Menyampaikan Kritik yang Santun Lewat Pantun

pantun-bektipatriaRealitas sosial yang ada dalam kehidupan sehari-hari kadang tidak sesuai dengan harapan kebanyakan orang. Ketidakadilan, kekecewaan, ketidakpuasan sering dirasakan oleh masyarakat, terlebih terhadap penguasa yang berdampak pada kehidupan masyarakat luas bahkan juga terpuruknya kondisi bangsa. Sebagai salah satu wujud dari rasa tanggung jawab masyarakat terhadap bangsa ini, maka masyarakat terdorong untuk menyampaikan kritikan yang konstruktif untuk membangun bangsa ini.

Dalam era keterbukaan sekarang ini setiap orang bebas untuk menyampaikan kritikan dan aspirasi kepada pemerintah. Ada berbagai cara untuk menyampaikan, mengungkapkan, menuangkan kritik terhadap situasi sosial tersebut, misalnya dengan berkirim surat, demonstrasi, pidato, wawancara, sms, facebook, e-mail, dan media lainnya. Namun demikian, sesungguhnya ada satu media lagi yang berperan penting dalam penyampaian kritik sosial, yakni karya sastra. Sastra dapat digunakan untuk menyampaikan kritik secara cerdas, elegan dan santun. Menyampaikan kritik melalui sastra memang bukanlah hal baru. Di Indonesia, sejak zaman Belanda, Jepang, Revolusi, Orde Baru, dan Reformasi selalu saja ada karya sastra yang diarahkan untuk mengkritik pemerintahan yang berkuasa. Hal ini bisa terjadi lantaran sastra memang seringkali hadir sebagai refleksi atau cerminan kondisi sosial masyarakat.

Sebagai salah satu bentuk sastra, pantun pun dapat digunakan sebagai sarana menyampaikan kritik sosial tersebut. Pantun merupakan salah satu bentuk puisi lama yang paling akrab dengan masyarakat dibandingkan dengan bentuk puisi lama yang lain. Pantun menjadi sarana yang efektif yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Pantun dapat digunakan sebagai alat komunikasi, untuk menyelusupkan nasihat atau wejangan, atau bahkan untuk melakukan kritik sosial. Pantun dapat dimanfaatkan dalam berbagai kesempatan dan disampaikan dalam sembarang waktu, dalam kegiatan apa pun, dan dilakukan oleh siapa pun juga. Pantun adalah bentuk puisi lama yang tampak luarnya sederhana, tetapi sesungguhnya mencerminkan kecerdasan dan kreativitas pembuatnya, karena pembuat pantun harus membuat sampiran dan isi yang keduanya sama sekali tidak berkaitan. Ciri utama pantun adalah bentuknya yang dalam setiap baitnya terdiri dari empat larik (baris) dengan pola persajakan a-b-a-b. Dua larik pertama disebut sampiran, dua larik berikutnya disebut isi.

Sejalan dengan kurikulum Bahasa Indonesia SMA, menulis pantun merupakan salah satu kompetensi dasar yang wajib dikuasai peserta didik. Berdasarkan isinya, jenis-jenis pantun yang selama ini diperkenalkan kepada peserta didik adalah pantun nasihat, pantun agama, pantun orang muda, atau pantun jenaka. Sejalan dengan perkembangan zaman, isi pantun dapat terus dikembangkan, antara lain untuk menyampaikan kritik sosial. Melalui kegiatan menulis pantun inilah, guru dapat mengajak peserta didik untuk mencoba menyampaikan kritik dan sarannya mengenai realitas sosial di sekitarnya.

Sebagai contoh terlihat dari hasil tulisan beberapa peserta didik berikut ini.

Baca lebih lanjut

Mengasah Kepedulian Sosial Siswa melalui Kegiatan Menulis Pantun

(tulisan ini dimuat dalam MEDIA, majalah pendidikan Jawa Timur)

Pantun merupakan salah satu bentuk puisi lama yang paling akrab dengan masyarakat dibandingkan dengan bentuk puisi lama yang lain. Pemakaian pantun pun dirasa paling luas di kalangan masyarakat. Pantun dapat dimanfaatkan dalam berbagai kesempatan dan disampaikan dalam sembarang waktu, dalam kegiatan apa pun, dan dilakukan oleh siapa pun juga. Pantun pada gilirannya paling banyak diminati oleh masyarakat tanpa terikat oleh status sosial, agama, dan usia.

Pantun menjadi sarana yang efektif yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Pantun dapat digunakan sebagai alat komunikasi, untuk menyelusupkan nasihat atau wejangan, atau bahkan untuk melakukan kritik sosial, tanpa mencederai perasaan siapa pun. Mengingat pantun tidak terikat oleh batas usia, status sosial, agama atau suku bangsa, maka pantun, dapat dihasilkan atau dinikmati semua orang, dalam situasi apa pun, dan untuk keperluan yang bermacam-macam sesuai kebutuhan. Bahkan banyak lirik lagu yang menyisipkan pantun di dalamnya.

Pantun adalah bentuk puisi lama yang tampak luarnya sederhana, tetapi sesungguhnya mencerminkan kecerdasan dan kreativitas pembuatnya, karena pembuat pantun harus membuat sampiran dan isi yang keduanya sama sekali tidak berkaitan. Ciri utama pantun adalah bentuknya yang dalam setiap baitnya terdiri dari empat larik (baris) dengan pola persajakan a-b-a-b. Dua larik pertama disebut sampiran, dua larik berikutnya disebut isi. Bila dulu pemakaian pantun hanya berkisar pada nasihat, kisah percintaan muda-mudi, agama, maka saat ini pemakaian pantun dirasakan lebih luas. Misalnya untuk melakukan kritik sosial, bahkan untuk kampanye.

Baca lebih lanjut