Ranah 3 Warna: Berjuang dengan Kesabaran

ranah3warna

ranah3warna

Judul Buku : Ranah 3 Warna
Penulis : A. Fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 473 Halaman
Harga : Rp. 65.000
ISBN : 9789792263251

Ranah 3 Warna merupakan buku kedua dari rencana trilogi Negeri 5 Menara. Jika di Negeri 5 Menara dikisahkan panjang lebar tentang kehidupan Alif selama di Pondok Madani (PM), Jawa Timur, maka novel kedua ini mengisahkan lebih panjang lebar pada pengalaman Alif selama menjadi mahasiswa di Universitas Padjajaran, Bandung.

Cerita bermula ketika Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Dengan semangat menggelegak dia pulang ke Maninjau dan tak sabar ingin segera kuliah. Cita-citanya untuk menjadi seperti Habibie tidak pernah surut. Lalu dia sadar, ada satu hal penting yang dia tidak punya. Ijazah SMA. Hal inilah yang membuat kawan karib sekaligus saingannya sejak kecil, Randai, meragukan dia mampu lulus UMPTN.

Bukan Alif namanya jika gampang menyerah. Alif pun segera mempersiapkan diri untuk ikut ujian persamaan agar bisa mendapatkan ijazah setara SMA. Ia harus berjibaku menundukkan ujian persamaan terlebih dahulu sebelum mengikuti UMPTN. Untuk itu, Alif harus mampu menguasai berbagai macam mata pelajaran umum tiga tingkatan dalam waktu cepat. Terinspirasi semangat tim dinamit Denmark dan bermodal mantra sakti man jadda wajada– Siapa yang bersungguh-sungguh, ia hadapi ujian tersebut. Alif yakin jika ia berusaha satu tingkat lebih baik dari orang lain, ia akan mendapatkan yang ia inginkan.

Perjuangan itu mulai menampakkan hasilnya. Memang tidak sepenuhnya seperti yang ia harapkan. Keinginannya untuk menekuni bidang teknologi harus ia pupus karena sangat sulit menguasai pelajaran berhitung dalam waktu singkat. Tapi Alif cukup bangga ketika akhirnya diterima di Hubungan Internasional-UNPAD. ”… sesungguhnya doa itu didengar Tuhan, tapi Dia berhak mengabulkannya dalam berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk yang kita minta, bisa ditunda, atau diganti yang lebih cocok buat kita,” Hal.46.

Baca lebih lanjut

Pendidikan Karakter dalam Negeri 5 Menara

PENDIDIKAN KARAKTER ALA PESANTREN DALAM NEGERI 5 MENARA

tulisan ini mendapat penghargaan sebagai pemenang harapan ke-2 pada Sayembara Penulisan Esai Sastra dalam rangka Bulan Bahasa 2010 yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa, Kemdiknas, Jakarta

/1/
Karakter merupakan aspek penting dari kualitas sumber daya manusia (SDM) karena kualitas karakter bangsa menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter adalah titian ilmu pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill). Pengetahuan tanpa landasan kepribadian yang benar akan menyesatkan dan keterampilan tanpa kesadaran diri akan menghancurkan. Karena itu, karakter menjadi prasyarat dasar dan integral. Karakter itu akan membentuk motivasi, pada saat yang sama karakter dibentuk dengan metode dan proses yang bermartabat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karakter berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain; tabiat; watak (1995:445). Jadi, karakter bukan sekadar penampilan lahiriah, melainkan secara implisit mengungkapkan hal-hal tersembunyi.

Indonesia Heritage Foundation (IHF), sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang character building (pendidikan karakter) yang diprakarsai oleh Ratna Megawangi dan Sofyan A. Djalil melakukan pengkajian dan pengembangan pendidikan dengan menerapkan sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya; kedua, tanggung jawab, kedisplinan, dan kemandirian; ketiga, kejujuran; keempat, hormat dan santun; kelima, kasih sayang, kepedulian, dan kerjasama; keenam, percaya diri; kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah; ketujuh, keadilan dan kepemimpinan; kedelapan, baik dan rendah hati; kesembilan, toleransi, cinta damai, dan persatuan. (http://ihfkarakter.multiply.com/journal/item/1/VISI_MISI_IHF). Kesembilan pilar karakter inilah yang harusnya dimiliki oleh setiap manusia, khususnya generasi muda guna menghadapi tantangan di masa depan.

Pendidikan karakter memang penting dalam perkembangan manusia Indonesia saat ini. Terlebih dalam era global yang setiap negara berusaha memberi karakter setiap warga negaranya yang menjadi identitas penting dalam pergaulan global. Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.
Kehadiran novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi ini sepertinya sangat tepat seiring didengung-dengungkannya kembali perlunya pendidikan karakter di Indonesia. Novel yang berlatar belakang pendidikan pesantren ini menceritakan pengalaman penulisnya selama belajar di sebuah pondok pesantren (dalam cerita ini disebut Pondok Madani) di Jawa Timur. Novel ini merupakan sebuah teks yang terinspirasi dari pengalaman penulisnya sendiri.
Baca lebih lanjut