tulisan ini akan coba diulas salah satu karya Pramoedya yang berhasil memadukan realitas dan imajinasi pengarangnya, yaitu roman Gadis Pantai. Roman yang ditulis tahun 1962 ini mencoba mengangkat realitas kehidupan masyarakat pada awal abad ke-20, khususnya peradaban tradisional Jawa yang masih mengenal sistem pelapisan sosial pada masyarakatnya.

Baca lebih lanjut