Kebangkitan Nasional

Tanggal 20 Mei 2017 ini bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ke-109 tahun. Peristiwa Kebangkitan Nasional pada tahun 1908 merupakan peristiwa penting dalam sejarah bangsa Indonesia.

Sebagai bangsa yang terjajah, kala itu bangsa Indonesia tidak mampu membebaskan dirinya dari kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, keterpecahbelahan, dan kehinaan. Kebodohan, kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, dan keterpecahbelahan itu pula yang dimanfaatkan oleh penjajah untuk terus mencengkeram bumi pertiwi dengan menggunakan politik adu domba.

Berbagai bentuk keterjajahan semacam itu akhirnya mendorong pemikiran-pemikiran para pemuda bangsa untuk membangkitkan secara kolektif semangat nasionalisme, persatuan dan kesatuan dengan membentuk sebuah organisasi yang bergerak di bidang sosial yang menjadi cikal bakal gerakan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia terlahir pada 20 Mei 1908, yaitu Budi Utomo, yang menjadi awal kelahiran bagi semangat persatuan dan kesatuan di tengah keterpecahbelahan.

Sejak kelahiran Budi Utomo itulah semangat mempersatukan seluruh perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan dari bangsa ini terus tumbuh. Kebangkitan semangat persatuan itu kemudian membuahkan deklarasi Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang mengutuhkan semangat bertanah air satu, Indonesia, berbangsa satu, Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Dengan bekal semangat Budi Utomo dan Sumpah Pemuda itulah bangsa ini akhirnya memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Hari ini, 109 tahun kemudian, kita mencermati betapa gejala yang hidup sebelum Budi Utomo lahir, ironisnya, seperti bertumbuh kembali. Kita tentu tak akan membantah bila dikatakan kini semangat persatuan dan kesatuan yang termanifestasikan ke dalam bingkai ke-Indonesiaan yang digagas para pemuda tersebut kini mulai pudar, bahkan terkesan runtuh dan nyaris tenggelam di tengah hingar-bingar zaman.

Ada banyak gejala berbagai perbedaan yang inheren sebagai bagian dari tubuh bangsa ini, seperti suku, agama, ras, dan antargolongan, justru dipertentangkan dan bahkan dijadikan sebagai komoditas untuk kepentingan bagi sebagian kalangan. Perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan terus dijadikan bahan oleh beberapa kalangan untuk membangkitkan permusuhan. Polarisasi dan keterbelahan masyarakat pun semakin menggejala. Kesadaran untuk hidup bersama dan berdampingan berbangsa dalam masyarakat yang multikompleks dan multikultural kian hilang. Semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang membungkus segala bentuk perbedaan kian terabaikan. Gejala itu jelas sangat membahayakan keutuhan bangsa.

Fenomena itu tentu sangat memprihatinkan. Dalam beberapa tahun terakhir, nampaknya hal ini terus tumbuh dan semakin mengkhawatirkan. Hal ini menghabiskan energi bangsa sehingga menjadikan bangsa semakin lemah dan tidak produktif yang pada akhirnya cita-cita untuk menjadi bangsa yang besar semakin jauh dari harapan.

Dalam momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional, hari ini, kita melihat nilai-nilai dan semangat Budi Utomo sangatlah relevan untuk kita hidupkan dan kuatkan kembali. Kita hargai jerih payah para pendiri bangsa kita selama berabad-abad telah menyatukan keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan menjadi sebuah kekuatan bagi seluruh bangsa. Persatuan dan kesatuan dalam keberagaman yang menjadi spirit Budi Utomo pun kita jadikan napas keseharian kita. Semangat kebangkitan nasional kita gelorakan dalam jiwa setiap individu warga negara Indonesia dengan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan NKRI, tidak lelah untuk rela berkorban, menerapkan asas gotong royong dan kekeluargaan dalam kerja sama, menghargai sesama warga bangsa Indonesia, dan bersama saling bahu membahu mencapai cita-cita bangsa Indonesia.

Semangat Kebangkitan Nasional kian menunjukkan urgensinya yang tetap ampuh menyatukan dan menyemangati gerak kita sebagai bangsa. Kebangkitan Indonesia itu disebabkan keberagaman dan kebersamaan, bukan karena segolongan atau perseorangan. Kebangkitan nasional ialah kita, bukan kami atau aku.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional, Salam Indonesia Bangkit!

Kebangkitan Nasional dan Bahasa Indonesia

merah-putih-dan-anak-anak-Indonesia-496x330Tanggal 20 Mei diperingati bangsa Indonesia sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Peringatan ini penting dan strategis, bukan hanya untuk mengingat kembali perjuangan para pendahulu kita, tetapi sekaligus mengukuhkan semangat kebangsaan saat ini dan ke depan. Semangat kebangsaan yang diperjuangkan oleh para pendahulu itu merupakan refleksi perjuangan dari segenap komponen bangsa. Tidak peduli dari suku mana ia berasal, bahasa apa yang digunakan, dan agama apa yang dipeluknya. Semuanya, kini melebur menyatu dalam wadah sebuah bangsa, sebuah negara, Indonesia. Semangat kebangsaan atau nasionalisme yang dibangun Indonesia memang memiliki keunikan tersendiri. Nasionalisme Indonesia memiliki sifat yang tidak antagonis terhadap fakta multi-etnik, multi-kultur, multi-agama, dan multi-lingual.

Dalam perjalanan bangsa, rasa kebangsaan atau nasionalisme menunjukkan tanda-tanda penurunan. Arus globalisasi memaksa negara-negara dunia ketiga untuk tunduk pada aturan yang diberlakukan negara-negara besar. Berbagai macam aktivitas berusaha ditawarkan mulai dari liberalisasi agama, budaya, bahasa, sistem ekonomi, konstitusi, pendidikan bahkan kesehatan. Pengaruh global tersebut perlahan-lahan menggerus jati diri bangsa Indonesia dan semakin memarginalkan posisi nasionalisme. Oleh karena itu, peringatan Kebangkitan Nasional merupakan momentum untuk mengukuhkan kembali identitas dan jati diri sebagai bangsa Indonesia, tidak hanya di dalam negeri, namun juga di mata internasional.

Jati diri—atau yang lazim juga disebut identitas—merupakan ciri khas yang menandai seseorang, sekelompok orang, atau suatu bangsa. Jika ciri khas itu menjadi milik bersama suatu bangsa, hal itu tentu menjadi penanda jati diri bangsa tersebut. Seperti halnya bangsa lain, bangsa Indonesia juga memiliki jati diri yang membedakannya dari bangsa lain di dunia. Jati diri itu sekaligus juga menunjukkan keberadaan bangsa Indonesia di antara bangsa lain. Salah satu simbol jati diri bangsa Indonesia itu adalah bahasa, dalam hal ini tentu bahasa Indonesia. Hal itu sejalan dengan semboyan yang selama ini kita kenal, yaitu “bahasa menunjukkan bangsa”.

Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia dijunjung tinggi di samping bendera nasional, Merah Putih, dan lagu nasional bangsa Indonesia, Indonesia Raya. Dalam melaksanakan fungsi ini, bahasa Indonesia tentulah harus memiliki  identitasnya sendiri sehingga serasi dengan lambang kebangsaan lainnya. Bahasa Indonesia dapat mewakili identitasnya sendiri apabila masyarakat pemakainya membina dan mengembangkannya sedemikian rupa sehingga bersih dari unsur-unsur bahasa lain, yang memang benar-benar tidak diperlukan, misalnya istilah/kata dari bahasa Inggris yang sering diadopsi, padahal istilah/kata tersebut sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

Kalau dilihat secara cermat, kondisi kebahasaan di Indonesia saat ini cukup memprihatinkan, terutama penggunaan bahasa Indonesia di tempat umum, seperti pada nama bangunan, pusat perbelanjaan, hotel dan restoran, serta kompleks perumahan, sudah mulai tergeser oleh bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Tempat yang seharusnya menggunakan bahasa Indonesia itu mulai banyak yang menggunakan bahasa yang tidak lagi menunjukkan jati diri keindonesiaan. Akibatnya, wajah Indonesia menjadi tampak asing di mata masyarakatnya sendiri. Kondisi seperti itu harus disikapi dengan bijak agar tidak menjadi asing di negeri sendiri.

Baca lebih lanjut

Sastra sebagai Wahana Memupuk Nasionalisme Siswa

Bulan Agustus yang merupakan bulan peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sepertinya menjadi saat yang tepat bagi kita semua untuk melihat kembali ke dalam nurani kita masing-masing – masih adakah atau masih sedalam apakah nasionalisme yang kita miliki bagi bangsa ini? Di tengah keterpurukan kondisi bangsa, nasionalisme sangat dibutuhkan untuk membangkitkan kembali bangsa ini. Ya, nasionalisme diyakini sebagai syarat mutlak untuk membentuk sebuah negara yang mandiri. Faham kebangsaan ini menjadi tolak ukur kemajuan dan kemandirian bangsa Indonesia ke depan.

Nasionalisme adalah sikap atau perilaku yang diwujudkan atau diaktualisasikan dalam bentuk tindakan untuk memelihara dan melestarikan identitas dan terus berjuang untuk memajukan bangsa dan negara, dengan membasmi setiap kendala yang menghalangi di jalan kemajuan. Nasionalisme adalah rasa cinta setiap elemen bangsa kepada tanah air yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin nasionalis, seseorang akan semakin mengutamakan kepentingan bangsa dibandingkan kepentingan kelompok atau pribadi.

Namun apa yang kita lihat dan kita dengar selama beberapa tahun terakhir, mungkin membuat kita kembali harus merenungi makna nasionalisme di atas. Kecintaan terhadap negara Indonesia mengalami penyusutan luar biasa. Tak hanya di kalangan generasi muda. Bahkan di tingkat elite pun nasionalisme kian pudar. Hal ini terlihat dari sikap para elite (politik) yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Selain itu, kita juga merasakan bahwa ada kecenderungan yang muncul yang menampilkan bahwa semangat solidaritas dan kebersamaan pun terasa semakin hilang.

Melihat kondisi tersebut maka diperlukan upaya untuk menumbuhkan dan memupuk rasa nasionalisme bagi bangsa Indonesia. Sejalan dengan dicanangkannya pendidikan karakter, maka karakter nasionalisme (cinta tanah air dan semangat kebangsaan) pun ikut dimasukkan sebagai nilai karakter yang harus dikembangkan pada generasi muda.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan dan memupuk rasa nasionalisme ini adalah melalui kegiatan apresiasi sastra, yang merupakan bagian dari mata pelajaran bahasa Indonesia. Karya-karya sastra dapat digunakan sebagai pembangkit rasa nasionalisme. Mungkin anggapan yang selama ini banyak berkembang adalah bahwa karya sastra hanya fiktif belaka, sifatnya hanya imajinatif. Sehingga tidak layak untuk menjadi bahan ajar. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa karya sastra, baik novel maupun puisi, bisa mempengaruhi pikiran dan sikap pembaca (warga negara). Sastra banyak menawarkan pemikiran dan pembelajaran dengan cara yang unik.

Sebagai contoh mari kita simak kutipan cerpen berikut.

Baca lebih lanjut