Pembelajaran Menulis Puisi

TEKNIK RANGSANG GAMBAR PERISTIWA:
SEBUAH UPAYA ALTERNATIF DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI

tulisan ini menjadi pemenang ke-1 pada Lomba Menulis Guru Kreatif 2012
dalam rangka Dies Natalis Universitas Airlangga, Surabaya
 

bloodpenSalah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai peserta didik adalah menulis. Kegiatan menulis merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan proses kegiatan belajar mengajar bidang studi bahasa dan sastra Indonesia. Dengan menulis, peserta didik diharapkan dapat menuangkan ide, pikiran, dan perasaannya ke dalam bahasa tulis, baik yang berkaitan dengan kebahasaan maupun kesastraan.

         Menulis puisi merupakan bagian dari pembelajaran menulis yang diajarkan di sekolah, baik pada tingkat pendidikan dasar maupun menengah. Yang menjadi permasalahan di lapangan, pembelajaran menulis puisi seringkali menjadi hal yang menakutkan bagi peserta didik. Dan bukan rahasia lagi bila masih banyak peserta didik kurang suka pada puisi, bahkan sudah apriori ketika mendengar kata ’puisi’. Peserta didik menganggap bahwa puisi merupakan sesuatu yang sulit dipelajari. Hal ini berdampak pula pada kegiatan menulis puisi yang dianggap sebagai kegiatan yang sulit, membosankan, serta menyita banyak waktu. Pada saat pembelajaran menulis puisi peserta didik merasa dihadapkan pada sebuah pekerjaan berat yang sering menimbulkan rasa was-was, bimbang, ragu karena merasa tidak berbakat. Peserta didik seringkali membutuhkan waktu lama ketika ditugasi untuk menulis sebuah puisi. Ini terjadi karena kemampuan peserta didik dalam menggali imajinasi masih sangat terbatas.

         Bila kondisi demikian dibiarkan, maka pembelajaran menulis puisi tidak akan mencapai tujuan. Untuk mengatasi kondisi tersebut diperlukan cara-cara kreatif dan variatif untuk dapat menggugah gairah peserta didik dalam kegiatan menulis puisi ini. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru agar peserta didik mudah menulis puisi adalah dengan teknik rangsang gambar peristiwa. Melalui gambar peristiwa yang disajikan peserta didik dirangsang untuk menggali imajinasinya dan kemudian menuangkannya dalam bentuk puisi.

           Teknik rangsang gambar peristiwa ini memanfaatkan gambar-gambar peristiwa dari berbagai media, baik cetak maupun virtual. Peristiwa-peristiwa yang tersiar di berbagai media tentu ada yang mampu mengusik perasaan peserta didik. Misalnya, perang di Afghanistan, bencana tsunami, banjir dan tanah longsor, kerusuhan demonstrasi, dan sebagainya. Dengan menyajikan gambar-gambar peristiwa tersebut, imajinasi peserta didik dirangsang dan dicoba untuk dibangkitkan.

            Penggunaan teknik rangsang gambar peristiwa ini karena gambar-gambar tersebut mudah ditemukan dan mudah diamati, sehingga peserta didik dapat dengan mudah mendata objek yang terdapat dalam gambar yang akan dijadikan bahan penulisan puisi. Selain itu, peristiwa-peristiwa yang disajikan dalam bentuk gambar tersebut berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari sehingga peserta didik akan mudah menentukan tema yang akan dijadikan dasar penulisan puisi. Di samping itu, gambar-gambar tersebut sangat menarik apalagi jika peristiwa yang terdapat dalam gambar tersebut merupakan peristiwa yang sedang hangat dibicarakan sehingga peserta didik akan mudah mengubah fakta yang terdapat dalam gambar peristiwa menjadi sebuah puisi.

         Gambar-gambar yang dipilih tentu saja diupayakan gambar-gambar yang ’hidup’  artinya yang mampu memberikan kesan atau pesan tertentu ketika diamati. Meskipun gambar tidak memiliki daya gerak, daya bau, daya raba, serta daya dengar, tetapi dengan imajinasi yang maksimal akan mampu menggali ruh dari gambar yang diberikan. Melalui gambar-gambar peristiwa yang disajikan, peserta didik dapat mengamati peristiwa apa yang terjadi, di mana terjadinya, kapan, siapa saja yang terlibat, dan sebagainya. Selain itu, peserta didik juga dapat merenungkan mengapa peristiwa itu terjadi, bagaimana seandainya mereka terlibat dalam peristiwa itu, atau bahkan memberikan pernyataan yang berupa solusi, imbauan, dan harapan atas peristiwa itu.

selengkapnya dapat dibaca di sini

Memberdayakan Pembelajaran Apresiasi Sastra di Sekolah

pembelajaran-bekti patriaPembelajaran sastra di sekolah sudah sejak dulu diperbincangkan. Bukan rahasia lagi dan telah menjadi masalah umum bahwa pembelajaran apresiasi sastra di sekolah terkesan kering, lesu, alias tidak bergairah sehingga tidak memperoleh hasil sesuai harapan. Hal ini tampak pada rendahnya minat baca sastra yang berpengaruh pula pada lemahnya kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sastra. Hal ini diperparah oleh situasi pengajaran di sekolah yang berorientasi pada capaian nilai Ujian Nasional. Selain itu, tenaga guru bahasa yang ada belum tentu juga merupakan seorang pecinta sastra. Hal ini tentu membuat pembelajaran sastra menjadi jauh dari tujuan.

Dalam Standar Isi mata pelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2006 (KTSP) disebutkan bahwa mata pelajaran bahasa Indonesia bertujuan antara lain agar peserta didik memiliki kemampuan menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, juga menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Dari sini sesungguhnya pembelajaran sastra memiliki tujuan yang mulia dan besar. Hanya saja tujuan tersebut hanya akan menjadi slogan apabila dalam pembelajaran sastra di sekolah tidak dilakukan secara maksimal. Oleh karena itu, untuk mewujudkan dan mengembalikan pembelajaran sastra pada tujuan tersebut, maka pembelajaran apresiasi sastra yang saat ini lesu dan tak berdaya ini harus kembali diberdayakan.

Baca lebih lanjut